Islandzandi

Islandzandi
Perubahan Sikap Orion



Dia lalu menyilangkan tangannya di depan dada sambil tersenyum malu. "Aduh, saya nggak sadar. Makasih, ya."


Dia lalu cepat-cepat beranjak untuk mencuci noda cola dari pakaiannya. Orion ikut beranjak juga keluar resto.


Tak lama, Emma kembali duduk di kursinya. Masih berusaha mengeringkan kemejanya dengan sapu tangan Orion.


"Nih, dipake," kata Orion yang baru datang, dan menyampirkan jaketnya di bahu Emma. Perempuan itu mendongak sambil tersenyum.


"Makasih. Nanti saya kembaliin kalau udah dicuci, ya."


"Santai aja." Orion berujar sambil mendudukan diri dan meneruskan makan.


Sementara di kursinya Freya mengamati semua itu dalam diam. Dia menghela napasnya perlahan dan dengan lesu menyandarkan punggung ke sandaran. Entah kenapa mood-nya mendadak rusak.


"Seperti yang lo bilang, ternyata dia emang baik dan perhatian, ya." Arkana tiba-tiba berujar membuat Freya menatapnya.


"Aslinya dia baik kok. Dia perhatian, kocak juga, bahkan kadang bisa bertingkah kayak anak kecil. Dan dia selalu berusaha jagain gue. Dia nggak seburuk itu."


Freya pernah bicara begitu pada Arkana soal Orion. Iya, menurutnya Orion memang baik dan perhatian. Tapi kenapa ketika Orion bersikap baik dan perhatian pada perempuan lain hatinya malah terasa tidak nyaman, sih?


Arkana lantas berdehem. Dia berujar dengan volume suara, yang menurut Freya lebih kencang daripada seharusnya.


"Gue bilang 'kan lo harus hibur gue, Frey. Nggak mau tau, pokoknya nanti weekend temenin gue jalan, ya?"


Freya mengerutkan kening. "Apa sih, lo 'kan nggak bener-bener ngegalau."


Di bawah meja dia bisa merasakan Arkana menendang kakinya dengan kencang. Lagi-lagi dia berujar dengan suara kelewat keras,


"Pokoknya weekend kita seneng-seneng seharian. Berduaan. Lo harus mau."


Freya menghela napas pelan, malas juga meladeni Arkana terus-terusan. "Gue nggak bisa nolak juga 'kan?"


Sehabis makan siang adalah mata kuliah Orion. Ketika Freya tiba di dalam kelas, semua kursi sudah terisi, dan hanya tersisa kursi di barisan paling depan.


"Parah lo pada nggak nge-tag kursi buat gue di belakang." Freya menukas sakit hati pada keempat temannya yang duduk di barisan belakang.


Rania terkekeh tapi kemudian tersenyum meminta maaf. Dia menunjuk Dery, salah satu teman sekelas mereka, yang kini duduk di sebelahnya. "Ya maaf, ini si Dery maksa pengen duduk di belakang, nih."


"Gue ngantuk banget Frey, mau diem-diem tidur tau," cetus Dery sambil memasang cengiran.


Freya mendengus dan dengan pasrah mendudukan diri di kursi barisan depan. Tidak lama, Arjun, ketua kelasnya, berderap masuk ke dalam kelas dan mendudukan diri di samping Freya. Tepat ketika Arjun menempelkan pantatnya di kursi, Orion melangkah masuk.


"Gila, pas-pasan banget." Arjun bergumam sambil menghela napas lega.


"Tumbenan telat, biasanya lo paling gercep masuk kelas, Jun." Freya menatap laki-laki itu dengan kedua alis berjingkat heran.


Sambil mengeluarkan bukunya, Arjun menjawab dalam bisikan pelan, "Tadi ada kumpul KM seangkatan sama prodi lain, ngebahas festival budaya. Yang lain datengnya pada telat jadi ya bahasannya juga ngaret, deh."


"Oh iya bentaran lagi ‘kan fesbud, ya." Freya berbisik dengan bersemangat, mengingat acara tahunan yang rutin diadakan fakultasnya itu. "Taun ini kita kebagian bawain budaya dari negara mana, Jun?"


"Bahasannya belum sampai situ, sih. Tapi kemaren banyak yang usul pengen ambil Korea." Arjun menjelaskan. "Cuma menurut gue Korea 'kan lagi ngehits nih, pasti kelas lain banyak yang mau ambil juga. Harus cepet-cepet disepakatin terus di-tag, kalau emang mau ambil Korea."


Freya mengangguk bersemangat mendengar ini. "Iya, bener. Asik, sih, kalau beneran ambil Korea. Gue udah tau tempat sewa hanbok yang murah di mana. Taun kemaren kelasnya si Kak Kevin ambil Korea jadi—"


"Freya."


Freya tersentak ketika namanya mendadak dipanggil. Dia menoleh ke depan kelas, dan menemukan Orion tengah menatapnya tajam sambil bersidekap.


"Kalau mau mengobrol, silakan keluar kelas. Saya nggak butuh mahasiswa yang nggak mau mendengarkan penjelasan saya," katanya dengan suara tegas.


Freya tersentak. Tidak pernah mengira Orion akan menegurnya begitu.


"Maaf, Pak." Dia berujar pelan dan menundukan kepalanya.


"Sori." Di sampingnya Arjun berbisik menyesal, Freya hanya menanggapi dengan senyum kecil dan gelengan.


Sampai kelas berakhir, Freya tidak membuka mulut sama sekali. Ketika akhirnya Orion menutup kelasnya, Freya akhirnya mendongak. Dia bergegas memasukan bukunya, dan beranjak ingin menghampiri Orion. Tapi langkahnya terhenti ketika Orion mendongak, dan menatap ke arah lain melewatinya.


"Sisi, ikut saya ke prodi. Bantu saya input nilai teman-teman kamu, ya," katanya sambil menatap Sisi yang berdiri di belakang Freya, hendak keluar dari kelas.


"Eh? Maaf, Pak, tapi 'kan biasanya Freya?" Sisi bertanya bingung. Di tempatnya Freya hanya mematung, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Sejenak Orion menatap Freya. Tatapannya tidak terbaca. Tapi yang Freya sadari, tidak ada lagi sorot hangat di sana.


Orion lantas menundukan kepala dan membereskan laptop dan bukunya. "Saya butuh orang baru."


Lalu setelah mengatakan itu, dia melangkah keluar kelas begitu saja. Meninggalkan Freya yang masih terpaku di tempatnya.


Rania segera menghampirinya dan berbisik panik, "Lo berantem sama Pak Orion? Nggak biasanya banget dia marahin lo, nyampe nyuruh Sisi gantiin lo ngeinput nilai segala."


Freya mengetuk-ngetuk ponselnya sementara kepalanya sibuk berpikir.


Telepon, atau jangan?


Tapi dia harus minta penjelasan 'kan atas sikap Orion seharian ini?


Atau tidak perlu?


Dasya :


Nggak apa-apa, telepon aja


Ajak ngobrol kayak biasa, nanti ketauan kalau emang ada masalah


Pesan dari Dasya di grup muncul di ponselnya, menjawab pertanyaan yang tadi Freya ajukan.


Sebelumnya, Freya memang tengah mendiskusikan kebingungannya tentang perilaku Orion hari ini bersama teman-temannya.


Juni :


Nah, bener


Qila :


Emang Dasya paling pro


Rania :


Kan bener kata gue juga dia tuh fakgel jadi berpengalaman


Naya :


Masalahnya gue nggak pernah telfon dia duluan..


Qila :


Ya udah sih, nggak apa-apa, Frey


Dasya :


Iya telepon aja, Frey


Gue santet online mau lo? @Rania


Rania :


Ampun kanjeng ratu


Freya menghela napas lalu membuka daftar kontaknya. Jarinya sempat terhenti di udara, sebelum akhirnya menekan ikon panggil pada kontak Dosen Favoritku.


Beberapa saat dia menunggu ditemani dering monoton dari sambungan.


"Halo?"


Sampai akhirnya suara Orion terdengar dari ujung sana. Kedengaran begitu lesu.


"Eh, halo, Pak? Saya ganggu, ya?" Freua bertanya ragu, dia mulai menggigiti ujung jemarinya.


Didengarnya dari ujung sana Orion menghela napas pelan. "Ada apa?"


"Mm enggak, tadinya saya cuma mau ngobrol..."


"Freya, kamu tau ini jam berapa? Udah malem, saya cape seharian ini. Saya kira kamu telepon ada urusan penting."


Jantung Freya seketika mencelus mendengar ini. Tidak pernah mengira Orion akan merespons begitu.


Apa ia sudah melewati batas?


Freya menghela napas dan cepat-cepat berujar, "Maaf, Pak, kalau saya ngeganggu. Saya tutup dulu. Selamat istirahat."


Lalu tanpa menunggu jawaban, Freya langsung memutus sambungan dan mematikan ponselnya. Pikirannya mendadak berantakan.


Pasti ada yang salah sampai membuat Orion bersikap seperti itu.


Sebenarnya apa alasan di balik sikap Orion?