
Ruangan sekretariat himpunan Ilmu Komunikasi ribut seperti biasa. Anggota-anggota Media dan Informasi duduk mengisi ruangan yang tidak seberapa luas itu, bersiap menggelar rapat mingguan mereka.
Sementara teman-temannya heboh membicarakan ini-itu, Freya terpekur di tempatnya. Dia menunduk sembari memainkan jemarinya sendiri.
Pikirannya kembali melayang pada kejadian tadi. Kira-kira apa yang terjadi setelah dia meninggalkan Orion dan Kenan berdua? Entahlah, Freya tidak mau membayangkannya. Dia menggelengkan kepala, berusaha mengusir kejadian tadi dari benaknya.
Namun kemudian ingatan akan sorot mata Orion sore tadi kembali menyapanya. Pemuda itu menatapnya dengan sendu, sesuatu yang tidak pernah Freya bayangkan.
"Eh, ini Kak Freya?" Desisan Haekal yang duduk di seberangnya menyeret Freya dari lamunannya.
"Ngaco! Jangan ngomong sembarangan, Kal!” Jendra di sampingnya ikut mendesis. Keduanya tengah memperhatikan sesuatu di ponsel masing-masing, kelihatan tidak sadar perdebatan mereka sudah menarik perhatian Freya.
Kening Freya lantas mengerut. "Apa, sih? Kok bawa-bawa gue?"
Serentak Haekal dan Jendra mendongak menatap Freya dengan terkejut.
"Ini Kak, ada yang nge-share foto-foto aneh di grup angkatan gue," sahut Haekal sambil menggaruk kepalanya.
"Eh di grup angkatan gue juga ada yang nge-share, nih." Kevin tahu-tahu menukas dan segera menunduk mengamati ponselnya.
Kerutan di kening Freya semakin mendalam. "Foto-foto aneh apa?"
“Frey. Dasya yang duduk di sampingnya menginterupsi. Membuat Freya seketika menoleh dan mendapati Dasya serta Juni tengah menatapnya dengan terkejut. Keduanya juga menggenggam ponsel, seakan sesuatu di dalam benda pipih itu baru saja mengantarkan kabar tidak terduga.
"Kenapa, sih?" Freya bertanya tidak nyaman, terlebih ketika menyadari seisi ruangan kini menjadi hening. Teman-temannya baru saja mendongak dari ponsel dan menatap Freya dengan tidak percaya.
Freya ingin mengecek ponselnya sendiri tetapi dia teringat menonaktifkan ponselnya dan meninggalkannya di rumah. Tanpa permisi diraihnya ponsel Dasya. Gawai itu tengah membuka ruang chat grup angkatan fakultasnya yang kini mendadak ramai.
Jantung Freya terasa mencelus ketika mendapati namanya disebut di sana-sini.
F anak 2017?
Mukanya kayak Freya anak Ilkom 17 bukan, sih?
Wah, beneran si Freya?
Udah gila kalau beneran
O dosen idola maksudnya tuh...
Pak Orion? Gila gila
Parah sih
Dengan jemari gemetar Freya men-scroll obrolan hingga dia menemukan foto-foto yang dikirim oleh anggota grup tidak dikenal. Foto-foto itu nampak diambil diam-diam, agak buram dan tidak begitu jelas. Namun ketika Freya mengklik fotonya, tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari dirinya dalam foto itu. Dirinya dan Orion.
Freya membeku mengamati foto-foto itu. Dia bahkan tidak ingat kapan foto itu diambil. Di sana dia nampak tidak sadarkan diri, sementara Orion membopongnya ke dalam mobil dan membawanya pergi.
Tapi kenapa ... kenapa seseorang memotretnya dalam keadaan begitu? Kenapa mengirimkannya ke grup angkatan disertai pesan seakan-akan dia dan Orion sudah melakukan hal tidak pantas? Siapa yang melakukan itu?
Haekal, Jendra, Kevin dan semua orang di dalam ruangan ini sudah mengetahui perihal foto itu. Artinya, foto-foto itu sudah tersebar ke semua orang dengan begitu cepat.
Tapi untuk apa?
Freya tercenung ketika satu gagasan melintasi benaknya.
Niatan busuk gue buat bales dendam, buat bikin Freya sakit supaya Kenan juga terluka... Gue pernah berniat bikin dia nangis cuma untuk ngebayar luka gue di masa lalu.
Apakah ini bagian dari rencana Orion?
Apa mungkin Orion tega melukainya sejauh ini?
"Frey, tenang dulu, ya." Juni tiba-tiba mendekat dan menggenggam tangannya. Dasya mengangguk lalu ikut meraih tangannya.
Freya tidak sempat merespons apa pun. Dari kejauhan didengarnya derap langkah mendekat. Lalu Rania muncul di ambang pintu dengan napas terengah dan keringat bercucuran, nampak baru saja berlarian.
"Frey ... Arkana .... " Rania berujar susah payah di tengah napas berantakannya. "Arkana lagi ngegebukin Marco... di blagedu... dia kayak orang kesetanan…….. “
Cepat-cepat Freya bangun dan beranjak memakai sepatunya. Tanpa mengatakan apa pun, dia segera berlari meninggalkan ruang sekretariat menuju belakang gedung dua, tempat yang Rania sebutkan tadi.
Di sepanjang jalan dia bisa merasakan beberapa orang menatap dan berbisik-bisik. Freya tidak yakin alasannya karena foto-foto itu atau karena dia berlari seperti kesetanan. Tapi yang pasti dia harus segera menemui Arkana.
Sahabatnya itu jarang sekali menggunakan kekuatan fisiknya untuk bertengkar, tapi jika dia sudah melakukannya, biasanya dia tidak pernah membiarkan lawannya tetap baik-baik saja.
Arkana bisa memukuli lawannya sampai benar-benar babak belur. Dan itu jelas bukan hal baik.
Dari kejauhan Freya bisa melihat kerumunan orang di belakang gedung dua. Area ini memang tidak tersentuh oleh pengawasan fakultas, sehingga tidak mengherankan jika tidak ada yang berusaha melerai.
Tapi menjadikannya sebagai tontonan? Yang benar saja.
Dengan napas terengah, Freya membelah kerumunan itu. Dilihatnya Arkana tengah menghujani Marco yang kini terkapar tidak berdaya dengan bogem mentah berkali-kali. Pemuda itu kelihatan marah luar biasa. Tidak ada seorang pun yang berani mendekat karena terlalu ngeri.
"Gue udah bilang hapus ‘kan! Kenapa lo sebar, hah?! Mau lo apa?!" Arkana memaki sembari melayangkan tinjuan telak pada sisi wajah Marco yang jelas-jelas sudah penuh luka.
"Gue bilang bukan gue, bangsat!" Marco menjerit, berusaha menghindar meski upayanya tidak berguna.
"Terus siapa kalau bukan lo?!" Arkana menggeram marah.
Freya meringis mendengar ini. Sekujur tubuhnya mendadak gemetar ketakutan. Tetapi dia berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk memekik nyaring, "Berhenti, Arkana! Gue bilang berhenti!"
Tinjuan Arkana seketika menggantung di udara. Dia menoleh dan kedua matanya melebar begitu mendapati Freya berdiri tidak jauh darinya, memandanginya dengan ngeri. Dilepaskannya cengkramannya pada kerah baju Marco, membuat pemuda itu terempas begitu saja ke tanah.
Dia terbatuk-batuk, dan Mika yang sejak tadi hanya berdiri ketakutan segera memapahnya.
"Freya ...."
Freya mengesah pelan. Lalu segera menarik tangan Arkana, membawanya pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun karena tahu orang-orang tengah mengamati.
"Kita mau ke mana?" Arkana bertanya ketika Freya terus menariknya pergi.
"Klinik." Freya menjawab singkat tanpa berbalik. "Lo juga luka. Liat tangan lo."
Arkana lantas menghela napas dan berujar pelan, "Maaf."
"Nggak usah minta maaf sama gue. Minta maaf sama Marco nanti." Freya menukas cepat, masih menolak berbalik menatap Arkana. "Lo tuh kenapa, sih? Emang nggak ada jalan lain selain ngebogem orang? Puas lo setelah bikin orang lain bonyok, hah?"
"Maaf, Frey." Seakan tidak mendengar omelan Freya, Arkana kembali menggumamkan maaf.
"Jangan minta maaf sama gue! Ini bukan tentang gue, ini tentang elo. Paham nggak, sih, lo bisa kena masalah kalau mukulin orang gitu, gimana kalau-”
"Ini tentang lo, Frey."
Arkana menyambar perkataan Freya, lalu menarik lengannya hingga gadis itu berbalik dan seketika berhenti berjalan. Kini keduanya berdiri berhadanan dan keduanya berdiri berhadapan, dan untuk pertama kalinya Freya mendapati wajah Arkana dipenuhi oleh raut bersalah.
"Marco orangnya. Dia yang nyebarin foto-foto lo." Arkana berujar perlahan.
Ini membuat Freya terpekur. "Lo... tau dari mana?"
Sesaat Arkana kelihatan ragu untuk menjawab. "Lo inget grup gue yang pernah lo liat? Yang lo bilang grup laknat. Dulu Marco sempet nge-share foto-foto itu di sana. Dia ke Nightiest juga, dia ngeliat lo di sana, dan dia yang ngambil fotonya ” Arkana berhenti sejenak dan mengusak rambutnya. "Padahal gue udah minta dia hapus fotonya. Gue udah minta jangan sampe foto itu nyebar ke luar. Gue juga juga nggak ngerti atas dasar apa dia ngelakuin ini."
Freya mengerjap. Rupanya dugaannya tentang Orion terbukti salah. Bukan Orion pelakunya....
"Maaf gue nggak bilang dari awal. Gue nggak mau lo ngerasa risih karna foto lo diambil diem-diem gitu. Gue pikir minta Marco supaya nggak nyebarin foto itu udah cukup, tapi ternyata ...." Arkana menunduk, kelihatan begitu terpukul. "Maaf, Frey. Harusnya gue pastiin Marco bener-bener hapus foto itu. Harusnya gue bisa nyegah dia nyebarin foto itu. Ini salah gue."
Mendengar ini dengan cepat Freya menggeleng. Dia mendekat pada Arkana, dan menyentuh lengannya.
"Engga. Ini bukan salah lo," cetusnya tegas. "Bukan lo yang ngefoto gue, bukan lo yang nge-share foto itu. Jadi ini bukan salah lo, Ar."
"Tetep aja." Arkana bergumam menolak. “Harusnya gue hajar Marco sampe mampus. Nggak seharusnya dia ngelakuin hal kurang ajar gitu.”
"Engga, lo nggak boleh bikin orang lain bonyok, Ar. Udah gue bilang 'kan lo sendiri yang nanti kena masalah. Lo nggak takut emangnya? Gimana kalau Marco nuntut lo?" Freya menukas cepat. "Jangan ngerugiin diri lo sendiri demi orang lain, apalagi kalau orangnya itu gue. Gue nggak mau liat lo menderita karena gue, Ar."
"Justru karena itu lo, dia rela ngelakuin apa pun. Bahkan sampai ngerugiin dirinya sendiri sekalipun."