Islandzandi

Islandzandi
Sebuah Alasan



Arkana tersenyum ketika mendadak saja ingatan tujuh tahun lalu itu menyapanya. Ingatan tentang kejadian yang membuatnya menjadi begitu dekat dengan Freya sampai sekarang. Kejadian yang menjadikan Freya sosok paling berharga untuknya.


Laki-laki itu lalu melempar bola basket ke ring untuk terakhir kalinya dan berjalan menghampiri Freya yang duduk menunggunya di tribun lapangan.


"Kenapa lo senyum-senyum sendiri gitu? Mikir aneh-aneh, ya?" Freya menukas sambil menatap Arkana penuh selidik.


Arkana hanya terkekeh lalu mendudukan diri di samping Freya. Dia menyugar rambutnya yang basah oleh keringat lantas mengipasi wajahnya dengan tangan.


"Nih, minum," kata Freya sambil menyodorkan sebotol minuman isotonik dingin pada Arkana.


"Ngapain, sih tengah hari panas-panas gini malah main basket? Udah ilang waras ya lo?"


Lagi, Arkana tertawa kecil lalu meneguk minuman dari Freya. "Udah lama nggak main di lapangan komplek, gue kangen."


Freya mendecih. "Main basket dikangenin. Cewek lo tuh yang harusnya dikangenin. Berhari-hari lo cuekin dia, ngilang nggak ada kabar, emang pantes apa?"


Senyum Arkana perlahan luntur. Dia meletakan botol minumannya lalu menatap Freya lurus-lurus. "Jadi karena ini lo minta ketemu? Karena Giana?"


"Lo masih sayang nggak, sih sama Giana, Ar?" Alih-alih menjawab, Freya justru menanyakan hal lain.


Arkana tersentak, tidak menyangka Freya akan menanyainya hal ini. Sejenak dia hanya diam. "Gue nggak tau."


Freya menghela napas pelan, tidak terkejut dengan jawaban Arkana.


"Kenapa lo ngehindarin Giana gitu? Dia bilang lo nggak bisa dihubungin, nggak bisa ditemuin, ini giliran gue chat minta ketemu langsung lo respons." Freya berdecak pelan. "Lo ada masalah apa sih, Ar? Gue pikir lo serius sama Giana."


Sejenak Arkana hanya terdiam.


"Giana minta lo ngelakuin ini? Sebelumnya lo nggak pernah ngurusin hubungan gue sama cewek mana pun."


"Iya, Giana minta tolong ke gue. Tapi bukan karena itu aja. Gue ngomong gini karena gue juga peduli sama lo, Ar." Freya memutar duduknya hingga ia benar-benar menghadap Arkana. "Mau sampai kapan lo kayak gini, mainin cewe terus? Lo nggak cape ngejalanin hubungan yang nggak serius, hah?"


Arkana mengembuskan napas kasar. "Lo nggak ngerti, Frey. Nggak akan ngerti."


Freya memang tidak mengerti alasan Arkana melakukan ini semua. Bergonta-ganti pacar, mempermainkan perempuan, Freya sama sekali tidak mengerti alasan Arkana melakukannya.


"Kalau gitu buat gue ngerti, cerita sama gue masalahnya kenapa. Gue sahabat lo 'kan?"


Arkana mengusak rambutnya sambil mengesah. "Nggak bisa. Gue punya alesan tapi lo nggak bisa tau alesan itu."


"Kenapa?" Kening Freya mengerut.


Karena lo alesannya, Frey, dan gue takut seandainya lo tau, lo bakalan menjauh.


Arkana menggeleng pelan. Tidak mungkin kan dia mengatakan itu?


"Ya... Mungkin suatu saat lo bakal tau, tapi nggak hari ini."


Iya, mungkin suatu saat Arkana akan membiarkan Freya tahu tentang perasaannya yang sebenarnya. Tapi suatu saat itu, bukan hari ini. Suatu saat itu adalah nanti ketika Arkana telah siap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Termasuk, kemungkinan kehilangan Freya. Sebab ketika dia memutuskan untuk menyatakan perasaan pada sahabatnya, maka hanya akan dua kemungkinan. Mereka bisa menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih-jika Freya membalas perasaannya. Atau, hubungan mereka akan berubah canggung, dan bukan tidak mungkin berubah menjadi lebih buruk dari itu-jika Freya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.


Kemungkinan kedua terlalu buruk.


Hingga Arkana tidak berani mengambil resiko bahkan jika kemungkinan pertama terdengar begitu indah.


Baginya Freya adalah sosok paling berharga di hidupnya. Arkana masih belum siap jika harus kehilangan Freya hanya karena perasaan bodohnya.


Sejenak Freya hanya terdiam memikirkan jawaban Arkana. dia lalu menghela napas. "Oke, itu hak lo buat nggak ngasih tau gue. Tapi, Ar, sekali ini aja bisa dengerin gue?"


Arkana tidak menjawab, tapi membiarkan Freya terus bicara.


"Lo mau gue ingetin seberapa kerasnya usaha lo buat dapetin Giana dulu? Lo lupa apa aja yang udah lo lakuin buat bikin Giana yang tadinya cuek, sampai sesayang ini sama lo?" Dia berhenti sejenak. "Ar, gue juga cewek, gue ngerti gimana perasaan Giana sekarang. Lo bayangin, awalnya dia nggak mau percaya sama lo karena lo terkenal player. Tapi karena usaha lo, akhirnya dia luluh. Akhirnya dia percaya sama lo dan mau ngejalin hubungan. Dan sekarang, setelah akhirnya Giana naruh kepercayaan buat lo, lo ancurin gitu aja rasa percayanya dengan ngejauhin dia. Lo pikir dia bakal baik-baik aja, Ar?"


"Gue tau lo pasti punya alesan kayak gini. Dan meski lo bilang gue nggak bisa tau alesan itu, Giana harus tau, Ar. Karena ini hubungan lo sama dia. Lo nggak ngejalanin hubungan ini sendirian." Freya menatap Atkana yang nanya terdiam. Seengganya bicarain ini sama Giana. Jangan ngilang gitu aja kayak pecundang. Lo udah berani mulai suatu hubungan, lo nggak bisa lari gitu aja karena suatu masalah yang bahkan nggak lo omongin sama pasangan lo."


Arkana tercenung. Tidak pernah memikirkan ini sebelumnya.


Sebelumnya, selama menjalin hubungan, dia tidak pernah memikirkan perasaan pasangannya atas tindakan yang ia lakukan. Egois. Tapi sejak awal, alasannya menjalin setiap hubungan memang karena keegoisannya.


"Gue cuma minta lo ketemu Giana, omongin masalah ini sama dia, Ar. Nggak susah 'kan?"


Arkana menghela napas lagi. "Oke, gue bakalan ngomong sama dia."


Meski Arkana tidak berjanji dia akan mengatakan yang sebenarnya.


Karena tidak mungkin kan, dia mengatakan pada Giana bahwa Freya selalu menjadi alasan di balik semua sikapnya.


Freya yang membuat Arkana menghindari Giana.


Dan bahkan, Freya juga yang menjadi alasan Arkana mengencani Giana dan perempuan-perempuan lainnya..


Lagi-lagi, Freya terlambat.


Sambil berjalan perempuan itu mengecek ponselnya, membaca pesan-pesan dari grup kelas yang terkirim beberapa menit lalu. Dia menghela napas lega ketika membaca pesan dari Arjun, ketua kelasnya, yang mengabari kelas pagi ini diganti ke seminar prodi, jadi dia bisa terhindar dari amukan dosennya.


Arjun :


Guys kelasnya Pak Arifin dipindah agenda ke seminar prodi ya, di auditorium pasca sarjana


Qila :


Asik mantap bisa lanjut tidur~


Juni :


Absennya pas seminar?


Rania :


Ada konsumsi nggak, Jun?


Arjun :


Iya absennya dipegang gue, nanti abis seminar beres baru bisa tanda tangan.


Mana gue tau ada konsumnya atau nggak @Rania


Tapi kayaknya sih nggak ada, orang seminarnya gratis


Rania :


Ah, elah, belom sarapan gue tuh...


Freya terkekeh membaca semua pesan itu. Dia tahu Rania juga pasti terlambat sepertinya. Qila bahkan mungkin memutuskan untuk tidak datang ke kampus sama sekali.


Seraya sesekali melirik jalan di depannya, Freya mengetikan pesan.


Freya :


Masih bisa masuk nggak, Jun?


Arjun :


Masih, tapi kursinya udah penuh semua


Kalau mau masuk lewat pintu belakang, ya.


Rania :


@Freya nggak usah masuk, penuh banget, lo mau duduk lesehan depan panggung?


Freya :


Sumpah lo?


Rania :


Iya, tadi gue ngintip dikit lewat pintu belakang.


Udah, temenin gue sarapan aja di kantin kuy.


Freya lagi-lagi terkekeh. Rania memang selalu punya ide sesat di saat-saat seperti ini. Tapi anehnya, dia pun selalu suka ide-ide itu. Memang bukan tanpa alasan mereka jadi teman dekat.


Freya :


Emang boleh? Nggak akan diamuk Pak Arifin? @Arjun


Arjun :


Nggak akan ketauan juga sih, lagian ini emang udah penuh auditoriumnya.


Asal lo pada langsung balik aja ke auditorium pas seminarnya mau beres


Rania :


Asik Arjun terbaik