
Sejenak Freya terdiam memikirkan ini. Dia lalu menatap Arkana dengan serius.
"Oke, setelah gue pikir lagi, lo emang salah karena udah ngecewain Giana. Lo salah karena nggak serius ngejalanin hubungan sama dia dan cuma jadiin dia pelarian. Tapi Ar, keputusan Giana buat nyakitin gue sama sekali di luar kuasa lo. Itu salah dia sepenuhnya." Freya cepat-cepat menambahkan ketika Arkana kelihatan ingin menyanggahnya, “Iya, mungkin emang kesalahan lo yang nge-trigger Giana buat berbuat gitu. Tapi seandainya Giana pake akal sehatnya, pake hati nuraninya, dia pasti nggak akan tega ngelakuin ini sama gue. Giana punya pilihan buat nggak nyakitin orang lain demi ngebales rasa sakitnya, tapi dia nggak ambil pilihan itu. Jadi ini bukan salah lo, Ar."
Freya tercenung sendiri begitu dia mengatakan itu.
Giana punya pilihan buat nggak nyakitin orang lain demi ngebales rasa sakitnya, tapi dia nggak ambil pilihan itu.
Kenapa posisinya terasa sama seperti apa yang terjadi pada Orion?
Orion punya pilihan untuk tidak menyakiti orang lain—tidak menyakiti dirinya-demi membalas rasa sakit yang dibuat Kenan. Tapi Orion tidak mengambil pilihan itu.
Freya menggelengkan kepalanya pelan. Lagi-lagi dia memikirkan Orion.
"Nggak usah ngerasa bersalah lagi." Freya tersenyum kecil pada Arkana. “Belakangan gue udah nerima terlalu banyak kata maaf. Gue nggak mau denger itu dari lo juga."
Mau tidak mau Arkana ikut tersenyum melihat senyuman Freya. Dia menunduk lantas berujar pelan, "Gue harap lo nggak ngerasa terbebani sama rasa suka gue, Frey.”
Freya tersentak kecil mendengar ini. "Gue ... nggak terbebani. Cuma nggak nyangka aja."
Nggak nyangka, karena dulu pun gue sempet suka sama lo, Arkana.
Freya membiarkan kalimat itu menggantung di ujung lidahnya.
Mungkin, akan lebih baik jika Arkana tidaak pernah tahu soal itu.
"Gue cupu banget, ya?" Arkana tersenyum hambar sembari kembali menatap Freya. “Kayaknya dari jaman SMA gue mulai suka sama lo. Tapi gue nggak pernah punya keberanian buat ngungkapin itu. Gue terlalu takut lo bakal ngerasa risih dan ngejauh, dan akhirnya malah persahabatan kita yang rusak. Gue nggak mau itu terjadi. Akhirnya, gue malah main-main sama cewek lain, berharap dengan gitu gue bisa lupa sama lo. Tapi gue salah, Frey. Bahkan sampe sekarang, perasaan itu nggak pernah ilang."
Penjelasan Arkana membuat Freya terpekur. Jadi sebenarnya mereka sama-sama telah memendam rasa suka sejak lama. Hanya karena sebuah ketakutan yang belum terjadi, pada akhirnya mereka sama-sama memutuskan mengubur rasa itu dalam-dalam.
Memang benar, rasa takut tidak akan pernah membawanya ke mana pun. Seandainya saja sejak dulu salah satu dari mereka berani mengambil risiko ...
"Seandainya gue tau reaksi lo nggak seburuk yang gue kira, mungkin udah dari lama gue nembak lo." Arkana menambahkan sambil memasang cengiran jenaka.
Freya mengerjap berkali-kali, tidak menyangka Arkana akan mengatakan itu.
Arkana lantas tertawa kecil melihat ekspresi Freya.
"Becanda, Frey. Kan udah gue bilang, gue nggak mau lo terbebani rasa suka gue. Itu artinya, gue nggak maksa lo ngebales perasaan ini. Biarin gue tetep ada di sisi lo sebagai sahabat, itu aja udah lebih dari cukup." Dia lalu menambahkan dengan senyum pahit, “Lagian gue juga ngerti hati lo sebenernya buat siapa. Lo tau? Setelah gue tau Lo sakit karena dia, gue samperin dia dan ancem dia supaya nggak deketin lo lagi. Tapi sekarang setelah apa yang Giana lakuin ke elo, gue rasa gue pun nggak pantes nyoba dapetin lo."
Mendengar ini membuat Freya menundukan kepalanya. Rasanya menyedihkan dia harus menolak Arkana yang dulu sempat disukainya, untuk Orion yang sudah melukainya.
Dengan lembut Arkana meraih tangan Freya di atas meja lalu menggenggamnya, membuat perempuan itu mendongak. Di hadapannya Arkana tengah tersenyum hangat.
"Gue minta lo jangan terlalu lama sedih, Frey. Gue pengen liat lo bahagia lagi," ujarnya. "Dan gue harap, lo inget kalau lo selalu punya gue. Kalau lo butuh, pasti bakalan selalu ada buat lo."
Ini membuat Freya ikut tersenyum. “Makasih, Ar. Gue seneng punya lo di sisi gue." dia lalu terdiam sesaat.
"Makasih juga karena udah suka sama gue. Gue ngehargain perasaan itu. Tapi maaf karena gue nggak bisa ngebales perasaan lo.”
Arkana lantas menggeleng. "Gue nggak mau denger kata maaf dari lo," cetusnya, menirukan perkataan Freya sebelumnya. “Jadi nggak usah minta maaf buat hal ini."
"Of course, we are." Arkana menyahut sambil tersenyum lebar. "Abis ini lo mau jalan?"
Sejenak Freya berpikir, kemudian menggeleng. "Kayaknya gue mau sendiri dulu deh di sini."
Arkana mengangguk, mengerti ini waktunya untuk pergi. Dia melepas genggamannya pada Freya dan bersiap untuk beranjak.
"Ya udah, gue duluan, ya," katanya. "Kalau ada apa-apa langsung telepon gue aja, oke?"
Freya mengacungkan jempolnya lalu melambai pada Arkana yang kini berlalu pergi keluar dari kafe.
Sepeninggal Arkana, Freya kembali sendirian. Dia lega berhasil meluruskan masalahnya dengan Arkana. Sekarang perasaannya pun sudah jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
Sambil menyesap tehnya Freya memandang keluar jendela. Dalam diam mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Seperti yang tadi dikatakannya pada Arkana, dia memang butuh waktu sendirian.
Baru saja Freya menikmati kesendiriannya ini, seseorang tiba-tiba melongokan wajahnya di depan Freya. Membuat perempuan itu seketika terkesiap kaget.
Sosok yang mengejutkannya justru hanya terkekeh tanpa rasa dosa. Sementara Freya melengos malas.
Dari semua orang, kenapa dia harus bertemu dengan Aubrey sekarang?
Tanpa permisi Aubrey menarik kursi di depan Freya dan duduk di sana. Dia masih secantik sebelumnya. Bahkan mungkin nampak lebih cantik lagi dengan riasan sederhana. Tangannya membawa satu cup kopi, menandakan bahwa sebenarnya perempuan itu tidak berniat berlama-lama di kafe ini.
Dengan malas Freya balas menatap Aubrey.
"Apa? Mau apa?" tanyanya ketus. "Saya pikir hubungan kita nggak cukup baik buat duduk ngopi berduaan gini." Aubrey mengedikan bahu dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Tangannya bersilang dada dengan angkuh, gayanya yang normal. "Tadi gue liat lo sekilas, dan nggak yakin kalau lo beneran Freya yang gue tau."
Sebelah alis Freya berjingkat mendengar ini. "Kenapa?"
"Lo keliatan galau. Harusnya lo lagi bahagia-bahagianya dong, karena ada Orion." Aubrey menukas. Dia lalu mencondongkan tubuhnya dan menatap Freya antusias. "Lagi ribut, ya? Seneng nih gue kalau kalian ribut haha."
Freya merotasikan mata kesal, malas menanggapi Aubrey lebih jauh.
"Jadi beneran lagi ribut." Aubrey mengangguk-angguk sendiri. Dia lalu mengamati raut kaku di wajah Freua dan menambahkan, “Tenang aja sih, gue nggak berniat rebut cowok lo lagi. Udah nyerah gue."
Sekilas Freya melirik Aubrey. Mendadak teringat Orion tidak pernah benar-benar menceritakan apa yang dulu dia lakukan sampai membuat Aubrey berhenti mengganggunya.
"Emang kenapa?" Aubrey mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi lagi.
"Lo nggak bisa bayangin seberapa nyereminnya Orion waktu tau apa yang gue lakuin sama lo. Gila, gue sampe merinding. Ancemannya buat bikin gue nggak nyentuh lo lagi bener-bener bikin gue takut.” Dia berhenti sejenak dan menelengkan kepalanya. "Gue nggak mau ngakuin ini, sih, tapi gue rasa Orion nggak pernah sepeduli itu sama seorang cewek. I guess he fall for you that deep. Jadi ya, mendingan gue nyerah. Seperti kata lo dulu, daripada gue terus-terusan jadi cewek menyedihkan." Freya terdiam mendengar ini. Mau tidak mau kalimat Aubrey barusan memenuhi kepalanya kini.
"Dia ... nggak pernah sepeduli itu sama cewek?" Aubrey mengangguk sambil meminum kopinya. Dia lalu bertopang dagu, seakan siap menumpahkan ceritanya.
"Gue kenal Orion beberapa taun lalu. Ketemu di Nightiest. Dari pertama liat gue udah tertarik. Tapi temen-temen gue bilang nggak usah banyak berharap sama seorang Orion. Dia nggak pernah serius sama cewek, Cuma buat having fun aja. Basically, he never get into a real relationship. Tapi gue harus dapetin apa yang gue mau, jadi gue pake segala cara buat dapetin Orion." Aubrey tertawa kecil memikirkan itu. "Dan mungkin karena kesel akhirnya Orion beneran mau dong jadian sama gue. Meski nggak berakhir lama, sih. Akhirnya dia malah mutusin gue."
Freya agak tidak menyangka ini. Mungkin alasan Orion lebih senang bermain-main dengan perempuan alih-alih menjalin hubungan serius karena rasa sakit hatinya setelah putus dari Kiran.