Islandzandi

Islandzandi
Menerima Keberadaan Ayah



"Ngapain ke sini, Pak?" Freya bertanya perlahan setelah beberapa saat hening. Jemarinya bergerak saling meremat dengan gugup.


"Ada yang mau saya omongin," jawab Orion kemudian.


"Semalem ini? Penting, Pak? Saya capek, mau istirahat." Freya menyahut cepat. Sejenak merasa puas karena berhasil membalikan perkataan Orion beberapa hari lalu. Tapi rasa puasnya itu tidak bertahan lama ketika melihat raut terluka di wajah Orion.


"Oh, iya, maaf. Saya nggak tau waktu." Orion berujar pelan. "Kamu istirahat aja dulu."


Laki-laki itu sudah berbalik badan, tapi Freya cepat-cepat buka suara menahannya, "Masuk aja dulu, Pak. Ngomongnya di dalem."


Orion menoleh dan menatapnya bingung. "Kamu ‘kan lagi capek, saya-"


"Iya makanya ngobrolnya di dalem, sambil duduk. Bapak udah dateng semalem ini, saya nggak setega itu nyegah orang yang mau ngomong sama saya cuma karena capek." Freya menyahut sambil membuka pagar.


Sebenarnya tengah menyindir perbuatan Orion saat itu.


Dia lalu membukakan pintu dan membiarkan Orion duduk di ruang tamunya.


"Bentar Pak, saya buatin minuman dulu." Freya hendak beranjak menuju dapur, tapi langkahnya segera terhenti begitu mendengar deru mobil dari depan. Dia berjalan menuju jendela dan matanya seketika melebar terkejut.


"Kak Kenan ..." gumamnya ngeri.


Tatapannya beralih pada Orion. Dia harus menjelaskan apa pada Kenan soal kedatangan laki-laki ini di malam hari begini?


"Siapa itu?" Orion bertanya, bingung mendapati raut syok di wajah Freya.


Sebelum dia sempat memikirkan hal lain, dia segera menarik Orion dan membawanya ke lantai dua.


"Loh, kenapa?" Orion bertanya bingung sementara Freya mendorongnya masuk ke suatu kamar.


"Bapak sembunyi di sini dulu aja. Kakak saya paling cuma mampir bentar buat ngambil barangnya. Kalau Bapak keliatan sama dia, saya yang susah jelasinnya." Freya berujar cepat dan segera menutup pintu.


Bergegas dia kembali turun ke bawah dan menemukan Kenan tengah duduk di ruang tengah.



"Kak, kenapa tiba-tiba ke sini? Mau ngambil sesuatu?" Freya bertanya sembari mengamati Kenan yang kini menyalakan televisi.


Kenan menoleh pada Freya. "Eh, udah pulang? Gimana seru nggak ke pantainya?" Dia lalu menegak minuman kaleng di meja. "Udah makan malem belum? Tadi Kakak abis makan malem di luar, soalnya nggak ada makanan di sini."


"Hah, Kakak tau aku pergi ke pantai?" Freya bertanya heran sambil mendudukan diri di samping Kenan.


"Tau. Orang Arkana izin dulu sama Kakak kemaren. Makanya Kakak nginep di sini malem ini, katanya 'kan komplek kita lagi banyak kemalingan, jadi Kakak nggak tenang ninggalin rumah kosong. Kakak kira kamu bakal pulang lebih malem." Kenan menjelaskan sambil memindah-mindahkan saluran. Dia lalu menelengkan kepala ketika teringat sesuatu. “Itu mobil yang diparkir di seberang rumah punya siapa, ya? Apa punyanya tamu tetangga kita?"


Kedua mata Freya seketika melebar mendengar ini. Mobil yang dimaksud Kenan pasti mobil Orion. "Iya, kayaknya tetangga sebelah kedatengan tamu." Freya berhenti sejenak, ada yang lebih mendesak sekarang. "Kakak mau nginep malem ini?"


"Iya. Kenapa? Nggak boleh?" Kenan bertanya main-main.


Freya tertawa kaku sambil menggeleng. "E-enggalah, ya kali haha."


Hanya saja, bagaimana dengan Orion yang kini bersembunyi di kamarnya?


Setelah beberapa saat meninggalkan Orion di kamarnya, Freya kembali lagi dengan wajah agak cemas.


"Kakak kamu udah pulang?" tanya Orion setelah mengalihkan perhatiannya dari sekumpulan polaroid yang ditempel di atas meja belajar.


Freya menggeleng sambil berjalan menuju lemari pakaiannya. Dia mengeluarkan piyamanya, lalu menoleh pada Orion. "Kayanya Bapak nggak bisa langsung pulang sekarang. Kakak saya mau nginep di sini malem ini. Paling Bapak tunggu dulu beberapa jam, tunggu sampai kakak saya tidur. Baru Bapak bisa diem-diem keluar dari sini."


Orion menatap Freya sesaat lalu akhirnya mengangguk setuju. Memang salahnya sendiri datang kemari semalam ini. Tatapannya lalu kembali pada polaroid-polaroid yang semula tengah diamatinya. Kebanyakan foto itu dihiasi oleh wajah Freya dan teman-temannya dalam berbagai momen. Namun Orion menyadari, sebagian besar foto diisi oleh senyuman Arkana. Di beberapa foto nampak Freya dan Arkana yang berpose dengan begitu akrab sambil memamerkan senyum lebar.


"Kamu deket banget sama Arkana, ya?"


Freya yang semula hendak berjalan keluar, menghentikan langkahnya. Dia menatap Orion dan mengangguk kecil. "Dia sahabat saya dari jaman sekolah."


Mendengar ini Orion mengangguk.


Jantung Freya terasa mencelus mendengar ini.


"He tried to kiss you," ujar Orion perlahan. "Tapi kamu ngehindar. Dulu kamu bilang kamu suka dia 'kan?"


Freya memalingkan wajahnya sesaat. Tidak sangka Orion akan menanyainya hal ini.


"Saya ngerasa nggak bener aja ngelakuin itu sama sahabat sendiri," sahut Freya, lalu kembali menatap Orion tepat di mata. "Terlebih lagi, buat saya ciuman itu spesial. Cuma untuk orang yang bener-bener saya suka. Tapi mungkin buat sebagian orang nggak kayak gitu."


Setelah mengatakan itu, Freya berjalan keluar kamar dengan piyama dan handuk dalam pelukan. Meninggalkan Orion yang tercenung mendengar kalimat Freya tadi.


Terlebih lagi, buat saya ciuman itu spesial. Cuma untuk orang yang bener-bener saya suka.


Orion paham maksud kalimat itu. Malam itu, Freya menciumnya lebih dulu untuk pertama kali. Malam itu, Freya tengah mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Orion. Dan setelah malam itu, Orion justru menjauhinya.


Orion sadar dirinya memang bajingan. Dia mengerang dan mengusak rambutnya sendiri. Setelah semua ini, dia tidak yakin apakah Freya masih bisa memaafkannya.


***


"Kenapa nggak langsung tidur? Nggak cape seharian jalan, hm?" Kenan ikut duduk di samping Freya yang tengah mengaduk segelas coklat panas.


Freya menoleh lalu tersenyum kecil. Sebenarnya setelah tadi mandi, dia tidak langsung masuk kamar karena ingin menghindari Orion. Rasanya memalukan sudah bicara soal ciuman di depan laki-laki yang dia suka, yang baru saja mengabaikannya berhari-hari.


"Belum ngantuk, Kak."


"Jangan keseringan begadang. Nggak baik buat kesehatan," cetus Kenan sambil menatap Freya serius.


Freya mengangguk dan mulai meneguk coklatnya.


"Kakak dipanggil sama Ayah kamu, Frey." Kenan tiba-tiba berujar, membuat Freya tersedak. Laki-laki itu segera menepuk-nepuk punggung adiknya dengan lembut.


"Pelan-pelan minumnya."


"Buat apa?" Freya bertanya ketus.


Kenan menghela napas lalu beralih mengelus puncak kepala Freya perlahan.


"Dia pengen kamu sekali aja ikut makan malem bareng keluarga saat dia datang ke rumah ini.. karena pada saat itu dia bisa berusaha buat Nebus kesalahannya, Frey."


Freya menundukan kepalanya.


"Hah, jujur aja ya, Kakak memang nggak suka Ayah kamu pulang ke sini, Kakak takut kamu sakit hati lagi karena perlakuannya, tapi... setelah kakak ketemu dan bicara seharian sama Ayahmu... kayaknya Ayah kamu memang tulus mau menebus rasa bersalahnya..."


Mendengar ini membuat Freya mendongak menatap Kenan. Iya, sebenernya dia juga mulai terenyuh apalagi saat asisten pribadi ayahnya bilang bahwa ayahnya sedikit kurang enak badan. Yang membuat hati Freya terenyuh dan ingin sekali melihat keadaannya, tapi egonya mengatakan tidak. belum saatnya.


"Menurut Kakak aku harus maafin Ayah gitu aja setelah sekian lama dia buat aku jadi yatim? dan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah?" Freya bertanya sembari melepas tawa hambar.


Sejenak Kenan terdiam. "Hah, sebelum kamu memaafkan ayahmu, pertama kamu harus menerima keberadaan ayahmu dulu, Frey."


Naya terpekur sesaat.


"Temui dia, ajak bicara dia, dan terima keberadaannya."


Sekali lagi tangan Kenan bergerak mengelus rambut Freya. Dia lantas bergerak bangun dari duduknya. "Udah sana tidur, udah malem. Jangan terlalu dipikirin masalah ini, semua bakal baik-baik aja."


Freya mengangguk dan membereskan gelasnya ke wastafel. Sementara Kenan tidur di kamar utama di lantai satu, dia berjalan naik ke lantai dua dan memasuki kamarnya. Di sana, Orion masih setia duduk di kursi belajarnya, kelihatan tengah membaca sesuatu di ponselnya. Dia mendongak dan sejenak menatap Freya dalam diam.


"Bapak tadi mau ngomong apa?" tanya Freya dalam bisikan pelan, meski Kenan tidur di lantai satu, dia tetap tidak mau membuat kebisingan.