Islandzandi

Islandzandi
Kisah Orion & Kenan I



Kenan tidak pernah membenci siapa pun sebelummya. Bahkan orang tuanya yang tidak bertanggung jawab atas hidupnya saja tidak dia benci.


Tapi satu orang itu, entah kenapa selalu mengusiknya.


Dia Baltsaros Orion Leandro. Si paling bodoh seangkatan yang setiap hari pekerjaannya hanya numpang tidur di kelas. Hebatnya, tidak pernah ada seorang guru pun yang berani menegur tingkah Orion.


Gosipnya, sih karena ayahnya adalah seorang dosen di universitas bergengsi yang punya relasi baik dengan kepala sekolah mereka.


Intinya, meski badung dan bodoh, Orion diistimewakan. Kenan pikir posisi Orion yang seperti itu tidak akan pernah merugikannya. Toh Kenan murid paling pintar di sekolah ini, anak emas yang bodoh seperti Orion mana bisa mengganggunya 'kan?


"Pa, nanti kalau Kenan menang olimpiade matematika, janji ya kita makan-makan sekeluarga? Ajak mama juga, Freya bilang dia kangen Papa sama Mama."


"Papa sama mama sibuk. Kamu udah bukan anak kecil lagi, Kenan, masa masih nggak paham juga?”


"Tapi Pa, kita udah lama banget nggak makan malem bareng. Sekali ini aja, ya?"


"Juara satu, atau nggak sama sekali."


Janji ayahnya masih terpeta jelas di ingatannya. Menjadi cambuk bagi Kenan agar dia bisa memenangkan olimpiade itu. Hanya demi makan malam


keluarga yang tidak pernah dia dapat sebelumnya.


Tapi lawan yang tidak pernah diduga tiba-tiba muncul. Orion yang dia pikir tidak akan pernah mengusik hidupnya, tiba-tiba mengajukan diri sebagai pesaingnya.


Konyol. Lelucon kotor macam apa ini?


"Orion!" Kenan mendobrak terbuka pintu rooftop sekolah, dia tahu Orion di sana. Laki-laki itu terbiasa membolos jam pelajaran di rooftop yang sepi, tidur siang. Tapi kali ini Kenan menemukan Orion yang tengah sibuk membaca sebuah buku tebal.


Orion tidak terganggu dengan seruannya tadi. Fokusnya masih tertuju pada bukunya. Kenan mendengus lalu menarik buku itu dari tangan Orion dan melemparnya ke tanah.


"Apa-apaan lo?!" Orion bangun dari duduknya dari menatap Kenan tajam.


"Gue yang harusnya nanya gitu.” Kenan balas menukas marah. "Ngapain lo pake ngajuin diri buat ikut olimpiade, hah?"


Orion mendengus mendengar ini. "Kenapa? Lo takut kalah sama gue? Merasa tersaingi, ha?" Dia lalu menyeringai pada Kenan. "Cemen banget baru gini aja udah panik.”


"Merasa tersaingi sama lo? Yang bener aja. Biar gue perjelas, lo itu cuma sampah yang nggak ada artinya tanpa bantuan bokap lo. Ngerti nggak?" Kenan meninju pelan bahu Orion, membuat laki-laki itu mundur selangkah. "Tanpa relasi bokap lo, sekolah udah pasti udah nendang lo dari lama. Siapa juga yang butuh orang bodoh tukang bikin masalah? Harusnya lo malu sama status lo itu, bukannya koar-koar depan muka gue. Bisanya ngumpet di punggung bokap aja banyak gaya lo."


Seringai Orion seketika luntur mendengar ini. Kedua tangannya mengepal menahan emosi, nyaris meninju wajah Kenan. Tapi kemudian dia berdecak pelan. Ditatapnya Kenan dengan mata mcmicing.


"Terus kenapa kalau gue hidup karna bantuan bokap gue? Salah? Lo sirik? Ya udah, sana minta bokap lo bantuin hidup lo di sekolah juga." Dia lalu berhenti untuk mengamati perubahan raut Kenan. Tawa mengejek lantas lolos dari mulutnya. "Kenapa? Susah ya minta bantuan sama bokap yang bahkan nggak pernah peduli sama lo? Kasian. Nggak heran mulut lo nggak bisa dijaga gitu, nggak pernah diajarin bokap sih, ya?"


Kenan menatap Orion dengan kedua mata membeliak. Tidak sangka Orion akan menyinggung soal ayahnya, tidak sangka Orion mengetahui permasalahan keluarganya.


"Kenapa? Lo kaget gue tau soal masalah keluarga lo?" Orion mendengus dan tertawa kecil. "Lo lupa ya, dulu gue pernah ke rumah lo, dipaksa dateng buat ngerjain tugas kelompok. Gue ketiduran di sana dan anak-anak lain pulang duluan ninggalin gue. Waktu itu gue nggak sengaja denger nyokap bokap lo ribut parah. Tadinya gue berniat pura-pura nggak pernah tau soal masalah keluarga lo, tapi karena lo duluan yang nyinggung soal bokap gue, ya gue nggak punya pilihan lain.”


Rahang Kenan mengerat mendengar ini. Benar. Dia nyaris lupa Orion pernah ada di rumahnya saat kedua orang tuanya bertengkar hebat. Saat itu dia pikir Orion tidak tahu karena laki-laki itu tengah tertidur di ruang tengah. Seharusnya dia tidak membiarkan Orion tahu. Seharusnya dia tidak membiarkan Orion menginjak-nginjaknya....


"Bangsat!" Setiap kalimat Orion berhasil menyulut amarah Kenan. Laki-laki itu telah mengungkit masalah paling sensitif di hidupnya.


Satu tinjuan melayang telak di rahang Orion, membuatnya langsung terhuyung jatuh.


“Berani-beraninya lo bahas itu, tau apa lo soal keluarga gue? Lo pikir lo lebih baik dari gue, hah?"


Orion meludahkan darah yang mengalir dari dalam mulutnya karena tonjokan Kenan. "Gue emang nggak lebih baik dari lo. Tapi gue bakalan ngalahin lo, Kenan Aiman Ferdinan."


"Sialan lo!" Kenan menarik kerah Orion dan kembali melayangkan tinjuan lain.


Kali ini Orion tidak tinggal diam, tangannya balas menonjok sisi wajah Kenan. Keduanya melampiaskan emosi dengan melukai satu sama lain. Mereka telah sama-sama menyinggung masalah yang tidak seharusnya dibahas.


Lo sirik? Ya udah, sana minta bokap lo bantuin hidup lo di sekolah juga


Kenapa? Susah, ya minta bantuan sama bokap yang bahkan nggak pernah peduli sama lo?


Kalimat Orion tadi terus terngiang di telinga Kenan. Dia mengerang dan melayangkan tinjuan terakhir di wajah Orion, membuatnya kembali terkapar di tanah.


Kenan memejamkan mata sejenak merasakan sakit dan ngilu di hampir seluruh permukaan wajahnya. Darah mengalir di sisi bibir dan keningnya, tapi dia tidak peduli. Kepalanya penuh disesaki cemoohan Orion.


Benar. Mungkin memang benar dia iri pada apa yang dimiliki Orion.


Dia iri akan sosok ayah yang tidak pernah dimilikinya.


Kenapa Orion yang tidak punya otak bisa mendapat kemudahan di sekolah sementara dia harus berjuang belajar mati-matian?


Kenapa Orion yang selama ini selalu dianggap remeh olehnya bisa mendadak menjadi pesaingnya? Semua itu karena bantuan ayahnya.


Pada dasarnya Kenan membenci Orion karena laki-laki itu memiliki apa yang selama ini dia inginkan. Ayah yang selalu ada untuknya. Orion bisa menjalani hidup yang begitu mudah karena dia punya ayah yang bisa melakukan segalanya. Sementara Kenan harus selalu berjuang mati-matian untuk segalanya karena ayahnya bahkan tidak pernah peduli padanya.


Kenan benci pada kenyataan itu. Dengan napas masih memburu Kenan berjalan meninggalkan rooftop. Dia melangkah menyusuri lorong sekolah yang sudah sepi sementara kepalanya mulai menyusun rencana.


Tidak akan dia biarkan Orion mengalahkannya.


Kenan terus berjalan menuju sebuah warnet tempat beberapa anak sekolahnya sering berkumpul. Mereka menatap terkejut begitu mendapati wajah penuh luka Kenan.


"Lo kenap―"


"Lo masih mau gue kasih contekan semester ini?" Kenan menyela dengan suara rendah. “Bantu gue. Curi soal seleksi olimpiade dan masukin ke loker Orion. Buat kesaksian lo liat dia sendiri yang ngambil soalnya. Bisa?"


Temannya itu berpikir sejenak, tapi kemudian mendengus dan menyeringai tipis. “Gampang.”


Kenan mengangguk puas mendengar ini.


Iya, dia takkan membiarkan Orion mengalahkannya.