
"Hmmm... Enak ya, ngomongin orang?" Orion akhirnya berjalan mendekat sambil memicingkan mata, memasang tampang kesal dibuat-buat.
Freya dan Luna serentak menoleh padanya.
"Yah, ketauan," Luna menukas tanpa rasa penyesalan sedikit pun. Freya hanya terkekeh melihat Orion yang kini memutar mata menanggapi sikap kakaknya.
"Udah ah, ayo makan, udah jadi semua, nih." Luna menepuk tangannya dan mendudukan diri di meja makan. Orion duduk di sampingnya sementara Freya duduk di seberangnya.
"Wah, enak, Kak!" Freya menukas setelah dia mencicipi hidangan utama mereka. Ditatapnya Luna dengan mata berbinar. "Ternyata kemampuan masak juga nurun secara genetis, ya."
"Bisa aja kamu." Luna tertawa kecil mendengar ini. Dia lalu menoleh pada Orion di sampingnya dengan mata memicing. "Emang iya masakan Orion enak? Aku sih ga tau ya, orang sekali pun nggak pernah dimasakin. Bahkan cuma telur orak-arik aja nggak pernah sama sekali."
Orion menoleh dan menatap Luna dengan gemas. "Iya, nanti aku masakin. Lagian ‘kan Kak Luna selama ini di Tokyo, masa aku harus paketin masakan aku ke sana?"
"Ya kalau kamu niat sih, harusnya gitu," sahut Luna sambil mengedikan bahu. "Iya 'kan, Frey?"
Freya hanya terkekeh menanggapi ini. "Eh iya, Kak Luna emangnya udah berapa lama di Tokyo?"
Luna menelengkan kepala sambil berusaha mengingat-ingat. "Hm, berapa lama ya, udah lumayan lama, sih. Dari jaman SMA aku udah tinggal di Tokyo. Dan kemungkinan bakalan terus menetap di sana, karena aku sama tunanganku juga kerja di sana. Sekarang lagi ambil liburan aja buat ngunjungin si bungsu."
"Padahal nggak ada yang minta dia buat dateng." Orion bergumam tanpa menatap Luna.
Hal ini lantas sukses membuat sebuah jitakan mendarat di kepala Orion, membuat empunya mengaduh kesakitan.
"Sombong ya, kamu mentang-mentang udah punya cewek, kakak sendiri dilupain." Luna berdecak dan kembali menghujani Orion dengan jitakan.
"Aduh sakit, Kak!"
Freya mengamati ini sambil tertawa kecil. "Jangan gitu, Pak. Saya aja yang masih tinggal satu kota tapi nggak satu atap sama kakak saya suka kangen, apalagi ini sampai beda negara."
"Tuh dengerin, cewek kamu aja ngomong gitu." Luna menukas sambil memberikan jitakan terakhir. Dia lalu kembali beralih pada Freya. "Kamu punya kakak juga, Frey?"
"Iya, Kak. Udah lama nggak tinggal bareng lagi sih, karena kantor dia lokasinya agak jauh dari rumah." Freya mengangguk, lalu menambahkan ketika teringat sesuatu, "Dia juga seumuran tuh sama Pak Ori."
"Wah, berarti kalian akrab?" Luna bertanya sambil menatap Orion.
Gerakan Orion menyuap makanannya terhenti begitu mendengar pertanyaan ini. Sementara Freya dengan cepat merespons.
"Ah, engga. Justru Pak Ori sama kakak aku nggak pernah ketemu langsung. Soalnya aku yang ngelarang sih, kakak aku tuh ... agak ribet gitu orangnya. Pasti bakalan panjang jelasin soal hubungan aku sama Pak Ori."
Luna mengangguk-angguk mengerti mendengar ini. "Nggak apa-apa. Pasti nanti juga kalau kalian jelasin dia bakalan ngerti."
Freya tersenyum kecil. "Iya. Semoga, sih."
Freya terkekeh mendengar ini. "Kalau manggil pake sebutan lain takut di kampus keceplosan, Kak. Main aman aja."
"Oh, iya juga, sih.” Luna mengangguk mengerti. Dia lalu menunjuk-nunjuk Orion dengan sendok makannya. “Lagian Orion udah setua ini, emang cocoknya dipanggil bapak."
Orion berdecak dikatai begitu. “Nggak usah ungkit-ungkit soal umur, ya. Kak Luna juga nggak muda lagi tuh."
"Kamu nggak tau aja, orang-orang masih percaya kalau aku bilang umurku masih dua puluhan,” tukas Luna penuh percaya diri sambil mengibaskan rambutnya.
Ini membuat Orion mendengus kencang. "Kak Luna nggak tau aja, orang-orang percaya waktu dibilangin gitu karena ngeri digibeng kalau protes.”
"Heh, sembarangan!" Luna menukas marah dan kembali menghadiahi adiknya jitakan di kepala, membuat yang dijitak seketika mengaduh kencang.
Freya yang sejak tadi jadi penonton seketika tergelak. Diam-diam menikmati pemandangan Orion yang ditindas kakaknya sendiri.
"Nih, Frey, titik lemahnya Orion tuh ada di kepalanya." Luna berujar sambil menunjuk kepala Orion. Sekali lagi, dia menjitak kepala adiknya. "Kalau dia macem-macem sama kamu, jitak aja kepalanya."
"Kak!" Orion menukas marah, yang hanya ditanggapi gelak tawa Luna dan Freya.
Sisa jam makan malam itu lalu dihabiskan dengan obrolan-obrolan ringan di antara mereka bertiga. Ketika akhirnya perut ketiganya telah penuh terisi, Luna membawa Freya untuk bersantai di ruang tengah sementara Orion menyibukan diri dengan mencuci piring kotor.
"Bentar deh, aku punya sesuatu yang menarik," kata Luna dan berjalan menuju kopernya. Beberapa saat kemudian dia mengeluarkan sebuah album foto.
"Sebelum ke sini aku ke rumah ayah dulu, ngambil album foto keluarga buat dibawa ke Jepang nanti. Biar ada kenang-kenangan selama di sana. Eh, ternyata sekarang berguna juga, bisa diliatin ke kamu."
Luna mendudukan dirinya di samping Freya dan mulai membuka-buka album foto keluarganya. Di sana terpajang foto-foto keluarga Leandro dari waktu ke waktu. Freya seakan melihat pertumbuhan Orion yang diabadikan dalam lembaran foto-foto itu. Ketika Orion bayi, remaja, sampai akhirnya dewasa. Dia dan Luna tertawa-tawa ketika melihat beberapa foto yang menunjukan kekonyolan si lelaki Leandro. Tapi kemudian, perhatian Freya terhenti pada sebuah foto kelulusan Orion. Di sana, Orion berdiri berdampingan dengan ayahnya, memakai toga kelulusan yang kelihatan tidak asing di mata Freya. Bahkan latar tempat foto itu pun kelihatan familier baginya.
"Eh, Pak Ori kuliah di kampus ini juga?" gumamnya sambil memperhatikan foto itu.
Luna menoleh mendengar ini. "Iya. Kenapa emangnya, Frey?"
"Oh, itu, kakak aku juga kuliah di sana. Pasti mereka seangkatan karena seumuran. Pak Ori nggak gap year 'kan ya, Kak?"
Luna menggeleng. "Engga. Kakak kamu jurusan apa? Jangan-jangan mereka sebenernya saling kenal."
"Kakak aku anak Manajemen, sih. Mungkin nggak saling kenal, fakultasnya aja beda." Freya mengangguk-angguk memikirkan asumsinya. Dia lalu tertawa kecil. "Tapi dipikir-pikir lucu juga ya, dunia tuh berarti sesempit itu."
Luna tersenyum samar mendengar ini. "Iya. Kita bakalan kaget sendiri kalau tau ternyata orang-orang di sekitar kita tuh saling berkaitan dan punya hubungan juga."
Freya mengangguk setuju dan kembali memperhatikan foto-foto Orion di album. Bibirnya mengulas senyum tiap kali melihat momen-momen Orion yang terekam di sana. Jemarinya tanpa sadar bergerak mengusap sebuah foto di mana Orion tengah tersenyum lebar sambil mengangkat sebuah piala dan sertifikat, mungkin baru saja memenangi suatu kejuaraan.
Di sampingnya Luna ikut tersenyum melihat senyuman Freya. Dia bisa melihat dari sorot mata perempuan itu seberapa besar rasa sayangnya pada Orion, dan Luna benar-benar bersyukur untuk itu.
"Freya, makasih, ya."