Islandzandi

Islandzandi
Maaf



Ini 'kan yang sejak awal dia mau?


Lalu kenapa Orion tidak merasakan puas seperti apa yang ia bayangkan dahulu?


Karena rasa bersalahnya pada Freya telah terlanjur menguasai dirinya. Membuatnya seperti mati rasa, hingga tidak sanggup merasakan apa pun selain rasa bersalah itu. Hatinya terasa kosong sekarang.


Orion menghela napas lantas berujar dengan datar, “Bangun.”


Sejenak Kenan tidak mendengarkannya. Dia tetap pada posisi berlututnya.


"Lo bener, permintaan maaf lo nggak ngerubah apa pun. Bahkan mungkin bakalan lebih baik kalau gue nggak pernah denger kata maaf dari lo, jadi gue bisa benci lo sepanjang sisa hidup gue. Karena lo tau? Kadang permintaan maaf cuma jadi penenang buat si pendosa―gue udah minta maaf, urusan lo buat maafin gue atau engga, yang penting gue udah berusaha minta maaf. Segampang itu. Tapi gimana sama luka yang udah muncul karena kesalahan itu? Apa bisa sembuh cuma dengan kata maaf semata?" Orion berujar dengan tenang, selaras dengan perasaannya yang kini hampa.


Dalam diam Kenan mengangguk. Dia mengerti jika Orion merasa begitu. Dia paham jika rasa sakitnya tidak mampu ditebus hanya dengan permintaan maaf. Hal ini pulalah yang menjadi salah satu alasan Kenan ragu untuk mengutarakan permintaan maafnya. Terkadang, menuntut maaf memang bisa jadi seegois itu.


"Rasa benci gue terlalu besar, Kenan Aiman Ferdinan. Gue terlalu marah. Sampe gue rasa denger kata maaf dari lo nggak akan pernah cukup buat nyembuhin sakit gue. Karena itu gue mutusin buat nyentuh Freya." Suara Orion tercekat di akhir kalimat. Dia menyadari untuk pertama kalinya Kenan mendongak menatapnya. “Iya, gue bodoh, gue egois. Gue ngelibatin seseorang yang nggak bersalah cuma demi nyakitin lo. Tapi gue tau seberapa sayangnya lo sama Freya. Lucunya, sekarang setelah semuanya terjadi gue sama sekali nggak ngerasa puas udah berhasil bikin Freya terluka. Apa yang gue harapin di awal sama sekali nggak gue rasain."


Dengan gontai Kenan bangkit berdiri. Dia meraih tangan Orion, menggenggamnya dengan kedua tangan. Ditatapnya pemuda itu dengan nanar.


"Lo bisa hancurin gue semau lo. Tapi gue mohon jangan bawa-bawa Freya. Dia nggak tau apa-apa, dia nggak salah." Kenan berujar dengan parau. “Gue mohon jangan sakitin dia."


Orion bergerak melepaskan cengkraman Kenan pada tangannya.


"Itu emang tujuan awal gue. Tapi sekarang semuanya beda," tuturnya perlahan. "Gue juga nggak mau Freya sakit. Gue sayang dia."


Kedua mata Kenan melebar mendengar ini. Tanpa sadar diambilnya satu langkah mundur.


"Meski gue tau semuanya udah terlambat." Orion menundukan kepalanya, menutup kalimatnya dengan raut pilu.


***


Arkana baru saja keluar dari gedung dua kala dilihatnya Rania tengah duduk-duduk di selasar bersama teman-teman UKM-nya. Cepat-cepat dia menghampiri gadis itu. Ditariknya tangan Rania ke tempat lain agar mereka bisa bicara berdua.


"Kenapa, Ar?” Rania bertanya, heran mendapati raut serius di wajah Arkana.


"Lo tau Freya kenapa, Ran?" Alih-alih menjawab, Arkana justru balik bertanya.


"Freya?" Rania mengulang lalu menggeleng dengan lesu. "Gue juga nggak tau dia kenapa. Semalem Freya nge-chat gue, ngabarin nggak akan ngampus hari ini karena mau istirahat. Waktu gue tanya dia kenapa, dia nggak mau jawab. Tapi tadi ternyata Freya ke sini, katanya mau ikut rapat Medfo biar bisa ngalihin fokus. Kayaknya dia lagi ada masalah, deh. Lo tau sesuatu?"


Arkana menghela napas mendengar ini. Bahkan Rania pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Freya.


"Dari semalem gue ngehubungin dia awalnya dia ngangkat tapi dia nangis-nangis ga jelas pas gue tanya kenapa? Gue juga nggak tanya alesannya karena gue mau kasih waktu buat diri dia sendiri dulu." Arkana berhenti sejenak, kedua matanya lantas memicing. "Tapi nggak tau kenapa, gue punya firasat ini semua ada kaitannya sama Pak Orion."


"Pak Orion?" Rania bertanya heran, kedua matanya seketika melebar. "Tadi Freya ketemu Pak Orion, hubungan mereka emang keliatan lagi nggak baik, sih.”


"Ketemu? Di mana?" Suara Arkana kedengaran begitu mendesak.


"Kayaknya mereka jalan ke arah parkiran belakang.”


Bahkan sebelum Rania sempat menuntaskan kalimatnya, Arkana telah lebih dulu berbalik pergi. Bergegas melangkah menuju parkiran belakang.


"Ar! Mau ke mana lo?"


Pekikan Rania tidak dihiraukan oleh Arkana. Dia terus berjalan, dari belakang bisa didengarnya derap langkah Rania mengejarnya.


Lalu di kelokan sebelum parkiran belakang, Arkana tepat berpapasan dengan Orion. Pemuda itu segera menghadang jalan di depan Orion, menghalanginya untuk pergi.


Orion menghela napas lalu menatap Arkana dengan lelah. Dia kelihatan sama sekali tidak berminat bicara dengannya.


Arkana menggertakan giginya, mencoba menahan marah. “Freya diapain? Apa yang Bapak lakuin sama Freya?"


Orion memejamkan kedua matanya sejenak. Kalau ada yang ingin mengajaknya bicara soal permasalahan dengan Freya, maka Arkana adalah orang terakhir yang akan Orion pilih. "Kamu nggak usah ikut campur. Itu urusan saya sama Freya."


Ini membuat Arkana mendengus. Dia mencengkram pundak Orion ketika dosennya itu hendak melangkah melewatinya, kembali menahannya pergi.


"Saya udah bilang ‘kan saya nggak akan diem aja kalau sesuatu terjadi sama Freya?" cetus Arkana dengan suara rendah, menatap Orion dengan tatapan menusuk.


Rania yang sejak tadi hanya berani memperhatikan dari kejauhan segera berlari mendekat.


Ditariknya lengan Arkana agar dia menjauh dari Orion. Bagaimana pun Orion dosen mereka. Arkana bisa mendapat masalah jika bersikap seperti itu pada Orion.


"Arkana! Lo ngapain, sih!" Rania mendesis memperingatkan, masih mencoba menarik lengan Arkana untuk menjauh. Tapi Arkana sama sekali tidak berkutik. Dia tetap mencengkram pundak Orion sembari menatapnya tajam.


Orion menatap cengkraman Arkana, lalu beralih menatap mata pemuda itu dengan datar.


"Silakan. Kamu bisa apa emangnya?" tukas Orion, seakan dia sama sekali tidak terusik dengan ancaman Arkana.


Ini semakin memicu amarah Arkana. Tangannya mengepal. Dia nyaris melayangkan tinjuan ke sisi wajah Orion. Tetapi Rania segera menahannya dan menariknya mundur menjauh.


"Arkana! Sadar!" pekik Rania. “Lo bisa kena masalah! Freya nggak akan suka lo kena masalah meskipun itu demi dia.”


Arkana menghela napas mendengar ini. Dia kembali menguasai dirinya. Perkataan Rania ada benarnya. Dia kembali menatap Orion yang masih saja memberinya tatapan datar tanpa minat.


"Saya nggak akan biarin Bapak deket-deket sama Freya lagi. Ini terakhir kalinya saya biarin Bapak bikin Freya nangis." Arkana berujar dengan serius. Lalu tanpa menunggu respons apa pun, dia berbalik pergi.


Di belakangnya Rania kembali mengekor, mungkin berpikir Arkana akan membuat onar dengan emosinya yang tengah meluap-luap itu.


"Lo kenapa, sih? Lo sadar 'kan gimana pun Pak Orion tuh dosen, kalau lo mukul dia, elo yang bakalan dihukum." Rania merepet begitu dia berhasil menyamai langkah Arkana. “Emang apa hubungannya Pak Orion sama masalah Freya?"


Arkana menghela napas dan mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Lo juga bakalan semarah gue kalau liat gimana Freya nangis semalem. Meskipun di telpon tapi gue jelas banget dia sakit Ran."


Sebetulnya Arkana berniat menghubungi Freua. Namun notifikasi dari grup angkatannya tiba-tiba membludak. Tanpa sengaja Arkana menekannya dan dia segera dibawa ke ruang chat grup angkatannya. Kedua matanya seketika melebar begitu melihat apa yang tengah diributkan di ruang chat itu. Jantungnya terasa berhenti bekerja untuk beberapa sekon.


"****." Arkana mengumpat pelan. Bahkan tanpa perlu banyak berpikir dia tahu ulah siapa ini semua. "Marco ... ****."


Dia segera memacu kedua kakinya. Dia tahu di mana Marco biasa berkumpul dengan teman-temannya.


“Arkana! Lo kenap lagi, sih!” Rania kembali memekik begitu melihat Arkana yang berlari dengan raut dipenuhi amarah, kali ini lebih-lebih dari sebelumnya ketika dia bicara dengan Orion.


Arkana lagi-lagi mengabaikan Rania. Begitu sampai di belakang gedung dua, dia segera berderap mencari Marco di antara orang-orang yang tengah duduk-duduk mengobrol. Laki-laki itu tengah bicara berdua dengan pacarnya. Dia mendongak dan melambai begitu melihat Arkana mendekat padanya.


"Hei, Ar!"


Arkana menarik kerah Marco sembari menggeram, "Anjing lo! Gue udah bilang hapus foto-foto itu 'kan!"


Freya nggak akan suka lo kena masalah meskipun itu demi dia.


Kalimat Rania tadi kembali berputar di kepala Arkana. Tapi masa bodoh. Arkana tidak mau peduli. Dia telah dikuasai amarah. Yang kini dilakukannya hanya meninju wajah Marco berkali-kali.


Membiarkan laki-laki itu menerima apa yang pantas didapatkannya atas sikapnya.


Atau setidaknya begitu yang Arkana pikirkan.