
Di Studio Destiny hari minggu…
Pukul 10.00 siang…
Erik sedang berdiri di belakang Aslan sambil senyum-senyum sendiri menahan tawanya karena Aslan sedang memotret Islandzandi dan Reyandra yang sedang melakukan photo Pre Wedding.
cuma contoh ya.. jangan baper 🤭🤭🤭
Reyandra memperhatikan Islandzandi yang tersenyum bahagia saat sedang pemotretan. "Kau senang?"
Islandzandi melihat Reyandra yang tersenyum kearahnya. "Yup, aku seneng banget akhirnya kamu mau di photo juga… (berfikir) Heran, kenapa sama aku nggak mempan ya waktu di ajak prewed?"
"Ada kata-kata Aslan yang membuat saya berfikir untuk melakukan semua ini…"
"Apa?"
"Semua hanya untuk kamu Island… Apapun akan saya lakukan meskipun hal yang saya tidak suka sama sekali…" Islandzandi hanya tersenyum malu.
"Rey… Bisa lebih relax? Kau kelihatan sangat tegang… Tenanglah ini hanya sebuah photoshoot… Aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian… Ini hadiah dariku" ucap Aslan sedikit berteriak dan tersenyum kearah Islandzandi.
Islandzandi tersenyum kearah Aslan. "Thank you Aslan…"
Reyandra hanya terdiam tersenyum kecut dan melihat kearah Erik. "Hah… Stop laughing Erik!"
Erik tertawa kencang tidak bisa menahannya lagi. "Hyung… Aku heran tumben kau melakukan pemotretan ini… Apa Island yang merengek?"
"Ya!!" tandas Islandzandi kearah Erik kesal.
"Good job Island…" memberi jempol pada Islandzandi.
"Okay, bercandanya udah selesai? Kita akanmulai lagi… Rey… Kau harus lebih natural dan lebih intim pada Island…"
"Ya?!" ucap Reyandra kaget.
Islandzandi dan Erik langsung tersenyum karena mereka tau Reyandra seperti apa…
"Okay, biar gue bantu…" ucap Erik.
Erik pun membantu memberikan ide pada Aslan untuk gaya photoshoot mereka.
Erik pun mengarahkan gaya pada Reyandra dan Islandzandi layaknya penata gaya professional. Mereka pun melanjutkan pemotretannya.
***
Beberapa hari kemudian…
Di rumah Aufar…
Pukul 00.30 malam…
Suasana di luar hujan deras… Aufar yang baru turun dari mobilnya langsung masuk kerumah dan berjalan keruang keluarga, lalu berhenti saat Pak Jeni sedang duduk di sofa dengan serius menunggunya…
Aufar terdiam heran melihat kearah Pak Jeni. "Apa? Apa ada masalah?"
"Dari mana kamu? Keluyuran sampai jam segini baru pulang?! Kuliah tidak kekantor tidak! Bagaimana nanti kamu kedepannya hah? (bentaknya) Mau jadi berandalan?! Jangan gara-gara perempuan kamu jadi menghancurkan hidupmu!"
"Apa maksud ayah? Kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu? Biasanya juga nggak pernah komen…"
Pak Jeni berdiri dan menghampiri Aufar sambil menepuk pundak Aufar. "Haah... Kamu tidak boleh lemah, bagaimana perempuan itu memperlakukanmu, kamu harus siap menerimanya… Dan (sedih) Lupakanlah Island…"
Aufar melihat kearah Pak Jeni, lalu melihat sebuah kartu undangan yang tergeletak diatas meja.
Aufar pun langsung menghampiri meja dan mengambil kertas undangan yang tertulis untuk Aufar. Aufar membuka kertas undangan itu dan melihat di dalamnya ada nama Islandzandi dan Reyandra… Emosi Aufar langsung naik. Aufar membuang undangan itu dan berlari hendak keluar…
"Shhiitt!!!"
"Penjaga!!" teriaknya Pak Jeni.
5 orang penjaga berpakaian hitam berlari mengejar Aufar yang masih berada di ruang tamu. Penjaga itu pun memegang tangan Aufar supaya tidak lepas karena Aufar memberontak.
"Apa ini? Ayah, bilang sama mereka suruh lepasin!"
"Maaf nak, ini demi kebaikanmu…" ucapnya sedih.
"Lepasin gue! Ayah… Aku mohon…" masih memberontak.
"Bawa dia ke kamar dan kunci pintunya!" perintahnya dengan tegas.
Ke 5 penjaga itu langsung menyeret Aufar masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya dari luar… Aufar yang sudah berada di dalam kamar memukul pintu dengan keras, sambil berteriak.
"Lepasin gue… Gue bukan tahanan, gue mau keluar! Cepet buka kuncinya… Gue bilang buka!" teriaknya sambil meneteskan air mata.
"Ayah… Aku mohon lepaskan aku! Aku mau bertemu Island… Aku mau bicara sama Island!" teriaknya.
Aufar hanya terdiam menurunkan tubuhnya kelantai sambil bersender ke pintu menangis. Sementara di ruang tengah Pak Jeni terdiam kesal!
***
Di rumah Islandzandi…
Di ruang kerja Pak Diandra…
Pak Diandra sedang duduk berfikir di meja kerjanya sambil melihat undangan pernikahan Islandzandi dan Reyandra…
Tak lama bu Audrey datang membawa minuman untuk suaminya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Memeluk suaminya dari belakang melihat undangan itu.
"Nggak, hanya saja… Island putri kita satu-satunya dan sekarang aku harus menyerahkan dia pada Reyandra…"
"Island sekarang sudah dewasa pah, dia sudah siap untuk menikah, kita hanya bisa merawatnya sampai sekarang… Kita doakan saja, Island akan bahagia bersama Reyandra… Bukankah itu impiannya sejak kecil? Menikah dengan Reyandra… Lagi pula… Aku percaya pada Reyandra akan menjaga Island dengan baik…" ucap Bu Audrey bijak.
"Entahlah, masalahnya aku masih belum percaya kalau Island akan menikah… Dan belum siap untuk kehilangan Island…"
"Kita kan masih bisa melihatnya… (tersenyum) Lagipula kemarin kan kamu meng'iakan menikahkan Island sama Aufar, berarti kamu udah siap dong…"
"Tapi paling nggak aku bisa menyuruh Aufar untuk tinggal disini!"
"Iya juga sih! Reyandra pasti akan mengajak Island untuk tinggal di Apartementnya.
Tapi sekali-kali kita bisa minta mereka untuk menginap disini kan… (melihat Pak. Diandra masih terdiam berfikir) Okay sekarang bagian aku yang memberi Islandzandi kejutan dengan berkumpul dengan kerabat dan teman-teman terdekat kita…"
"Syukuran?"
"Yupz, siraman juga syukuran Island… Sebagai anak kita satu-satunya. (melihat Pak Diandra yang masih terdiam cemberut) relax Pah… Semua akan baik-baik saja…"
Pak Diandra menghela nafas, sementara Bu Audrey tersenyum memeluk suaminya.
***
Hari pun berlalu dengan cepat.
Hari Jumat…
Sebelum hari pernikahan Islandzandi dan Reyandra…
Di rumah Pak Diandra…
Suasana di rumah Pak Diandra dihias dengan sangat sederhana, bu Audrey dan Pak Diandra sibuk menerima tamu karena banyak tamu yang datang ke acara siraman Islandzandi yang akan dimulai sebentar lagi… Tetangga rumah serta kerabat dari Bu Audrey juga Pak Diandra, juga beberapa teman Islandzandi yang sangat dekat termasuk Erik dan Aslan yang juga ikut hadir di acara tersebut.
"Akhirnya lo dateng juga ke acaranya siraman Islandzandi… Padahal hari ini kan lo ada kerjaan di luar kota…" ucap Erik.
"Hm… (sambil mempersiapkan cameranya) Kan udah dibilang kalo ini hadian dari gue buat Island… Ya, gapapalah sesekali ngorbanin kerjaan buat sahabat… Oia, Aufar gimana? Gue juga belum tau kabarnya, padahal dari pihak panitia udah ngasih jadwal sama tema buat lomba pemotretannya"
Erik terdiam. "Sampai sekarang masih belum ada hasil, tapi gue akan terus nyari dia… Ini permintaan Reyandra juga sih… Dia mau Aufar hadir buat Island…"
Aslan hanya terdiam.
**
Sementara itu…
Di kamar Islandzandi…
Ada 2 orang Penata rias mendandani Islandzandi senatural mungkin mereka memakaikan baju samping juga dihiasi bunga melati di atas badannya juga rambutnya… Haura dan Karin duduk di kasur Islandzandi sambil melihat kearah Islandzandi kagum.
"Duh… Kok gue yang deg-degannya ya… Haah… Udah berapa minggu lo nggak ketemu Reyandra?" tanya Haura.
"Minggu kemaren gue baru photoshoot sama Reyandra di Studio Aslan… Tapi ya dari semenjak itu gue nggak ketemu sama dia di kantor gue sibuk sama kerjaan gue nggak sempet ke Apartementnya…"
"Ciieeeehhh kangen dong ya…" ledeknya sambil mengotak ngatik handphonenya untuk menelpon seseorang.
Islandzandi hanya tersenyum menggelengkan kepala sambil masih dihias oleh penata riasnya…
“Ya, Haura kenapa?” ucap seseorang dibalik handphonya itu.
Islandzandi yang mendengar suara itu langsung kaget dan melihat kearah Haura, Karin hanya tersenyum melihat reaksi Islandzandi.
"Tebak itu siapa?" ucapnya sambil berjalan kearah Islandzandi dan memperlihatkan Camera handphonya kearah Islandzandi.
Islandzandi melihat kearah Handphone Haura melihat Reyandra yang sedang di ruangannya sambil tersenyum malu. "Ck... Jangan ketawain aku…" melihat kearah Reyandra yang masih terdiam melihat kearah Islandzandi.
Karin berjalan mendekat kearah Haura. "Mu ketawa gimana orang Reyandra lagi mandangin lo kagum kok… Iya kan Rey?" ledeknya Karin.
Sementara penata rias yang masih menata rambut Islandzandi hanya tersenyum melihat kelakuan kedua teman Islandzandi.
"Hei… You’re so beautiful…."
“Aakkkhhh” teriak Haura dan Karin histeris.
"Tunggu aja sampe Island jadi milik lo seuutuhnya ya Rey…" Haura cekikikan.
"Sabar ya Rey… Bentar lagi kok! Kita nggak bisa lama-lama nih… Pamali kalo kata orang sunda mah…" ledek Karin sambil tertawa.
Islandzandi hanya terdiam malu dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Ya udah gue matiin ya Rey, sampe ketemu lusa… Bye… (menutup videocallnya lalu melihat Islandzandi) Gimana seneng nggak?"
"Seneng gimana? Orang gue Cuma liat dia sekilas kok, yang banyak liat dia kan kalian…"
Karin tersenyum. "Sabar ya… 2 hari lagi kok…." Islandzandi menggelengkan kepalanya tersenyum.
Tak lama beberapa orang dari panitia acara tersebut masuk ke kamar Islandzandi dan menyuruh Islandzandi untuk keluar dari kamarnya.
"Gimana? Udah siap?" ucap EO yang mengatur acara.
"Sudah mba…" ucap perias.
"Ya udah, ibunya pengantin mana? Sampingnya langsung dibawa ya…" ucapnya pada karyawan lain.
Tak lama Bu Audrey yang sudah membawa samping masuk ke dalam kamar Islandzandi diikuti Pak Diandra yang tertegun melihat kearah Islandzandi.
Islandzandi pun melihat kearah Pak Diandra dengan tatapan sayang sambil tersenyum bahagia melihat Pak Diandra.
"Pak Diandra berjalan di depan Bu Audrey dan Island ya… Sementara dibelakang Bu Audrey berjalan dengan Islandzandi berdampingan seperti sedang memangku Island saat Island masih bayi…
"Iya…"
"Ok, yang dibawah udah siap?" ucapnya pada walkie talkienya.
“Sudah bu… “
(disarankan sambil dengerin lagu dari Yiruma - Moonlight) 😘😘
Tak lama Islandzandi dan kedua orang tuanya berjalan keluar, kedua temannya pun langsung ikut keluar dan berjalan di belakang EO… Mereka turun dari tangga secara perlahan sambil mengikuti suruhan EO tadi…
Aslan pun yang sudah berada di bawah langsung beranjak untuk mengambil photo Islandzandi.
Erik pun yang tadinya duduk langsung berdiri dan mengambil video selama acara dimulai…
Di halaman belakang rumah Pak Diandra menghampiri orang tua Islandzandi yang sedang berdiri di luar.
Islandzandi pun disuruh duduk di kursi yang sudah disediakan oleh panitia.
MC pun memulai acaranya dengan sebuah petikan doa dan diikuti oleh tamu-tamu lainnya yang sedang menyaksikan acara tersebut.
Tak lama sesepuh dari saudara Pak Diandra maupun dari Bu Audrey memandikan Islandzandi yang tengah duduk di luar halaman.
Kemudian Bu Audrey pun ikut membasuh tubuh Islandzandi begitupun dengan Pak Diandra.
contohnya neng raisa ya.. hahaha
Setelah acara siraman selesai, Islandzandi pun dibawa oleh Penata Rias ke kamarnya lagi untuk ganti baju dengan kebaya dengan rambut di sanggul sederhana.
Setelah selesai pengajian dan juga ceramah… EO pun langsung mengatur agar Orang tua Islandzandi duduk diatas kursi sementara Islandzandi duduk dibawah.
Sementara Erik yang mematikan videonya langsung mengontact Reyandra dengan videocall.
Tak lama Erik menunggu Reyandra pun menjawab video callnya.
"Iya Rik?"
"Hyung kau harus melihat ini…" mengalihkan camera depan menjadi camera belakang sambil memperlihatkan acara yang akan dimulai itu.
Seorang EO memberikan microfon pada Islandzandi dan memberi catatan kertas untuk dibacakan.
Islandzandi pun langsung duduk berlutut mendekat kearah orang tua Islandzandi yang masih duduk di kursi.
Islandzandi terdiam sejenak membaca tulisan dikertas itu.
Sememtara Reyandra pun terdiam melihat acara itu dilakukan dengan khidmat…
Karin dan Haura melihat kearah Islandzandi sambil berpelukan tersentuh, Sementara Aslan sibuk mengambil gambar Islandzandi.
Islandzandi pun mendekatkan microfonnya kedekat bibirnya sambil menarik nafas panjang.
"Bismillahirrohmaanirroohiim… Teruntuk Papah dan Mamah yang sangat Island hormati, pertama-tama Island mohon maaf bila selama ini melakukan kesalahan dan kekhilafan baik yang disengaja maupun yang terlupa. Sekaligus Island mohon doa restu papah dan Mamah, dan mohon kiranya papah berkenan menikahkan Island dengan calon suami pilihan Island yaitu Reyandra Pradipta di bawah bimbingan doa restu papah dan Mamah, semoga pernikahan Island senantiasa dalam lindungan dan ridho Allah SWT."
Pak Diandra mendekatkan microfon yang di pegangnya ke bibirnya terdiam menahan emosi.
"Bismillahirrohmaanirroohiim… Permata hatiku Island… Mungkin orang tidak tau kalau saya menyebut anak saya ini permata hatiku…" ucapnya sedikit pecah dengan air mata yang keluar dari matanya.
Bu Audrey pun ikut menangis dan memegang tangan Pak Diandra menguatkan Pak Diandra, Islandzandi pun ikut menangis dan tertunduk tangannya menyeka air matanya dari pipinya sambil mengingat kenangannya bersama Pak Diandra baik itu senang maupun sedang bertengkar.
Reyandra yang melihat dari video pun mulai berkaca-kaca melihat prosesi itu.
"Semua segala kesalahan dan kekhilafan kamu, sudah kami maafkan. (ucapnya parau sambil menghapus air matanya yang terus mengalir) Apapun yang menjadi harapan kamu, akan selalu Papah kabulkan. Doa restu kami selalu mengiringi langkah kalian berdua. Semoga kalian senantiasa memperoleh kebahagiaan dan ketentraman serta dapat membina rumah tangga sakinah mawadah wa rohmah dalam lindungan dan Ridho Allah SWT. Amin…
Kepada permata hatiku Islandzandi, sekarang surgamu sudah berpindah ke suami. Jadilah istri yang taat dan bertanggung jawab. Papah dan Mamah akan selalu berdoa semoga Allah SWT melindungimu dan suami serta berjodoh hingga surga. Papah tidak akan lagi menantimu di balik pintu jika kamu belum pulang usai bekerja seharian. Papah tidak akan mengirim pesan jika kamu belum pulang saat pukul sepuluh malam karena keasyikan ngobrol dengan teman-temanmu. Papah juga tidak akan ke kamarmu, melihatmu setiap malam sebelum tidur dan mencium keningmu meskipun kamu sudah berusia 24 tahun…"
Tangis Islandzandi pun pecah dan langsung memeluk Pak Diandra erat. Bu Audrey pun ikut memeluk Islandzandi juga Pak Diandra. Semua tamu undangan tak luput dari tangisan karena terharu, Erik yang sempat menitikan air matanya langsung keluar dari ruangan itu.
Sementara Haura dan Karin pun ikut menangis melihat kearah Islandzandi.
😭😭😭