Islandzandi

Islandzandi
Pertunangan Island dan Aufar



Sementara itu di dalam mobil Reyandra…


Haura dan Karin hanya terdiam melihat Islandzandi dan Reyandra yang berada di depan masih terdiam sambil menyetir mobilnya.


"Eu… Stop Rey, kita turun disini ya, Erik ternyata mau jemput… Iya kan Karin?!


Karin hanya tersenyum kecut kearah Haura tidak setuju.


"Kalian yakin mau turun disini?"


"Yakin banget! Yuk Rin..." ucap Haura buru-buru menarik lengan Karin untuk siap-siap turun dari mobil.


"Iya… Bentar napa sih, ah... Bawel banget sih!" sewot Karin.


Tak lama Reyandra pun meminggirkan mobilnya, Haura dan Karin turun dari mobil Reyandra.


Dan Reyandra pun menjalankan mobilnya lagi.


"Langsung pulang kerumah aja..."


"Kenapa apa karena ada acara yang penting?" ucapnya dengan tenang dan melihat serius kearah Islandzandi masih terdiam menunduk.


"Kenapa tidak bilang kalau kalian akan bertunangan?" melihat Islandzandi yang masih terdiam. "Kemarin juga kamu ke Apartement saya karena mau bilang hal itu kan?"


Islandzandi tersenyum kecut. "Ya, tapi udah nggak ada gunanya juga bilang sama kamu, kamu juga nggak akan ngasih solusi…"


"Island, paling tidak saya tidak harus tau dari mulut Aufar... Kau tau kalau dia sebenarnya..."


"Tau kalo aku bakalan milih kamu?! Dan aku nggak bisa ninggalin dia?"


"Saya tidak mau seperti ini... Saya melepaskanmu dengan Aufar supaya kamu bahagia bukan untuk menderita..."


"Trus aku harus gimana? Kabur dari acara itu? Trus udah gitu mau apa? Kabur juga mau kemana kamu nggak berani bawa aku pergi kan? Lagian… Kamu juga sama Eolia? Aku udah liat photo kalian beredar diantara para karyawan…"


Reyandra memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan melihat Islandzandi dengan serius.


"Island... Dari dulu sampai sekarang rasa sayang saya sama kamu nggak pernah berubah... Dan sampai kapan pun saya akan tetap sayang sama kamu, kamu harus tau itu Island."


Islandzandi hanya terdiam melihat Reyandra sedih...


Lalu Reyandra pun menyentuh wajah Islandzandi dan mencium Islandzandi dengan lembut dan lama...


Islandzandi pun menerima ciuman dari Reyandra sambil menangis.


Tak lama Islandzandi memeluk Reyandra erat.


"I love you, Rey…"




**


Di rumah Pak Diandra…


Pukul 19.00… malam…


Suasana rumah Pak Diandra sangat ramai dengan undangan, karena malam ini adalah pertunangan antara Islandzandi dan Aufar. Rumah pun dihias sesederhana mungkin agar tidak terlalu polos untuk acaranya.


Semua keluarga Pak Jeni, kolega dari Pak Diandra dan Pak Jeni pun sudah berkumpul di ruang keluarga bersama dengan Pak Diandra... Islandzandi yang juga sudah siap pun berjalan turun dari atas bersama Bu Audrey dan kedua sahabatnya Haura dan karin.


Islandzandi hanya terdiam dan tersenyum kecut melihat kearah semua orang yang ada di ruang keluarga.


Islandzandi berjalan menghampiri Pak Diandra, Pak Jeni dan Aufar.


"Island, seperti biasanya kamu tidak pernah mengecewakan Om… Malam ini kau sangat cantik, beruntunglah Aufar bisa mendapatkanmu." ucap Pa Jeni.


"Makasih Om…" ucap Islandzandi tersenyum kecut. sementara Bu Audrey, Pak Diandra dan juga Islandzandi melihat kearah wanita yang dibawa oleh Pak Jenny.


"Ah, kenalkan, dia adalah adiknya Merry saya membawanya sebagai wakilnya Merry... Tidak apa-apa kan?" ucap Pak Jeny yang mengerti arti tatapan mereka.


"Tentu saja, hanya saja saya belum pernah melihatnya... Jadi saya pikir..." ucap Pak Diandra menggantung.


"Dia penggantinya Merry? (tertawa) Ah, tidak... Saya masih belum bisa kearah sana... Kau kan tau sendiri... (melihat Pak Diandra tersenyum) Dia Kessa, dia memang tinggal di LA dan baru datang ketika tau kalau Merry sudah pergi..."



"Ya, saya akan tinggal disini mengurus kak Jeny dan Aufar mulai sekarang... Dan saya mau tau wanita pilihan Aufar, dan ternyata memang sangat cantik..."


Islandzandi hanya tersenyum kearah Kessa.


"Oke, Di... Gimana acaranya mau dimulai saja?" tanya Pak Jeny pada Pak Diandra.


"Oh, silahkan..."


Pak Jeni pun mulai berjalan kearah StandMic yang sudah disediakan didepan, orang-orang pun mulai memperhatikan Pak Jeni.


Mc pun mulai pembukaan untuk acaranya tak lupa berdoa.


Pak Diandra dan Bu Audrey berjalan kearah Stand itu dan berdiri disamping Pak Jeni. Sementara Islandzandi dan Aufar berdiri di depan mereka.


Kedua temannya berdiri diantara para tamu undangan.


Haura melihat kearah Karin yang masih terdiam. "Lo seneng liat pertunangan Aufar dan Island?"


Karin terdiam lalu tersenyum melihat Haura. "Asal Aufar bahagia gue juga ikut bahagia, meskipun dia milik Island..."


Haura tersenyum melihat Karin lalu merangkul pundaknya. "Sabar ya... Sapa tau suatu hari nanti lo cinta sama seseorang dan orang itupun juga cinta sama lo..." melihat kearah Erik yang sedang berdiri di samping Aslan dan sedang melihat kearah Aufar dan Islandzandi.


Saat MC masih berbicara, Reyandra yang baru datang pun berjalan dan berdiri diantara para tamu.


Erik yang melihat kearah Reyandra pun berjalan menghampirinya.


"Hei... Kau datang?! Kau tidak apa-apa?" melihat kerah Reyandra cemas.


Reyandra melihat Erik terdiam. "Hmm... Tadi siang ibunya Island menelpon..."


"Jadi ini yang kau inginkan?"


Reyandra hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Erik.


Sementara MC menyuruh Pak Jeni berbicara di depan.


Pak Jeni pun berbicara pada Pak Diandra dihadapan semua orang tentang niatan keluarganya untuk menjadikan Islandzandi sebagai menantunya.


Pak Diandra pun menjawab bahwa mereka menerima khitbah dari Aufar dan keluarganya. Aufar dan keluarganya tersenyum lebar.


Semua tamu yang hadir disana bertepuk tangan, sementara Reyandra dan Erik terdiam melihat kearah Islandzandi yang sedang tersenyum kecut.


Bu Audrey pun ikut tersenyum kecut karena tau perasaan Islandzandi.


Pak Diandra hanya terdiam melihat kearah Islandzandi.


MC menyuruh Islandzandi dan Aufar untuk bertukar cingcin...



Setelah saling tukar cingcin para tamu pun berjalan menghampiri Islandzandi dan Aufar memberikan selamat, Juga kepada keluarga kedua belah pihak.


Haura dan Karin berjalan kearah Islandzandi dan Aufar...


"Yeeaaaeeaaahhh akhirnya... Penantian lo selama lima belas taun terwujud juga Far..." ucap Karin tersenyum kearah Aufar.


Aufar tersenyum. "Thank you ya... Berkat kalian juga gue bisa ada disini bareng Island."


Haura tersenyum kecut melihat kearah Islandzandi. "Far, gue bisa pinjem Islandzandi bentar nggak? Ada yang mau gue omongin nih!"


"Ok! Tar balikin lagi ya, dan jangan sampai lecet!" candanya.


Haura menarik tangan Islandzandi pergi dari hadapan Aufar dan Karin.


Reyandra, Aslan dan Erik berjalan kearah orang tua Islandzandi dan Aufar.


"Om, Tante... Selamat ya..." ucapnya sambil menyalami Pak Diandra dan Bu Audrey.


"Oh, kau datang? Aku pikir kau tidak dikasih tau Island..."


"Saya dikasih tau Aufar Om, dan tante yang nyuruh saya untuk datang..."


"Oh... (melihat kearah Bu Audrey) Jen... Kau sudah tau kan Reyandra?"


"Ah... Iya, yang sudah kau anggap anakmu itu kan? (tertawa) Terima kasih ya kau sudah menyempatkan datang kesini..." ucapnya sambil memberi salam pada Reyandra.


Tamu yang tadi sedang berbincang dengan Pak Jeni pun melihat samar kearah Reyandra sambil berbisik lalu menghampiri Reyandra.


"Maaf, kalau tidak salah anda Reyandra dari Svetovska Company kan?"ucap salah seorang kolega.


Reyandra melihat kearah Koleganya. "Ah, iya..." jawab sedikit membungkuk memberi hormat.


Pak Diandra dan Pak Jeni melihat kaget kearah koleganya tersebut.


"Anda kenal?" ucap Pak Jeny.


"Anda bercanda? Beliau adalah pengusaha muda terbaik dan terjenius di luar negeri... Semua orang di dunia bisnis pasti kenal dengannya!"


"Benar! Di tv, koran, internet semua sudah membicarakan beliau... Beliau lulusan Universitas ternama dengan Title Master di usia mudanya, tapi... (melihat Reyandra sambil tersenyum) Di dunia bisnis dia termasuk orang yang berdarah dingin!


"Saya tidak sebagus yang diberitakan... Anda jangan pernah percaya dengan berita (terdiam) Dan ya, saya memang tidak melihat orang dari penampilan juga status, jika orang itu memang tidak berniat untuk bekerja sama dengan saya ataupun melakukan kesalahan saya akan menyerangnya dengan kemampuan saya. Anda mengerti magsudnya kan? (melihat kearah Tamu itu lalu tersenyum kecut) Kalau begitu saya mencari Island tante..."


"Ah iya... Island tadi ke belakang dengan Haura"


Reyandra pun berjalan meninggalkan mereka.


"Apa benar dia anakmu Diandra?"


"Ah, dia hanya aku besarkan karena kedua orang tuanya adalah orang yang sangat dekat dengan kami..."


"Kau punya anak angkat yang sangat hebat Diandra..."


Pak Diandra hanya tersenyum kecut begitu pun dengan Bu Audrey.


Sementara Pak Jeni hanya terdiam.


"Ah, mari silahkan dinikmati makanannya..." ucap Pak Jeni mengalihkan pembicaraan.


Sementara setelah menyalami kedua orang tua Islandzandi dan Aufar Erik dan Aslan pun berjalan menghampiri Aufar.


" Hey, selamat Brother... Akhirnya terwujud juga memiliki Islandzandi... Ya... Meskipun belum sepenuhnya sih secara lo blum kawin kan sama dia..."


"Bentar lagi Aslan... Tinggal satu langkah lagi... Penantian gue akhirnya terbayar sudah..."


Erik hanya terdiam tersenyum kecut melihat kearah Aufar.


Sementara itu di halaman belakang Islandzandi dan Haura sedang berbincang.


Tak lama Kessa bibinya Aufar datang dan menghampiri mereka.


"Kalian sedang apa disini? Para tamu sedang mencari calonnya Aufar..." ucap Kessa.


"Oh Tante... Maaf iya saya sebentra lagi ke dalam..."


"Malem tantenya Aufar..."


"Malem Haura... Makasih ya, udah jadi sahabat Islandzandi maupun Aufar..."


Haura tersenyum kecut heran. "Iya tante... Kalo gitu gue duluan ya Island... Kasian karin..."


Islandzandi terdiam melihat kepergian Haura. Sementara Kessa melihat kearah kearah Islandzandi serius.


"aapa kau yakin Island? Sepertinya kamu terpaksa menerima lamaran ini..."


"Ya? Eu..." (kaget)


"Nggak usah kaget gitu, aku tau lagi dari ekspresi dan cara senyum kamu... Kalau kamu nggak cinta sama Aufar... I'm a right?"


Islandzandi hanya tersenyum kecut bingung.


"Kalau kamu berubah pikiran kamu berhak kok, mumpung ini belum terlambat, Aufar juga pasti bakalan ngerti kok!"


"Gimana caranya supaya Aufar mutusin gue? Gue nggak akan bisa mutusin Aufar karena tante Merry..." gumam Islandzandi dalam hati.


"Jangan terlalu menganggap omongan kak Merry serius, meskipun sebelum meninggal dia punya wasiat ini kamu juga harus memikirkan hatimu... Aku ngomong ini karena aku sayang sama Aufar dan juga sama kamu... Kasian Aufar kalau dia menikah tapi hanya dia yang mencintai..."


Islandzandi pun terdiam menunduk.


Sementara Reyandra datang menghampiri mereka.


"Island..."


"Rey? Kok kamu bisa disini?"


Kessa melihat reaksi Islandzandi dan melihat kearah Reyandra lalu tersenyum.


"Hm... Tentu saja Aufar akan kalah... Saingannya seperti ini... Baiklah, aku pergi dulu dan ingat apa yang aku bilang barusan ya Island..." gumam Kessa pelam tapi masih terdengar oleh mereka, làlu Kessa pun pergi meninggalkan Islandzandi dan Reyandra.


Reyandra melihat kearah Kessa. "Siapa dia?"


"Tantenya Aufar dari LA baru pulang... Kamu kenapa disini?"


"Ibumu tadi telpon dan mengundang saya kesini..."


Islandzandi tersenyum kecut. "Ini bukan yang aku inginkan Rey... Kamu tau itu! Dan aku tau kamu juga nggak bisa berbuat apa-apa..."


"Paling nggak saya ada disisi kamu Island... Dont cry, and im sorry because i cant do anything for you..."


Islandzandi hanya terdiam sedih melihat Reyandra.


Reyandra pun segera memeluk Islandzandi dengan erat.


Tangis Islandzandi pun pecah di pelukan Reyandra.


**


Malam pun dilalui dengan sangat lambat menurut Islandzandi. Sementara di teras belakang rumah...


Pukul 23.50 malam...


Aufar dan Islandzandi sedang duduk di belakang rumah sambil melihat bintang dengan gelas wine di tangan mereka...


"Lo senang kan?" sambil melihat Islandzandi.


Islandzanditersenyum. "Hm… Emang menurut lo... Bahagia itu diukur dari apa?"


"Hah? Ya, dari keinginan apa yang kita capai dan keinginan kita terpenuhi..."


Islandzandi menerawang sambil mengangguk. "Gitu ya? (tersenyum) Cherrss..."


"Buat hubungan kita yang baru... (Saat Aufar minum, Aufar melihat kearah Islandzandi) Hei... makasih ya, udah menuhin janji lo untuk berada disisi gue..."


Aufar pun mendekatkan wajahnya kearah Islandzandi kemudian mencium Islandzandi.



Islandzandi yang baru sadar bahwa Aufar sedang menciumnya langsung mendorong tubuh Aufar pelan.


"Hei, gue masih... (ragu) Bisa kita pelan-pelan?"


Aufar terdiam kecewa. "Ok..."