
Tak ada jawaban ketika Kenan menelpon ke nomor adiknya yang baru saja aktip. Datang ke Apartemen Reyandra menolak mempertemukan dirinya dengan Freya dengan alasan Freya tidak ingin diganggu dan ingin menenangkan pikiran.
Kenan kembali berpikir, sesakit itukah yang diterima Freya karena ulahnya sampai Freya tidak mau bertemu dengannya?
Dengan berpikir keras bagaimana caranya dia bisa menghubungi adik sepupunya itu, dia pun mengambil handphonenya dan masuk ke akun Instagram Freya. Kening Freya segera mengerut ketika dia menyadari ada begitu banyak komentar-komentar buruk memenuhi beberapa photo yang Freya post di wall.
Apa-apaan ini?
Jantungnya terasa berdebar begitu cepat. Komentar-komentar itu berisi kalimat makian, cemoohan, dan sindiran untuk Freya. Memang apa yang sudah Freya lakukan? Kenapa dia menerima semua ini?
Kedua kaki Kenan seketika melemas ketika memikirkan bagaimana perasaan Freya membaca ini semua.
"Dan, bisa tolong Lo hack nomor adek gue? quickly!" ucapnya saat dia baru saja menghubungi teman hackernya.
Kenan menunggu sambil masih melihat-lihat komentar di Instagram adiknya itu.
Ting...
Tak lama ada pesan dari temannya yang mengabarkan kalau dia sudah bisa melihat isi telepon Freya dari handphonenya.
Dengan jemari gemetar Kenan bemembuka aplikasi lain, berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia berhenti di aplikasi Line, pada sebuah ruang grup chat. Chat terakhir yang dikirimkan anggotanya menyebut-nyebut nama Freya. Tidak berbeda jauh dengan di Instagram, pesan-pesan di grup chat ini pun dipenuhi dengan komentar buruk untuk adiknya. Bergegas ia men-scroll sampai ke atas, berharap dapat menemukan petunjuk lain. Dia berhenti ketika menemukan beberapa foto yang sepertinya mengundang komentar-komentar buruk itu.
Itu foto-foto Freya dan Orion.
"Orion...." Kenan bergumam putus asa setelah melihat foto-foto itu.
Jadi ini yang Orion maksud dengan melukai Freya?
Kenan tidak bisa berpikir jernih. Dia segera mencari kontak Orion yang ada di ponsel Freya, lalu menyalinnya ke ponselnya sendiri. Dia menghubungi nomor itu, dan menunggu dengan tidak sabaran.
"Halo?" terdengar suara pria itu dari seberang sana.
"Lo bilang lo bilang nggak mau nyakitin Freya? Tapi apa ini maksudnya?" Kenan menukas dengan suara gemetar. Dia mengusap wajahnya dengan frustasi. "Gue mohon jangan rusak hidup Freya. Lakuin itu sama gue, jangan sama Freya!"
Sejenak tidak terdengar apa pun dari sana. Seakan Orion tengah berusaha mencerna apa yang Kenan racaukan.
"Ngerusak... hidup Freya? Maksud lo apa?" Tidak diduga, Orion justru balik bertanya. Suaranya kedengaran dipenuhi cemas begitu dia melanjutkan, "Freya kenapa? Apa yang terjadi sama dia?"
"Lo tanya gue dia kenapa? Menurut lo dia bakalan gimana setelah lo sebarin foto-foto itu ke semua orang?" Kenan meringis pelan ketika kembali teringat pada komentar-komentar buruk itu.
"Orang-orang nulis komentar-komentar jahat di sosmednya, di grup angkatannya gara-gara foto-foto itu. Apa lo harus sejauh ini, Baltsaros Orion Leandro?"
"Foto-foto apa? Komentar jahat?" Orion bertanya dengan bingung, suaranya meninggi. “Gue sama sekali nggak ngerti maksud lo. Freya kenapa?"
Ini membuat Kenan mengerutkan kening tidak mengerti. Dia mendudukan diri di atas sofa lantas memijat pelipisnya.
"Lo beneran nggak tau?” tanyanya dengan sangsi. "Ada yang sebarin foto-foto lo sama Freya di grup chat. Freya keliatannya mabuk, dan lo gendong dia, ngebawa dia ke dalem mobil. Gara-gara foto itu semua orang ngehujat adik gue. Lo seriusan nggak tau?"
Ada hening cukup lama setelah Kenan menjelaskan itu semua.
Kenan menghela napas mendengar ini. Dia tahu, sejak mendengar bahwa Orion menyayangi adiknya, rasanya keterlaluan jika pria itu benar-benar menyebar foto-foto begitu dan membuat Freya dipandang buruk.
"Freya di mana sekarang?" Orion bertanya cepat.
“Gue blum bisa ketemu Freya, dia dijaga Om Reyandra dan dia ga mau ketemu gue."
Kini giliran Orion yang menghela napas. Lalu tanpa mengatakan apa pun, dia memutus sambungan begitu saja. Meninggalkan Kenan yang kini tercenung.
"Salah gue. Ini semua salah gue." Pemuda itu bergumam sembari mengubur wajah di kedua tangannya.
***
Orion tidak bisa fokus sepanjang mengajar. Bukan karena lirikan penuh arti atau pun kasak-kusuk heboh yang dia terima dari mahasiswa-mahasiswanya. Pikiran tentang Freya terus memenuhi kepalanya, mengusiknya hingga dia tidak bisa tenang. Sesuai dengan informasi yang diberikan bagian akademik, jadwal kuliah Freya hari ini baru dimulai siang nanti.
Berkali-kali dia menghubungi Rania, tapi teleponnya sama sekali tidak diangkat. Dia pun sudah mencari ke sepenjuru fakultas, tapi tidak menemukan Freya di mana pun.
Orion berharap jam makan siang segera tiba sehingga dia bisa mencari perempuan itu di tempat lain.
Sebetulnya sejak semalaman dia telah mencoba menghubungi Freya. Mereka harus bicara. Orion harus menjelaskan semuanya. Meski mungkin Freya tidak akan bisa memaafkannya, setidaknya perempuan itu harus mendengarkan penjelasannya. Ditambah dengan kondisi yang kini terjadi karena foto-foto yang entah siapa pengirimnya itu membuat Orion merasa harus segera bertemu Freya. Untuk memastikan dia baik-baik saja, dan membicarakan semuanya.
Begitu menutup kelasnya, Orion kembali mencoba menghubungi Rania. Dia masih berharap bisa mendapatkan jawaban dari perempuan itu.
Tidak seperti sebelum-sebelumnya, di dering terakhir Rania menerima teleponnya.
"Rania?"
"Iya, Pak." Rania menyahut dengan enggan. "Maaf telepon sebelumnya nggak saya angkat. Freya lagi cerita sama saya, nggak bisa saya tinggalin."
Mendengar ini seketika membuat Orion merasa lega. Setidaknya Freya bersama orang yang bisa dipercaya. "Freya lagi sama kamu? Dia baik-baik aja?"
Dari seberang sana Freya menghela napas. “Pagi-pagi banget dia ke kosan saya, cerita soal semuanya. Dan engga, dia nggak baik-baik aja." Dia berhenti sejenak, sebelum kembali memulai, "Maaf kalau saya lancang Pak, tapi jujur saya kecewa sama Bapak. Selama ini saya mau bantu Bapak deketin Freya karena saya percaya sama Bapak. Saya liat Freya jadi lebih bahagia setelah ketemu Bapak, sesuatu yang nggak pernah dilakuin laki-laki lain. Tapi setelah denger cerita Freya, saya nggak habis pikir. Saya bukan siapa-siapa buat menghakimi Bapak. Tapi saya rasa cukup sampai di sini Bapak ngehubungin saya. Saya nggak bisa bantu Bapak lagi.”
Orion terdiam mendengar ini. Dia sudah menduga Rania akan begitu jika sudah mengetahui semuanya. Wajar jika perempuan itu merasa kecewa setelah dia melukai sahabatnya. Orion pun merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Saya paham kalau kamu ngerasa gitu." Orion berujar perlahan. "Tapi buat terakhir kalinya, bisa jawab saya? Freya ada di mana sekarang?"
Sejenak Freya tidak mengatakan apa pun. Seakan dia tengah menimang-nimang haruskah menjawab pertanyaan Orion atau tidak.
"Kantin Fikom," ujarnya akhirnya. "Tapi saya rasa lebih baik Bapak nggak usah ke sini. Freya udah cukup jadi perhatian semua orang sekarang, nggak perlu ditambah lagi sama kehadiran Bapak. Saya tutup dulu, Pak."
Lalu tanpa menunggu respons Orion, Rania segera memutus sambungan sepihak.
Di tempatnya Orion terpekur. Dia memikirkan posisi Freya saat ini. Semua orang memandangnya dengan buruk. Menudingnya yang tidak-tidak.
Orion tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Setidaknya dia harus mencoba memperbaiki keadaan.