
Di kantor polisi…
Pukul 20.00 malam…
Reyandra duduk di depan polisi berdampingan dengan Pak Ronald, sementara Islandzandi yang sedang duduk di belakang Reyandra sedang dijaga oleh Erik dan beberapa orang Tim SAR lain yang ada di tempat kejadian untuk menjadi saksi.
Polisi itu pun mendengar cerita dari Pak Ronald, Reyandra dan Tim SAR yang ada di tempat, sambil menulis laporannya.
"Baik! Lalu apa hubungan anda dengan korban? Apa benar yang dikatakan terdakwa tadi?"
Reyandra terdiam sejenak. Islandzandi hanya memejamkan mata.
"Dia istri saya…"
Pak Ronald melihat Reyandra kaget. "Apa? Tidak dia bohong pak! Dia itu hanya selingkuhannya!"
"Diamlah! (melihat Pak Ronald kesal lalu melihat kearah Reyandra) Benarkah? Apa buktinya kalau korban adalah istri anda?" lanjut petugas polisi itu.
Reyandra memberikan photo, KTP, dan juga photocopy kartu nikah yang selalu dia bawa di dalam dompetnya!
"Bohong! Tidak mungkin! Island bilang kalau dia hanya selingkuhannya makanya saya juga ingin menikmatinya walaupun hanya semalam karena saya benar-benar jatuh cinta sama Island!" keukeuh Pak Ronald tidak terima.
"Apa kau bilang?!" melihat Pak Ronald marah.
"Dia hanya seorang pelacur!"
Reyandra langsung memukul Pak Ronald tidak tahan karena sudah menghina Islandzandi, tapi langsung dipisahkan oleh petugas polisi yang ada di sana!
"Bisakah kalian tidak bertengkar?! (teriaknya) Ini kantor polisi bukan ring FC! Dan anda, kenapa berbohong soal status pernikahan anda pada tersangka? Mungkin kalau anda katakan yang sebenarnya tersangka tidak akan melakukan ini pada anda!" lanjut petugas polisi melihat Islandzandi.
Islandzandi terdiam masih ketakutan. "Saya mengatakan itu karena saya ingin melindungi Reyandra di mata karyawannya, saya disana hanya anak magang, dan saya tidak ingin seluruh karyawan memandang rendah pada atasannya hanya karena dia menikah dengan seorang anak magang."
Reyandra terkejut mendengar pengakuan dari Islandzandi.
Sementara Islandzandi masih terdiam takut melihat kearah Pak Ronald sambil memeluk Erik.
"Baiklah, untuk sementara tersangka kami tahan, karena bersalah telah merencanakan pelecehan seksual terhadap korban, lalu kami juga akan mencocokan dengan keterangan dari korban, untuk sidang kami akan memberitahukan pada anda Pak Reyandra dan Pak Erik… Juga kami sudah memvisum korban, hasilnya akan kami simpan dan dijadikan sebagai bukti juga saksi yang melihat kejadian sudah lebih dari cukup… Kami akan segera memproses laporannya! Saya harap anda akan bersabar menunggu hasilnya!" jelas pak polisi.
"baik! Terima kasih Pak… Tolong tahan dia dan hukum dia sesuai dengan apa yang dilakukannya... Saya takut dia akan kembali berulah lagi..." ucap Reyandra menatap sinis kearah Pak Ronald.
"Baik pak… Bawa dia ke sel!" perintahnya pada anak buahnya.
"Tapi… Dia… (melihat Islandzandi kesal) Kau…"
Reyandra berdiri menghalangi pandangan Pak Ronald terhadap Islandzandi lalu melihat Pak Ronald dibawa oleh polisi ke dalam jeruji besi…
Reyandra pun memberikan jas yang dipakainya dan memberikannya pada Islandzandi yang masih terdiam shock.
Reyandra melihat kearah Tim SAR. "Terima kasih atas bantuan kalian dan kesaksian kalian!"
"Sama-sama Pak… Ini memang sudah menjadi tugas kami…" ucap salah satu ketua dari Tim SAR tersebut.
Tim SAR itu pun pergi berlalu dari hadapan mereka. Sementara Erik dan Reyandra masih terdiam melihat Islandzandi yang msih terdiam ketakutan.
"Hyung, sebaiknya kalian istirahat di hotel saja, kalau kalian kembali ke Villa pasti yang lain akan tau kejadian ini… Aku menyuruh Alditra untuk bilang pada Haura dan Karin agar mereka tidak menunggu kalian… Kalian pulanglah… Biar selanjutnya aku yang membereskan ini…" ucap Erik.
"Terima kasih Erik! Ayo... Kita pergi Island!" merangkul Islandzandi sedikit memapah Islandzandi karena kaki Islandzandi yang terkilir karena terjatuh tadi.
Reyandra dan Islandzandi pun berlalu dari hadapan Erik dan polisi. Erik hanya melihat kepergian Reyandra dan Islandzandi.
"Hah… Kenapa hal ini bisa terjadi sama Island?!"
***
Di sebuah Hotel…
Pukul 01.30 pagi…
Reyandra berdiri di sisi tempat tidur menunggu Islandzandi yang masih di kamar mandi sambil menghela napas berfikir…
Hah… Island, kenapa dia tidak bilang hal sepenting ini…
Tak lama Islandzandi yang sudah selesai mandi pun berjalan ke samping tempat tidur sedikit tertatih karena kakinya cedera dan duduk di pinggir tempat tidur itu sambil terdiam.
Reyandra pun berjalan menghampiri Islandzandi dan jongkok di depan kaki Islandzandi melihat luka yang ada di kaki dan tangan Islandzandi dan ujung bibir Islandzandi karena tamparan dan terkena ranting pepohonan.
"Aku udah nggak apa-apa Rey!" ucapnya sedikit parau.
Reyandra memeluk Islandzandi perlahan.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau selama ini Ronald selalu mengganggu dan mengancamu? Kamu juga tidak bilang padanya kalau kamu adalah Istri saya?! Kau tau betapa kagetnya saya waktu mendengar ceritamu?! Saya benar-benar mengkhawatirkanmu Island!"
"Aku Cuma berfikir kalo status kita harus dirahasiakan, dan kalau pegawai lain tau karir kamu akan---"
Reyandra melepaskan pelukannya melihat Islandzandi serius. "Stupid! kamu tidak perlu memikirkan saya, saya sudah tau resiko yang akan saya terima jika semua tau kalau saya menikah denganmu… Saya sudah pikirkan itu jauh-jauh hari makanya saya yakin dan memberanikan diri untuk menikah denganmu Island…"
Islandzandi melihat Reyandra menyesal. "Aku bingung nggak tau harus gimana? Dan soal Pak Ronald yang dipenjara, pasti semua orang kantor akan bertanya…"
Reyandra melihat Islandzandi. "Kau tidak usah memikirkan itu… Yang penting sekarang kau sudah selamat… Dan mulai saat ini, apapun masalahnya kau harus cerita pada saya! Kau mengerti?! Saya tidak mau kejadian ini terulang lagi!"
Islandzandi mengangguk melihat kearah Reyandra serius lalu menyentuh tangan Reyandra yang sedikit memar dan terluka karena telah memukul Pak Ronald…
Reyandra menggelengkan kepalanya. "Ini tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan sekarang… (melihat kearah Islandzandi serius sambil menyentuh wajahnya dengan lembut) Bolehkah saya…
Apa magsud dari pertanyaannya? Apa dia minta ijin untuk... Hah, seriusan dia mau ngalakuin itu? Di saat seperti ini??? Tapi... Kalo gue nolak sekarang gue takut Reyandra berubah pikiran lagi...(terdiam melihat Reyandra serius) Apa dia mau nenangin gue dengan cara ini?
Islandzandi hanya mengangguk melihat kearah Reyandra.
Reyandra pun mencium Islandzandi dengan lembut dan lama, Islandzandi pun menyambut ciuman Reyandra dengan mesra.
Beberapa menit kemudian tanpa sadar Reyandra mulai mencium leher Islandzandi dan membuka kimono Islandzandi perlahan. Kimono Islandzandi sudah mulai turun dari tubuh bagian atasnya, Reyandra masih menciumi leher lalu ke daerah da** Islandzandi.
Islandzandi pun langsung menutup mata dan meneteskan sedikit air mata karena akhirnya Reyandra mau melakukannya dengannya.
Ooohh... God, Finally, He wants to make love to me even now…
Beberapa menit kemudian kimono Islandzandi dan baju Reyandra sudah terlepas dari badan mereka dan tercecer di lantai, mereka berdua hanya di lapisi selimut yang menutupi punggung Reyandra yang sedang berada di atas Islandzandi.
Reyandra pun terus menciumi bibir Islandzandi mulai sedikit terbawa suasana.
Reyandra melihat kearah Islandzandi dari kepala sampai badannya sambil tersenyum. "You look so beautiful…"
Islandzandi pun tersenyum kearah Reyandra lalu menarik kepala Reyandra menciuminya lagi dengan terbawa oleh nafsu.
Reyandra pun mulai menyamakan posisi pinggangnya dengan pinggang Islandzandi masih berciuman.
Reyandra terdiam melihat wajah Islandzandi mengatur napasnya.
"Hhhmmh…" pekat Islandzandi sedikit merintih saat Reyandra hendak memasukan miliknya.
Reyandra melihat Islandzandi yang terlihat sakit. "You alright?"
Islandzandi mengangguk melihat Reyandra serius lalu memeluk leher Reyandra dan mencium bibir Reyandra mesra tanpa menjawab pertanyaannya.
Reyandra pun mulai menekan pinggulnya di atas Islandzandi dengan perlahan. Islandzandi sedikit mengernyit menahan sakit, setelah beberapa menit Reyandra akhirnya menembus pertahanan Islandzandi dengan susah payah.
Tak lama Reyandra mulai memompa pinggulnya, Islandzandi pun menikmati permainan Reyandra dengan sedikit rintihan nikmat.
Malam itu dilalui oleh Islandzandi dan Reyandra penuh gairah.
Pukul 03. Pagi...
Islandzandi tertidur masih diselimuti selimut tanpa memakai baju, sementara Reyandra masih dalam posisi duduk sambil termenung.
What iam doing?
Tak lama Islandzandi mengigau sambil menangis.
"Nggak! Lepasin! Nggak..."
Reyandra melihat Islandzandi cemas. "Hey Island... I'm here... Kau sudah aman!"
Islandzandi menangis sesegukan dalam mimpinya Reyandra pun memeluk tubuh Islandzandi erat sambil menenangkannya.
"I'm here Island! You save now..." ucapnya membisiki Islandzandi dan terus memeluknya.
Islandzandi pun mulai tenang dipelukan Reyandra tidak menangis lagi!
**
Pukul 07.30 pagi…
Islandzandi sedang berdiri dan melihat kedepan kaca sambil tersenyum membayangkan kejadian tadi malam dengan Reyandra.
"Gila.... Gue nggak nyangka kalo Reyandra bisa sekuat dan sehebat itu..." tersenyum melihat kearah kaca.
Islandzandi memegang lehernya kebelakang kemudian dada bagian atas yang dibelai oleh Reyandra dan bibirnya yang terus-terusan dicium oleh Reyandra dengan penuh hasrat dan sangat romantis.
Islandzandi memejamkan matanya untuk merasakan kembali sentuhan Reyandra tadi malam.
Tak lama Reyandra berjalan dari luar menghampiri Islandzandi dan melihat kearah Islandzandi cemas.
"You hurt?"
Islandzandi yang terbangun dari lamunannya melihat kearah Reyandra dari kaca tersenyum.
Reyandra masih terdiam dengan cemas dan sedikit menyesal.
"I’am fine Rey! And stop thingking if you hurt me…"
"Maafkan saya Island…" ucapnya menyesal kearah Islandzandi.
Islandzandi berbalik melihat Reyandra sedikit kesal. "Kenapa sih kamu nggak liat betapa aku sangat bahagia tadi malam? Atau beberapa detik sebelumnya?! Ini adalah yang aku tunggu-tunggu Rey… Dan aku nggak nyesel sam sekali… So Please! Jangan hancurin impian aku… (terdiam melihat Reyandra yang masih menunduk merasa menyesal) Dan aku sekarang mulai marah sama kamu Rey…"
"Kau memang seharusnya marah sama saya Island…" ucapnya sambil menghampiri Islandzandi dan membuka sedikit pakaian yang dikenakan Islandzandi.
Reyandra memperlihatkan luka di pundak, lengan dan dada Islandzandi yang tidak Islandzandi sadari.
Islandzandi terdiam kearah kaca yang ada di sampingnya melihat luka biru-biru yang ada di badannya kaget.
Islandzandi menarik napas sambil membenarkan pakaiannya. "Dengerin aku Rey, Aku tau kamu melakukan ini dengan sangat sulit, tapi aku yakin kita melakukannya dengan baik! Dan kamu tau, ini sangat luar biasa buatku Rey…"
Reyandra tersenyum kecut melihat Islandzandi. "Itukah yang kau cemaskan? Kalau saya sendiri tidak menikmatinya? (memegang pipi Islandzandi) Kamu harus tau Island, tadi malam adalah malam terbaik dalam hidup saya…"
Islandzandi tersenyum lalu menarik kepala Reyandra untuk menciumnya. "So please… Don’t feel guilty anymore! You know I love you so much…"
I love you to Island..." memeluk Islandzandi erat sambil melihat keatas. "Hah… Akhirnya saya melanggar janji saya pada Om Diandra… Apa yang akan saya katakan pada Om Diandra??
Reyandra terdiam berfikir sambil memeluk Islandzandi.
Sementara Islandzandi hanya tersenyum bahagia dipelukan Reyandra.
***
Di villa…
Pukul 10. 00 pagi…
Berita tentang Pak Ronald yang ingin memperkosa Islandzandi pun sudah tersebar di dalam villa.
Beberapa orang sedang berkerumun dan berbeda-beda tempat saling membicarakan Pak Ronal yang ditahan oleh polisi karena pelecehan seksual pada Islandzandi tidak terkecuali bu Khanza Ryu Sera dan Nadia.
"Hah, aku tidak percaya Pak Ronald bisa melakukan hal semacam itu…" ucap Bu. Khanza sangat menyesali perbuatan Pak Ronald.
"Apalagi aku, selama ini aku bekerjasama dengan Pak Ronald tidak ada tanda-tanda bahwa dia pria seperti itu…"
"Apa jangan-jangan ini karena Island sendiri yang udah ngerayu Pak Ronald… Berasa nggak sih kalo selama ini Pak Ronald sangat baik sama Islandzandi? Apapun kesalahannya dia tidak pernah marah langsung sama Island…" ucap Nadia mulai curiga.
"Masa sih? Aku pikir Island bukan perempuan semacam itu…"
Ryu Sera berfikir dan mengingat-ngingat lagi. "Bisa jadi!"
**
Di kamar Eolia…
Eolia dan Erik sedang terdiam berfikir bagaimana masalah ini tidak sampai ke public!
"Hah, harusnya dari awal Reyandra memecat Ronald… Lalu bagaimana sekarang kelanjutannya? Sebisa mungkin berita ini jangan sampai keluar dari kantor dan kau harus bilang pada polisi yang menangani kasusnya, paling nggak setelah acara Launching…"
"Tenang saja! Reyandra dan Aku udah ngurus semuanya…"
"Lalu?"
"Aku menyuruhnya untuk tidak kembali kesini, karena kalau mereka kembali kesini orang-orang pasti akan berkumpul dan bertyanya pada Island… Itu tidak baik untuk jiwanya setelah apa yang terjadi tadi malam… (membayangkan kondisi Islandzandi saat itu sangat kacau dengan baju yang sudah robek karena dibuka paksa oleh Pak Ronald dan bekas luka karena dia berusaha melawan) Kau tidak akan pernah bisa melewati malam ini jika itu berada di posisimu…"
Eolia terdiam kesal. "Hah, berarti tinggal karyawan yang ada disini yang harus diberitahu supaya tidak berbicara masalah ini dan bicara pada publik…"
Erik melihat Eolia. "Yang harus kau khawatirkan adalah Ryu Sera dan Nadia… Mereka berdua yang menyebabkan kekacauan di villa ini sampai semua karyawan yang ada di villa jadi tau…"
***
Di Hotel...
Pukul 14.00 sore...
Dikamar Reyandra dan Islandzandi... Islandzandi sedang mengobrol dengan Haura dan karin di tempat tidur.
"Lo nggak apa-apa kan?" tanya Karin khawatir.
"Iya gue shock banget denger kajian lo tadi malem dari Erik! Sebenernya gue pengen kesini tadi malem tapi Erik bilang jangan soalnya udah ada Reyandra yang nemenin lo... Jadi aja nggak jadi!" jelas Haura.
Islandzandi tersenyum. "Iya tenang aja, gue nggak apa-apa! (melihat Haura cemas) Gimana keadaan di Villa? Pasti heboh ya?!"
"Deuh.... Bukan heboh lagi, lo tuh kayak seleb tau! Setiap gue pergi kemanapun yang diomongin tuh tentang lo..." Karin.
"Lagian, gue nggak nyangka bandot tua itu bisa ngelakuin hal menjijikan kayak gitu?! (melihat Islandzandi) Lagian lo juga nggak ngomong kalo bandot tua itu udah ngancem lo karena dia pengen makan malem sama lo?" kesal Haura.
"Ya... Gue nggak ngomong karena gue masih bisa ngehindarin dia selama di kantor..."
"Tapi kan tetep aja itu tuh sangat penting buat diomongin! Untung aja Reyandra dan yang laen tepat waktu nyelametin lo sebelum lo diapa-apain sama bandot tua itu..."
Islandzandi bergidik membayangkan dia saat dipaksa oleh Pak Ronald. "Hah gue juga nggak kebayang kalo sampe perasaan gue ilang sama bandot tua itu... (membayangkan tadi malam dengan Reyandra tersenyum) Tapi emang semua ada hikmahnya juga Ra..."
Haura terdiam curiga melihat Islandzandi begitupun Karin.
"Jangan-jangan lo sama Reyandra udah....???"
Islandzandi mengangguk sambil tersenyum.
"Hah.. Seriusannya? Uuuhhh ikut bahagia.. Akhirnya lo udah jebol juga.."
"Tumben... Apa gara-gara kejadian tadi malem?"
"Iya, kayaknya sih dia mau nenangin gue dengan cara itu!"
Haura dan Karin pun berteriak senang memeluk Islandzandi yang masih tersenyum.
Sementara Reyandra dan Erik sedang duduk di luar kamar sambil berbincang.
Reyandra dan Erik pun melihat kearah mereka yang ada di dalam ruangan kaget.
"Hah.. Dasar cewek!"
Reyandra tersenyum. "Bagaimana di Villa?"
"Sudah kutangani dengan sedikit sulit, karena kabar sudah menyebar di seluruh Karyawan Svetovska... Yang lebih susahnya lagi adalah bukan Ronald yang mereka bicarakan tapi tentang Island... Mereka mengira bahwa ini salahnya! Entahlah, mereka ada dendam apa sama Island sampe segitunya sama Island... Terutama Ryu Sera dan Nadia... Aku hapal mereka berdua... Mereka tipe cewek yang suka mengembangkan cerita.... Island harus hati-hati sama mereka!"
Reyandra terdiam berfikir. "Lalu Eolia?"
"Dia marah besar... Dia langsung pulang, jadi kukatakan kau dan Island juga ikut pulang biar karyawan tidak makin curiga sama kalian berdua."
Reyandra pun terdiam berfikir.
Erik memperhatikan wajah Islandzandi.
"Ada yang aneh, padahal tadi malam Island mengalami hal yang mengerikan, tapi dia sekarang sudah bisa tersenyum lagi! (melihat Reyandra yang tiba-tiba terdiam dan menjadi gugup) Apa kau sudah..." melihat Reyandra curiga.
Reyandra menghela nafas. "Saya tidak bisa menahannya Erik... Saya benar-benar melakukannya dengan Island... Saya melanggar janji saya pada Om Diandra..."
Erik tersenyum. "Kau tidak usah memikirkan Ayahnya Island, kalian sudah menikah, itu hal yang wajar dilakukan oleh suami istri, bahkan harusnya kau melakukannya dari kemarin..."
"Tapi tetap saja… Saya sudah berjanji pada Om Diandra untuk tidak menyentuh Island Erik..."
"Okay-okay.. I get it!"
Reyandra terdiam mengingat Islandzandi yang mengigau sambil menangis saat tertidur.
"Aah dan satu hal lagi, Island belum bisa melupakan kejadian tadi malam... Karena saat dia sedang tertidur dia mengigau seakan-akan dia masih berada dihutan... Dia menangis ketakutan..."
Erik hanya terdiam melihat Reyandra sambil berfikir.
"Bagaimana pun juga Ronald harus dipenjarakan! Tidak… Itu nggak setimpal dengan traumanya Island… Mungkin dia harus membusuk di penjara!" melihat kearah Reyandra yang masih terdiam berfikir.