Islandzandi

Islandzandi
Give Her A Little Affection, And I'll Get Her In My Arms



Freya akhirnya menghela napas, menyerah. "Engga, Pak. Lagian saya nggak punya alesan bersikap gitu waktu ngeliat Bapak sama perempuan lain."


Sebelah alis Orion berjingkat. "Oh, ya?"


Freya diam, menolak menjawab.


"Kamu salah paham, Freya," cetus Orion kemudian. "Soal saya sama Aubrey."


"Salah paham apa? Emang menurut Bapak apa yang saya pikirin?"


"Apa pun yang ada di kepala kamu, yang bikin kamu ngejauh dari saya, itu pokonya nggak bener." Orion berujar sambil tersenyum kecil. "Nanti saya jelasin sambil makan, ya?"


Lalu tanpa meminta persetujuan Freya, Orion meraih tangan perempuan itu dan membawanya ke dalam mobil. Freya pasrah saja, toh menolak pun percuma. Sepanjang perjalanan keduanya terdiam.


Rupanya, Orion membawa Freya ke penjual sate di depan kompleks. Laki-laki itu menoleh pada Freya.


"Nggak apa-apa 'kan makan ini? Saya lagi pengen sate." Orion memastikan.


Freya hanya mengangguk, dan membiarkan Orion memesan dua porsi untuk mereka.


"Aubrey itu mantan saya." Orion memulai ketika pesanan mereka datang.


Kedua mata Freya melebar, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Lalu tiba-tiba ingatannya memutar kejadian saat pertama kali Orion mengantarnya pulang setelah dia mabuk semalaman.


"Nggak apa-apa, saya juga pernah ngerasain sakit karena ditinggal cewek."


"Sampai mabuk-mabuk dan nangis-nangis. Saya juga pernah se-pathetic itu."


Begitu kata Orion waktu itu.


Perlahan Freya menoleh pada Orion dan bertanya hati-hati, "Mantan yang waktu itu bikin Bapak mabuk-mabuk sampai nangis?"


Kedua alis Orion berjingkat, mungkin tidak menyangka Freya menanyainya hal ini. Sesaat dia terdiam tapi kemudian terkekeh pelan dan menggeleng.


"Engga, bukan. Beda lagi," jawabnya. "Kamu masih inget aja ya omongan saya?"


Freya mendengus pelan. "Mantan Bapak banyak juga ya ternyata."


"Nggak banyak kok. Cuma mereka berdua," sahut Orion, entah bohong atau tidak. "Dan Aubrey itu tipikal mantan yang nggak akan pernah saya nangis-nangisin."


Freya menatap Orion penuh tanya.


"Ya gampangnya dia tuh annoying buat saya. Terlalu posesif nggak jelas, dan banyak sifatnya yang nggak cocok sama saya. Makanya kita berakhir putus. Udah lama juga putusnya," jelas Orion setelah mengunyah satenya. Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan dalam gumaman pelan, "Setelah diinget-inget saya jadian sama dia juga karena terpaksa, saya nggak pernah bener-bener punya perasaan sama dia.”


Freya mengangguk-angguk. Bisa membayangkan semenyebalkan apa perempuan bernama Aubrey itu, apalagi kalau mengingat sikapnya pada Freya tadi.


"Tapi nggak tau kenapa akhir-akhir ini dia minta ketemu lagi, ngajak balikan." Orion menggeleng tidak percaya. "Tadi pun sama, saya ajak dia ngobrol di luar kampus karena nggak enak kalau diliat sama mahasiswa lain. Kita nggak ngapa-ngapain kok, cuma ngobrol bentar. Dan ya, saya nolak balikanlah."


Freya menatap Orion dengan alis berjingkat, tidak mengerti kenapa laki-laki ini harus menjelaskan dia tidak melakukan apa pun dengan mantannya.


"Ngerti 'kan? Saya nggak ada apa-apa lagi sama Aubrey. Dianya aja yang masih belum bisa lepas dari saya," ujar Orion sambil menatap Freya lamat-lamat. "Lain kali kalau ada apa-apa itu omongin, tanya langsung ke saya, bukannya malah ngejauh."


Entah kenapa, ditatap begitu malah membuat wajah Freya memanas. Dia menundukan wajah dan menyibukan diri dengan satenya.


Tapi yang lebih tidak dimengerti Freya adalah, penjelasan Orion soal hubungannya dengan Aubrey justru membuat hatinya terasa lega. Padahal seharian tadi Freya merasa kesal entah karena apa, lalu setelah mendengar perkataan Orion tadi kekesalannya mendadak hilang begitu saja.


Perlahan, kedua sudut bibir Freya mengukir senyum tipis, memikirkan betapa bodohnya sikapnya ini.


Di sampingnya Orion yang menyadari senyuman Freya tertawa kecil. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut Freya.


"Gitu, dong, senyum. Kamu jelek kalau cemberut, tau nggak?" cetusnya sambil tersenyum jahil.


Freya berdecak lalu menepis tangan Orion dari kepalanya. "Ih, rambut saya jadi berantakan, Pak."


"Ya emang udah berantakan itu rambut kamu." Orion terkekeh.


"Tau, ah." Freya mencebikan bibirnya meski sebetulnya dia tak benar-benar kesal.


"Eh iya, tapi Aubrey itu keras kepala banget. Dia nggak suka keinginannya nggak diikutin, jadi masalah saya sama dia belum selesai. Dia pasti masih bakalan maksa-maksa saya." Orion berujar lagi, kali ini wajahnya menjadi lebih serius. "Kamu ngerti 'kan apa artinya?"


Kening Freya mengerut, tidak mengerti maksud Orion. "Apa, Pak?"


"Saya nggak kasih batas waktu buat status kamu sebagai pacar pura-pura saya ‘kan, Frey?" kata Orion kemudian. "Status itu nggak cuma berlaku di pernikahannya Zaidan aja."


Oh.


Oh.


Oke.


Rupanya karena ini Orion repot-repot menyusulnya ke rumah, lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Supaya Freya masih mau diajak bekerja sama demi keuntungannya sendiri.


Benar. Memangnya apa, sih yang Freya harapkan?


Freya menghela napas. "Saya nggak bisa nolak juga 'kan, Pak?"


Seulas senyum lebar terukir di wajah Orion. "Nah, itu kamu tau."


***


"Yang gue liat, anak itu kurang kasih sayang dari orang lain. Dia pernah cerita bermasalahnya keluarganya- yah gue juga inget gimana kacaunya keluarga mereka dulu. Kakaknya emang overprotective, tapi gue tau itu bukan jenis kasih sayang dia mau. Cowok yang dia suka, malah jadian sama cewek lain." Orion berujar sambil memutari mulut gelas dengan jemarinya. "Give her a little affection, and i'll get her in my arms."


Setelah mengantar pulang Freya ke rumahnya, alih-alih kembali ke gedung apartemennya, Orion malah melajukan mobilnya menuju Nightiest. Mungkin memang benar, hanya Evan tempatnya menumpahkan semua isi kepalanya.


Orion tahu, ini memang sudah bukan saatnya untuk bermain-main lagi. Dia tidak bisa mengacaukan hidupnya sendiri, atau bahkan hidup orang lain. Seharusnya dia hanya fokus pada hal-hal penting di hidupnya, seperti karirnya misalnya. Tapi Orion bersumpah dia tidak bisa tinggal diam begitu mengenal Freya. Perempuan itu dapat dia jadikan sebagai alat untuk menuntaskan apa yang telah dia pendam sendirian selama bertahun-tahun ini.


Kemunculan Freya di hidupnya, hubungannya dengan masa lalunya, semuanya terlalu berlebihan untuk jadi kebetulan semata. Seakan memang Tuhan tengah memberinya kesempatan untuk melakukan sesuatu. Seakan memang inilah waktunya.


Evan yang sejak tadi mendengarkan perkataan Orion hanya berdecak kecil. Atensinya lantas berhenti pada postingan Instagram milik Orion dan Freya yang diposting sekitar satu jam lalu. Keduanya memposting foto langit malam, seakan tengah berada di lokasi yang sama, dengan caption berupa emoji yang juga serupa. Seperti postingan yang menunjukan pada orang-orang bahwa mereka baru saja menghabiskan waktu bersama, tapi dalam kode samar-samar.


"Jadi karena itu dia tiba-tiba do that lovestagram stuff with you? Karena dia kemakan afeksi kecil yang lo kasih?" Evan mendengus sambil mendongak menatap Orion. Dia lalu menelengkan kepalanya ketika teringat kejadian beberapa waktu lalu, "Karena itu juga dia mau-mau aja diajak ke pernikahan Zaidan dan pura-pura jadi cewek lo?"


Orion menggeleng. "Itu semua gue yang minta. Waktu gue bawa pulang dia dari Nightiest, dia sempet ngelakuin satu kesalahan. Dan gue jadiin kesalahan itu sebagai pengikat biar dia tetep ada di sisi gue, biar gue bisa bikin dia luluh. Setelah dia bener-bener jatuh ke perangkap gue, gue bakalan tinggalin dia. Lo tau 'kan gimana sakitnya dikhianatin sama orang yang bener-bener lo sayang?" Dia berhenti sejenak dan mendengus. "Persis kayak apa yang terjadi sama gue dulu."


"Jerk. Dia nggak salah apa-apa, nggak seharusnya lo seret dia ke masalah ini." Evan menggeleng-geleng mendengar ini.


Orion menghela napas dan mengangguk. "Iya, gue tau. Tapi justru karena itu, efek dari rasa sakitnya bakalan lebih parah 'kan? Efek kebencian yang timbul terhadap orang itu bakalan lebih besar 'kan? Gue ngelakuin semua ini karena kesalahan orang itu, rasa benci terhadap orang itu yang jadi tujuan utama gue."


Evan lantas terdiam. Orion mungkin sudah kepalang dikuasai emosi. Rasa marah yang dipendam selama bertahun-tahun membuatnya mengambil sikap seperti ini.