
Di sebuah ruangan gelap…
Reyandra kecil (15th) sedang berdiri sendirian di tengah-tengah ruangan yang gelap…
"Island!?" teriaknya.
“Rey… Reyandra Sayang…” panggil seorang perempuan yang tidak tau dimana suara itu berasal.
Tak lama ada pancaran cahaya dari kejauhan dan makin lama makin membesar ketika ada 2 orang dewasa yang menghampiri Reyandra kecil (15 th).
Reyandra pun melihat kearah 2 orang dewasa itu dengan seksama karena tidak kelihatan oleh cahaya…
“Hey boy… “ Ucap seorang laki-laki itu.
"Dad?! Mom??"
"Kau sedang apa disini nak?"
"Saya lagi cari Island Dad… Tadi saya sama Island berantem trus Island hampir tertabrak mobil…. Nggak tau kenapa saya jadi ada disini…"
"Sayaaang… Island tidak ada disini… Ini bukan tempat untukmu tinggal!" ucap sang Ibu.
"Kalau gitu saya mau tinggal sama kalian berdua saja…"
"Kalau kau tinggal disini lalu siapa yang akan menjaga Island? Siapa yang akan melindunginya?"
"Benar kata ibumu Boy, Bukankah selama ini kau hidup sampai seperti ini hanya untuk Island?"
Reyandra masih terdiam.
"Tapi saya rindu kalian..."
"Kami akan selalu ada dihatimu, dan kami akan selalu berada disisimu… Sekarang kau pergilah… Temui Island… ini bukan duniamu, kau belum saatnya untuk berada disini..."
Ayah dan Ibu Reyandra menjauh dari Reyandra dan tersenyum kearah Reyandra sambil melambaikan tangan mereka. Reyandra kecilpun (15th) mulai berubah menjadi Reyandra dewasa Reyandra yang sekarang...
"Saya sangat menyayangi kalian… dan saya tidak akan pernah melupakan kalian (ucapnya sambil tersenyum) dan saya juga akan selalu melindungi Island…" ucapnya pelan.
**
Sementara di ruang ICU… terlihat di monitor detak jantung Reyandra sudah lurus yang artinya sudah tidak bisa bertahan. Sementara Islandzandi masih menangis disamping Reyandra, pak Diandra mencoba menarik tubuh Islandzandi agar tidak terlalu menggoyangkan tubuh Reyandra…
Erik hanya terdiam tidak percaya melihat Reyandra yang terdiam.
Aufar yang dari tadi berada di belakang Pak Diandra masih melihat Reyandra shock.
"Nggak! Nggak, Reyandra nggak mungkin mati! Rey…"
Aufar melihat dokter yang berdiri di sampingnya. "Kenapa? Kenapa ini bisa jadi begini?! (berteriak pada dokter) Kau ini seorang dokter kan? Apa tidak ada cara untuk bisa menolongnya!?"
"Dokter bukanlah Tuhan… Kami sudah melakukan segalanya semampu kami, tapi jika pasiennya sendiri tidak mampu bertahan kami juga tidak bisa melakukan apa-apa."
"Nggak mungkin! Itu nggak mungkin?! (mencengkram kerah baju Reyandra) Hei, bangun lo!"
"Heh, apa yang kamu lakukan?! Perawat!!" ucap dokter itu melihat kearah perawat dan menyuruh perawat mengeluarkan Reyandra.
Aufar mengguncang-guncang tubuh Reyandra. "Rey… Buka mata lo brengsek!? Kalo lo mati siapa yang akan melindungi Island?! Lo denger... Gue bakalan ngelepasin Island asal lo sadar!"
Islandzandi melihat kearah Aufar yang sedang berusaha membangunkan Reyandra. Semantara dokter, perawat dan pak Diandra berusaha menarik tubuh Aufar dari atas tempat tidur.
"Gue nggak bisa jadi pengganti lo! Island hanya butuh lo!"
"Aufar, sudahlah… hentikan!" ucap Pak Diandra ikut menenangkan Aufar yang histeris.
"ayo keluar! Ikut saya!" ucap perawat sambil menarik tubuh Aufar secara paksa.
"Berisik! (berontak) Gue belum selesai ngomong! Lepasin sialan! Asal lo tau aja Rey, gue akan ngomong yang sebenernya! Antara gue sama Island malam itu nggak terjadi apa! Lo udah tau kan? Sekarang buka mata lo brengsek!" teriaknya sambil diseret keluar ruangan oleh dokter dan perawat.
Sementara Islandzandi yang masih menangis terdiam melihat kearah Aufar terkejut.
"Apa? Apa Aufar, Tunggu…"
Detak jantung Reyandra pun terlihat lagi di monitor…
"Dok... Detak jantung pasiennya." ucap perawat langsung bergegasemeriksa Reyandra lalu melihat kearah dokter sambil mengangguk tersenyum.
Dokter yang melihat kearah monitor pun terdiam tidak percaya lalu dengan segera melakukan tindakan dan memeriksa Reyandra dengan teliti. Karena mereka mengira Reyandra memang sudah meninggal.
Semua orang pun disuruh keluar sementara untuk ketenangan dokter dan suster memeriksa keadaan Reyandra.
"Tuhan, seandainya di dunia ini emang ada keajaiban… Maka tunjukanlah saat ini juga! Gue mohon… Jangan ambil Reyandra dari gue…" gumam Islandzandi dalam hati masih menangis.
**
Pukul 10.30 pagi…
Di ruang ICU hanya ada Islandzandi dan Reyandra.
Keadaan Reyandra sudah stabil kembali setelah sempat koma dan setelah dinyatakan sudah tidak ada harapan, tapi sampai sekarang Reyandra masih belum sadar kembali.
Islandzandi sedang tertidur sambil duduk di samping Reyandra yang masih belum sadarkan diri.
Tak lama… Reyandra membuka matanya perlahan melihat keatas terdiam… Lalu melihat kesampingnya dan melihat Islandzandi sedang tertidur dengan wajah yang masih dipenuhi bekas air matanya…
Reyandra pun tersenyum kearah Islandzandi dan mengusap wajah Islandzandi.
Lalu Islandzandi terbangun karena usapan tangan lembut Reyandra mendarat di wajahnya. Islandzandi terdiam kaget melihat kearah Reyandra.
"Rey?" mengusap bekas air mata di wajahnya
"Akhirnya tertangkap juga…" tersenyum lembut kearah Islandzandi.
"Rey, aku janji aku nggak akan ngelakuin hal bodoh kayak kemaren lagi, aku juga bakalan nurutin kata-kata kamu..."
Reyandra menggenggam tangan Islandzandi erat. "Tidak akan kulepaskan lagi…" gumamya dalam hati.
Islandzandi pun menggenggam tangan Reyandra dengan kedua tangannya dan menempatkanya di pipinya sambil tersenyum kearah Reyandra… Lalu Islandzandi pun memeluk Reyandra.
"Makasih, udah bertahan dan berjuang untuk terus hidup Rey..."
**
Di ruang Pemulihan...
Pukul 13.00 siang...
Reyandra sudah dipindahkan ke kamar VIP karena kondisinya sudah mulai tidak kritis lagi, tapi masih terbaring di tempat tidur tapi tangan masih tetap memakai infus.
Islandzandi duduk di sebelah Reyandra yang masih tertidur sambil memegang tangannya. Tak lama Bu Audrey, Pak Diandra dan Erik masuk ke kamar Reyandra dan melihat Islandzandi.
"Island... Sayang, makan dulu yuk... Dari kemarin kamu nggak makan..."
"aku nggak apa-apa Mam..."
"Hey, Island, kalau kamu jatoh sakit trus dirawat juga siapa yang bakalan jagain Reyandra? Biar aku yang jaga Reyandra selama kamu makan..."
"Biar saya saja yang jaga Reyandra, kalian Istirahatlah..."
Islandzandi terdiam melihat Pak Diandra serius.
"Ini semua salah papah, seandainya saja papah nggak misahin kalian berdua... Kejadian ini pasti nggak akan terjadi... Ini juga sebagai bentuk rasa penyesalan papah terhadap Reyandra... (melihat Islandzandi) Kamu masih bisa percaya sama papah kan Island?"
Islandzandi berkaca-kaca melihat Pak. Diandra, lalu memeluk Pak Diandra... Tak lama setelah Islandzandi, Erik dan Bu Audrey pergi dari ruangan Reyandra untuk istirahat dan makan, Pak Diandra duduk di samping Reyandra dan terdiam memperhatikan Reyandra yang masih belum bangun.
Pak Diandra menarik nafas panjang. "Maafkan Om Rey... Gara-gara Om kamu sampai seperti ini... Aku... Benar-benar bersalah pada kedua orang tuamu... Meskipun aku masih ragu tentang Persaan yang kalian rasakan, melihat kamu berkorban seperti ini demi Island... Mungkin aku juga nggak akan bisa sepertimu..." melihat Reyandra serius.
Pukul 17.00 sore... Masih di kamar VIP...
Pak Diandra, Bu Audrey, Erik dan Islandzandi sedang duduk sambil berbincang sambil menunggu Reyandra bangun.
"Jadi kamu mau disini nemenin Reyandra?"
"Iya, aku mau disamping Reyandra Pah..."
"Trus gimana sama magang kamu?"
"Aku nggak peduli sama magang pah..."
"Sayang... kamu itu udah sampai tahap ini loh, apa nggak sayang sama waktu? Mau ngulang taun depan lagi?" ucap Bu Audrey membenarkan.
"Kalo Reyandra tau, Reyandra pasti marah loh..."
"Ya... paling nggak aku harus mastiin Reyandra sadar dulu... Mam sama Papah pulang aja dulu ke Jakarta... aku nggak apa-apa disini... Lo juga Rik... Lo ada pemotretan sama Aslan kan? Gue nggak apa-apa..."
"Ya udah, biar Mamam yang temenin kamu..."
"Iya, gitu aja, kamu bisa sendiri kan pah dirumah?"
"Iya, nggak apa-apa, ada bibi ini!"
"Ya udah kalo emang papah sama mam maunya gitu... (terdiam) Oia, Aufar?" melihat Erik.
"Dia ada di penginapan bareng gue, Cuma... Dia masih blum bisa diajak ngomong, kerjaannya murung dan blum makan apa-apa dari pas kejadian itu..."
Islandzandi hanya terdiam. Dan hari pun berganti dengan cepat.