
Pemuda itu juga memotong Kelana ketika dia hendak menjelaskan hubungan mereka.
Bukankah itu reaksi yang tidak wajar?
Freya segera meraih ponselnya dan mencari kontak Kelana.
Sambil menggigiti ujung kukunya, dia menekan ikon call dan menunggu dengan jantung yang berdebar, entah karena apa.
Tidak lama sambungan diangkat. Freya bisa mendengar suara Kelana dari seberang sana.
"Halo. Kenapa, Kak?"
Sejenak Freya terdiam. "Kel?"
"Iya, kenapa?"
"Mm, Kakak pengen tanya sesuatu." Dia menarik napas sebelum memulai, "Kamu kenal Pak Orion dari mana?"
Kali ini giliran Kelana yang terdiam untuk sesaat. "Tadi Kak Orio bilang bakalan jelasin 'kan."
"Iya, tapi Kakak rasa ada sesuatu"
"Sesuatu? Sesuatu kayak gimana?"
Freya mengusap wajahnya kasar. "Nggak tau, Kakak juga nggak tau. Tapi reaksi Pak Orio agak aneh waktu liat kamu, Kel. Dia bahkan ngebentak Kakak tadi, padahal sebelumnya nggak pernah gitu. Aneh banget. Pasti ada sesuatu yang memicu Pak Orion yang bereaksi gitu. Iya 'kan?"
"Kelana juga kaget ketemu Kak Orion. Kelana nggak nyangka Kak Freya bisa kenal dia." Kelana menyahut pelan.
"Jadi? Jadi gimana ceritanya kalian bisa saling kenal?"
Freya juga tidak mengerti kenapa dia mendesak Kelana untuk bercerita. Tapi sebagian dari dirinya entah kenapa percaya bahwa ada sesuatu di balik hubungan Orion dan Kelana, sesuatu yang membuat Orion mendadak kalut.
Dari seberang sana Kelana mengembuskan napas. "Dulu Kak Orion pernah jadian sama Kak Kiran."
Freya hampir tidak mempercayai telinganya sendiri. Dia mengerjap beberapa kali, mengeratkan genggamannya pada ponsel dan mendekatkan benda itu ke telinganya, seakan berusaha mendegar dengan lebih jelas.
"A-apa?"
"Waktu kuliah, Kak Orion sama Kak Kiran itu pacaran, Kak." Kelana mengulang lagi.
"Tapi nggak bertahan lama. Kak Orion putusin Kak Kiran di tengah jalan."
Kepala Freya mendadak tsrasa berat. Dia tidak pernah menyangka ini sama sekali.
Orion dan Kiran ...
Bagaimana mungkin.
"K-kenapa? Kenapa putus?" Freya bertanya dengan suara tercekat.
"Kak Kiran selingkuh, sama temen kuliahnya." Kelana menjawab pelan.
Freya menekap mulutnya tidak percaya. Kepalanya dengan cepat memutar kembali ingatan tentang obrolannya dan Orion dahulu.
"Nggak apa-apa, saya juga pernah ngerasain sakit karna ditinggal cewek."
"Sampai mabuk-mabuk dan nangis-nangis. Saya juga pernah se-pathetic itu."
Mungkin perempuan yang Orion maksud adalah Kiran. Meski Kelana bilang Orion yang mengakhiri hubungan mereka, tetap saja alasannya karena Kiran yang berselingkuh. Bukankah rasanya tetap sama seperti ditinggalkan?
Orion pernah seterluka itu karena perempuan? Dan Kiran adalah perempuan itu?
Jantung Freya lantas mencelus ketika dia tersadar akan sesuatu. Kelana bilang, Kiran berselingkuh dengan teman kuliahnya. Bukankah dulu Kenan dan Kiran kuliah di tempat yang sama?
Seingat Freya, hubungan Kenan dan Kiran dimulai saat kakaknya tengah kuliah.
"Kel, temen kuliah yang kamu maksud... bukan Kak Kenan 'kan?" jantungnya lagi-lagi terasa berdebar lebih kencang.
Di seberang sana Kelana menghela napas. "Sayangnya iya."
Freya merasa lidahnya kelu sekarang. Pantas saja Kelana selalu kelihatan membenci Kenan. Pantas saja...
"Kalau gitu Pak Orion kenal sama Kak Kenan, Kel?" Freya bertanya perlahan. Mendadak teringat ketika Orion bersembunyi di kamarnya sementara dia dan Kenan mengobrol. Juga saat dia mengabari bahwa Kenan juga mengunjungi restoran yang sama dengan Orion.
Freya mencoba memastikan, jantungnya lagi-lagi terasa berdebar lebih kencang.
Bagaimana perasaan Orion setelah mengetahui perempuan yang dikencaninya adalah adik dari pemuda yang merebut pasangannya dahulu?
Kenapa Orion tidak pernah mengatakan tentang hal ini sebelumnya?
"Mereka emang saling kenal, Kak. Bahkan udah sejak lama." Kelana berhenti sejenak. "Kel nggak yakin apa Kak Freya perlu tau ini sebenernya."
"Nggak apa-apa. Cerita aja, Kel." Freya meyakinkan, meski dia sendiri tidak tahu haruskah dia mendengar cerita masa lalu ini lebih jauh.
Lagi-lagi Kelana menghela napas.
"Kak Orion pernah cerita, dulu dia dibully sama temen sekolahnya sendiri. Orang yang ngebullynya itu, Kak Kenan, Kak."
Jantung Freya terasa mencelus mendengar ini.
Seakan semuanya belum cukup, lagi-lagi dia dibuat terkejut dengan realita. Orion dan Kiran yang pernah menjadi pasangan. Kenan yang membuat hubungan mereka rusak.
Dan sekarang, Kenan pulalah yang juga merisak Orion dahulu?
Jadi bajingan yang mengganggu dan menghancurkan masa remaja Orion adalah kakaknya sendiri?
"Pasti berat banget ada di masa-masa itu. Saya yakin orang itu bakalan dapet ganjaran dari perbuatannya sama Bapak."
"Enggak, Bapak nggak lemah. Justru sebaliknya, Bapak kuat banget bisa bertahan di masa itu, dan bangkit sampai bisa ada di posisi sekarang ini. Yang lemah itu dia, yang udah nyakitin Bapak hanya karena dia ngerasa tersaingi."
Saat itu mudah bagi Freya memberi kalimat penghiburan bagi Orion. Mudah bagi Freya merengkuh Orion, memberinya sedikit kekuataan dan ikut merasa simpati atas apa yang telah pemuda itu lalui di masa lalu. Tapi kini, setelah mengetahui kebenarannya, Freya bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Orion. Dirinya, adik dari sosok jahat yang sempat memberikan mimpi buruk bagi Orion, berani-beraninya menghibur luka pemuda itu. Dia merasa malu.
Malu dan bersalah atas perbuatan Kenan pada Orion dahulu.
Matanya terasa memanas memikirkan ini semua. Freya mulai terisak, tanpa mengatakan apa pun dia memutus sambungan dengan Kelana.
Tangannya terasa gemetar ketika dia menekan kontak Orion di ponselnya dan menghubungi pemuda itu. Beberapa saat hanya dering monoton yang didengarnya. Freya mengusap kasar air matanya, mencoba menghubungi Orion lagi untuk kedua kalinya.
Di dering terakhir, teleponnya diangkat.
Hal pertama yang didengarnya adalah musik yang berdentum kencang. Samar-samar dia bisa mendengar suara Orion yang seperti setengah mengigau tidak sadarkan diri.
"P-pak...?"
"Halooo?" Orion balas bertanya dengan suara serak. Pemuda itu pasti mabuk berat. "Halooo ini siapaa?"
Freya menarik napas perlahan. "Bapak di mana? Nightiest?"
Tak ada jawaban, dia hanya bisa mendengar racauan tidak jelas dari Orion di seberang sana.
Dia bergegas beranjak dari kamarnya dan bersiap menyusul Orion. Ada banyak yang harus dibicarakannya dengan pemuda itu. Meminta maaf atas perlakuan kakaknya sudah pasti salah satunya. Meski Freya tahu Orion kini mabuk berat, dia tetap tidak bisa menahan dirinya. Mereka harus segera bertemu.
"Loh, Sayang mau kemana malam-malam gini?" ucap Haura dari ruang keluarga.
Freya pun melihat semua orang ada disana termasuk ayahnya. Kenan yang tersenyum lebar berdiri dan hendak menghampiri Freya.
"Frey--"
"Stop!" Freya melihat Kenan dengan tatapan tajam. Kenan, Erik dan Haura menatap heran ke arah Freya. Sementara Sang Ayah hanya terdiam dengan tenang karena dia tau apa yang terjadi pada putri satu-satunya itu.
"Yah... Bisa tolong anter Freya sekarang?"
Haura, Erik dan Kenan pun kaget karena tiba-tiba saja Freya mau berbicara pada ayahnya.
SeMentara Reyandra hanya menghela napas lalu berdiri hendak mengikuti kemauan Freya.
Dengan segera Freya meninggalkan ruang keluarga dan diikuti oleh Reyandra.
"Kak, itu Freya kenapa? Kok kaya yang marah?" Haura.
"Kamu berantem sama Freya?"
"Nggak kok Pah... aku juga ga tau, perasaan kemaren baik-baik aja dia..."
***
"Kemana kita?" tanya Reyandra akhirnya memulai pertanyaan.
"Nighties..." jawab
"Klub yang waktu itu?" Freya hanya mengangguk sambil menggigit jarinya tanpa menjawab.
Reyandra yang melirik dan melihat kelakuan Freya hanya tersenyum. "Kamu benar-benar mirip Ibumu!"
Freya terdiam lalu melihat kearah Reyandra sekilas.
****
Agak sulit menemukan Orion di antara orang banyak dan di bawah cahaya minim. Freya memutari seluruh lantai dua Nightiest, mencari di manakah kiranya sosok itu terduduk. Tapi nihil, Orion tidak terlihat di mana pun. Sementara Reyandra hanya mengekor mengikuti Freya dalam jarak sedikit jauh agar Freya dapat dengan bebas melakukan apapun dengan pengawasannya.
Langkah Freya lantas terhenti ketika matanya menangkap punggung yang amat dikenalinya duduk terkulai di depan meja bar. Di sampingnya, duduk Evan yang nampak tengah mendengarkan dengan wajah prihatin.
Ya... Itu memang benar Orion.
Dengan cepat Freya memacu langkahnya menuju meja bar itu.
"Gue tau cepet atau lambat Freya bakal tau semua ini." Orion yang masih menelungkupkan wajah di atas meja bar berujar dengan sengau. "Tapi gue nggak tau bakalan secepet ini. Setelah gue ngehindar ketemu Kenan, taunya gue malah ketemu Kelana. Emang udah saatnya Freya tau."
Mendengar ini lagi-lagi langkah Freya terhenti.
Dia mengamati punggung Orion dalam diam. Jadi Orion memang sudah tahu tentang statusnya sebagai adik Kenan.
Tapi ... kenapa? Kenapa Orion berusaha menyembunyikan ini? Kenapa Orion kedengaran begitu kalut sekarang?
"Lo bener, Van, sekarang gue nyesel. Gue nyesel udah ngelakuin ini semua." Orion lagi-lagi berujar.
Kening Freya mengerut.
Menyesal? Menyesal kenapa?
Perlahan dia mendudukan diri di dua kursi di samping Orion. Seorang pelanggan duduk menghalanginya, sehingga Freya masih bisa mencuri dengar perkataan Orion meski pemuda itu tidak akan melihat keberadaannya.
Freya memesan segelas cocktail tanpa alkohol pada bartender agar tidak kelihatan mencurigakan, sementara telinganya masih mencoba mendengarkan perkataan Orion selanjutnya.
"Harusnya gue nggak main-main sama perasaan orang, Van, lo bener. Harusnya gue nggak mainin perasaan Freya." Orion berujar lagi setelah menenggak minumannya.
Sementara di tempatnya Freya tertegun.
Mempermainkan perasaannya, katanya? Apa maksudnya?
"Gue takut Freya benci gue. Gue takut dia pergi, Van. Gue takut." Orion menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. “Gue emang bego. Bego."
"Ri, ini emang berat banget buat lo, gue ngerti." Evan akhirnya berujar. "Lo tau lo bisa nyembunyiin fakta tentang niatan awal lo deketin Freya. Lo bisa bilang lo juga nggak tau tentang hubungan Freya sama Kenan-"
"Dan gue bakalan terus-terusan dihantuin rasa bersalah!" Orion menyambar perkataan Evan. "Niatan busuk gue buat bales dendam, buat bikin Freya sakit supaya Kenan juga terluka, selalu ngehantuin gue, Van. Tiap liat Freya senyum, ketawa, gue selalu keinget gimana jahatnya gue pernah berniat bikin dia nangis cuma untuk ngebayar luka gue di masa lalu. Tapi di sisi lain gue juga nggak siap seandainya Freya tau semuanya, Van."
Dunia Freya seakan berhenti mendengar ini semua.
Apa... apa maksudnya?
Balas dendam? Niatan untuk membuatnya sakit agar Kenan juga terluka? Niatan membuatnya menangis untuk membayar luka di masa lalu?
Apa maksud semua itu?
Tidak mungkin 'kan ...
Lalu perlahan semuanya mendadak terasa jelas bagi Freya.
Pantas saja Orion tiba-tiba mendekatinya. Pantas saja Orion tiba-tiba berlaku manis, memberinya afeksi, membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya, membuatnya merasa jadi perempuan paling dicintai.
Sejak awal semuanya memang terasa aneh. Freya selalu sadar dia bukan perempuan istimewa yang akan disukai oleh laki-laki seperti Orion. Dia pikir sebuah keajaiban sosok seperti Orion bisa menaruh rasa padanya. Dia pikir dia benar-benar istimewa bagi Orion.
Namun rupanya . semua itu hanya untuk balas dendam?
Mungkin setelah mengetahui Freya adalah adik sepupu dari Kenan, Orion berniat membalaskan dendam melalui dirinya. Membuatnya sakit agar Kenan juga terluka, membuatnya menangis untuk membayar luka di masa lalu. Semua itu direalisasikan lewat hubungan ini. Orion akan membuatnya terluka, membuatnya menangis, setelah memberikan kasih sayang untuk Freya.
Jadi semuanya palsu? Semuanya hanya kebohongan?
Afeksi yang selama ini diterimanya hanya dibuat-buat? Ada alasan yang bersembunyi di balik semua kasih sayang itu, begitu?
Freya bisa merasakan nyeri pada dadanya. Air matanya lagi-lagi merembes membasahi pipinya. Hari ini ada terlalu banyak kenyataan yang dia dengar. Tapi di atas semuanya, inilah yang paling menyakitinya.
Padahal dia selalu merasa bersyukur atas presensi Orion dalam hidupnya. Padahal dia selalu merasa beruntung atas hubungan yang mereka miliki.
Tapi setelah mengetahui ini semua, setelah mengetahui kebohongan yang menjadi dasar hubungan mereka, Freya tidak tahu lagi harus bagaimana.
Dia menekap mulutnya, berusaha meredam isakannya.
Perlahan Freya bangun dari duduknya. Tanpa menoleh pada Orion, dia berjalan meninggalkan tempat itu dengan kepala. menunduk dan mata memburam karena tangisan. Berkali-kali dia menubruk pengunjung lain dalam perjalanannya menuju pintu keluar. Tetapi Freya tidak peduli, dia hanya menggumamkan kata maaf yang pasti tidak terdengar, dan mempercepat langkahnya.
Begitu udara malam menyambutnya di luar, Freya merasakan hancur, benar-benar hancur.
Wooohhooo... ga kerasa nulis tau2udah hampir dua ribu kata aja... enough ah.. dilanjut lagi tar ya... mana nih like komen sama fav nya??
ditungguin ya... jempol kalian tu berharga buat para penulis kayak kita...