
"Freya, makasih, ya."
Freya menoleh begitu mendengar ini. Dilihatnya Luna tengah menatapnya sambil tersenyum hangat. "Eh, makasih buat apa, Kak?"
"Makasih karena udah sayang sama Ori," ucap Luna sembari menggenggam tangan Freya. "Kita mungkin baru aja ketemu, tapi dari pertemuan singkat ini aku bisa liat seberapa baik kamu buat Orion. Aku lega orang yang Orion pilih itu kamu, Freya."
Freya tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dia sama sekali tidak menyangka Luna akan mengatakan ini.
"Mungkin kamu udah tau sebagian ceritanya. Dulu banget Orion pernah dikhianatin sama pacarnya sendiri. Aku nggak ada di sisinya waktu itu, tapi aku tau seberapa terluka dia gara-gara kejadian itu. Aku harap itu nggak akan keulang lagi." Luna berujar perlahan. Senyumannya luntur mengingat kenangan pahit itu.
"Dari kecil aku rasa hidup Orion nggak mudah. Mama meninggal setelah ngelahirin Orion. Papa yang ngebesarin anak-anaknya sebagai single parent mungkin merasa dapet tuntutan supaya anak-anaknya tumbuh sempurna. Seakan pengen ngebuktiin ke orang-orang, single parent juga bisa ngedidik anak-anaknya jadi sukses. Makanya, papa susah banget dibuat puas. Aku sebagai kakak yang udah ngelakuin semuanya lebih dulu, selalu papa jadiin patokan buat Orion. Itu pasti tekanan besar bagi dia. Padahal 'kan setiap anak punya keistimewaannya masing-masing."
Freya mendengarkan ini dalam diam. Tidak menyangka Orion punya kisah seperti ini. Selama ini selalu dia yang bercerita tentang keluarganya pada Orion. Rasanya banyak yang belum diketahuinya tentang laki-laki itu.
"Maksud aku cerita gini, aku pengen minta tolong sama kamu, Frey. Tolong jaga Orion ya, jangan tinggalin dia. Tolong bahagia sama dia. Aku nggak akan sanggup kalau harus ngeliat dia sakit lagi. Suatu saat mungkin dia bakal berbuat salah, tapi aku yakin dia nggak pernah berniat nyakitin kamu." Luna berujar sembari kembali tersenyum pada Freya.
"Aku titip Orion. Aku percaya, kalian saling sayang sebesar itu."
Freya mengangguk perlahan. Sejenak dia hanya diam tapi akhirnya berkata, "Pak Ori udah baik banget sama aku, Kak. Dia selalu ada buat aku. Aku nggak mungkin tega ngelukain atau ngelepas dia. Pak Ori seberharga itu buat aku."
Itu adalah perkataan yang tulus dari dalam hatinya.
Luna mungkin bisa merasakannya. Dia lantas membawa Freya ke dalam pelukannya. Dari balik pelukan mereka, Luna bisa melihat Orion yang berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan nampan berisi tiga cangkir teh yang tidak lagi mengepulkan uap.
Entah sejak kapan berdiri di sana. Adiknya itu menatapnya dengan sendu.
Luna menghela napas pelan lalu mengeratkan pelukannya pada Freya. "Makasih, Freya. Makasih."
****
"Kakak harusnya nggak usah ngomong gitu sama Freya." Orion berujar sembari mendudukan diri di sofa. Dia baru saja mengantar Freya pulang.
"Kenapa?"
"Aku nggak berhak minta Freya tetap tinggal setelah aku berniat nyakitin dia, Kak. Itu ... terlalu egois."
"Bukan kamu yang minta. Kakak yang minta." Luna berujar pelan. "Aku sebagai kakak kamu yang minta supaya Freya nggak pergi. Itu nggak egois, itu pesan aku sebagai seorang kakak."
Jadi sebenarnya Luna sudah tahu semuanya. Siang tadi setelah bertemu Freya, kakaknya itu langsung mengecek sosial medianya. Mulanya hanya berniat mencari tahu soal pacar adiknya lebih jauh. Tapi rupanya Luna menemukan hal lain. Dengan cepat, dia menyadari hubungan Freya dengan Kenan.
"Dia adik Kenan? Kenan Aiman Ferdinan yang itu?" Saat itu Luna bertanya tidak percaya.
Orion tidak punya pilihan selain menceritakan semuanya pada Luna. Termasuk niatan balas dendamnya, termasuk rasa bingungnya menghadapi persoalan ini.
"Freya baik, Ri. Dia pasti bakalan ngerti. Dia sendiri yang bilang dia nggak akan bisa lepasin kamu. Kamu denger 'kan?"
Orion terdiam. "Mungkin kalau tau yang sebenernya dia nggak akan berpikir kayak gitu."
Luna menghela napas pelan. Dia menepuk bahu adiknya dengan menenangkan. "Udah, sekarang yang bisa kamu lakuin cuma jaga apa yang kamu punya. Jaga Freya baik-baik, bahagiain dia, jangan buat dia kecewa. Biar ketika akhirnya Freya tau yang sebenernya, seenggaknya dia bisa liat kalau selama ini kamu nggak berniat bener-bener lukain dia."
Mendengar ini Orion mengangguk. Memang hanya itu yang bisa dia lakukan 'kan?
****
"Ah, elah!" Arkana mengerang kesal begitu melihat tangan Freya mengepal membentuk batu, sementara jemarinya sendiri membentuk gunting. Pemuda itu sementara jemarinya sendiri membentuk gunting. Pemuda itu kalah suit.
Freya tergelak puas. "Mampus lo. Sini, sini!"
Dengan pasrah Arkana menggeser duduknya mendekat. Bibirnya mencebik sementara Freya terkekeh-kekeh sambil menyampirkan poni pemuda itu lalu menjepitnya menggunakan jepitan rambut.
"Nah, jadi hari ini mau look apa, Mas? Natural? Pinkish? Atau bold?" tanya Freya sambil mulai membuka-buka pouch make up-nya.
Arkana hanya mengesah, pasrah karena tahu apa pun jawabannya Freya pasti akan menjahilinya.
Jadi, ini hari Minggu pukul sepuluh pagi. Sebelum berkunjung ke rumah Freya, Arkana menghubunginya dan mengajak lari pagi. Tapi Freya menolak karena dia terlalu malas bergerak. Akhirnya, mereka malah bermalas-malasan di rumah Freya sambil meminum kopi yang dipesan dari coffee shop di depan komplek.
Padahal mulanya Arkana yang mengajak Freya bermain dare or dare untuk mengisi waktu-mereka suit, dan yang kalah harus mengikuti perintah yang menang. Tetapi akhirnya justru Arkana yang kalah dan harus menerima dikerjai Freya.
Freya sudah bersiap membuka moisturize-nya, tetapi terhenti ketika ponselnya berdenting pelan. Rupanya pesan dari Orion.
Dia tersenyum kecil dan segera membukanya.
Dosen Favoritku :
Frey, Tadi saya liat berita lokal, katanya lalu lintas lagi lengang, padahal ini 'kan hari Minggu, Tumben, ya?
Kening Freya mengerut membaca ini. Lalu dia harus menanggapi bagaimana?
Freya :
Tidak lama balasan lain muncul.
Dosen Favoritku :
Duh, kamu tuh ya, sebagai mahasiswa kok gitu jawabannya
"Apaan, sih?" Freya menggaruk keningnya membaca ini. Sama sekali tidak paham dengan maksudnya Orion
Freya :
Ini kita lagi kuis dadakan ceritanya, Pak?
Susah, ya, punya pacar dosen, dikit-dikit dikasih soal dadakan hm
Dosen Favoritku :
Maksud saya, sebagai mahasiswa kamu tuh harusnya lebih peka dong, harus bisa menganalisis kondisi yang ada. Kalau kondisinya a, berarti kita harus b, gitu loh Frey.
????
Dosen Favoritku :
Ah, lama
Ayo jalan
Mumpung jalanan nggak macet
Freya nyaris mengumpat membaca pesan Orion. Tidak habis pikir kenapa laki-laki itu membuatnya memutar otak hanya untuk mengajak jalan.
"Ck... Baru kali ini gue nemu spesies beginian."
"Kenapa, sih?" Arkana yang tengah menyeruput kopinya melirik penasaran.
"Ini nih Pak Orion, kerjaannya bikin gue mikir mulu."
Arkana memutar mata. "Makanya jangan pacaran sama dosen."
Tapi sepertinya Freya tidak mendengarnya.
Freya :
Pak, Saya hampir lempar hp loh saking keselnya
Kalau mau ajak jalan kenapa muter-muter dulu sihh?!?!?
Dosen Favoritku :
Ya biar kamu mau mikir aja sih, Frey.
(((biar kamu mau mikir)))
Freya :
Ck... Kesannya saya nggak pernah mikir gitu, ya??
Freya berdecak lalu meraih kopinya dan meneguknya.
Tidak lama, balasan dari Orion muncul bersama foto pemuda itu.
Orion sent you a picture
Dosen Favoritku :
Becanda becanda
Nih, saya kirim hati
Naya nyaris tersedak minumannya begitu melihat foto itu. Dia terbatuk kecil dan terkekeh-kekeh mengamati Orion yang berpose di depan cermin, sebelah tangannya membentuk hati khas artis Korea. Dia tersenyum begitu lebar, membuat kedua matanya kelihatan menghilang.