Islandzandi

Islandzandi
Lamaran Dadakan



Di atap Svetovska Company…


Pukul 17.00 sore…


Reyandra sedang berfikir terdiam melihat pemandangan diluar sambil meminum kopinya, saat itu suasana di luar sedang sejuk…


Tak lama Islandzandi melamun sambil berjalan keatap luar Gedung Svetovska Company sambil melamun…


Saat sedang berjalan, Alditra melihat Islandzandi dan mengikutinya tanpa sepengetahuan Islandzandi.



Ketika Islandzandi berjalan ke dekat pembatas Reyandra melihat Islandzandi yang sedang berjalan kearahnya dan tidak sadar kalau ada Reyandra didepannya..


"Island…" melihat Islandzandi sambil tersenyum kearahnya.


Islandzandi terkejut melihat Reyandra ada di hadapannya.


Islandzandi pun terdiam tidak bisa berkutik… Reyandra masih berdiri di depan Islandzandi melihat sikap Islandzandi yang aneh…


Saat Reyandra berjalan kearahnya…


"Rey?! Ngapain kamu disini?" melihat sekeliling.


"Island, kau belum pulang… (hendak mendekatinya) Kenapa kau tidak mau menjawab telpon dan membalas sms saya?"


"Eu.. Tunggu Rey… (melihat Reyandra serius) Kalo pegawai lain liat kan bisa gawat! Aku nggak mau kalo gara-gara aku kamu jadi diomongin pegawai lain… Aku kan udah janji sama kamu nggak akan kabur lagi, aku juga nggak akan ngerengek kayak anak kecil lagi… So, kamu bisa tenang sekarang! Ok!" hendak pergi.


"apa maksudmu?! Saya tau kau sedang sibuk mempersiapkan event game… Tapi tidak bisakah kau mampir ke Apartement saya dan melihat saya? Kenapa kau malah menyuruh Tante? Apa kau tidak ingat bagaimana kamu saat saya dalam keadaan koma?" Islandzandi terdiam melihat kearah Reyandra…


Gue nggak akan pernah lupa gimana rasanya detik-detik disaat gue akan kehilangan lo… dan gue nggak mau itu terjadi lagi.


Islandzandi melihat kearah Reyandra serius.


"Aku… Aku cuma takut kalau aku terus berada di dekat kamu, kamu akan celaka lagi, dan bahkan bisa lebih buruk lagi…"


"Hei Island… Saya tidak pernah merasa seperti itu… kau tau untuk apa saya bertahan hidup di LA? Untuk apa selama ini saya bekerja dengan keras? Itu semua saya lakukan demi kamu, itu semua keinginan saya agar saya bisa bertemu denganmu… Jadi kamu jangan merasa terbebani dengan omongan orang yang tidak tau saya seperti apa?"


"Tapi Eolia bilang…"


"Saya dan Eolia memang dekat, dan kami juga pernah berhubungan, tapi dia tidak tau jalan pikiran saya dan apa yang saya inginkan… Jadi saya mohon jangan pernah menjauh dari saya lagi, karena kalau kamu tidak ada… Saya tidak bisa melakukan pekerjaan apapun dengan benar! Jika kamu tidak ada… Saya tidak tau kemana saya akan melangkahkan kaki saya… Untuk apa saya melakukan semua yang saya lakukan selama ini jika kamu tidak ada…"


Islandzandi terdiam mulai meneteskan air mata, Reyandra mulai berjalan mendekati Islandzandi dan memeluknya erat…


"Hah, saya sayang kamu Island, saya sangat mencintai kamu lebih dari apapun di dunia ini…" Islandzandi pun mulai memeluk tubuh Reyandra erat.


"Maaf…"


"Dan jangan pernah berfikir untuk meninggalkan saya lagi…" melihat Islandzandi dengan tatapan mengancam.


"Iya, aku juga minta maaf udah mikir yang nggak-nggak tadi…"


Saat Islandzandi melepas pelukannya dan melihat kearah Reyandra.


Alditra yang dari tadi mendengar dan memperhatikan mereka berdua terdiam sambil tersenyum penuh arti.


Lalu tak lama Alditra pun berjalan kedalam meninggalkan mereka berdua.


**


Di Apartement Reyandra…


Pukul 20.00 malam…


Reyandra sedang duduk di ruang tengah sambil memeriksa dokumen yang dia bawa dari kantor…


Tak lama terdengar bunyi Telepone masuk dari handphonenya yang dia simpan di meja depannya.


Reyandra melihat siapa yang menelpon lalu mengangkatnya.


"Island? (serunya sambil dengan muka heran) Iya Island?"


"Kamu ada dirumah?"


"Iya! Kamu dimana? Hallo Island?!" heran karena tiba – tiba telponnya diputus oleh Islandzandi.


Tak lama terdengar suara password pintu dibuka oleh seseorang lalu membuka pintunya. Reyandra berjalan melihat kearah pintu sambil membawa handphonenya.


"Hei…" ucapnya nyengir kearah Reyandra yang sedang berdiri melihat Islandzandi yang membawa barang-barang.


"Island? (kaget) Kenapa kamu membawa banyak barang?"


Reyandra pun buru-buru membantu membawa barang–barang yang dibawa Islandzandi.


"Hah… Staf di bagian kreatif jadi sangat sibuk! Belum aku mengerjakan laporan karena masih dihukum sama Bu Khanza, sekarang ditambah lagi harus membuat miniature untuk desain acara launching game baru… (ucapnya sambil berjalan keruang tengah dan duduk di sofa) Emangnya mau ngeluarin game terbaru ya?"


"Ya memang kita akan merilis Game terbaru dan aku sedang bekerjasama dengan Persusahaan X untuk pembuatan iklannya."


"Oooh..."


"Lalu kenapa dibawa kesini?" Islandzandi tersenyum kearah Reyandra.


"Siapa tau aja Direktur Utama Svetovska Company mau bantuin…". ucapnya sambil nyengir.


Reyandra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lalu bersender di sofa terdiam dengan serius.


"Apa pak Ronald masih memarahimu?" melihat kearah Islandzandi serius.


"Nggak kok! Pak Ronald marah hanya hari itu aja, kenapa emangnya? Aku pikir dia baik, dia tau aku kerja jadi model tapi dia nggak bilang apa-apa sama yang lain, dia malah ngebela aku pas kejadian kamu ngusir aku dari ruang rapat!"


Reyandra melihat Islandzandi merasa bersalah. "Maaf ya, saya membentakmu waktu itu…" sambil mengusap kepala Islandzandi dengan lembut.


Islandzandi terdiam membayangkan kejadian itu. "Hm… Aku sempet kaget juga sih, kesel sama kamu! Tapi itu semua emang karena kesalahan aku kok, (melihat Reyandra cemberut) Mmmhh… Maaf ya, aku bener-bener nggak sadar kalo perusahaan yang akan bekerjasama sama Tabloid Destiny itu ya… Svetovska Company…"


Reyandra terdiam melihat kearah Islandzandi. "Terus sekarang kamu masih bekerja disana dan membantu Aslan?"


"Sejak kejadian itu dia belum menelpon lagi! Tapi kalau dia butuh bantuan aku ya… Kenapa aku mesti nolak?! Abisnya dia baik sih…" ucapnya sambil bersender di sofa mengikuti Reyandra.


"Memangnya kamu nggak capek? Kamu kan udah mulai kuliah, belum ke Svetovska…"


"Yaa… Capek sih, tapi nggak apa-apa kan ada kamu…" tersenyum manja.


Reyandra pun terdiam melihat kearah Islandzandi lalu tanpa sadar dia mencium bibir Islandzandi dengan mesra.



Sementara Islandzandi terdiam kaget melihat kearah Reyandra yang sedang tersenyum kearahnya.


Tumben dia nyium duluan, biasanya gue duluan, apa segitu kangennya sama gue, Reyandra jadi inisiatif nyium gue?? Hmmm… Lets see…


Islandzandi pun tersenyum dan mencium kembali Reyandra lama sampai posisi duduk mereka pun berubah jadi tiduran dengan Islandzandi berada dibawah dan Reyandra diatas.


Tak lama Reyandra pun melepaskan ciuman Islandzandi karena tau kalau Islandzandi sudah mulai sedikit bernafsu, Reyandra lalu merapihkan posisi duduknya sambil terdiam, Islandzandi pun melihat Reyandra heran.


"Ayolah Rey..." hendak mencium Reyandra lagi.


"Island, wait… (ucapnya sambil menahan tubuh Islandzandi) Dengar, saya hanya tidak mau kehilangan kendali denganmu! I just wan to be married you first…"


Islandzandi tersenyum aneh kearah Reyandra sambil duduk kembali di sofa itu. "Hah… Kamu tau? Kamu tuh bener-bener buat aku kayak semacam penjahat yang nyoba nyuri kebaikanmu atau… Apapun itu…" Reyandra hanya tersenyum.


"Bukan kebaikanku yang ku khawatirkan…" Islandzandi melihat Reyandra bingung.


"Terus? Emangnya apa lagi?"


"Ini hanya satu aturan yang tidak ingin saya langgar, saya akan melindungimu luar maupun dalam! (melihat Islandzandi yang melihat kearahnya meremehkan) Saya tau itu bukan gagasan modern…" Islandzandi tersenyum.


"Hm… Itu bukan modern! Tapi kuno…" Reyandra terdiam sambil senyum menerawang.


"Pikiran saya berbeda dari usiamu… Segala sesuatunya… Sangat rumit! Yang diinginkan kedua orangtuamu sama seperti saya… Kau mengerti?!"


Reyandra beranjak berjalan ke kamar tidurnya, Islandzandi terdiam berfikir…


Tak lama Reyandra kembali lagi dengan membawa box kecil dan berlutut di depan Islandzandi. Islandzandi pun terdiam kaget.


"Rey, kamu ngapain sih?"


"Saya mungkin mencuri satu atau dua ciuman dari kedua orang tuamu… Tapi… Hanya setelah meminta izin kedua orang tuamu." membuka box itu dan menunjukannya pada Islandzandi.



Sebuah cingcin bermata biru berada didepan Islandzandi. Islandzandi terdiam kaget melihat Reyandra yang sedang melihat kearah Islandzandi dengan serius.


"Islandzandi… I promise to love you every moment forever, and will you give me an extraordinary honor to marry me?" Islandzandi terdiam.


Oh my good… Dia ngelamar gue? Really? Dia serius, gue harus gimana? Gue seneng, tapi Ini bener-bener terlalu cepet… God emang ini yang gue pengenin dari dulu… Nikah sama Reyandra.


Islandzandi terdiam shock dan menutup mulutnya dengan tangannya karena senang sambil mengangguk tersenyum kearah Reyandra.


Reyandra pun langsung memakaikan cingcin itu ke tangan kiri Islandzandi, dan tersenyum kearah Islandzandi begitupun dengan Islandzandi yang langsung memeluk erat Reyandra…


"Thank you… Thank you for trusting me…" Islandzandi melepaskan pelukannya.


"Tapi… Ada hal yang sedikit lebih sulit diawal, dan bahkan mungkin berbahaya." melihat serius kearah Reyandra.


"Apa?" ucap Reyandra melihat kearah Islandzandi serius.


"Kita harus kasih tahu papah…" ucap Islandzandi sambil mengernyit.


"Aaaahhh… Ya... Itu sangat berbahaya…"


"Belum tentu papah akan mengizinkan kamu buat nikahin aku… Kamu tau watak papah kan?"


"Hah.. Ya, saya harus lebih bersabar lagi agar Om Diandra menerima saya sebagai menantunya…"


Reyandra mengangguk sambil tersenyum. Islandzandi pun tersenyum kearah Reyandra sambil memberi jari berbentuk hati kearah Reyandra.