
"Saya lega liat kamu ketawa lepas kayak tadi. Kamu suka anak kecil ya?"
"Mmmhh... Dibilang suka sih ga juga. Tapi setelah Dateng ke tempat ini saya baru sadar aja, ternyata anak-anak bisa bertingkah sengegemesin itu."
Orion hanya mengangguk. "Setelah saya liat kamu becanda sama anak-anak tadi bikin saya sadar sih, kamu udah cocok jadi Ibu."
Freya melebarkan mata syok mendengar ini. "Maksudnya apa, Pak? Saya ga mau nikah muda ya, Pak."
Orion tergelak mendengar jawaban Freya. "Ck, emang siapa yang ngajak kamu nikah muda?"
"Y-ya.. pokoknya siapapun yang ngelamar saya sekarang pasti saya tolak, soalnya saya ga mau nikah muda, saya mau meniti karir saya dulu. bales kebaikan Oma Opa, Tante Haura, Om Erik, Kak Kenan juga Arkana."
Lagi-lagi Orion tertawa. Tidak berniat menjelaskan maksud perkataannya tadi pada Freya. Karena jujur dia pun tidak tahu maksudnya apa. Hanya saja saat melihat Freya berinteraksi dengan anak-anak tadi, pemikiran itu tiba-tiba terlintas di benaknya. Tidak tahu kenapa.
Mereka lalu terdiam dan mengamati anggota Shine yang kini mengajari matematika dasar pada anak-anak.
"Ngomong-ngomong, soal Aubrey." Orion memulai lagi dan menoleh pada Freya. "Saya ancem bakal laporin perbuatan dia dan akhirnya dia janji nggak akan ganggu saya atau kamu lagi. Saya pengen kasih hukuman beneran buat Aubrey sama cowok suruhannya, tapi karena kamu nolak buat diproses lebih jauh jadi yah ... saya juga nggak bisa apa-apa."
Sejenak Freya terdiam."Asal dia nggak akan berulah lagi, itu udah cukup, Pak." Freya lalu menambahkan ketika melihat Orion hendak mengatakan sesuatu, "Nggak usah minta maaf lagi, Pak. Beneran, saya lama-lama bosen denger Bapak minta maaf."
Orion mendengus lantas terkekeh. Tangannya refleks terangkat untuk mengusak puncak kepala Freya. "Kamu tuh, ya."
"Bapak ih banyak orang!" Freya mendesis panik dan cepat-cepat menyingkirkan tangan Orion dari kepalanya. Bahaya kalau sampai teman-temannya melihat tingkah Dosennya itu.
Sialnya Orion malah semakin bersemangat mengacak-acak rambut Freya, dia tertawa gemas. "Kenapa emangnya kalau banyak orang? Kenapa hm kenapa?"
"Pak ih!" Freya susah payah berusaha menyingkirkan tangan Orion.
"Ekhem, tolong yang di belakang sana, ekhem."
Baik Orion maupun Freya seketika membeku begitu mendengar suara Juni dari depan ruangan. Keduanya segera menggeser duduk menjauh, meski percuma juga karena sekarang semua mata sudah menatap mereka.
Juni diam-diam tertawa kecil melihat sikap teman dan dosennya itu.
"Nah, Adek-adek, hari ini kita kedatangan dosen istimewa nih. Karena itu kalau ada soal yang nggak dipahamin, kalian boleh langsung tanya sama Pak Orion yang duduk di belakang sana, ya." Juni menjelaskan dengan riang.
Orion mendengus tidak percaya, memperhatikan anak-anak yang mulai berhamburan menghampirinya. Dia bergumam, "Apa-apaan ini, saya ‘kan bukan dosen matematika."
Di sampingnya Freya terkekeh. "Ya elah Pak, itu 'kan soal matematika dasar." Dia lalu mencibir, "Masa seorang magister gituan aja nggak bisa sih, Pak."
Cibirannya itu tidak sempat dijawab karena detik selanjutnya Orion sudah disibukan dengan anak-anak yang menanyainya soal ini-itu dengan heboh. Orion kelimpungan sendiri menghadapi anak-anak ini. Mungkin seumur hidupnya belum pernah dia dikeroyok begitu.
Entah berapa lama Orion menangani anak-anak ini. Yang pasti, ketika akhirnya ia selesai, tempat duduk di sisinya sudah kosong. Orion menyapu pandang ke seisi ruangan, Freya tidak ada di mana pun.
Sisi lalu berjalan menghampiri Orion. "Pak, makasih ya udah mau berkunjung ke sini, terus mau direpotin anak-anak juga." Dia tersenyum senang. "Saya kaget karena nggak dapet kabar apa pun soal kunjungan Bapak, tapi bantuan Pak Sean berarti banget buat UKM ini."
Orion mengangguk-angguk. "Nggak masalah. Itu emang tugas saya sebagai dosen," katanya. "Ngomong-ngomong kamu liat Freya nggak, ya?"
"Freya?" Sisi terdiam lalu menoleh pada Juni di sisi lain ruangan. Perempuan itu kelihatan tengah menghubungi seseorang. "Juni, liat Freya nggak?"
Juni menurunkan ponselnya dan menggeleng, wajahnya kelihatan cemas. "Enggak. Tadi dia bilang mau nyusulin Deka, tapi udah ampir setengah jam nggak balik-balik. Ini gue hubungin juga nggak aktif nomornya."
Pasalnya taman belajar ini terletak di tengah perumahan padat yang jalanannya pun berupa gang-gang sempit penuh cabang. Bahkan Sisi dan anggota Shine lain sempat tersesat beberapa kali saat pertama kali berkunjung kemari.
"Makanya itu gue takut dia malah nyasar." Juni berujar dan berusaha menghubungi Freya lagi, tapi kelihatannya hasilnya masih sama seperti sebelumnya.
Orion yang sejak tadi memperhatikan mengembuskan napas kasar. Dia menatap langit di luar yang mulai mendung. Sebentar lagi mungkin turun hujan deras. Dan Freya entah ada di mana.
Cepat-cepat laki-laki itu beranjak keluar. "Biar saya yang cari."
***
Hujan deras. Dan Freya terpaksa berteduh di sebuah warung milik warga yang sudah tutup.
Ditatapnya bocah laki-laki yang duduk di sampingnya dengan tampang menekuk.
Jadi, tadi ketika anak-anak lain heboh menyerbu Orion untuk memecahkan soal matematika yang diberikan, Freya menyadari Deka, bocah ini, diam-diam malah berusaha kabur. Sebelum sempat memikirkan apa pun, Freya memutuskan mengejar Deka sambil berseru pada Juni bahwa dia akan membawa kembali bocah itu ke taman belajar. Tapi di tengah pengejarannya, hujan tiba-tiba turun dan dia harus menarik Deka untuk berteduh sejenak di sini.
"Kamu, sih pake acara kabur segala, jadi 'kan kita kejebak ujan di sini." Freya berujar sambil mencolek tangan Deka.
Deka lalu mencebikan bibir. "Kakak juga ngapain nyusulin aku. Biasanya kakak-kakak lain nggak pernah tuh kayak gitu."
"Kamu pasti keseringan kabur makanya kakak-kakak lain pada capek ngejar kamu. Iya 'kan?" tebak Freya.
Deka tidak menjawab, tapi bibirnya makin mencebik. Sepertinya tebakan Freya memang benar.
"Kenapa sih kabur? Padahal temen-temen kamu keliatan seneng-seneng aja belajar di sana." Freya bertanya sambil memandangi Deka. Lagi-lagi Deka tidak menjawab, dia malah beranjak dan bersiap pergi menerjang hujan. Tapi Freya dengan cepat menahan kedua lengannya, tidak membiarkan bocah itu pergi.
"Mau ke mana kamu? Liat itu ujan gede, nanti sakit," katanya heboh.
"Aku udah biasa keujanan kepanasan, Kak." Deka berujar, suaranya agak teredam deras hujan.
Freya menghela napas. Benar juga. Dia hampir lupa bocah di sampingnya ini mungkin tidak asing dengan hidup di jalanan, maka kehujanan tidak jadi masalah untuknya.
"Tapi kamu 'kan lagi sama Kakak. Pokoknya nggak boleh keujanan." Freya menukas tegas, masih sambil menahan Deka.
"Nggak mau, aku mau pulang."
"Iya, tapi nanti tunggu ujannya reda."
"Apa, sih, Kak ngapain larang-larang aku!"
"Ih, kamu tuh, ya susah banget dibilangin-"
"Freya!"
Omelan Freya terputus ketika menoleh, dan seketika dibuat terkejut ketika melihat Orion yang tengah berlari di bawah hujan ke arahnya.
Sekujur tubuh Orion basah kuyup, tentu saja. Dia menghampiri Freya dengan napas terengah. Wajahnya diwarnai oleh raut panik ketika dia tiba di hadapan Freya dan menukas kesal,
"Bisa nggak, sekali aja jangan bikin saya khawatir sama kamu?"