
Di sebuah rumah sakit Swasta di Jakarta… Pukul 22.00 malam…
Di ruang rawat inap VVIP…
Islandzandi sedang terbaring dengan infuse yang terpasang dilengan kanannya dan terpasang oksigen di wajahnya.
Sementara Pak Diandra, Bu Audrey dan Aufar sedang duduk menunggu cemas saat dokter sedang memeriksa keadaan Islandzandi.
Tak lama setelah memeriksa Islandzandi, Dokter pun berjalan kearah Pak Diandra dan Bu Audrey, sementara Aufar berjalan kesisi Islandzandi.
"Jadi bagaimana keadaan Island dok?!" ucap bu Audrey cemas.
"Pasien hanya kelelahan, kurangnya cairan juga nutrisi ke tubuhnya… Apa dia puasa atau sengaja diet?" tanya dokter setelah memeriksa keadaan Islandzandi.
Bu Audrey melihat kearah Pak Diandra yang sedang terdiam menyesal.
"Dia sedang marah pada kami dan dia mogok makan sampai seminggu lebih dia juga tidak mau keluar dari kamarnya…." jelasnya makin cemas.
Dokter terdiam sambil menulis resep.
"Untuk saat ini biarkan dia istirahat, saya sudah merespkan nutrisi untuk tubuhnya supaya di pasang di infuse, saya juga tadi sudah memberi antibiotic, anda tidak usah khawatir kondisinya sudah mulai stabil..."
"Terima kasih Dok…" ucap Bu Audrey berjalan kearah Islandzandi.
Sementara Pak Diandra masih terdiam, tak lama Pak Diandra pun mulai berjalan kesamping Bu Audrey dan melihat kondisi Islandzandi yang sangat lemah.
"Haaah... Kemarin Reyandra, sekarang Island! Mereka benar-benar serius, sampai-sampai mereka rela mengorbankan diri mereka untuk terus bersama… Lalu kamu anggap apa aku Island? Aku sangat sayang sama kamu makanya aku nggak mau sampai kamu terluka… Tapi kalau caraku sampai membuatmu seperti ini aku juga tidak akan bertindak sampai sejauh ini…" batin Pak Diandra dalam hati sambil meneteskan air mata menunduk kesal.
Bu Audrey yang melihat kearah Pak Diandra berdiri dan memeluk Pak Diandra erat.
**
Di Svetovska Company…
Pukul 12.00 siang…
Saat itu sebagian orang sedang istirahat termasuk Bu Khanza. Diruangan Reyandra, Reyandra sedang mengerjakan kerjaannya di laptopnya
Tak lama Aufar datang keruangannya dengan membawa beberapa map dan melemparkannya ke meja Reyandra.
"Hah… Ingat kau disini karyawan, paling tidak kau harus mengetuk pintu sebelum masuk!"
Aufar hanya melihat Reyandra terdiam. "Lo tau apa yang terjadi sama Islandzandi sekarang?" ucapnya serius dan melihat Reyandra terdiam. "Lo diem artinya lo tau situasinya kan? Apa ada hubungannya sama lo?"
"Itu bukan urusanmu!"
Aufar berjalan mendekati Reyandra dengan kesal dan menarik kemejanya Reyandra sampai Reyandra berdiri.
"Tentu aja ini jadi urusan gue?! Lo tau sekarang Island kayak apa? Mayat hidup”!"
Reyandra terdiam. "Kau tidak tau permasalahannya!" ucapnya masih tenang sambil menepis cengkraman tangan Aufar.
"Gue tau! Dia berantem sama bokapnya, dan itu pasti karena lo kan? (bentaknya kesal) Sebenernya apa yang lo rencanain?"
Reyandra terdiam kearah Aufar. "Apa Island bicara masalahnya padamu?"
Aufar terdiam. "Dia sama sekali nggak bilang!"
"Kalau begitu kau tidak perlu tau! Kalau kau tau tau masalahnya Tanya saja pada Island… Hanya dia yang berhak memberitahumu masalah ini…"
Aufar kesal. "Dia nggak akan ngasih tau gue karena dia nggak sadar! (terdiam mengatur emosinya) Cih... Sekarang Island berada di rumah sakit!"
"Apa?" kaget.
Aufar heran melihat Reyandra yang terkejut. "Lo nggak tau kalo Island masuk Rumah sakit? Lo harusnya lebih tau karena lo pacarnya! (ucapnya lalu terdiam melihat Reyandra marah dan juga bingung) Gue nggak ngerti sama lo… Island lagi dirawat di rumah sakit dan lo nggak tau?"
Dia pun menggebrak meja lalu berjalan keluar ruangan Reyandra.
Sementara Reyandra hanya terdiam lalu duduk dengan perasaan tidak enak.
"Ah… Island…. Apa harus kamu sampai masuk rumah sakit? Kenapa tante Audrey nggak ngasih kabar kalo Island dirawat?!"