Islandzandi

Islandzandi
Alasan untuk Yang Kedua Kalinya



Freya terkikik geli membaca balasan Orion. Malah merasa gemas melihat tingkah dosennya ini ketika kesal.


"Kenapa sih, ketawa-ketawa sendiri?" Arkana tiba-tiba bertanya sambil mencoba mengintip layar ponsel Freya.


Freya sendiri terkesiap, hampir melupakan Arkana yang sejak tadi berjalan di sisinya. Dia mematikan ponselnya dan memasukannya ke saku celana.


"Itu, Rania. Biasalah chat-nya." Dia lalu cepat-cepat mengganti topik. "Ini lo tumbenan banget belanja gini, mau ada acara apaan?"


Arkana menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Giana bentar lagi ulang taun. Dia ngekode terus ke gue, pengen makan kue bikinan gue sendiri. Mika, temennya Giana, juga pernah bilang Giana pengen dikasih surprise party gitu. Jadi yah, gue lagi nyari bahan-bahan buat bikin kue sama surprise party."


Sebelah alis Freya berjingkat mendengar ini. Dia lantas menyenggol-nyenggol bahu Arkana sambil memasang tampang usil.


"Hebat juga lo peka sama kodean dia. Udah beneran jadi good boyfie ya ceritanya?"


Arkana terkekeh lalu menatap Freya. "Sesuai saran lo waktu itu, gue pengen coba jadi cowok yang baik buat Giana."


Freya tertegun.


Baru tersadar tatapan Arkana tidak lagi membuatnya berdebar seperti dulu. Bahkan kenyataan bahwa sahabatnya itu tengah berusaha bersikap manis pada Giana pun, sama sekali tidak membuatnya merasa terluka. Tanpa dia sadari perasaan untuk Arkana perlahan-lahan menghilang begitu saja dari hatinya.


Freya lantas tersenyum kecil.


"Gue seneng lo dengerin saran gue. Tapi bakalan lebih bagus lagi kalau lo lakuin itu buat Giana semata," katanya.


Sejenak Arkana terdiam. Tapi akhirnya dia mengangguk. "I'm trying."


Freya ikut mengangguk, ingin mengatakan sesuatu tapi terpotong oleh deringan ponselnya.


Kak Kenan is calling...


Kenapa Kenan tiba-tiba meneleponnya? Dengan kening mengerut Freya menerima telepon itu.


"Hal-"


"Freya kamu nggak pulang lagi semaleman, hah?"


Jantung Freya mencelus mendengar ini. Bagaimana mungkin Kenan tahu?


"Kakak baru sampai rumah, Bi Imas bilang kamu nggak pulang dari kemaren, Mamah sama Papah juga ga dikasih kabar kamu kemana..." Kenan menukas dari seberang sana.


Freya menggigit bibirnya gugup.


"Aku bisa jelasin, Kak."


Meskipun dia tidak tahu harus menjelaskan apa pada Kenan.


"Yes of course. You need to give me an explanation about this of us" sahut Kenan datar. "Cepet pulang. Kakak, Mamah sama Papah tunggu di rumah."


Lalu sambungan diputus.


Freya menghela napas berat. Sialan. Kenapa setiap dia bermalam di apartemen Orion, Kenan selalu pulang ke rumah? Kenapa Om dan Tante juga selalu ada di rumah? Apa karena ada--"


"Lo... nggak pulang semaleman?"


Arkana perlahan bertanya. Diam-diam dia ikut mendengarkan perbincangan Freya dengan Kenan di telepon.


Freya menoleh pada Arkana. Laki-laki itu menatapnya dengan kening mengerut. "Jangan bilang lo...."


"Bantu gue, Ar. Please. Nanti gue jelasin semuanya ke lo. Ya?"


***


"Beres dari acara UKM aku ke rumah Arkana. Ceweknya mau ulang taun, jadi aku bantu nyiapin surprise. Terus karena nggak beres-beres juga, ya udah sekalian nginep aja di sana. Ini aja aku sama Arkana baru dari supermarket, belanja buat bahan kue." Freya lantas menoleh pada Arkana yang duduk di sampingnya. "Iya 'kan, Ar?"


Sejenak Arkana hanya terdiam. Tapi akhirnya dia mengangguk. "Iya, bener, Om, Tante, Bang."


Kenan, Haura dan Erik tidak langsung merespons. Mereka bertiga menatap Freya dan Arkana bergantian, seakan berusaha menemukan kebohongan di sana.


"Terus kenapa chat Bi Imas nggak dibales, sayang?" Haura bertanya.


Freya tertegun. "Loh, Bi Imas nge-chat? Aku nggak cek hp, jadi nggak tau ...."


Kali ini dia jujur. Pesan dari Bi Imas memang tidak sempat dia baca.


Erik yang dari tadi terdiam pun menghela napas pelan. "Nak, Om udah bilang 'kan kalau ada apa-apa tuh kabarin. Om ga mau kalau kejadian kemaren terulang lagi. Lagian Ayahmu juga sudah pulang, dia juga pasti khawatir sama kamu."


"Tau, Apa susahnya, sih kasih kabar? Iya, kamu tinggal sendiri sekarang di rumah, tapi bukan berarti kamu bisa bebas gitu aja 'kan? Seenggaknya kabarin Bi Imas karena kita udah percayain beliau buat jagain kamu di sini." Kenan berhenti sejenak dan memijat pelipisnya. "Maaf ya, kemarin malem Kakak juga sibuk banget di kantor, siang ini baru sempet baca chat Bi Imas kalau kamu nggak pulang. Lain kali jangan diulang lagi, ya? Inget, apa-apa tuh kabarin."


Freya merengut tapi tetap mengangguk menurut. "Iya, maaf, Tante, Om, Kak Kenan. Pasti cape, ya? Mau aku masakin apa gitu?"


"Nggak usah, nggak apa-apa. Kiran mau ke sini bentar lagi, sekalian makan siang bareng." Kenan menggeleng.


"Ya udah, deh. Aku ke atas dulu ya, Om, Tante, Kak." Freya beranjak dari kursi, di belakangnya Arkana mengekor.


Dia tahu, setelah ini, setelah berbohong pada Keluarganya, dia harus menjelaskan yang sebenarnya pada Arkana. Keduanya masuk ke kamar Freya. Perempuan itu duduk di sisi kasur sementara Arkana berdiri di hadapannya dengan tangan bersidekap.


"Jadi? Lo beneran nginep lagi di tempat dosen itu?" Arkana menatapnya dengan menyudutkan.


Cepat-cepat Freya mendesis. "Shuuttt... Pelanin dikit suaranya! Lo mau Keluarga gue tau?"


Arkana mengesah lalu mengacak rambutnya. "Tapi kenapa? Waktu itu gara-gara dia nolongin lo pas mabok, sekarang?"


Kening Arkana mengerut mendengar ini. Dia menatap Freya dengan tatapan tidak terbaca. Freya tahu, penjelasannya ini sama sekali tidak menjawab rasa ingin tahu sahabatnya.


"Kenapa Pak Sean sampai rela ujan-ujanan buat nyariin lo?" Arkana bertanya perlahan.


Freya mengerjap, tidak menyangka Arkana akan menanyakan hal ini. "Y-ya soalnya...."


"Dan kenapa juga lo harus sampai nginep semaleman cuma buat ngerawat dia?" Arkana bertanya lagi, kali ini sambil menatap Freya dengan mata memicing. “Jangan bilang-"


"Gue sama Pak Sean nggak ngelakuin apa-apa. Gue masih tau batasan, Ar." sergah Freya, tidak nyaman dicurigai begitu oleh Arkana.


"Iya, gue percaya. Gue percaya sama lo." Arkana menyahut cepat. "Tapi nggak ada mahasiswa yang bakalan nginep di tempat dosennya. At least kalo hubungan dosen-mahasiswa itu masih normal."


Kening Freya mengerut, merasa tersinggung dengan perkataan Arkana. "Maksud lo apa?"


"Ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua 'kan?" Arkana menebak sementara matanya menatap tajam Freya.


Dengan cepat Freya menggeleng.


"Ngaco. Enggalah."


"Ya terus kenapa lo nyampe nginep di tempat dia, buat alesan kayak gitu?" Arkana menukas. "Ini udah kedua kalinya, Freya."


"Kenapa lo jadi sewot gitu, sih?" Freya balas menukas, tidak suka dengan tingkah Arkana.


"Soalnya gue nggak suka!" cetus Arkana tanpa berpikir. "Gue nggak suka liat lo sama dosen itu."


Freya terdiam mendengar ini. "Kenapa lo nggak suka?"


Arkana tidak berkutik diberi pertanyaan seperti ini. Iya, memangnya dia punya hak apa untuk membenci laki-laki yang dekat dengan Freya? Memangnya dia siapa?


"Dia laki-laki nggak bener. Lo udah liat sendiri 'kan fotonya di Nightiest waktu dulu?" Arkana menghela napas, akhirnya menemukan alasan masuk akal.


Freya menggeleng kecil. "Gue udah kenal dia. Dia bukan orang nggak bener. Satu foto doang nggak bisa ngejamin baik buruknya seseorang, Ar." Dia berhenti sejenak, sebelum melanjutkan. "Aslinya dia baik kok. Dia perhatian, kocak juga, bahkan kadang bisa bertingkah kayak anak kecil. Dan dia selalu berusaha jagain gue. Dia nggak seburuk itu."


Sejenak Arkana terdiam. Dia menatap Freya lama. Sebelum akhirnya berujar lagi, "You like him."


"Hah?"


"Lo suka Pak Orion, Frey." Arkana berujar lagi. "Lo nggak pernah ngomongin cowok sampai segitunya. Dari cara bicara lo, tatapan lo, semuanya ... ngejelasin lo suka dia."


Kini giliran Freya yang tidak berkutik. Dia mengerjap beberapa kali. Membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang harus dijelaskannya. Karena dia pun tidak mengerti kalau sudah membicarakan soal perasaannya.


Tok tok


"Frey? Lagi di dalem?"


Atensi Arkana dan Freya terpecah begitu mendengar ketukan dari pintu. Itu suara Kiran.


"Eh iya, masuk aja, Kak." Freya berseru dan sesaat kemudian Kiran membuka pintu, lalu melongokan kepalanya ke dalam.


"Frey, makan yuk.. Semua udah kumpul juga dibawah, tadi Kakak beli makan siang loh." Kiran berujar sambil tersenyum lebar.


"Oh, iya, Kak." Freya beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kamar, merasa bersyukur Kiran datang di waktu yang tepat.


Di belakangnya Arkana mengikuti dalam diam. Dia masih ingin bicara dengan Freya, tapi tahu setelah ini Freya tidak akan mau mengungkitnya lagi.


Sebelum Kiran hendak menutup pintu, tatapannya jatuh pada rak pakaian Freya di seberang ruangan.


Senyumannya perlahan luntur. Tanpa sadar dia melangkah masuk menuju rak itu. Menuju sebuah hoodie abu yang digantung paling depan. Jemarinya menyentuh hoodie itu hati-hati, sementara jantungnya terasa berdebar cepat.


Bagaimana bisa...?


"Kak Ran? Kenapa?" Freya yang tersadar Kiran tidak bergabung dengannya, berjalan kembali ke kamar.


Dengan cepat Kiran berbalik. Tangannya masih menyentuh hoodie abu itu.


"Oh. Engga." Dia menggeleng, berusaha menguasai diri. Bibirnya lantas memaksakan seulas senyum ketika bertanya, "Ini hoodienya bagus. Beli di mana, Frey?"


Freya menatap hoodie itu lalu mengerjap. "Oh, itu aku nggak beli sendiri. Dipinjemin ... um, temen." Dia lantas menggaruk pelipisnya. "Dikasih sih, lebih tepatnya."


Kiran lantas mengangguk-angguk. Sekali lagi ditatapnya hoodie itu sebelum dia berjalan meninggalkan kamar Freya dengan perasaan tidak menentu.


***


"Aku masih inget, Sayang. Aku kasih hoodie itu buat hadiah ulang taun dia." Kiran berujar perlahan dalam bisikan kecil. Jemarinya bergerak saling meremas dengan gelisah. "Apa mungkin...?"


Kenan terdiam mendengar ini. Dia menyesap kopinya dan menggeleng. "Hoodie model kayak gitu ada banyak 'kan?"


"It's kinda limited edition."


"Tapi bukan berarti satu-satunya di dunia 'kan? Bukan berarti yang punya hoodie itu Orion seorang 'kan?"


Kiran terdiam. Tapi akhirnya mengangguk pelan menyetujui perkataan Kenan.


"Nggak usah terlalu dipikirin. Dunia nggak sesempit itu." Kena berujar sambil tersenyum menenangkan pada Kiran. Dia lalu menghela napas dan menambahkan pelan, "Tapi kalau emang udah seharusnya kita ketemu lagi, hal itu nggak akan bisa dihindarin. Itu artinya, kita harus hadapin semua konsekuensinya."


Kiran menunduk mendengar ini. Dia mengangguk kecil menyetujui perkataan Kenan.