Islandzandi

Islandzandi
Menantu Perempuan VS Ibu Mertua



"Selamat Pagi semua..."


Suara renyah Saina menggema di ruang makan, Arga yang sudah duduk rapih disana melirik ke arah Saina sekilas. Sedangkan gadis kecil yang cantik di sebelah Arga sudah menoleh cepat dengan senyum menawan di bibirnya.


Saina mendekat ke arah Arga, hendak memberikan kecupan hangatnya di pagi hari untuk sang suami, tapi belum sampai bibirnya menyentuh pipi Arga malah menghindar sampai membuat Saina dengan kedua alis bertaut.


"Ada Hana," ucap Arga datar dan kembali memakan sarapannya lagi. Saina pun mengangguk, beralih menatap Hana dengan cepat dan tersenyum ke arahnya.


Lalu mengecup kening Hana sampai Hana terpekik kegirangan.


"Mama Saina!" pekik Hana yang teramat bahagia melihat Saina datang.


Meskipun belum mengenal Saina terlalu lama, tapi kehadiran Saina sudah berhasil membuat Hana berubah total. tidak lagi menjadi gadis kecil yang murung, tapi kini sudah menjadi gadis kecil yang ceria.


Hanya dengan pendekatan selama satu bulan, Saina berhasil meraih hati gadis kecil Arga bernama Hanazola.


"Wow... Hari ini anak Mama makan apa?"


"Nasi goreng udang, Ma." jawab Hana dengan semangat. Dan hal itu membuat Arga menoleh ke arah sang putri, selm ini tidak pernah dia melihat Hana sesemangat ini jika berbicara dengan siapa pun. Ya, kecuali Saina. Jadi, apa terlalu dini mengatakan jika dia beruntung menikahi Saina dan membuat wanita cantik itu menjadi Ibu sambung buat Hana?


Entahlah, Arga tidak mau ambil pusing.


"Ok karena anak Mama yang cantuk ini makan nasi goreng, maka Mama juga akan makan yang sama. Kita kan Couple, iya nggak?" ucap Saina pada Hana yang sudah duduk di samping Hana.


Tidak lupa Saina mengusap pipi Hana sekilas, setelahnya dia meraih piring dan mengisinya dengan. nasi goreng yang sama dengan sang gadis kecil.


"Kamu nggak makan, mas?"


Arga hanya menggeleng, tanpa bersuara dan mata yang menatap Saina lurus. Sementara Saina merasa aneh ditatap seperti itu, Saina pun mengerutkan keningnya dalam. Beruntung Saina mempunyai putri kecil yang pengertian seperti Hana hingga tanpa perlu repot-repot bertanya Saina tau jawabannya.


"Papa nggak suka makan nasi kalo pagi, Mah. Makanya cuma roti, dan satu lagi Mah."


"Apa?"


"Papa nggak suka ngomong di meja makan."


Gila... Gila... mana gue tau doi apa yang suka dan nggak secara jelas... orang dia ngajak nikah secara ngedadak, bahkan resepsi yang sederhana pun serba dadakan.


*Saina membulatkan mulutnya, dia mengangguk paham pada Hana yang terlihat cekikikan kecil. Setelah basa-basi yang Saina lakukan selesai, Saina bersiap untuk makan. Pagi ini dia sudah harus mulai bertugas menjadi ibu dan istri yang baik di kelurga Arga.


Tapi, belum sempat Saina meyuap sendok yang berisi nasi gireng udang ke dalam mulutnya. Norah-- Ibu dari Arga membuat sendok yang hendak masuk ke dalam mulut Saina terpaksa turun demi bisa menatap dan menyapa sang ibu mertuanya.


"Pagi Ma,"


Norah melirik Saina dengan tajam, tidak membalas sapaan Saina padanya. Malahan Norah langsung saja duduk di depan Saina dan membalikan piring bersiap untuk sarapan.


Entah Arga dan Hana tau jika sikap Norah berbeda dengannya atau tidak, Saina juga tidak tau persis tapi karena kewajibannya sekarang adalah untuk melayani keluarga ini.


"Stop!" ucap Norah tegas masih sinis melihat ke arah Saina ketika dia hendak mengambilkan nasi goreng untuk mama mertuanya. Sementara Mama Mertuanya malah memanggil assistent rumah tangganya yang berada di dekat meja makan untuk mengambilkan dia makanan.


"Hana, hari ini biar Oma yang anter kamu ke sekolah ya? Papa kamu hari ini ada meeting, jadi nggak bisa anter kamu." ucap Norah saat dia sudah menghabiskan sarapan setengahnya.


Hana nampak menatap Norah lama, membuat Saina melambatkan kunyahan nasi di mulutnya, dia menunggu jawaban apa yang akan Hana berikan.


"Kalau Hana udah beres sarapan, kamu bisa ikut Papah sekarang, biar Papah yang antar kamu ke sekolah." ucap Arga datar.


Ya, sudah tidak heran lagi bagi Saina ketika Arga berbicara pada Hana yang terkesan cuek dan datar. Pasalnya, di kantor dan di mana pun, Arga akan tetap bersikap seperti itu. Itu terjadi semenjak Anggun ibu kandung Hana meninggal saat melahirkan gadis itu.


Saina beralih menatap Arga, kali ini mulutnya sudah terbebas dari makanan, jadi dia bisa menatap suami seksinya itu dengan leluasa.


"Sama Oma aja gimana? Oma janji nanti pulang sekolah kita beli cake yang biasa, gimana?" tawar Norah pada Hana yang belum bergeming. Ibu mertuanya itu sepertinya memang suka mengantar Hana ke sekolah jika Arga sibuk bekerja.


Melihat wajah Hana murung, membuat Arga menghela napas berat.


Hah... Kenapa Hana bisa berubah secepat ini...


"Ya udah, kamu kalau mau berangkt sama Mama, boleh. Tapi ingat, jangan buat masalah atau nakal saat bersama Mam Saina."


Seketika itu senyum Hana mengembang dengan satu tangan berada di kening, bersikap hormat pada Arga, layaknya prajurit memberi hormat pada komandannya, karena telah memberikan ijin untuk berangkat sama Saina.


Sedangkan Saina sih mau-mau saja, lagipula Saina memang suka anak kecil, terlebih Hana bukan anak nakal dan ribet, jadi saat mengajaknya juga asik-asik aja sih.


"Siap Papah, Hana janji nggak nakal. Tapi jemputnya juga sama Mama juga boleh ya?"


Arga hendak melarang tapi Saina sudah terlebih dulu menjawab dengan satu tangan ada di atas puncak kepala Hana.


"Boleh dong, biar nanti Mama yang jemput juga, ya? Sekalian tadi apa? Beli cake? Kamu tau tempatnya dimana? Kalau tau Mama bisa ---"


Braaaaakk!!!


"Mama sudah selesai." ucap Norah sambil menatap Saina bak musuh yang harus di basmi. Dan semua orang yang ada di meja makan pun menatap Norah karena sudah berdiri sambil menggebrak meja sebelum pergi dari sana tapi berhasil dihentikan oleh suara Arga.


"Hana sekarang sudah punya Mama, wajar jika dia minta diantar oleh Mamanya. Ibu jangan terlalu---"


"Mama tiri, jika kamu lupa akan hal itu!" lanjut Norah memotong omongan putranya itu yang kemudian pergi begitu saja dari meja makan.


Saina tidak kaget saat Norah terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap dirinya. Saina paham dan tau kenapa Norah seperti itu, hanya saja, Saina sangat menyayangkan sikap Norah yang seperti tadi dilakukan tepat di depan Hana yang masih belum pantas melihatnya.


Setelah Norah pergi, Saina melihat Hana yang masih menatap lurus ke arah hilangnya Norah. Karena tidak mau anak itu jadi trauma atau takut, Saina buru-buru bersiap dan menusuk pipi Hana dengan jarinya pelan.


"Hei tuan putri, berangkat sekarang?" tanya Saina dengan tas yang sudah tersampir di lengan kirinya.


Mendengar pertanyaan lembut dari Saina, Hana pun kembali biasa lagi. Dengan semangat dia mengangguk lalu mengulas senyum. "Boleh."


"Pamit sama papah dulu kalo gitu." ucap Saina menunjuk Arga. Dengan segera Hana pun menurut dan menghampiri Papahnya. Hana mengambil tangan Arga lalu mencium punggung tangan Arga lalu mendongak sambil melempar senyum.


"Pah, Hana berangkat sekolah dulu ya?"


"Ya,"


"Mas,"


"Apa!"


"Salim, aku kan mau berangkat bareng Hana."


Saat Arga mengulurkan tanganya pada Saina, ternyata yang Saina incar bukan hanya menyalimi tangannya tapi bibir sang suami pun menjadi incaran kecupan singkatnya.


Arga terdiam sesaat memahami situasi yang baru saja terjadi. Saat terdengar suara cekikikan Saina yang menertawakn reaksinya Arga pun langsung menatap tajam kearahnya.


"Kalau kata pengantin baru, itu Morning Kiss, Mas!" ucap Saina sambil berlalu begitu saja meninggalkan Arga.


Hah, punya istri muda memang bikin salit jantung!"