
"Freya..."
Reyandra yang sedari tadi mengikutinya dan memperhatikannya bergegas menyusulnya.
Freya yang sedang menangis meratapi nasibnya pun melihat kearah Reyandra.
Freya menatap Reyandra dalam diam menahan tangisannya, lalu dia pun berjalan mendekati Reyandra dan memeluknya erat sambil menumpahkan tangisannya.
"Sakit, Yah..." ucapnya disela-sela tangisannya.
***
"Istirahatlah, kemu butuh itu sekarang." ucap Reyandra saat baru saja menyelimuti tubuh Freya.
"Yah... Seenggak pantes itu Freya buat dicintain ya?" Setelah menangis terus-terusan saat dalam perjalanan, akhirnya Freya membuka percakapan ya lagi dengan ayahnya.
Ya... saat dalam perjalanan pulang Freya tidak mau pulang ke rumah Erik. Karena dia sedang tidak ingin bertemu dengan Kenan. Akhirnya Reyandra membawa Freya pulang ke apartment nya. Reyandra pun sudah memberi kabar pada Erik kalau Freya akan tinggal di Apartemennya untuk sementara waktu sampai hatinya tenang.
"Kasih sayang yang dikasih Om Erik sama Tante Haura hanya kamuflase... Ayah pun ga menginginkan Freya buat ada di sini, Kakak yang Frey percaya dan sangat sayang sama Frey sekarang malah jadi bomerang... Selama ini Freya hidup sendiri Yah... Freya--"
Belum sempat Freya berkata Reyandra sudah memeluknya.
"Maaf... Maafin Ayah Frey... Ayah tau rasa itu, karena Ayahpun merasakan hal yang sama saat meninggalkan kamu... Kamu adalah harta Paling berharga yang ditinggalkan Ibumu Frey... Maaf baru sekarang Ayah sadar akan hal itu... sekarang boleh kita kembali hidup bersama, sebagai layaknya seorang ayah dan anak? Ayah ga janji, tapi Ayah akan berusaha melindungi mu dari orang-orang yang menyakiti kamu Nak ..."
Seketika tangis Freya pun pecah dan membalas pelukan Ayahnya.
***
Kelana menatap ponselnya dengan kening mengerut dalam. Pesannya sejak semalam kemarin belum juga Freya baca. Dia mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif.
Sambil mengembuskan napas kasar, Kelana mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Ketika Freya mendadak memutus telepon mereka semalam, dan tidak bisa lagi dihubungi setelahnya, firasat Kelana menjadi tidak baik. Dia takut terjadi sesuatu.
Mendadak dia menyesal sudah menceritakan yang sebenarnya pada Freya. Bagaimana jika itu memberi dampak yang terlampau besar bagi Freya? Mengetahui masa lalu kelam kakak dan pasangannya tentu bukan hal baik.
Lagi-lagi Kelana mengembuskan napasnya. Seharusnya dia tidak ikut campur dalam hubungan kakaknya begini.
"Kenapa, sih? Dari tadi keliatan frustasi banget." Mamanya yang tengah menyiapkan sarapan bertanya.
Kelana mendongak lalu menggeleng kecil.
"Pusing sama tugas? Atau gara-gara ujian?” Tidak menyerah, mamanya kembali bertanya, dan lagi-lagi dibalas gelengan oleh Kelana. "Kalau ada apa-apa cerita dong, Kel. Jangan dipendem sendiri, kan Mama nggak tau, nggak bisa bantu.”
Kelana meringis sembari menggaruk rambutnya. “Ini bukan masalah Kelana, sih, Ma."
"Loh, terus ngapain dipusingin?" tanya mamanya lagi, kali ini sambil menyendokan sepiring nasi untuk anaknya.
"Soalnya ... Kelana yang nimbulin masalah itu." Kelana bergumam pelan. "Belum tentu jadi masalah juga, sih, tapi kemungkinan gitu."
Mamanya kini mengerutkan kening, sama sekali tidak mengerti maksud Kelana. "Apa pun itu, kalau ada masalah ya harus dilurusin, Kel."
Diluruskan, ya?
Kelana mengembuskan napas lagi, dan bersamaan dengan itu, Kiran berjalan menuruni tangga. Sudah siap dengan setelan kantornya. Agak ragu, Kelana menatap kakaknya yang kini mendudukan diri di hadapannya.
"Kak, Kelana mau ngomong sesuatu." Kelana akhirnya memulai. "Tapi janji jangan marah.”
Kiran menyuap makanannya dan menatap Kelana heran. "Kenapa?"
"Ini... tentang Kak Freya, Kak Kenan." Kelana menjeda sejenak sebelum meneruskan. "Dan Kak Orion."
Kelana tahu, ketika dia menyebut nama itu, Kiran membeku untuk sesaat. Seakan nama itu memberinya efek yang begitu besar.
"Apa kamu bilang? Orion?"
***
Dengan cepat Kenan bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Kiran. Diraihnya lengan sang puan dengan hati-hati. Matanya menelisik wajah Kiran berusaha mencari alasan di balik kalut yang mungkin tengah dirasakan si wanita.
"Ran, kamu baik-baik aja?" Kenan bertanya sembari menuntun Kiran duduk di sofa. "Ada sesuatu yang terjadi? Kamu kelihatan panik."
Kiran mengesah pelan, kepalanya tertunduk, sementara sorot matanya tidak fokus. Kedua tangannya bergerak saling meremat dengan gelisah.
Sepertinya benar dugaan Kenan, ada sesuatu yang tengah mengganggu Kiran. Kenan lantas meraih bahu Kiran dengan lembut.
"Ran, tenangin dulu diri kamu. Apa pun yang lagi ngeganggu kamu sekarang, coba dialihin dulu dari pikiran kamu. Sekarang, kamu tenang dulu." Kenan berujar perlahan.
Ini membuat Kiran akhirnya menatap Kenan. Dia mengangguk kecil menuruti perkataan Kenan. Perlahan, dia menarik napas dalam-dalam, lantas mengembuskannya.
Berkali-kali dia melakukan itu, hingga kegelisahannya nampak sedikit berkurang dibanding sebelumnya.
"Feeling better?" tanya Kenan setelah Kiran agak tenang.
Alih-alih menjawab, Kiran hanya menatap Kenan dalam diam. Lalu, kedua mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Ini jelas membuat Kenan panik seketika. Dengan sigap, diraihnya Kiran ke dalam pelukannya. Merengkuhnya dengan erat sembari menepuk lembut punggung mungilnya berkali-kali. Meski tidak tahu apa alasan Kiran bersikap seperti ini, Kenan tetap merasa bahwa dia harus melakukan segalanya demi menenangkan tunangannya itu. Sebab satu hal yang dia tahu adalah, apa pun yang terjadi pada Kiran sekarang, itu jelas-jelas bukan hal baik, atau mungkin benar-benar masalah besar.
Maka Kenan hanya bisa menenangkan Kiran semampunya.
"Orion ..." Kiran tiba-tiba bergumam di tengah isakannya.
Mendengar nama itu, sekujur tubuh Kenan seketika terasa membeku. Tangannya yang tadi menepuk punggung Kiran seketika berhenti.
"Tadi pagi Kelana cerita sama aku. Kemaren dia ketemu Orion di Mall." ucap Kiran sambil melepas pelukan Kenan.
Kenan merasa tubuhnya benar-benar menjadi kaku.
Dia tau dirinya dan Orion memang tinggal di kota yang sama. Dan tentu saja wajar jika salah satu dari mereka sempat bertemu beberapa kali dan mendengar kabar tentang satu sama lain.
Tapi, sudah lama sekali sejak Kenan mendengar keberadaan Sean. Rasanya seperti mimpi di tengah hari mendengar kerabat terdekatnya bertemu lagi dengan Orion setelah sekian lama.
Perlahan Kenan melepaskan pelukan mereka. Dia menatap Kiran yang masih menundukan kepalanya.
"Is he ... okay?" Kenan bertanya dalam bisikan pelan.
Tanpa mendongak, Kiran menganggukan kepalanya. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya. “Kelana bilang Orion baik-baik aja. Dia bahkan kelihatan bahagia, lebih bahagia dari yang terakhir kali Kelana inget."
Mendengar ini, tanpa sadar Kenan mengembuskan napas yang bahkan tidak diingatnya sempat ditahan. Dia merasa sedikit lega dibanding sebelumnya, meski perasaan tidak menyenangkan itu masih terus menggelayuti dadanya.
Sejak dulu pun, perasaan tidak menyenangkan itu selalu ada dan tidak pernah hilang.
"Bukan itu aja, Ren." Kiran kembali meneruskan, kali ini dia mendongak dan balas menatap Kenan dengan kedua matanya yang basah. "Selama ini ternyata Sean kenal Freya. Orion dosennya Freya di kampus, Ken. Dan waktu Kelana ketemu Orion di mall, mereka lagi jalan berdua. Orion dan Freya."
Jantung Kenan terasa berhenti bekerja mendengar ini. Tubuhnya. benar-benar membeku sekarang.
Rasanya butuh waktu lama baginya memproses perkataan Kiran tadi. Seakan setiap silabelnya terlalu sulit untuk dia pahami.
Freya? Freya adik sepupunya sendiri, rupanya mengenal Orion? Bahkan jika mengacu pada apa yang dikatakan Kelana, bisa saja mereka berdua memiliki hubungan lebih dari sekedar dosen dan mahasiswa. Sebab mana mungkin ada dosen dan mahasiswanya menghabiskan waktu berdua seperti itu.
Tapi bagaimana mungkin? bagaimana mungkin Orion berhubungan dengan adik sepupunya? Apakah Orion tidak tau tentang siapa Freya dan hubungannya dengan Kenan?
Lalu kenapa Freya tidak pernah menceritakan ini denganya?
Tidak seperti sebelumnya, otak Kenan kini bekerja dengan lebih cepat. Jika benar Freya menjalin hubungan dengan Orion-terlepas dari apakah Orion mengetahui identitas Freya yang sebenarnya dan jika Freya benar-benar menyukai Orion, apa yang akan terjadi ketika Freya mengetahui semuanya?
Ketika Freya akhirnya mengetahui kesalahan besar apa yang pernah Kenan lakukan di masa lalu pada Orion.
Braakkk!!!