
"Eh, bosen gue sama makanan di kantin Fikom. Makan siangnya di kantin Fisip aja gimana?" Dasya bertanya sambil memasukan bukunya ke dalam tas.
"Kata Dery di kantin asrama ada ayam geprek sepuluh ribu tau, udah plus es teh manis lagi." Rania menukas bersemangat, mengingat perkataan salah satu teman sekelasnya. "Sana aja yok?"
"Ayo gas!" Qila langsung bangun dari kursinya dan memimpin jalan keluar kelas, diikuti Juni yang tertawa geli.
"Ah, lo makan siang sama Pak Orion lagi ya, Frey?" tanya Dasya sambil menatap Freya yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Ya elah, nggak usah ditanya, Sya. Tiap hari juga gitu 'kan." Rania menukas.
Freya lantas mendongak dari ponselnya. Sebetulnya sejak tadi Orion belum membalas pesannya. Tapi belum tentu juga 'kan laki-laki itu membatalkan jadwal makan siang mereka?
"Hehe iya, kalian duluan aja," katanya akhirnya.
"Duh, ya gusti kapan Rania punya cowok yang bisa diajak makan siang bareng." Rania bergumam dengan raut sedih dibuat-buat. Dasya terkekeh dan keduanya berjalan keluar kelas.
Tersisa Freya sendirian sekarang di ruang kelas. Sekali lagi perempuan itu mengetikan pesan untuk Orion.
Freya :
Pak, gimana? Saya tunggu di parkiran belakang kayak biasa aja, ya?
Beberapa menit kemudian balasan pun tiba.
Dosen Favoritku :
Maaf saya ada janji lain siang ini
Freya tercenung membaca ini.
Kenapa baru mengabari sekarang? Kenapa mendadak begini?
Freya :
Oh, oke, Pak
Sambil menghela napas Freya beranjak dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Tahu begitu tadi dia ikut makan siang dengan teman-temannya. Kantin asrama letaknya agak jauh dari Fikom, kalau harus pergi ke sana sendirian malas rasanya.
Ketika Freya tengah berjalan lesu menyusuri koridor, seseorang tiba-tiba merangkul bahunya dari belakang. Freya terkesiap dan menoleh, lalu segera bersitatap dengan Arkana yang kini tengah tersenyum lebar padanya.
"Ah elah, bikin kaget aja Lo!" tukas Freya sambil meninju lengan Arkana.
Arkana hanya terkekeh. "Ya lagian lemes amat keliatannya "
"Gue laper!"
"Ya udah, ayo makan siang bareng. Gue juga laper." Arkana tersenyum senang. "Tapi di luar aja ya, makannya."
Sejenak Freya terdiam. "Emang nggak apa-apa kita makan bareng? Lo nggak makan sama Giana apa?"
Mendengar ini, senyum Jovan luntur seketika. Dia melepas rangkulannya di bahu Freya dan menghela napas pelan. "Gue belum cerita, ya, sama lo."
"Apa? Kenapa?" Kening Freya mengerut.
"Gue putus sama Giana," jawab Arkana perlahan.
Kedua mata Freya melebar syok. "Hah? Setelah gue susah-susah bantuin kalian tetep jadian, akhirnya malah putus? Yang bener aja lo?"
"Gue beneran nggak cocok sama dia, Frey. Nggak bakal bener juga kalau diterusin." Arkana menyahut sambil menggaruk tengkuknya. "Haidar bilang gue nggak bisa terus-terusan nyakitin Giana. Sementara gue sadar hubungan ini cuma bikin dia sakit doang."
"Ya maksud Haidar tuh lo harus berubah biar nggak nyakitin dia, bukannya diputusin, Ar." Freya menukas gemas. "Emang kalau di jari lo ada luka, jarinya bakalan langsung lo amputasi? Engga 'kan, bakalan lo obatin ‘kan? Kok lo jadi bego gini sih, Ar?"
Arkana mengesah keras, tidak sangka Freya akan mengomelinya begini. "Masalahnya hubungan gue udah terlanjur nggak bisa diobatin Frey, percuma mau gue pertahanin pun. Gue emang nggak cocok sama dia." Dia lalu menatap Freya sedih. "Udah, dong, jangan marahin gue. Abis putus nih, harusnya lo hibur gue."
Freya memicingkan matanya lalu berdecak. "Lo nggak keliatan kaya orang abis putus. Nggak ada sedih-sedihnya. Apanya yang mau gue hibur."
Arkana menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali merangkul Freya. "Engga, engga. Deep down gue tuh lagi terluka banget, cuma karena gue cowok sejati nggak gue tunjukin."
"Bacot." Freya mendengus meski akhirnya terkekeh juga ketika Arkana membawanya ke parkiran.
"Gue yang pesen, lo pilih kursi aja sono." Arkana berujar sambil berjalan menuju antrian untuk memesan.
Siang itu resto makanan cepat saji ini cukup penuh. Freya agak kesusahan menemukan meja kosong. Sampai akhirnya dia menemukan satu meja tidak terisi di sudut ruangan. Tapi langkahnya seketika terhenti begitu dia menyadari siapa yang duduk di meja di sampingnya.
Orion. Dan seorang perempuan.
Freya tidak bisa melihat perempuan itu, karena dia duduk memunggunginya..
Jadi ini urusan lainnya? Makan dengan perempuan lain?
Freya menggigit bibir bawahnya. Berusaha mengenyahkan gagasan buruk dari kepalanya. Ayolah, cuma makan siang. Dia juga sering makan siang dengan laki-laki lain, bahkan sekarang juga. Dan itu tidak berarti apa-apa 'kan? Iya 'kan?
Sejenak Freya ragu, haruskah dia duduk di meja itu atau tidak. Tapi tidak mungkin 'kan dia berdiri terus di sini seperti orang bodoh menunggu pelanggan lain pergi padahal ada meja kosong di sana. Baiklah. Tidak apa-apa.
Perlahan Freya melangkahkan kakinya dan mendudukan diri di kursi. Dari ujung matanya dia bisa melihat Orion menoleh, membuat Freya ikut menoleh. Sejenak tatapan keduanya bertemu, tapi tanpa mengatakan apa pun, tanpa menunjukan tanda bahwa mereka saling mengenal, Orion langsung mengalihkan tatapan dan kembali mengobrol sambil tertawa-tawa bersama perempuan di hadapannya.
Freya tersentak. Tanpa bisa dicegah dia memandangi perempuan yang menjadi teman makan Orion. Jantungnya lantas terasa mencelus. Emma. Rupanya Emma.
Baik, Orion bilang Emma sudah punya tunangan 'kan? Orion bilang dia tengah membantu Emma untuk penelitiannya 'kan?
Wajar saja mereka makan berdua.
Wajar saja Orion bersikap seolah mereka tidak saling mengenal.
Wajar 'kan...
"Heh malah bengong, kesambet setan ayam tau rasa lo." Arkana tiba-tiba datang dan menukas. Dia lantas meletakan pesanan mereka ke atas meja. "Kenapa, sih?"
Freya mengerjap lalu tersenyum kecil pada Arkana yang duduk di hadapannya.
Tatapannya lagi-lagi beralih pada Orion di meja sebelah. Tidak disangka, saat itu Orion juga tengah meliriknya dan Arkana. Tapi sama seperti sebelumnya, tanpa mengatakan apa pun dia kembali beralih dan berbicara dengan Emma.
Arkana mengikuti arah pandangan Freya. Sebelah alisnya seketika berjingkat.
"Pak Orion?" Dia bergumam pada Freya.
Freya mengesah dan mulai melahap ayam gorengnya. Dalam bisikan pelan dia berujar, "Mereka cuma temen kerja."
"Yakin?"
Freya kembali menoleh pada Orion dan Emma. Keduanya memang kelihatan sangat akrab. Membicarakan sesuatu dengan antusias sambil tertawa-tawa. Freya menelan salivanya susah payah dan meneruskan makannya.
"Bu Emma udah punya tunangan. Pak Ori cuma bantu penelitiannya," gumamnya tanpa menatap Arkana. "Gitu, sih, katanya."
Arkana hanya mengangguk-angguk dan ikut memakan makanannya dalam diam.
Dug!
"Aduh!"
Freya seketika mendongak begitu mendengar pekikan Emma. Rupanya minuman Emma tumpah ke lantai, mengotori kemeja putih dan roknya. Di samping kursinya seorang bocah laki-laki jatuh terduduk. Kelihatannya bocah laki-laki itu baru saja menubruk kursi Emma dan membuat minumannya tumpah. Cepat-cepat dia bangun dan menatap Emma dengan bersalah.
"M-maaf, Tante, aku nggak sengaja," ujarnya dalam cicitan pelan.
Di belakangnya seorang ibu datang dengan tergopoh-gopoh. "Kamu tuh, Mama bilang 'kan jangan lari-lari di tempat umum. Nyenggol orang 'kan jadinya!" Dia lantas menoleh pada Emma dan berujar dengan menyesal, "Aduh, Mbak maafin anak saya, hyper banget emang dia. Gimana, dong, itu baju Mbaknya jadi basah."
Sejenak Emma kelihatan bingung dan masih syok, tapi kemudian dia tersenyum kecil dan menggeleng. "Nggak apa-apa Bu, nggak apa-apa. Namanya juga anak kecil."
Si ibu dan anak terus meminta maaf beberapa kali sebelum akhirnya pergi karena Emma tidak meminta ganti rugi apa pun. Di hadapannya Orion meringis kecil dan menyerahkan sapu tangannya pada Emma.
"Bersihin dulu sana. Saya ada jaket di mobil, biar saya ambil dulu," katanya.
"Eh nggak apa-apa kok, nggak usah." Emma menggeleng.
Orion terdiam memandangi Emma sejenak. Dia lantas mengedikan dagunya. "Kemeja kamu basah, jadi tembus pandang."
Emma terkesiap dan menunduk.