
Di pesisir pantai sepasang sahabat itu berlarian sambil tertawa-tawa seperti bocah kecil. Tanpa sadar, seorang pemuda sejak tadi mengamati mereka dari kejauhan.
"Lo ngapain di pantai emangnya?"
"Ya liburanlah, Milen bosen katanya sama suasana kota. Pengen something refreshing." Evan menukas dari ujung sambungan telepon. "Freya juga pasti gitu."
Orion menghela napas pelan. Evan baru saja meneleponnya, mengabari bahwa ia tengah berada di pantai bersama pacarnya, dan tanpa sengaja melihat Feya ada di sana juga. Bersama seorang laki-laki.
Ditatapnya layar laptopnya yang menampilkan laman Instagram milik Freya. Sejak pagi tadi sebenarnya Orion tengah meneruskan naskah buku yang digarapnya. Tapi mendadak dia kehilangan mood dan memutuskan membuka sosial media. Perhatiannya segera tertuju pada postingan terbaru Freya.
Di foto itu Freya tampak berpose di tepi pantai. Dia tersenyum begitu lebar dan di beberapa foto sampai tergelak senang. Dia juga menandai akun Arkana di sana, menunjukan keduanya pergi bersama.
"She looks happy." Orion bergumam sembari mengamati foto Freya. Tanpa sadar bibirnya ikut mengulas senyuman melihat raut bahagia perempuan itu.
"Iya. Dia ketawa-tawa sama temen cowoknya," sahut Evan dari seberang sana. "Eh temen bukan, ya."
Orion menghela napas pelan. Teringat kejadian beberapa hari lalu di resto cepat saji. Dia sempat mencuri dengar percakapan Freya dengan Arkana. Katanya, memang mereka berencana pergi berdua di akhir pekan untuk bersenang-senang. Baguslah kalau memang Freya bisa bersenang-senang.
"Mereka cuma sahabat," sahut Orion pelan.
"Masih aja lo percaya ada cewek sama cowok bisa sahabatan?" Evan menukas dengan mencemooh.
Orion terdiam sejenak. Dia memijat pelipisnya dan menyandarkan punggung ke sandaran kursi dengan lesu. "She said she had a crush on him."
Mendengar ini sukses membuat Evan terkekeh pelan. "Kok gue justru ngeliatnya malah si cowok yang naksir Freya?" Dia lalu berhenti sejenak. "Lo nggak takut Freyq jadi suka lagi sama sahabatnya itu?"
Lagi-lagi perkataan Evan berhasil membungkam Orion sesaat. Dia tertegun memikirkan gagasan itu.
"Hmm ya baguslah. Berarti keputusan gue buat ngejauh udah tepat 'kan? Seperti yang gue kira, perasaan Freya belum terlalu dalem buat gue. Dengan gue ngejauh gini, dia bisa ketemu cowok lain. Dia pantes dapetin cowok yang lebih baik dari gue." Orion berujar perlahan.
"Yakin itu yang lo mau? Yakin lo sanggup ngeliat dia sama cowok lain?" Evan mendengus.
Tidak. Tentu tidak.
Bahkan beberapa hari lalu, saat dia melihat Freya makan berdua dengan Arkanq, mengobrol berdua dengan Arjun di kelasnya, berhasil membuat perasaannya berantakan. Dia baru tersadar, Freya memang semudah itu akrab dengan siapa pun. Bahkan dengan teman laki-lakinya. Perempuan itu juga punya penampilan yang menarik, pasti tidak akan sulit baginya untuk bisa dekat dengan laki-laki lain.
Membayangkannya saja sebenarnya sudah membuat Orion tidak nyaman. Dia tidak suka membayangkan itu. Tapi memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan?
Seperti yang dia katakan tadi, Freua pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya.
"Gini ya, gue masih ngerasa keputusan lo buat ngejauh itu nggak bener. Kalau sekarang lo mendadak pergi seakan-akan nggak ada yang terjadi, apa bedanya ini sama rencana awal lo buat ninggalin dia pas lagi sayang-sayangnya?" Evan berujar dengan suara serius.
Lagi-lagi Orion menghela napas pelan. "Beda. Kalau gue pergi sekarang, perasaan Freya belum terlalu dalem. Dia nggak akan terlalu sakit."
"Poinnya, lo tetep ninggalin dia. Lo tetep bikin dia sakit, Ri. Dan lo ngebiarin dia ngatasin rasa sakitnya sendirian." Evan menukas, kedengaran habis sabar. "Kalau lo jelasin yang sebenernya sekarang, iya mungkin dia tetep sakit. Tapi lo bisa berusaha perbaikin kesalahan, Lo bisa bantu dia ngatasin rasa sakitnya."
"Mungkin sekarang dia keliatan bahagia, tapi siapa yang tau perasaan sebenernya kayak gimana 'kan? Nggak ada yang baik-baik aja setelah ditinggal orang yang disayang."
Beberapa saat Orion hanya terdiam, memikirkan perkataan Evan. "Jadi jalan terbaiknya gue harus tetep jelasin semuanya ke Freya?"
"Jalan terbaiknya, lo harus hadepin masalah ini. Lo nggak bisa lari ngehindar kayak gini," cetus Evan. "Kalau lo belum siap jelasin yang sebenernya ke Freya, take your time. Tapi jangan tinggalin dia. Cuma lo harus inget, rencana awal lo ini bisa aja ketauan suatu saat nanti 'kan? Lo nggak bisa terlalu lama nyimpen rahasia. Cepet atau lambat Freya bakalan tau hubungan lo sama Kenan, dan apa menurut lo dia nggak akan curiga kenapa bisa-bisanya orang yang di-bully kakaknya malah deketin dia?"
"Gue cuma nggak mau lo kehilangan cewek yang lo sayang untuk kedua kalinya. Lo harus bahagia juga."
Orion memejamkan kedua matanya sejenak. Perkataan Evan sekarang benar-benar memenuhi kepalanya. Haruskah? Haruskah dia mengikuti saran Evan?
Tentu saja, dia sendiri pun tidak mau kehilangan lagi sosok yang disayanginya.
"Van, kira-kira mereka balik lagi ke sini jam berapa, ya?" Orion akhirnya bertanya setelah hening beberapa saat.
Sejenak Evan terdiam. Tapi kemudian dia terkekeh geli. "Ya mana gue tau. Tapi kemungkinan malem 'kan?"
***
"Makasih banyak, Ar, gue beneran seneng-seneng seharian ini." Freya berujar dengan senyuman lebar begitu mobil Arkanq berhenti di depan rumahnya.
Arkana mematikan mesin mobilnya dan menoleh pada Freya, ikut tersenyum juga. "Gue seneng kalau lo seneng. Jangan galau lagi, ya."
"Nggak janji, sih. Kalau cara lo ngehibur gue kayak gini, mending gue galau terus 'kan biar bisa main seneng-seneng seharian sama lo?" Freya mengedikan bahunya sambil memasang cengiran. "Becanda, deng. Udah ah, gue turun, ya."
Ketika dia hendak membuka pintu, tanpa diduga tangan Arkana menahannya. Membuatnya menoleh dan menatap Arkana heran.
"Eh, kenapa?"
Arkana masih tidak melepas genggamannya pada lengan Freya. Tatapannya pun entah kenapa berubah menjadi lebih serius.
"Gue bakalan selalu ada buat lo waktu lo sedih, Frey. Lo bisa andelin gue," katanya sembari menatap Freya lamat-lamat. "Makanya, kalau ada apa-apa, bilang sama gue. Gue nggak akan biarin lo sedih sendirian. You can always lean on me."
Freya mengerjap lalu perlahan bibirnya kembali mengulas senyum. Digenggamnya tangan Arkana. "Makasih, Ar. Gue tau itu kok, gue selalu bisa andelin sahabat terbaik gue ‘kan?"
Lagi. Kata itu lagi.
Sahabat terbaik.
Arkana mengesah pelan. Dan sebelum otaknya sempat mencegah, tubuhnya telah bergerak mendekat pada Freya. Mencoba mengikis jarak mereka. Di tempatnya Freya tertegun menyadari ini. Lalu ketika hembusan napas Arkana menerpa pipinya, begitu saja bayangan Orion melintas di benaknya. Freya tersentak. Dia segera mendorong Arkana menjauh dengan kedua mata melebar.
"Ar ..."
Arkana sendiri tersentak terkejut. Detik itu pula dia menyesali perbuatannya. Tangannya bergerak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sori ... gue kebawa suasana," katanya perlahan, berusaha menghindari tatapan Freya.
Freya meneguk salivanya susah payah. Berusaha menerima alasan itu.
"O-oke," sahutnya dengan canggung. "Gue turun dulu, ya."
Arkanq mengangguk tanpa menatap Freya.
Cepat-cepat Freya turun dari mobil Arkana. Dia melambai dengan kaku sementara mobil itu bergerak menjauh.
Sial. Apa itu tadi? Kenapa Arkana tiba-tiba hendak menciumnya? Dan kenapa bayangan Orion tiba-tiba muncul di kepalanya?
"Dia cuma kebawa suasana, Freya. Arkana kan emang touchy parah anaknya." Freya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Dia menarik napas berkali-kali dan mengembuskannya.
Setelah agak tenang, perempuan itu berbalik dan berjalan membuka pagar rumahnya. Tapi kemudian keningnya mengerut ketika menyadari lampu rumah sudah menyala semua. Setiap akhir pekan, Bi Imas tidak pernah menginap di sini. Jadi siapa yang menyalakan lampu? Atau dia tidak ingat tadi pagi dia sengaja membiarkan semua lampu tetap menyala?
Pikirannya itu segera buyar ketika didengarnya deru mobil mendekat. Freya berbalik dan jantungnya terasa berhenti bekerja untuk beberapa saat ketika mendapati mobil familier itu berhenti di seberang rumahnya.
Tak lama Orion keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Freya. Akhirnya, setelah berhari-hari tidak bertemu, tidak bicara, tiba-tiba Orion muncul di hadapannya, di malam selarut ini. Sejenak laki-laki itu hanya diam menatap Freya dengan tatapan tidak terbaca.