
Kenapa genggamannya terasa sangat pas?
Mereka melangkah dengan perlahan menyusuri koridor yang sepi
"Saya udah coba masak tumis resep kamu," kata Orion tiba-tiba. "Tapi rasanya kurang asin."
"Hah?" Freya mendongak menatap Orion bingung. "Perasaan takarannya udah pas kok, Pak. Bapak yang salah masukin mungkin."
"Iya mungkin, ya?" Orion menunduk dan balas menatap Freya dengan cengiran. "Ya udah, nanti abis kelas kamu masakin buat saya ya, tunjukin cara masak yang benernya gimana."
"Hah?"
Itu lebih terdengar seperti perintah ketimbang permintaan.
"Sana, kamu masuk kelas duluan." Orion berujar sambil menghentikan langkah dan melepas tautan jemari mereka. Freya baru tersadar beberapa langkah lagi mereka tiba di ruang kelas Orion.
"Jadi nanti sore saya masakin buat Bapak? Saya ... ke apartemen lagi?" Freya memastikan sebelum beranjak.
Di sampingnya Orion mengangguk sambil tersenyum lebar. "Nanti tunggu saya dulu ya, kita pulang bareng."
Yah, kelihatannya Orion tidak membiarkannya menolak kan? Jadi Freya mengangguk dan langsung berlari kecil menuju ruang kelasnya.
Rania, Qila, Juni dan Dasya duduk di barisan paling depan. Tersisa kursi kosong di samping Rania. Tentu saja, karena mereka datang terlambat, kursi yang tersisa hanya ada di barisan terdepan.
"Gue udah panik pas masuk kelas lo tiba-tiba ngilang. Waktu tadi gue susulin eh elonya malah asik ngobrol berduaan sama Pak Orion di tangga." Rania berbisik dengan tampang julid begitu Freya mendudukan diri.
Mau tak mau Freya malah terkekeh. "Bilang makasih lo sama gue. Karena gue, kita semua nggak diusir meski dateng telat."
"Hah, kenapa emangnya?" Rania bertanya bingung.
Freya tidak sempat menjawab karena saat itu Orion melangkah masuk ke dalam kelas. Orion meminta maaf karena dia terlalu lama keluar dan mulai membuka kelas mereka hari itu. Sejenak tatapannya berhenti pada Freya dan dia melempar senyum kecil.
Di sampingnya Rania terkesiap pelan. "Gila, jangan bilang Pak Orion sengaja keluar kelas dulu biar lo bisa masuk kelas dan nggak keliatan kayak telat, jadi dia nggak perlu ngehukum lo, gitu?"
Freya hanya menanggapi dengan cengiran kecil.
"Mama pengen punya pacar dosen jugaaa." Rania bergumam sambil menendang-nendang udara dengan kakinya, sementara Freya terkekeh-kekeh.
"Rania, bisa tenang? Kelas saya baru dimulai, tolong jangan berisik." Orion tahu-tahu menukas di depan kelas sambil menatap Rania galak.
Seketika Rania terkesiap. "Iya, Pak, maaf."
Di sampingnya Freya menahan diri untuk tidak menertawai Freya.
"Emang ya, di mata Orion lo doang kayaknya yang suci nggak berdosa," cibir Rania dongkol.
***
Freya :
Pak saya tunggu di kantin ya, nanti kalau Bapak udah selesai kabarin aja, biar saya ke parkiran belakang...
*
Eh Pak nggak jadi, temen-temen saya udah pada pulang, saya nggak ada temen nunggu di kantin. Saya tunggu di selasar aja ya, Pak
*
Pak, masih lama ya?
*
Pak, jangan-jangan paketan kuota bapak abis ya?
*
Eh tapi kan ada wifi...
Ini juga chatnya ceklis dua kok, berarti kekirim dong..
Halo Pak Ori.. Sambil menghela napas Freya membaca ulang chat-nya untuk Orion sejak hampir dua jam lalu.
Ya, sudah hampir dua jam Freya menunggu dan Orion yang sama sekali belum mengabarinya.
Sebenarnya Orion ke mana sih? Kalau mau membuatnya menunggu lama setidaknya dia harus memberi Freya kabar ‘kan?
"Sisi!"
Sisi balas melambai padanya. "Belum pulang, Frey?"
Cepat-cepat Freya berlari menghampiri Sisi. "Iya, lagi nunggu orang," katanya. "Abis dari prodi ya? Mm, dosen-dosen masih pada di sana?"
Sisi mengangguk. "Iya, lumayan banyak. Kenapa?"
"Ada siapa aja?" Freya bertanya cepat.
"Pokonya ada Pak Bakhri, Pak Damar, Pak Arifin." Sisi menyebutkan. "Bu Emma sama Pak Orion, terus siapa lagi ya, nggak inget gue."
Jadi dari tadi Orion ada di ruang prodi?
"Oke deh, makasih ya, Si." Freya menepuk lengan Sisi dan bergegas memasuki gedung tiga. Dia berjalan menaiki tangga dan menelusuri koridor, begitu hampir dekat dengan ruang prodi, langkahnya mendadak terhenti ketika dia mendengar suara tawa yang familier.
Freya bersembunyi di balik tembok dan sedikit mengintip dari pintu prodi. Di sana, dia bisa melihat Orion tengah mengobrol berdua bersama Emma, salah satu dosen lain, sambil tertawa-tawa. Keduanya menggenggam cangkir kopi, menandakan seberapa santainya mereka sekarang.
Di tempatnya Freya tertegun.
Jadi dia menunggu selama dua jam untuk ini?
***
"Hayo! Ngapain ngintip-ngintip?"
Freya terkesiap kaget ketika tiba-tiba Bakhri muncul dari dalam ruang prodi dan menghadang pandangannya. Dosennya itu berseru dengan kencang, Freya cukup yakin seisi prodi bisa mendengar suaranya.
Freya meringis lalu tersenyum kikuk pada Bakhri. "Eh, Pak Bakhri. Sore, Pak."
Bakhri memicingkan matanya pada Freya. "Kamu ngapain ngintip gitu? Itu mata bintitan gara-gara ngintipin dosen baru tau rasa loh kamu," cetus Bakhri sambil menggelengkan kepala. "Cari siapa, sih? Pasti mau minta perbaikan nilai, ya? Kebiasaan mahasiswa tuh, padahal belum juga semesteran abis, kerjaannya udah protes aja kalau nilai tugas jelek. Heran saya."
Freya membuka mulut hendak menyangkal, tapi Bakhri malah melanjutkan celotehannya tentang kelakuan mahasiswa. Duh, dosennya yang satu ini memang terkenal susah berhenti kalau sudah asyik bicara.
Sampai tiba-tiba, Orion ikut muncul dari dalam ruangan dan menghampiri mereka.
"Eh, Pak Bakhri, katanya tadi mau pulang, Pak?" Orion berujar sambil tersenyum pada Bakhri.
"Ini loh, ada mahasiswa jadi ya saya ngobrol dulu bentar," sahut Bakhri sambil mengerling Freya. "Pak Orion udah mau pulang?"
Orion mengangguk dan tersenyum kecil. "Iya—“
"Loh, buru-buru amat. Padahal lanjutin aja pedekatean sama Bu Emmanya." Bakhri menukas sambil tersenyum usil, tangannya menyenggol-nyenggol lengan Orion. "Sama-sama masih muda, belum punya pasangan. Gas ajalah, Pak. Bu Emma tuh cantik loh, denger-denger dosen dari fakultas sebelah juga banyak yang ngejar."
Kedua mata Freya membola mendengar ini. Yang benar saja...
Di tempatnya Orion melirik Freya lalu tertawa canggung. "Bukan pdkt, Pak. Lagian saya udah punya pasangan."
Ini membuat baik Bakhri maupun Freya menatap Orion terkejut.
"Loh, udah ada toh? Kenalin dong sama kita-kita," cetus Bakhri kemudian.
"Iya, nanti kalau memungkinkan saya kenalin." Entah kenapa, saat mengatakan itu Orion malah menatap Freya.
Freya seketika berdehem. "Mm, anu Pak, kalau gitu saya permisi dulu deh, ya."
"Eh, iya saya hampir lupa ada kamu," cetus Bakhri sambil menepuk tangan. "Mau cari siapa, sih? Udah sampai ngintip-ngintip ke dalem ruangan, masa mau langsung pergi aja?"
Demi apa pun seandainya Bakhri bukan dosennya, mungkin Freya akan menyumpal mulut embernya saat itu juga.
"Eh, itu, tadinya saya mau ketemu Pak Damar, tapi keliatannya nggak ada, ya. Jadi saya permisi dulu ya, Pak." Freya tertawa kecil dan tanpa menunggu respons apa pun segera berbalik pergi. Dia bahkan hampir setengah berlari.
"Eh, tapi itu ada di dalem Pak Damar, loh!" Didengarnya Bakhri berseru dari belakang, tapi Freya memilih pura-pura tidak dengar dan semakin mempercepat larinya.
Hingga akhirnya, ketika dia telah sampai di parkiran belakang yang sepi, seseorang menangkap lengannya dan memaksa tubuhnya berbalik. Kini di hadapannya berdiri Orion.
"Jangan lari-lari, nanti kram perut lagi," kata Orion.
Freya mengesah dan melepaskan tangannya dari Orion. Dia merotasikan mata dengan jengkel. "Saya makan pas beres kelas tadi. Yang mana udah dua jam lalu. Dua jam ya, Pak. Lama 'kan dua jam itu?" Dia sengaja memberi penekanan pada 'dua jam'. "Jadi makanannya udah turun, nggak mungkinlah kram perut lagi."
"Maaf," cetus Orion, menyadari kesalahannya. "Udah bikin kamu nunggu selama itu."
"Ya seengganya kabarin dong, Pak kalau mau bikin saya nunggu selama itu. Chat saya nggak dibaca padahal kekirim. Pas saya tengokin, Bapak malah asik ngobrol berduaan. Wajar dong, saya kesel." Freya mengomel jengkel. "Tau gitu 'kan mendingan saya pulang terus nonton drama."