
“Kamu masih mau di sini? Saya mau pake baju, nih.” Orion bertanya sambil melirik Freya. Pemuda itu sudah bersiap membuka jubah mandinya.
Lagi-lagi Freya membeliakan matanya. “Eh tunggu Pak, e-engga, Pak, Iya s-saya keluar dulu!”
Gadis itu menggeleng lalu cepat-cepat bergerak turun dari kasur dan berlari menuju pintu, meninggalkan Orion dengan suara debaman keras.
Di tempatnya Orion terkekeh geli, tidak habis pikir dengan tingkah Freya.
“Ck... Dasar, liarnya cuma lagi mabok aja ternyata.”
***
Orion dan Freya kini berdiri di pojokan dapur. Keduanya memandangi sebuah karpet yang dilipat dan menguarkan bau tidak sedap.
“Semalem saya Cuma bersihin pake air biar muntahannya ilang, tapi baunya jelas masih berbekas,” jelas Orion.
“Terserah kamu mau ganti pake bayar laundry atau ganti beliin karpet baru. Sekedar info aja saya beli karpet ini di Paris loh. Jadi bisa ditebak lah ya, kira-kira tebusan bayarannya berapa.”
Freya meneguk salivanya susah payah. Kesimpulannya, mau ganti bayar laundry atau beli karpet baru, dua-duanya sama-sama memaksa Freya merogoh banyak isi dompetnya.
Ah, sial. Kenapa pula si Bapak harus beli karpet jauh-jauh di Paris?
Omong-omong rupanya ini pertanggung jawaban yang Orion maksud. Ganti rugi atas karpet mahalnya yang semalam dimuntahinya.
Tadi Orion sudah menceritakan pertemuan mereka di bar sampai akhirnya Freya berakhir di sini dan mengotori karpet Orion dengan muntahannya. Jujur Freya sangat bersyukur, setidaknya ketakutannya tentang tidur bersama pria asing tidak terbukti. Dan dia masih aman.
“Saya bayar biaya laundrynya aja ya, Pak? kalo ngebeliin karpet baru dengan harga sebanding kayanya saya nggak mampu deh.” Freya berujar tidak enak sambil menatap Orion dengan memelas.
Orion mengangguk-angguk. “Oke, nggak apa-apa. Saya udah tau sih, kalo kamu pasti bakal pilih bayar laundry aja.”
Ya kali gue anak sultan macam doi yang beli karpet aja kudu ke Paris dulu.
“Atau saya bayar laundry sama beliin Bapak karpet baru deh, tapi karpetnya yang biasa aja ya, bukan dari Paris.” Freya mencoba memberi penawaran untuk menebus rasa tidak enaknya.
Orion tertawa kecil mendengar ini. Sebelah tangannya terangkat untuk mengusak puncak kepala Freya. Btw Freya ini tingginya hanya sebahu Orion, so mudah saja bagi pemuda itu untuk menyentuh kepalanya.
“Nggak perlu, Freya Adira Putri. Kamu cukup bayar biaya laundry aja. Saya juga nggak butuh banyak-banyak karpet, emangnya saya mau ngadain pengajian sama ibu-ibu?"
Dih... Malah dibecandain, Padahal gue serius tadi.
"Ya udah, deh. Maaf ya, Pak." Freya akhirnya berujar.
Dia mengekori Orion yang kini berjalan menuju meja makan.
"Sarapan dulu, terus mandi, nanti saya anter kamu pulang," cetus Orion sambil mendudukan diri di kursi. Dia membuka tudung saji di atas meja, di sana sudah ada beberapa menu makanan.
“Makasih banyak, Pak.” Freya bergumam lalu ikut duduk di seberang Orion.
"Ada sup buat pereda pengar juga tuh, biar mual karna mabuk kamu ilang."
“Ini... Bapak yang masak semuanya?”
“Engga, tadi saya pesen lewat ojek online. Mana bisa saya masak semuanya sendiri,” jawab Orion di sela kunyahannya.
“Emang Bapak selalu pesen tiap makan? Tiap hari kayak gitu?” Freya bertanya lagi.
“Seringnya sih, gitu. Tapi kalo lagi niat, ya saya masak sendiri.” Orion mengedikan bahunya. Dia lalu menatap Freya dengan senyum miring.
“Kenapa? Kamu mau masakin makanan buat saya biar saya nggak pesen terus?"
"Ih... Geer, orang cuma nanya doang kok." Freya menyahut cepat lalu menundukan kepalanya sedikit malu.
Sementara di seberangnya Orion lagi-lagi terkekeh.
"Mmhh... Beda gimana, Pak?"
Waktu mabuk kamu liarnya kelewatan. gumam Orion dalam hati.
"Yah, gitulah. Susah dijelasin." Freya menggaruk pelipisnya bingung.
“Pas saya mabuk, saya nggak bertingkah aneh-aneh ‘kan, Pak? Selain muntah gitu. Soalnya saya beneran nggak inget apa-apa.”
Orion berpikir sejenak, ragu mau menceritakan kejadian semalam yang membuatnya panas dingin.
“Ada sih, sebenernya.”
“Ada? S-saya bertingkah aneh-aneh sama Bapak?” Freya memastikan dengan terkejut.
Orion menganggukan kepalanya lalu menunjuk diri Freyq dengan sendok di tangannya. “Emang kamu nggak inget kenapa bisa pakai hoodie saya?" Lagi-lagi jantung Freya terasa mencelus.
"Engga, sih. Tapi mungkin karena kena muntahan saya?" Orion menggeleng, menolak asumsi Freya barusan.
"Semalem kamu strip tease depan saya," katanya dengan kalem.
"HAH?" Freya nyaris tersedak makanannya sendiri. Orion terkekeh melihat reaksi Freya.
Ni dosen kurang ajar banget sih?! pake acara ngetawain orang lagi panik juga.
"Nggak deng, bukan strip tease juga. Tapi ya, bisa dibilang begitu karena emang kamu nyaris nelanjangin diri
"Ini seriusan kan, Pak?" Freya bertanya dengan tidak percaya.
"Iya, serius. Kamu buka jaket kamu terus hampir buka celana kamu juga. Untung langsung saya tahan, kalau engga, wah bahaya." Orion menjelaskan dengan serius.
Shiiitttt, mati Lo Frey... mau ditarik dimana muka Lo? harga diri Lo sebagai mahasiswa abis udah dihadapan dosen somplak ini...
yang pasti sekarang Freya merasa malu bukan main.
“Akhirnya mau nggak mau saya pakein itu hoodie demi menjaga keselamatan kita berdua,” pungkas Orio akhirnya. “Soalnya saya nggak jamin kita bakalan selamat kalo saya liat kamu Cuma pake tank top doang semaleman.”
"Ahh dan satu lagi, jangan berani-berani lagi kamu minum tanpa ditemenin saya ataupun orang yang kamu percaya, jangan pernah!" Orion menegaskan di akhir kalimatnya.
Duh sial sial sial kenapa juga dosen somplak ini harus blak-blakan begini, sih?
Freya meringis. Sekarang dia benar-benar ingin cepat pergi dari apartemen ini.
***
Gianna menghela napas pelan. Dipandanginya Arkana yang masih terlelap di atas kasurnya. Semalam dia menyusul Arkana yang mabuk parah di Nightiest, dan membawanya beristirahat di kosannya. Mereka memang tidak melakukan apa pun, Gianna bahkan memilih ikut tidur di kamar tetangganya sementara Arkana tidur di kamarnya.
Dia tidak pernah mengira akan bertengkar dengan Arkana ketika hubungan mereka masih seusia biji jagung. Gianna juga tidak pernah mengira perasaannya pada Arkana bisa tumbuh begitu besar. Padahal dulu, beberapa bulan lalu, dia sempat menolak Arkana habis-habisan ketika laki-laki ini berusaha mendekatinya. Mika, temannya, sudah memperingati Gianna bahwa Arkana memang dikenal sering mempermainkan perempuan. Mantan pacarnya entah ada berapa, dan biasanya hubungannya hanya bertahan dalam kurun waktu singkat. Informasi ini cukup bisa dipercaya karena Marco, pacar Mika, merupakan salah satu teman Arkana juga di Fikom. Alasan itulah yang membuat Gianna selalu menolak Arkana.
Namun selama berbulan-bulan Arkana tidak pernah berhenti mengejarnya. Laki-laki itu tidak pernah lelah melakukan beragam upaya yang perlahan membuat Gianna luluh juga. Kalau memang Arkana senang mempermainkan perempuan, kalau memang dia tidak pernah serius saat menjalin hubungan, mestinya dia menyerah saat Gianna menolaknya ‘kan? Mestinya dia tidak perlu membuang-buang waktu dan tenaganya untuk mengejar Gianna ‘kan? Mungkin dia benar-benar serius dengan Gianna. Mungkin dia tidak berniat bermain-main dengannya.
Pemikiran itulah yang membuat Gianna memutuskan percaya pada Arkana.
Tapi kejadian kemarin benar-benar mengganggunya. Membuat dia merasa kesal dan sampai memicu pertengkaran dengan Arkana.
Kenapa harus perempuan itu? Kenapa harus nama perempuan itu yang selalu Arkana sebut di setiap kencan mereka? Seberapa istimewanya perempuan itu sampai Arkana selalu membicarakannya di depan Gianna, pacarnya sendiri?
Gianna marah. Dia membiarkan emosi menguasainya. Dia menuduh Arkana yang bukan-bukan.
Tapi kemudian Arkana menyangkal. “Dia sahabat aku, Na! Aku kenal dia dari SMP, udah bertaun-taun. Dia ada buat aku di masa terpuruk aku. Sekarang kamu cemburu karena aku nganter dia? Kalau kamu nggak bisa nerima sahabat aku, aku nggak tau bakal gimana jadinya hubungan kita.”
Ini membuat Gianna terpekur.