Islandzandi

Islandzandi
Maaf



Beberapa hari kemudian…


Di Svetovska Company…


Pukul 15 sore…


Eolia datang ke ruangan Reyandra dan melihat Reyandra sedang melamun di depan laptopnya.


"Kenapa lagi Island?"


Reyandra tersadar dari lamunannya dan melihat kearah Eolia yang langsung duduk di depannya. "Ya?"


"Dia bikin ulah lagi? Kalau muka kamu kayak gitu pasti gara-gara Island… I was right?"


Reyandra lalu tersenyum kecut kearah Eolia.


"Bagaimana, apa Park Jae joon mau datang? Dia pasti sangat antusias kalau dia dilibatkan dalam Launching kita…"


"Yup, kau benar… Dan dia mau ikut di acara Launching kita nanti!"


"Baguslah!"


"So, would you tell me your problem with her?"


Saat mereka sedang terdiam tiba-tiba pintu ruangannya diketuk seseorang dari luar.


"Masuk!" ucapnya sedikit berteriak.


Tak lama Islandzandi masuk dan terdiam saat melihat Eolia ada disampinya.


Islandzandi pun berjalan kearah Reyandra sambil melihat kearah Eolia tajam begitu juga dengan Eolia.


"Island!"


"Maaf mengganggu kalian! Tapi aku kesini Cuma mau ngasih laporan dari bagian Desain…" menyimpan map di meja Reyandra lalu berjalan hendak keluar.


"Island, tunggu! Dari kemarin kau tidak memberi kabar sama sekali dan saya tidak bisa melihatmu di bagian Desain."


"Aku lagi sibuk! (melihat Eolia sekilas lalu melihat kearah Reyandra tajam) Tenang aja, aku nggak akan mencampur adukan masalah pribadi sama masalah kantor! Permisi!" ucapnya kesal sambil memberi hormat lalu keluar dari ruangan Reyandra.


"Sialan, gue lagi sibuk masalah kerjaan dia malah asik ngobrol sama Eolia! Beduaan lagi… Brengsek." umpatnya kesal sambil berjalan keluar dari ruangan.


Sementara Eolia masih terdiam melihat kearah Reyandra yang masih terdiam.


"Rey, apa kalian sudah pisah rumah?"


"Hah… (menyerah) Island marah sama saya gara-gara saya tidak bisa menyentuhnya."


"Kau bercanda!"


"Aku tidak bercanda!"


"Tapi kenapa? Aku pikir itu hanya emosi kamu sesaat…"


"Karena saya masih takut… Dan juga, saya hanya ingin menunggu saat yang tepat…"


"Dengan menunggu dia sampai lulus kuliah? Jangan gila Rey, baru juga dia masuk kuliah… (melihat kearah Reyandra yang masih terdiam) How can you think like that? Hah… Unbelievable! You are so stupid Rey…"


"I know, But I just wanted the best for her, as did Uncle Diandra and aunt Audrey..."


Eolia hanya terdiam melihat serius kearah Reayandra.


Tak lama Ryu Sera mengetuk pintu ruangan Reyandra dan masuk kedalam.


"Maaf mengganggu pak… Ada Madam El yang ingin bertemu dengan anda, beliau sedang menunggu diluar!"


Eolia dan Reyandra saling pandang terkejut mendengar Madam El ada diluar ruangannya menunggu untuk bertemu dengan Reyandra.


Reyandra terdiam berfikir. "Apa dia berubah pikiran?"


"Ok, kau yang mengurusnya! Aku nggak mau berurusan sama dia!"


Reyandra hanya tersenyum melihat Eolia berlalu dari ruangannya!


"Persilahkan dia masuk…" ucapnya sambil berjalan kearah Sofa tamu.


***


Beberapa hari kemudian…


Di rumah Pak Diandra…


Pukul 20.00 malam…


Di kamar Islandzandi…


Islandzandi sedang duduk di tempat tidur sambil mengotak-ngatik handphonenya…


"Iiih… Bego dasar! Katanya nggak ada kabar dianya sendiri nggak ngasih kabar? Gengsi dong gue ngasih kabar duluan, secara gue kan yang minggat dulu dari rumah… Trus masa iya gue tiba-tiba nanya kabar dia? Nggak peka juga nih cowok! Paling nggak kalo iya dia niat jemput gue kek, temuin gue kek kesini… Aaaaarrrhh bt bt bt!" gerutu Islandzandi cemberut sambil melempat handphonenya ke tempat tidur lalu Islandzandi tengkurap di tempat tidur kesal.


Tak lama Bu Audrey masuk dan duduk di dekat Islandzandi.


"Island, apa kau pulang kesini karena kamu ada masalah sama Reyandra?"


"Hah? Nggak kok!" ucapnya sambil mengambil handphone yang dilempar tadi.


"Mam tau loh, setiap kamu ada masalah… perasaan seorang ibu itu sangat sensitive kalo anaknya ada apa-apa…"


Islandzandi pun berhenti memainkan handphonenya dan melihat Bu Audrey sedih…


"Hah, wajar nggak sih mam kalo aku minta sesuatu yang menjadi hak aku buat ngedapetinnya?"


"Misalnya?"


Islandzandi bingung bagaimana menjelaskannya pada ibunya. "Sesuatu yang seharusnya aku dapetin sewaktu aku sudah jadi istrinya dan dia udah jadi suami aku…"


Bu Audrey terdiam mencerna apa yang dimaksud Islandzandi. "Jangan bilang kalau Reyandra belum menyentuhmu?"


Islandzandi hanya terdiam cemberut.


"Bukannya semua wanita yang baru menikah sangat menantikan hal itu? Sedangkan aku udah hampir 1 bulan lebih menikah dan aku belum mendapatkan itu dari Reyandra…"


Bu Audrey pun tersenyum melihat Islandzandi lalu menasehati Islandzandi panjang lebar.


"… Jadi, kau juga harus mengerti dan tau apa yang Reyandra inginkan! Suami istri itu harus menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan kalian juga harus take and give artinya memberi dorongan untuk menyemangati pasangan disaat susah dan sedang sedih dan kita juga harus menerimanya dengan ikhlas dan sabar… Kau mengerti?"


"Jadi aku harus sabar buat dapetin itu dari Reyandra?!"


Islandzandi heran melihat Bu Audrey. "Kok mam tau? Aku belum bilang kan?!"


"Karena Reyandra yang bilang…"


"Reyandra? Dia telpon Mam?"


"Nggak tuh ! Dia malah lagi ngobrol sama papahmu di ruang tamu."


"Reyandra diruang tamu? Sekarang? Kok?" kaget sekaligus senang.


"Katanya dia mau jemput kamu… Makanya jangan dulu berpikir macam-macam sama suami kamu!"


"Iiihh, kenapa mam nggak bilang dari tadi?" sambil berkaca melihat dirinya.


Bu Audrey hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Islandzandi yang masih seperti anak-anak.


Sementara itu di Ruang tamu…


Pak Diandra sedang duduk di depan Reyandra.


"Baiklah, aku akan usahakan selesai sebelum Launching… (melihat kearah Reyandra yang tersenyum sambil mengangguk) Terima kasih Rey, kau sudah memberikan kesempatan padaku untuk merebut kembali UIC Garment dari tangan Jeni"


Reyandra tersenyum. "Itu bukan masalah Om, dan kalau Om butuh bantuan, om bisa telpon saya, saya akan mampir ke kantor Om…"


"Hm... Baiklah, tapi kau benar-benar harus datang ya…"


"Akan saya usahakan Om…"


Tak lama Islandzandi dan Bu Audrey datang ke ruang tengah dan menghampiri Pak. Diandra juga Reyandra.


"Rey… Island nya jangan dianggurin ya… Sibuk sih boleh, tapi tolong diperhatikan juga ya…" ucapnya sambil memeluk lengan Pak Diandra.


"Iya, maafkan saya tante…" melihat Islandzandi tersenyum.


"Namanya juga orang kerja cari uang, kamu yang harusnya mengerti Reyandra… Udah nikah masih kayak anak-anak nggak mau ditinggal sendiri dirumah…"


Islandzandi hanya terdiam sambil cemberut kearah Pak Diandra…


"Mau pulang sekarang? (melihat Islandzandi yang hanya mengangguk) Kalau begitu kami permisi pulang dulu Om… Sekali lagi maaf merepotkan Om dan tante…"


"Rey… Semoga honeymoon kalian besok membawakan hasil yang baik ya?"


Reyandra terdiam kaget melihat kearah Bu Audrey sambil tersenyum. Islandzandi dan Reyandra pun pergi dari rumah Pak Diandra.


***


Di perjalanan di dalam mobil… Di perjalanan ke dekat Apartemennya… Reyandra dan Islandzandi masih saling terdiam.


Reyandra melihat Islandzandi sesekali yang sedang melihat keluar jendela sampingnya.


"Kamu masih marah? Saya benar-benar minta maaf, karena bagaimana pun juga saya tidak bisa memberikannya…"




Islandzandi terdiam marah. "Trus buat apa kita nikah cepet-cepet kayak gini? Kalo kamu belum siap harusnya kamu--- (terdiam) Ah, mungkin kalo kamu nikah sama Eolia beda lagi ya ceritanya, secara dia kan wanita dewasa, berkelas, anggun, berpendidikan sangat tinggi…"


"Kenapa jadi bicara Eolia?"


"Ya karena mungkin kamu nggak sadar kalo cewek yang kamu nikahin ini ternyata masih kayak anak kecil yang selalu ngerengek minta sesuatu hal yang nggak bisa kamu berikan, jadi kamu akan sadar kalo kamu udah salah nikah sama aku! Iya kan?"


Reyandra pun menghentikan mobilnya tepat di depan Gedung Apartementnya.


"Island…" ucap Reyandra melihat Islandzandi sedikit kesal.


Islandzandi pun membuka pintu mobilnya dan turun dengan cepat lalu membanting pintu mobil Reyandra. Reyandra masih terdiam melihat kepergian Islandzandi sambil menghela napasnya.


Ok, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bicara baik-baik pada Island… Tapi, kalau tidak sekarang kapan lagi? Saya tidak ingin bertengkar sama Island, tapi saya ingin Island mengerti yang saya inginkan…



***


Di Apartement… Pukul 21.00 malam…


Saat Reyandra akan membuka pintu kamar ternyata kamarnya dikunci oleh Islandzandi dari dalam…


Reyandra mengetuk pintu perlahan. "Island… Bisa buka pintunya?"


"Aku lagi pengen sendiri!" teriaknya dari dalam.


Reyandra hanya terdiam dan berdiri bersandar di pintu sambil berfikir.




Waktupun berlalu dengan cepat…


Pukul 05.00 pagi…


Reyandra menghabiskan waktu semalaman di depan pintu kamar sambil jongkok. Islandzandi yang membuka pintu kaget melihat Reyandra jongkok di depan pintu kamarnya. Reyandra yang terbangun dan mulai oleng karena kakinya pegal langsung ditahan oleh Islandzandi.


"Rey? Kamu di sini semaleman?" memegang lengan Reyandra dan memapahnya sampai kursi ruang tengah.


Reyandra duduk sambil bersandar di sofa, muka Reyandra pun sedikit pucat. Islandzandi pun ikut duduk di samping Reyandra.




"Hari ini kamu nggak usah masuk kerja ya! Aku masak sarapan dulu…" saat Island hendak pergi Reyandra pun memegang lengan Islandzandi.


"Bisakah kau temani saya duduk disini selama beberapa menit saja?"


Islandzandi terdiam melihat Reyandra merasa kasihan lalu dia pun duduk lagi di sofa. Reyandra pun memeluk Islandzandi erat.


"When you're not here, I feel really lost you, I can’t live without you Island... Don’t leave me again okey? Promise me…" ucapnya pelan.


"Jujur aja gue ngerasa nyesel juga diemin dia kayak gini… Apa gue ngalah, terus nerima kalo dia nggak bisa nyentuh gue? Tapi sampe kapan? Rey… Okay aku janji aku nggak akan ninggalin kamu lagi, aku juga nggak akan maksa kamu lagi… Tapi kamu harus tau, kalo aku bener-bener kecewa sama kamu… Aku sangat sakit hati ketika kamu bilang kamu nggak bisa nyentuh aku… Kamu nggak bisa mutusin masalah secara sepihak… Kita ini udah jadi suami istri, sekarang apa yang akan kamu putusin harus ada aku… Aku juga berhak buat mutusin… Iya kan?!" gerutu Islandzandi dalam hati.


"I know, you can be mad at me, but don’t ever leave me again… Saya minta maaf karena telah mengecewakanmu dan membuatmu sakit hati atas kata-kata saya…" lanjut Reyandra.