
Tok tok...
“Neng Freya...”
Suara Bi Imas dari luar kamar menyelamatkan Freya. Gadis itu buru-buru beranjak dan membukakan pintu. Di sana Bi Imas sedang berdiri membawa hoodie Orion yang digantung pada hanger.
“Ini udah selesai Bibi cuci, Neng. Udah wangi nih.” Ucap Bi Imas sambil menyodorkan Hoodie ke tangannya Freya.
“Wah mantap, makasih banyak ya, Bi.” Ucap Freya sambil mengambil Hoodie itu lalu menggantungnya dengan hati-hati. Besok bisa langsung mengembalikan nya pada Orion, pikirnya. Dan Freya tidak sadar jika Rania memperhatikannya dengan kening mengerut.
Bukan, bukan memperhatikan Freya tapi lebih ke Hoodie hitam kebesaran yang sekarang tergantung di dinding.
“Bentar-bentar... Kok kayaknya pernah liat dimana gitu.”
“Apanya?”
“Ya Hoodienya, PA. Apalagi yang Lo bawa dan gantung Disana...” ucap Rania masih mengamati Hoodie itu dengan mata memincing.
“Yaelah Ran... Hoodie kayak gitu pasaran kali. Ada tuh di mangga dua.”
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya. Lantas gadis itu terkesiap seperti mengingat sesuatu. Rania bergegas mengeluarkan ponselnya lalu mengotak-ngatik sebentar dan langsung menunjukkannya pada Freya.
“Liat deh, yang ini kan? Persis pek ketiplek banget Frey sama yang ini... Mata gue nggak pernah salah Frey.” Cerocosnya berapi-api sambil mendorong ponselnya ke depan hidung Freya.
“Duh, bisa jauhin dikit ga Ran? Mana bisa gue liat kalo handphone Lo Deket ke muka gue, ah elah.” Protes Freya sambil menjauhkan ponsel Rania sedikit.
Dan detik selanjutnya jantung Freya terasa mencelus. Karena Rania tengah menunjukkan postingan Instagram Orion. Dalam postingan itu Orion memang tengah memakai Hoodie yang kini ada padanya. Freya tidak sempat mengendalikan raut wajahnya yang terkaget-kaget sampai mulutnya ikut melongo. Dan otomatis dia tidak bisa berkutik lagi, kenapa dia harus tertangkap basah semudah ini, sih?
Dari ekspresi syok Freya, Rania tau tebakannya tidak meleset. Hoodie kebesaran itu memang milik dosen baru mereka.
“Kok bisa sih Hoodie Pak Orion ada di elo?” tanya Rania tidak habis pikir. Dia lalu terkesiap lagi dan mendekap mulutnya. “Jangan bilang semalem Lo nginep di tempatnya Pak Orion?”
Freya terpojok sekarang. Dia tidak punya pilihan lagi. Yah, lagipula Rania adalah sahabatnya, nggak ada salahnya kan menceritakan yang sebenarnya?
Dan pada akhirnya dia pun menceritakan semuanya pada Rania, minus kejadian saat dia hampir menanggalkan semua bajunya tentu saja. Itu terlalu memalukan. Di akhir cerita, Rania tidak bisa menahan tawanya. Gadis itu tergelak heboh sambil memukul-mukul Freya.
“Sialan, kocak banget deh. Gue ga akan heran kalo nanti Lo dapet E di mata kuliahnya doi.”
“Ck, jangan gitu lah, woy! Ucapan adalah doa loh... Lagian dia juga udah maafin gue kok, trus gue juga bakalan ganti rugi buat karpetnya.”
Rania masih terkekeh-kekeh, dia lalu menatap Freya dengan senyuman penuh arti.
“Eh, tapi seriusan deh. Kalian ga ngapa-ngapain kan? Kalau ngapa-ngapain juga It’s okay sih Lo juga udah ngerti kan.. so cerita aja sama gue ya Frey...”
Freya yakin sekali ada yang salah dengan isi kepala sahabatnya itu. Sejak kemarin dia kelihatannya selalu punya fantasi kotor tentang pertemuannya dengan Orion. Temannya itu pasti terlalu banyak nonton nekopoi dan ngaktipin VPN buat baca-bacaan orang dewasa. Atau mungkin dia terlalu banyak bergaul dengan Arkana dan Haidar?
“Enggak, Rania. Otak Lo kotor banget sih?!” ucap Freya sambil menoyor kepala Rania dengan gemas, membuat sahabatnya itu kembali terkikik geli.
Dan tepat ketika itu, sebuah panggilan masuk ke ponsel Freya.
Arkana is calling...
“Arkana, Ran.” Freya menunjukan ponselnya pada Rania.
“Angkat-angkat. Loudspeakerin gue juga mau denger.” tandas Rania semangat lalu menggeser tempat duduknya mendekat ke arah Freya.
Freya pun mengikuti perkataan sahabatnya itu.
“Freya?” suara serak Arkana di seberang sana menyapanya, membuat jantung Freya jumpalitan seketika. Rupanya dia masih bereaksi seberlebihan ini hanya karena Arkana. Menyedihkan bukan?
“Hm... Kenapa, Ar?” Freya bertanya, berusaha mengontrol suaranya agar kelihatan normal.
“Lo udah di rumah?”
Freya dan Rania pun saling bertukar pandang. “Hm... Udah, kenapa emangnya?!”
“Huft baguslah.” Arkana kedengeran menghela napas lega di seberang sana. “Semalem Bang Kenan teleponin gue berkali-kali, nge chat juga nanyain Lo dimana, tapi gue... Lagi sibuk jadi ga sempet gue angkat. Gue juga baru cek hape barusan, Lo ga apa-apa kan?”
Rania memutar bola matanya malas dengan alasan Arkana yang ambigu. “Ck... Sibuk katanya? Sibuk ML sih iya kayaknya...” cebiknya kesal tanpa bersuara.
“Lo kemana emangnya semalem, Frey?”
Freya terdiam sejenak. Tidak mungkin kan dia mengatakan yang sebenarnya pada Arkana? Dia tidak mau Arkana tau seberapa menyedihkannya dirinya yang datang menyusul ke Nightiest hanya untuk melihat pemuda itu bermesraan dengan pacarnya.
“Oh, itu... Gue kerkom di kosannya Qilla. Karena kemaleman jadi nginep disana, gue juga nggak sempet nge-charge hape.” Pada akhirnya Freya memberikan alasan yang sama seperti pada Kenan.
Dan di sampingnya, Rania menatap Freya dengan mata melebar.
“Kok nggak jujur aja, sih?” Rania berucap tanpa suara. Dan lagi-lagi Freya mengabaikannya.
Di seberang sana Arkana terdiam sejenak. “Oh, gue kira kenapa. Lain kali jangan sampe hape Lo mati, kan orang-orang jadi panik, Frey.”
“Iya!”
“Yang, ini makan dulu.”
Freya tertegun ketika mendengar suara di seberang sana. “Lo... Lagi sama Giana kan?”
Tidak ada jawaban, Freya bisa mendengar Arkana yang berbicara pada Giana.
“Halo? Sorry Frey, kenapa?”
“Ah, nggak-nggak. Ya udah gue tutup dulu ya, masih ada urusan.” Ujar Freya cepat-cepat.
“Oke, ketemu di kampus besok ya, Frey!”
“Hmm...” Freya bergumam lalu memutuskan sambungan. Dia menatap Rania yang juga tengah menatapnya dengan prihatin.
“Hah... Beneran Ran, gue pengen cepet-cepet move on. Capek gue!” Freya berujar sambil menjatuhkan badan ke kasur.
“Ada Pak Orion, Frey. Move on ke dia aja udah.” Sahut Rania enteng, seakan itu saran yang terbaik yang bisa diberikannya.
“Ck... Gila Lo ya.”
Freya lantas memejamkan kedua matanya. Entah mungkin karena perkataan Rania yang menyebutkan nama Orion, seketika itu juga senyum Orion segera bermain di dalam benaknya. Freya kembali memutar ingatan ketika Orion tergelak di hadapannya, ketika kedua matanya membentuk lengkungan yang membuatnya tampak sangat manis. Lalu begitu saja dia kembali merasakan bagaimana Orion mengusap puncak kepalanya dengan lembut, seakan pemuda itu ingin menghiburnya.
Tangan Freya lantas terangkat untuk menyentuh kepalanya, seolah ingin merasakan kembali usapan menenangkan itu. Ketika tersadar apa yang tengah dilakukannya, Freya segera mengerang dan menepuk-nepuk kepalanya sendiri, berusaha mengusir bayangan Orion dari benaknya. Dia kemudian mengerling pada Rania yang kini tengah duduk di kasurnya. Ini semua karena Rania yang terus menggodanya soal Orion.
“Ah, elo sih!” Freya menukas sedikit emosi sambil menendang Rania sekuat tenaga sampai Rania terguling jatuh dari kasur.
“Munaroh! Apaan sih? Orang gue lagi diem juga!” Rania yang terkapar Di lantai memekik marah, dan hanya ditanggapi Freya dengan gedukan bahu acuh.
***
“Ck, bilang makasih kek sama gue.”
Arkana yang sedang sarapan di kantin pun seketika tersedak ketika Haidar tiba-tiba muncul sambil menarik punggungnya. Laki-laki itu cepat-cepat meneguk minumannya dan menatap kesal Haidar yang malah terkekeh-kekeh.
“Lo nggak punya cara yang lebih manusiawi buat nyapa gue, Hah? Kalo gue mati keselek lontong kari gimana coba?” ucap Arkana misuh-misuh.
Bukanya manut diomeli seperti itu malah membuat Haidar tergelak. “Ya baguslah, nanti Lo viral. Jadi headline news di line today, kapan lagi kan?”
“Sinting!” desis Arkana sambil melanjutkan sarapannya. “Lagian makasih buat apaan, sih? Perasaan gue ga ada hutang Budi apapun sama lo!”
“Wah, keterlaluan. Jasa besar gue dianggap kotoran kucing doang kayaknya.” Haidar menggeleng-geleng tidak percaya. “Ck, coba inget, semalem Lo pulang dari Nighties Ama siapa, Gue nanya? Kalo nggak ada gue , Freya kesayangan Lo nggak akan tau Lo lagi teler trus jemput lo pulang.”
Tangan Arkana yang tengah menyuap kuah kari terhenti di udara. Keningnya mengerut. “Apa Lo bilang? Freya je.put gue semalem?”
Sekarang giliran Haidar yang mengerutkan kening. Dia menatap temannya bingung. “Loh, iya kan? Kok malah tanya balik gue, sih?”
“Tapi tadi malem gue balik sama Giana. Gue ga ketemu Ama Freya.” Arkana tertegun. Mendadak teringat Kenan yang bertanya soal keberadaan Freya semalam. “Freya bilang semalem dia kerkom trus nginep di kosannya Qila.”
Sebelah alis Haidar berjingkat mendengar ini.
Bum sempat mereka memproses semua ini, ponsel keduanya bergetar pendek bersamaan. Sebuah pesan masuk dari group ‘Fikom Berbagi’.