Islandzandi

Islandzandi
Menantu Perempuan VS Ibu Mertua



******************************************


"Sayang.... maafkan kami Nak..."


"Nggak... Oppa jangan bilang gitu Omma udah ninggalin aku Oppa, Oppa jangan tinggalin aku, Oppa pasti akan sembuh... iya kan dok?" sementara dokter yang ada disana hanya bisa menunduk.


Sebenarnya baik Saina dan Pak Diandra sudah tau kalau dirinya dan istrinya tidak bisa betahan lama, kecelakaan yang dialami mereka sangat fatal bahkan Bu. Audrey sudah dinyatakan meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.


Uukkhhhuuuukkk uukhhhuukk...


Pak Diandra terbatuk sambil mengeluarkan darah.


"Nona..."


"Oppa... Saina mohon bertahanlah... kalau kalian nggak ada Saina mau sama siapa? Saina mohon..." ucap Saina sambil menangis.


"Nak... ini.... ada di lemari kerja Oppa semua ada disana... kami minta maaf telah menyembunyikannya darimu... maafkan Oppa..."


Tiiiiiiiit....


layar monitor menunjukan garis lurus menandakan kehidupan sang kakek sudah tidak ada.


"Nggak.. OpaaĆ aaa!!!"


******************************************


"Astaga!!"


"Hah?! Kenapa, Mas?" teriakan itu menyadarkan gue dari kenangan saat ditinggal oleh kedua orang yang gue paling sayangin.


"Kamu ngapain sih pake baju itu?"


"Baju apa sih? Ini?" ucap gue sambil nunjuk baju yang gue pake saat suami gue baru aja keluar dari kamar mandi.


Gue emang lagi pake gaun malam karena, hari ini, gue baru aja resmi jadi istri dari seorang Arga Putra Winata. Setelah melalui acara pernikahan yang diadakan dengan sangat sederhana karena waktu yang terbatas, akhirnya Gue dan Mas Arga sah dimata hukum dan agama.


"Hmm.... baju itu..." Arga melangkah ke arah gue sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk.


"Emang kenapa sama baju ini? terlalu ketutup ya buat malam pertama kita?! Hmm?" ucap gue menggoda dia sambil mengangkat satu alis.


Hell... tertutup darimananya ya? batas panjangnya aja sekitar 10cm diatas lutut bahkan lebih, bagian atas apalagi udah nggak karuan bentuknya, jadi so tell me, bagian mana tertutupnya? (Arga)


"Ck... tertutup darimana?" decah Arga mendelik sambil menggelengkan kepalanya.


Arga tau gue adalah perempuan modern, selalu ngikutin gaya penampilan terkini. Gue juga biasa dengan barang-barang kelas atas yang makin membuat kesan kalau gue tipe perempuan yang bisa merawat diri.


"Ya tertutup bagian ini dan ini... masih tertutup kan, Mas?" tunjuk gue ke bagian sensitif yang memang masih tertutup.


Arga berbalik badan mengabaikan gue dan berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil kaos polos juga celana boxer. Tapi gue ga akan kalah gue ikutin dia sambil memeluk perut sixpacknya yang selama ini jadi bahan gibah anak-anak kantor.


"Sania...." ucapnya melepas pelukan gue lalu berbalik ke arah gue. Gue nggak akan kehilangan akal buat menggoda suami sendiri, kedua tangan gue dikalungkan ke leher Arga.


"Iya, Mas?" ucap gue genit.


"Jangan seperti ini!"


"Seperti ini gimana, Mas? Kita kan udah suami istri. Apa yang mau kita lakuin ini juga ibadah kan Mas?"


"I know."


"Malam pertama jangan sibuk sendiri loh Mas, mending sibuk sama aku."


"Sania..."


Gue hanya menggeleng lalu menunjuk bibir Arga biar dia nggak banyak bicara.


"Shhuuttt, don't talk to much and let's play, Mas. Aku mau tau kalau Duda mainnya kayak gimana sih?" tanya gue dengan ekspresi nakal ke arah Arga langsung ******* bibirnya tanpa ba bi bu lagi, tak lupa gue giring tubuh Arga ke ranjang kita yang baru.


Beberapa saat setelah suasana panas Arga pun sempat menghentikan aksinya saat hampir memasuki diri gue, sedangkan napas gue otak gue sudah penuhi nafsu.


"Kenapa, Mas?"


"are you virgin?" ucapnya melihat ke arah gue dengan kening mengerut.


"of course i am."


Gila kali ya, dia pikir gue udah ga virgin? Iya sih gue akuin pergaulan gue memang bebas temen-temen gue kebanyakan ke hala yang negative dari cara pakaian gye juga termasuk terlalu mengumbar tubuh gue. Tapi bukan berarti gue udah ga virgin lagi dong?! Ucapan almarhum Oppa sama Omma gue masih terngiang cuy ditelinga sampe saat ini. seberapapun nakalnya kita sebejat apapun gue, satu yang harus gue jaga dan pertahankan, yaitu 'kehormatan'.


Selintas gue melihat sudut bibir Arga tersungging sebelum melanjutkan aktivitasnya. Dan melanjutkan aktivitasnya yang tadi sedikit tertunda karena dia tau gue masih 'virgin', decitan nyaring dari ranjang dan juga kami berdua terdengar sedang merayakan kenikmatan dunia yang baru saja gue jajaki.


Peluh yang membanjiri serta kondisi ranjang yang sudah berantakan tidak karuan tidak lagi diperdulikan. karena malam ini kita mendedikasikannya sebagai malam milik kami berdua.


***


AUTHOR POV


"Mm... Mau kemana, Mas?" tanya Sania dengan suara parau terbangun dari tidurnya. dia meirik jam yang kini menunjukan pukul tiga pagi.


"Kamar mandi." jawab Arga seadanya dan memang seperti itulah seorang Arga Putra Winata.


Saina hanya menatap Arga lurus dengan nyawa yang mungkin belum pulih terkumpul. Detik berikutnya Saina ikut menarik diri duduk dengan selimut sebatas dada.


"Laper Mas, Mas laper ga?"


Arga melirik Sania saat memakai boxernya. Berfikir sejenak lantas Arga mengangguk singkat.


"Hm.. Lumayan, kenapa?"


"Boleh." ucapnya langsung masuk ke kamar mandi.


"Oh... Ya udah, aku mau turun. liat di dapur ada makanan apa nggak?!" ucap Saina berniat turun dari ranjang, mencari gaun tidurnya yang tadi dia pakai dan dilempar oleh Arga entah kemana.


Saat berhasil menemukannya, Saina langsung memakainya dan hendak beranjak tapi saat dia akan mengangkat badannya...


"Aaakkhh... Sshh..." Saina meringis menahan sakit. Arga yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi pun otomatis membuka pintunya lagi dan menengok ke arah Saina.


"Kenapa?"


"Aaakkhh.. Ssshh... sakit...." ucap Saina berubah manja ketika wajah Arga muncul dibalik pintu kamar mandi.


"Tunggu, aku ikut ke bawah!" ucapnya


******************************************


Teruntuk Saina Cucuku...


Saina Adiraputri Pradipta,


Kamu tau arti dari namamu, Nak?


Adiraputri diambil dari Ayahmu dan Pradipta dari Ibumu Nak...


Kami minta maaf kalau selama ini telah menyembunyikan kebenaran kalau Ayahmu masih hidup, Nak...


Dia sangat mencintaimu Nak, memilikimu adalah hal yang berharga, Nak... jangan anggap Ayahmu bukan tidak menginginkanmu karena selama ini tidak pernah memperlihatkan dirinya menemuimu, hanya saja dia terlalu terpukul atas kehilangan Ibumu yang sangat dicintai dan disayanginya...


Dia tidak pernah muncul dihadapanmu bukan berarti dia tidak mencintai dan menyayangimu, Kami yakin disana dia pasti sedang memperhatikanmu...


******************************************


Hah... syukurlah gue ga mau tau tentang siapa ayah gue, karena itu tidak ada artinya dan tanpa dia pun sekarang gue bisa sampai ke tahap ini... (Saina)


"Ayo..."


"Hah??? udah Mas?"


"Hm..."


"Gendong, Mas," rengek Saina sambil mengulurkan kedua tangannya di depan Arga sehingga pria itu menatap dirinya lurus.


Tanpa kata, Arga menarik kedua tangannya, membawa Saina ke dalam dekapannya yang kemudian dia hadiahi dengan kecupan singkat di kening Saina.


"Jalan aja, takut ada Ibu di bawah." ucap Arga datar.


"Tapi itu aku masih sakit. Kamu tadi mainnya ganas." kata Saina menahan tangan Arga saat pria itu hendak beranjak pergi dari kamar meninggalkan dirinya.


Mencoba sabar menghadapi Saina, Arga memutar tubuhnya menghdap Saina. Menghela napas panjang saat dia melihat wajah Saina yang memelas tapi lucu.


"Gendong!" ucap Saina sekali lagi dengan manja dan mau tidak mau Arga melakukan apa yang wanita itu mau. Dan tentu saja setelah dia melirik jam untuk memastikan Ibunya tidak akan keluar kamar di jam tiga pagi.


***


"Adanya cuma Mie Instant, Mas." arga mendongak melihat Saina menunjukan dua bungkus Mie Instant di tangan Saina dan menatap wajah memelas Saina.


"Gimana, Mas. Mau ga? Atau mau pesan ojek online? mungkin kalo jungfood masih bisa order kalo jam segini!" ucap Saina sambil membolak balik bungkus Mie Instantencari masa kadaluarsa yang tertera disana. "Masih jauh sih masa kadaluarsanya..."


"Ga apa-apa itu aja!"


"Ini?"


"Iya!"


"Pake rawit ga?"


"Boleh."


"Telur??"


"Iya."


"Telur kamu, Mas?" tanya Saina sambil senyum jahil, sementara Arga hanya menggeleng.


"Sosis, Mas?"


"Boleh, Asal bukan punya aku." kata Arga secara tiba-tiba yang membuat Saina terdiam menatap pria itu pria itu lama sambil berkedip.


Demi Dewa Yunani, sebenarnya bukan itu maksud Saina tadi. Dia murni bertanya dan Arga malah menangkap hal yang berbeda.


"Kenapa Saina?" tanya Arga yang membuat Saina buru-burue menggeleng.


Tidak ingin berlama-lama di dapur, Saina segera memasak Mie Instant yang dia jarah dari dapur Ibu Mertuanya.


"Ayo Mas, dimakan sebelum ada yang liat kita di dapur."


"kenapa?"


"ga pa pa, udah makan aja sih!"


Hay Guys.. balik lagi nih sama gue...


ga usah dipertegas juga tau ya yg diceritain di kisah ini siapa...


So, tanpa lama-lama lagi let's read ok?!