Islandzandi

Islandzandi
S2 Naksir



“Loh, emangnya kenapa?” Orion malah bertanya sambil memasang tampang sok polos. “Padahal saya seneng, loh ada yang muji saya ganteng.”


Freya tanpa sadar mencebikan bibirnya. “Apaan sih, pasti udah banyak kan yang bilang Bapak ganteng, bukan saya doang.”


Nggak usah lebay gitu deh, Freya menambahkan dalam hati.


“Ya bener, sih,” cetus Orion sambil cengengesan.


Pria itu lalu bangun dari duduknya dan berjalan menuju kulkas mini di pojok ruangan. Dia mengambil dua kaleng soda dan menyerahkan salah satunya pada Freya.


"Nih, istirahat dulu aja."


"Makasih, Pak." Freya menerimanya lalu meminum seteguk sebelum kembali meneruskan pekerjaannya.


Sementara Orion, alih-alih kembali ke kursinya di belakang meja, dia justru menarik sebuah kursi lain dan mendudukan diri di samping Freya. Sambil bersilang dada dan sesekali meminum sodanya memperhatikan mahasiswinya itu bekerja. Ketika tersadar ada angka yang salah diinput oleh Freya, Orion mendekat maju agar bisa melihat layar laptop lebih jelas.


"Itu kamu salah input, tuh." Orion tiba-tiba berujar, suara dalamnya yang kedengaran begitu dekat membuat Freya tersentak dan refleks menolehkan kepalanya. Gadis itu kembali terkejut begitu menyadari Orion kini sudah berada di sampingnya, dengan jarak yang terlampau dekat. Detik selanjutnya Orion yang mulanya tengah menatap laptop justru ikut menolehkan wajah, hingga kini mereka saling bertatapan. Dan, otomatis Freya terpaku dengan jarak tipis yang memisahkan mereka. Gadis itu bahkan bisa merasakan hembusan napas Orion menerpa pipinya yang mendadak memanas.


Pantas, sih ni dosen digilai semua orang. Wong visualnya aja bukan main-main. Apalagi dilihat dari jarak sedekat ini.


"Kok pipi kamu merah? Sakit?" Orion bertanya dalam bisikan pelan, entah pura-pura bodoh atau benar-benar tidak mengerti.


Freya mengerjap lalu segera memundurkan wajahnya hingga menciptakan jarak di antara mereka. Dia pun berdehem menjawab asal, "Saya alergi soda, pak."


"Loh, beneran?" Orion panik.


"Engga, becanda kok, Pak." Freya menukas sambil memasang cengiran kecil.


"Jadi yang mana yang salah input?" ucap Freya kembali fokusnya ke laptop sambil berdecak pelan.


Sementara Orion yang hampir saja menoyor kepala Freyq kalau tidak segera menahan diri. "Itu tuh liat, nilainya harusnya kan 80 kok malah jadi 70. Jangan-jangan dari tadi nilainya kamu korup semua ya?"


"Hehe maaf, Pak, keseleo jari saya." Freya buru-buru mengoreksi pekerjaannya. "Saya emang kurang teliti Pak, makanya saya bukan orang yang tepat buat bantuin Bapak."


Sebenarnya itu kode sih supaya ke depannya dosennya itu tidak menunjuk dirinya lagi untuk membantunya. Tapi, Orion malah mengedikan bahu mendengar ini.


"Ya nggak masalah. Saya udah berniat bakal jadiin kamu asisten tetap buat bantu input nilai tugas." Freya membeliakan mata tak percaya.


Whaaaatt??


"Kok gitu, Pak? 'Kan temen-temen saya banyak yang sukarela bantuin bapak."


"Jadi kamu nggak sukarela bantuin saya?" Lagi-lagi Orion balas bertanya, sebelah alisnya dia jungkitkan.


"Ya nggaklah. Saya 'kan tadi dipaksa Bapak." Freya bergumam pelan sekali, tapi masih bisa didengar Orion.


Pria itu menghela napas lalu berujar sambil tersenyum manis, "Ya udah bayarannya saya anterin kamu pulang deh, gimana? Adil 'kan?"


Ck... Adil apanya. gue malah males, sebisa mungkin jauh-jauh dan nggak berhubungan lagi sama ni dosen.


Untungnya, tepat setelah Orion berujar, ponsel Freya bergetar pendek. Sebuah pesan masuk. Freya segera memeriksanya.


Dan Rupanya dari Arkana.


“Kata Tania lo belum balik ya? Gue di parkiran, balik bareng gue aja.”


Freya tersenyum melihat sebaris pesan dari Arkana, Freya pun mendongak dan menatap Orion dengan cengiran kecil. “Saya udah ada yang nganter, Pak hehe.”


Orion terdiam sejenak. Kelihatan berpikir. “Ya udah, besok kita lanjut terus saya anter kamu pulang, oke?”


Cengiran Freya luntur seketika.


Diiiihhh makin ngelunjak ya ni dosen!


***


“Jadi ngapain aja sama Pak Orion tadi? Mantap-mantap nggak?”


Freya baru saja masuk ke dalam mobil Arkana, hendak memasang seatbelt ketika tiba-tiba Tania yang duduk di kursi belakang menyuarakan pertanyaan amoral tadi.


Hari ini Freya dan Tania memang berencana mencari buku yang direkomendasikan dosen mereka sore itu. Beruntung ada Arkana dan mobilnya yang bisa ditumpangi sehingga mereka tidak perlu merogoh kocek untuk biaya transportasi menuju toko buku.


“Ah, nggak seru.” Tania menukas kecewa.


“Lagian dari sekian banyak mahasiswa kok elo yang disuruh bantuin dia, sih?” Arkana bertanya sambil menyalakan mesin mobilnya. “Atau lo sengaja ngajuin diri, ya?”


“Enak aja!” Freya menukas tidak terima. “Tanya tuh sama Tania, padahal gue diem-diem doang, eh malah gue yang ditunjuk. Padahal gue udah niat balik cepet. ‘Kan ngeselin jadinya.”


“Jangan-jangan Pak Ori naksir sama elo, Frey.” Di belakang Tania berujar.


“Ck... Mana ada,” sahut Freya sambil merotasikan mata.


Arkana melirik Freya sekilas.


“Masa setingkat dosen demennya modelan si Freya, sih?”


“Emangnya gue modelan gimana, woy! Jelek banget kesannya.” Freya meninju lengan Arkana dengan emosi, membuat pemuda itu seketika tergelak. “Cuma cowo yang matanya ketutupan belek yang nggak bisa liat pesona gue.”


“Dih.” Arkana mendecih mendengar ini.


“Iya, si Arkana ‘kan emang matanya udah ketutupan belek, Frey.” Tania menukas santai.


“Eh, apaan tuh, maksud lo Gianna beleknya, gitu?” Arkana menyahut tidak terima.


Tania mengedikan bahu. “Yeee... Bukan gue yang bilang, ya.”


Sebelum Arkana sempat merespons lagi, ponselnya tiba-tiba berdering. Pemuda itu cepat-cepat memasang earphone dan menjawab panggilannya.


Freya mengerling ponsel Arkana yang diletakan di dashboard, membaca nama pemanggil.


Emotikon hati di samping nama Gianna sukses membuat Freyq menggigit bibir dan memutar posisi duduknya hingga menghadap jendela.


“Halo, Sayang? Iya, aku lagi di jalan sama Freya Ama Tania.” Arkana bicara pada ponselnya dengan manis. “Iya... Mereka katanya mau ke Gramed, nyari buku. Mumpung searah ya aku ajakin bareng aja. Kamu udah di kosan?”


Sementara Arkana asyik mengobrol dengan pacarnya di telepon, Tania diam-diam memajukan badan, dan berbisik pada Freya yang tengah memasang tampang kusut.


“Mbak, mundur alon-alon aja sana. Masnya udah kepincut sama teteh geulis soalnya.”


Freya mendelik dan mendesis tajam, “Bacot, Tan.”


***


“Frey, bisa ke Nightiest sekarang nggak?”


Malamnya, Haidar tiba-tiba menelepon. Freya refleks menjauhkan ponsel dari telinga ketika suara teriakan pemuda itu menyapanya. Dentuman musik yang super kencang di latar belakang membuat Freyq tahu di mana Haidar berada sekarang.


Sebetulnya ketika nama Haidar muncul di ponselnya Freyq sudah tahu apa maksud pemuda itu menghubunginya. Haidar, teman Arkana, memang selalu menelepon Freyq dengan satu tujuan saja.


Gadis itu mendecak lalu bicara dengan kesal pada ponselnya, “Ngapain?”


“Si Arkana mabok parah. Nggak mau diajak balik. Makanya ke sini, ‘kan Cuma elo yang bisa jinakin dia.”


Jawaban Haidar seketika membuat Freyq tertegun. Gadis itu diam sejenak sebelum berujar lagi.


“Lah, dia 'kan udah punya Gianna? Minta bantuan ceweknya aja sana, gue mulu yang direpotin!" Dia berusaha kedengaran ketus meski hatinya kini menciut sakit. Menyebut nama Gianna saja lidahnya terasa kelu.


Gianna, pacar baru Arkana yang akhirnya didapatkan setelah berbulan-bulan penuh perjuangan. Gianna, perempuan populer dari Fisip, yang membuat Freya tersadar bahwa memang sudah waktunya untuk mengubur perasaannya untuk Arkana. Karena kelihatannya, untuk pertama kalinya Arkana si player menemukan perempuan yang benar-benar disukainya. Dan Freya tentu saja sadar diri bahwa dia tidak sebanding dengan Gianna dan tidak akan bisa mengalahkan perempuan itu.


"Yeee... justru si bangsat ini nyampe teler gegara berantem sama cewek barunya." Haidar menyahut cepat.


"Hah?? Arkana berantem sama Gianna?" Freya memastikan dengan heran, seingatnya, dan dia tidak mungkin salah ingat, Arkana baru aja jadian dengan Gianna tidak sampai sebulan lalu. Lagipula, tadi sore mereka masih bertelepon dengan kelewat mesra, 'kan.


Masa iya mereka udah berantem lagi?


"Hmmm... Gara-gara apa?"


“Ck, Panjang deh ceritanya. Udah, buru lo ke sini ya, Frey. Di tempat biasa.”


Freya mendecak. Pada akhirnya ia memang selalu pasrah jika berurusan dengan Arkana.


“Ya udah, iya-iya.”