Islandzandi

Islandzandi
Persiapan



Beberapa hari kemudian…


Di Svetovska Company…


Pukul 09.00 pagi…


Reyandra berjalan ke ruangan Eolia… Saat dia bertemu dengan Sekretarisnya Eolia di meja kerjanya...


Sekretarisnya langsung berdiri dan memberi salam pada Reyandra.


"Selamat pagi pak!" sapa Sekretaris Eolia.


"Pagi, Eolia ada di dalam?!"


"Loh, Bu. Eolia kan sedang cuti selama beberapa minggu? Memangnya bapak tidak tau?"


"Cuti? (terdiam lalu menggelengkan kepalanya) Dia tidak bilang akan cuti…"


"Saya juga baru diberi tau beliau tadi malam…"


Reyandra terdiam berfikir.


"Ok, terima kasih!" ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkan Sekretaris itu terdiam.


Dia mengambil cuti pasti gara-gara saya memutuskan untuk menikah dengan Island… apa dia pulang ke LA? Apa dia bilang pada Om Ferdinan?


Saat Reyandra sedang di lorong Reyandra berpapasan dengan Islandzandi yang sedang membawa beberapa box file bersama dengan Alditra sambil tertawa.


Islandzandi melihat kearah Reyandra masih berjalan begitu juga dengan Reyandra yang melihat kearah Alditra serius.


Mereka pun berpapasan tanpa saling sapa.


Sementara di meja rapat ruang Kreatif… Saat Islandzandi, Alditra, Nadia dan Aufar sedang mengerjakan kerjaan mereka.


Lalu Bu Khanza datang kearah mereka.


**


"Bagaimana? Saya kemarin sudah liat Desainnya dan menurutku itu bisa dipakai, jadi kalian hanya harus menyiapkannya dengan sempurna! " ucap Bu Khanza saat sedang neeting dengan tim kreatif.


"Iya bu, kita sedang mengatur untuk bahan dan bagaimana kita akan membuatnya…" jawab Aufar.


"Jadi hanya kita berempat yang bertugas di lapangan nanti?!" Nadia tersenyum kearah Aufar.


"Ya, karena pegawai lain sibuk dengan kerjaannya seperti biasa!" ucap Bu Khanza.


"Apa tidak apa-apa wanita ikut ke lapangan?" tanya Alditra melihat Aufar. Aufar melihat Islandzandi yang sedang melamun.


"Gimana caranya ngomong sama Aufar…" gerutu Islandzandi dalam hati.


"Woi… Ngelamun aja!" ucap Aufar heran sama kelakuan Islandzandi akhir-akhir ini.


"Hah...Oh… Apaan?" ucap Islandzandi yang kaget melihat sekeliling yang melihat kearahnya.


"Hah… Kok bisa sih kamu dipercaya memegang acara ini?" ucapnya ketus.


"Alditra bilang lo nggak apa-apa kerja lapangan? Nanti pas terjun langsung bakalan capek loh…" jelas Aufar.


"Gue nggak apa-apa kok! Gue malah seneng bisa mencoba kerjaan baru dan nggak nyangka bisa dipercaya buat turun ke lapangan ngurus semua persiapan dan perlengkapannya…" tersenyum kearah Aufar.


Mampus gue… Makin nggak ada waktu aja gue buat pemotretan… Kalo gini caranya gue harus ngomong sama Aslan! dan ini juga bukan saat yang tepat buat ngomong sama Aufar… Gue nggak bisa bilang sama Aufar kalo gue mau nikah sama Reyandra…


Tanpa sepengetahuan Islandzandi Aufar sering memperhatikan Islandzandi yang sering melamun…


**


Di rumah Pak Diandra…


Reyandra, Pak Diandra, Bu Audrey dan Islandzandi sedang makan malam dirumah dengan tenang…


"Kapan kalian akan menikah? Bagaimana persiapan pernikahannya?"


"Eeu… Masalah itu kita maunya nggak di rayain Pah, Mam…"


"Loh kenapa? Bukanya kamu pengen menikah sesuai dengan keinginanmu dengan pesta yang sangat meriah, itu kan keinginamu jika menikah?!" ucap Bu Audrey lembut.


"Untuk yang satu ini aku tidak setuju! Aku sudah dengan berat hati menyetujui kalian menikah, apa kalian akan membuat kami kecewa lagi?" Pak Diandra tegas.


"Aku kan masih magang di perusahaan Reyandra pah, dan perusahaan Reyandra melarang adanya hubungan di dalam satu kantor. Lagian setelah magang selesei aku juga mau fokus ke semester akhir Pah... Jadi ya... boleh ya???"


"Saya tidak keberatan jika mengadakan pesta Om…"


"Pokoknya aku nggak mau ada pesta titik!" melihat tajam kearah Reyandra.


"Island…" ucap Reyandra melihat kearah Islandzandi memohon.


"Begini saja, kita adakan pesta sederhana saja…"


"Magsudnya?"


"Ya… Hanya mengundang kerabat dekat dan teman-teman, tidak buruk kan? Lagipula kita itu tinggal dengan adat timur jadi kita harus menghormati orang yang ingin ikut merayakan hari pernikahanmu juga… Pertama aku akan mengadakan acara syukuran keluarga dari pihak wanita dan tamunya adalah tetangga kita disini juga kerabat kita yang dekat… Aku harap acara ini nggak ada yang akan menolak…" Bu Audrey memberi saran jalan tengah sambil melihat Islandzandi serius lalu kearah Pak Diandra terus kearah Reyandra.


"Sesuai dengan keinginan tante…" ucap Reyandra.


sementara Islandzandi hanya mengangguk masih bingung dan tidak bisa menolak keinginan Bu Audrey.


Pak Diandra terdiam kesal. "Lalu apa kalian juga akan merahasiakan tanggalnya pada kami?"


Islandzandi melihat kearah Reyandra. "Kalau masalah pernikahan apa Mam sama Papah akan percayakan semua sama kita? Kalo iya, kita akan mempersiapkan segalanya sama kita sendiri… Iya kan Rey? Pokoknya kita nggak akan ngecewain Mam sama Papah kok…"


"Tapi kami juga ingin membantu kalian mempersiapkannya… Aku akan memilihkan baju pengantinnya boleh kan?" pinta Bu Audrey kearah Reyandra.


Reyandra dan Islandzandi hanya terdiam tidak bisa melawan perkataan Bu Audrey yang menginginkan ikut serta mempersiapkan acara pernikahan putri semata wayangnya itu.


Beberapa saat kemudian…


Di ruang keluarga…


Pukul 21.00 malam…


Reyandra dan Pak Diandra sedang duduk sambil berbincang sementara Islandzandi dan Bu Audrey sedang sibuk mencari gaun dan segala keperluan pernikahan di kamar Islandzandi…


"Hah… Aku tidak percaya kalau kalian akan menikah…"


Reyandra hanya tersenyum. "Iya Om, tapi akhirnya Island tidak bisa menolak apa yang tante inginkan…"


Pak Diandra melihat kearah Reyandra serius.


kau tidak apa-apa kan kalau pernikahan kalian di rayakan meskipun dengan sederhana…


"Tidak apa-apa Om, malah saya yang tidak enak karena acaranya tidak semewah orang lain…"


"Masalahnya posisimu di perusahaanmu… Apa orang yang selama ini membantumu di LA tau kalau kau akan menikah?"


Reyandra terdiam berfikir. "Sepertinya sudah… Asalkan tidak ada wartawan dan tidak ada yang mengenali saya mungkin tidak jadi masalah…" tersenyum kecut terdiam.


Tak lama ada panggilang masuk ke Handphonenya Pak Diandra.


"Sebentar Rey… (beranjak berdiri sambil mengangkat Handphonenya) Ya, kenapa? (terdiam mendengarkan orang di balik telpon dengan ekspresi kaget) Apa? Tapi siapa? Kau bilang siapa yang mengajukannya? (menahan emosi) Baiklah aku mengerti… Terima kasih!" Pak Diandra menutup telponnya masih berdiri berfikir.


Reyandra melihat kearah Pak Diandra bingung. "Kenapa Om? Apa ada masalah serius? (melihat Pak Diandra yang masih terdiam melihat kearahnya ragu) Om?!"