
"Kamu nggak ngantuk?" tanya Orion kemudian. Sebenarnya dia menyadari raut kusut di wajah perempuan itu. Meski entah karena apa, dia tidak mau pembicaraan mereka malah menambah beban pikiran Freya. "Nggak apa-apa, tidur aja kalau kamu ngantuk."
Tetapi Freya menggeleng lalu berjalan menuju kasurnya dan mendudukan diri di sana. "Engga, kok. Jadi ada apa?"
Orion menghela napasnya perlahan. "Saya ... saya minta maaf."
"Buat?"
Ditatapnya Freya tepat di mata. Perempuan itu tengah menatapnya dengan datar, hampir tidak berperasaan.
"Maaf, karena tiba-tiba ngejauh belakangan ini. Maaf karena bikin kamu bingung. Maaf karena bikin kamu terluka." Orion berhenti sejenak. "Saya nggak bermaksud bikin kamu sakit, Frey. Saya nggak mau liat kamu sakit. Tapi saya tau sikap saya kemarin-kemarin justru udah ngelukain kamu. Maafin saya."
Sejenak Freya hanya terdiam mendengar ini. Dia memilin ujung selimutnya lalu bertanya perlahan, "Tapi kenapa? Pasti ada alesannya 'kan?" Dia mendongak dan menatap Orion dengan sendu. "Kenapa Bapak tiba-tiba berubah beberapa hari ini? Bapak bisa bayangin sebingung apa saya? Semua sikap Bapak dari awal bikin saya mikir hubungan kita itu istimewa. Tapi tiba-tiba Bapak ngehindar dan buat batasan di antara kita. Saya pikir Bapak nggak serius sama saya. Saya pikir Bapak cuma jadiin saya permainan. Saya pikir..."
Orion tidak kuasa melihat Freya menumpahkan perasaannya begitu. Tanpa bisa dicegah, dia berjalan menghampiri Freya dan menariknya ke dalam sebuah pelukan. "Maaf..."
Freya menggeleng kecil dan melepaskan pelukan mereka. Ditatapnya Orion dengan menuntut. "Jawab saya, Pak, kenapa Bapak tiba-tiba berubah gitu? Kalau bukan buat mainin saya, terus kenapa?"
Orion menundukan kepalanya, mencoba menghindari tatapan Freya. "Kamu mungkin bakalan benci saya. Saya ... terlalu pengecut."
Kening Freya mengerut mendengar ini. "Kenapa?"
"Jujur, saya bingung sama perasaan saya sendiri. Dari awal kamu udah narik perhatian saya. Bahkan dari pertama kita ketemu, saya tertarik sama kamu. Tapi setelah hari itu, setelah akhirnya saya tau perasaan kamu gimana, justru saya bingung sendiri. Saya takut pada akhirnya saya bakalan nyakitin kamu lebih jauh karena perasaan ini." Orion menjelaskan perlahan, tidak sepenuhnya berbohong tentang alasan atas sikapnya kemarin. Karena, memang seperti itulah perasaannya saat ini.
Di tempatnya Freya terdiam. Dia menatap Orion lama, kemudian menggeleng. "Saya nggak ngerti. Maksudnya apa nyakitin saya lebih jauh?"
Orion memejamkan mata sesaat lalu mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia ingin menyampaikan yang sebenarnya pada Freya, tapi belum siap menjelaskan semuanya. "Hubungan kita nggak seharusnya ada, Frey. Kita nggak seharusnya saling suka. Kita ..."
"Apa karena status kita? Karena Bapak dosen dan saya mahasiswa, iya?" Freya menukas pelan, menatap Orion dengan menelisik.
Mendengar ini membuat Orion tertegun. Tidak sangka Freya akan berpikir demikian. Meski memang, tebakan Freya ada benarnya. Tapi tentu bukan hal itu yang jadi alasan sebenarnya.
"Jadi bener." Freya bergumam setelah melihat raut wajah Orion. "Bener karena itu."
Orion hanya terdiam, tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
"Maafin saya." Pada akhirnya, lagi-lagi hanya maaf yang bisa dia gumamkan sementara kepalanya menunduk.
Beberapa saat Freya hanya diam. Sampai akhirnya, ia menghela napas dan menggeleng kecil.
"Mungkin emang saya yang nggak berpikir panjang ke depan. Mungkin emang saya yang nggak kepikiran resikonya. Mungkin emang keputusan Bapak buat ngejauh udah tepat, itu yang paling baik ..."
Mendengar ini lantas membuat Orion segera mendongak. Kedua matanya melebar. Dengan cepat dia meraih kedua tangan Freya, menggenggamnya.
"Itu pemikiran saya sebelumnya. Saya pikir emang langkah terbaik adalah ngejauh. Saya pikir saya bisa tahan pisah dari kamu. Tapi... Saya bahkan nggak bisa liat kamu sama laki-laki lain, Frey. Saya nggak suka bayangin laki-laki lain ada di sisi kamu. Saya nggak tenang mikirin kamu nangis, dan laki-laki lain yang ngehibur kamu. Saya pengen saya seorang yang bikin kamu bahagia, yang hapus air mata kamu waktu nangis." Orion berujar sembari menatap Freya lamat-lamat. "Saya sayang kamu, Freya."
Jantung Freya terasa berhenti bekerja beberapa saat mendengar ini. Dia tidak salah dengar 'kan? Orion baru saja mengutarakan perasaannya padanya sekarang?
"Saya nggak tau apakah saya pantes ngomong gini, tapi saya mohon, kasih kesempatan kembali lagi sama kamu. Saya mohon maafin saya dan izinin saya tebus rasa sakit kamu kemarin." Orion mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Freya. "Saya emang nggak bisa janji bakalan terus bikin kamu bahagia. Tapi ... saya bisa janji saya nggak akan pernah biarin kamu nangis sendirian, saya bakal ada di sisi kamu dan nggak akan ninggalin kamu. Kita bisa cari bahagia sama-sama."
Itu, sebenarnya adalah janji Orion untuk dirinya sendiri.
Sementara Freya dibuat terpaku dengan kalimat Orion tadi. Itu adalah kata-kata yang selalu ingin didengarnya dari orang yang dia sayang. Bukan janji untuk selalu membuatnya bahagia. Tapi jaminan bahwa dia akan selalu ada di sisinya dalam keadaan paling menyakitkan sekali pun.
Freua merasa tersentuh ketika Orion berjanji untuk selalu tinggal di sisinya.
Freya menatap Orion beberapa saat. "Makasih udah berjanji kayak gitu. It means a lot to me. Tapi janji juga butuh pembuktian 'kan, Pak?" Akhirnya dia tersenyum kecil. "So please stay. And prove your promises to me."
Orion ikut tersenyum mendengar ini. Dia kembali menarik Freya ke dalam pelukannya, lalu mendaratkan kecupan-kecupan ringan di keningnya. "I will, Freya. I will."
Perlahan Freya membalas pelukan Orion. Perasaannya sudah jauh terasa membaik. Rupanya Orion tidak berniat mempermainkannya. Dia memaklumi keputusan pemuda itu untuk sejenak menjauh.
Hubungan mereka memang riskan, baginya wajar jika Orion bertindak begitu. Tetapi yang terpenting saat ini dia ada di sini dan berjanji tidak akan pergi lagi. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?
Beberapa saat mereka hanya terdiam sambil menikmati presensi masing-masing.
Sampai akhirnya Orion tersadar dan melepas pelukan mereka. Dia melirik jam, terkejut sendiri melihat angka dua belas di sana.
"Kayaknya saya harus pulang sekarang. Kakak kamu pasti udah tidur 'kan," katanya dan beranjak bangun.
Freya mengerjap lalu berujar perlahan, "Apa nggak bahaya pulang semalem ini, Pak? Kalau ada begal gimana?"
Kedua alis Orion lantas berjingkat. "Jadi saya harus gimana?"
Freya menggaruk tengkuknya, mendadak malu mengajukan tawaran ini, "Bapak tidur di sini aja. Daripada maksain pulang, bahaya. Kakak saya pasti pulang pagi-pagi banget besok, dia 'kan harus ngantor."
Orion mengerjap, lalu menatap Freya dalam diam. "Emang nggak apa-apa?"
"Ya... nggak apa-apa. Kan cuma tidur." Freya memberi penekanan pada kata terakhir. "Jangan macem-macem."
Mendadak wajah Orion terasa panas. "Y-ya saya juga nggak berniat macem-macem."
"Ya udah, nginep di sini aja."
Akhirnya, Orion mengangguk. Dia melepas jaket yang sejak tadi dikenakannya dan ikut berbaring di samping Freya.
Begitu Orion bergabung dengannya di atas kasur, Freya segera melebarkan selimut untuk pemuda itu.
Ini memang bukan pertama kalinya mereka tidur bersama. Tapi entah kenapa, mungkin karena kini keduanya telah sama-sama tahu perasaan masing-masing, rasanya ada yang berbeda. Orion menghela napas berat dan berusaha memejamkan kedua matanya.
Ketika pemuda itu tengah berusaha terlelap, tiba-tiba dia merasakan Freya bergeser mendekat dan mendaratkan ciuman kilat di pipinya.
"Selamat tidur, Pak," bisiknya sebelum kembali menjauh.