
"Oma, Opa, apa Saina punya Papah? Kenapa selama ini Papah nggak pernah nemuin Saina? Apa Papah nggak sayang sama Saina?"
***
"Mama! kita sampai, Ma!" ucap Hana membuyarkan lamunan Saina saat Saina melihat bangunan sekolah Hana dan mengingat kenangan yang sebetulnya tidak ingin dia kenang.
"Ah iya, sayang!" ucap Saina yang langsung tesenyum ke arah Hana yang sedang berusaha melepas seat belt nya. Saina yang sudah melepas seat belt nya pun hendak membantu Hana melepas seat belt nya.
"Aku bisa sendiri, Ma."
Saina tidak menjawab hanya diam sambil melihat Hana gemas saat membuka seat belt nya sendiri.
Tepat saat suara klik terdengar, Hana mendongak dengan senyum lebar tercetak jelas di wajah manisnya, hingga deretan gigi rapihnya terlihat jelas.
"Bisa, Ma."
"Aiihh... ngegemesin banget sih anak Mama, makin cantik tau ga?"
"Tau, cantik kayak Mama kan?"
Saina memiringkan kepalanya mematap Hana, satu tangannya memegangi dada sambil tersenyum manis.
"Hm... gimana nggak makin sayang sama kamu, lucu gini, iihhh gemes!"
Tak lama Saina melirik halaman sekolah Hana yang mulai ramai.
"Turun yuk? Nanti kamu telat."
"Tapi, Mama ikut kan? Antar aku sampai ke depan kelas."
"Kamu maunya gitu?" tanya Saina dengan lembut lalu di balas dengan anggukan kepala Hana.
Melihat tingkah Hana buat Saina tidak bisa tahan untuk tidak menciumi wajah lucu Hana.
"Uuuhhh... Jangan lucu-lucu Nak, Mama jadi ga rela ditinggal sekolah sama kamu kan?"
"Tenang aja, Mama. Aku sekolah sampai jam sepuluh kok. Nanti kita ketemu lgi, nggak akan kangen."
Saina dan Hana pun bergegas keluar mobil dan berjalan saling bergandengan tangan. Dan tepat keduanya sampai di halaman sekolah, bisikan demi bisikan mulai Saina dengar, dan yang herannya lagi sampai membuat Hana menunduk dalam.
"Hei, sayang kenapa nunduk?" Hana masih tetap menundukan kepalanya, tidak ada sedikit pun niat untuk mengangkat kepalanya. Hal itu membuat Saina curiga dan menoleh kanan kiri. Dia memperhatikan orang-orang yang berbisik di sekitar mereka, dan baru sadar jika ternyata orang-orang itu berbicara sambil memperhatikan mereka.
Tidak ingin Hana merasa tertekan, Saina segera membawa gadis kecil itu masuk ke dalam sekolah. Saat berhenti di pintu masuk kelas Saina berjongkok di depan Hana.
"Cantik, kenapa?" dan Hana pun hanya menggeleng, tapi gelengan itu tidak membuat Hana langsung percaya begitu saja. Dia menatap teduh mata Hana hingga gadis kecil itu meremas seragam sekolahnya.
"Jujur sama Mama, Hana percaya sama Mama kan?" tanya Saina berusaha meyakinkan Hana yang kemudian membuat gadis kecil itu mengangguk.
"Terus kenapa tadi nunduk? Hana takut sama mereka?" dan lagi, anggukan Hana yang dia dapatkan. Saina hanya tersenyum lalu ikut mengangguk pada Hana. "Cerita sama Mama, kenapa kamu takut sama mereka? Apa mereka jahat sama kamu?"
"Bukan."
"Terus apa..."
"Mereka..." ucap Hana terhenti lalu melihat sekeliling dan meminta Saina untuk lebih dekat dengannya karena Hana ingin berbisik. Saina pun akhirnya menurut dan mendekat dengan sebelah telinga yang diberikan pada Hana. "Mereka bilang Hana nggak punya Mama. Mereka ga mau temenan sama Hana soalnya setiap pentas yang datang bukan Mama atau Papa, tapi Oma."
DEG!
Seketika itu hati Saina terasa sangat nyeri. Bagaimana bisa dia lupa saat dia dibesarkan oleh Omma Audrey dan Oppa Diandra tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Pahit manis sudah dia rasakan dan sekarang menimpa putri sambungnya. Terlebih, gadis itu menerima tekanan di usia yang teramat dini. Hal itu justru membuat Saina makin bertekad untuk membahagiakan Hana apapun resikonya. Dia tidak mau Hana mengalami hal yang serupa dengannya.
"Sekarang kan Hana punya Mama. Mama Saina kan Mama Hana. Jadi, Hana nggak usah denger apa kata mereka ya? Mereka itu cuma iri sama kamu. Tau kenapa?" ucap Saina dengan lembut sambil mengusap pipi Hana.
Saina tersenyum dengan kedua tangannya menangkup kedua pipi Hana. "Karena anak Mama yang satu ini paling cantik, paling pinter dan paling baik. Itu kenapa mereka iri sama kamu. Tapi kamu nggak usah denger kata mereka, ada Mama disini, Ok?"
Senyum Hana seketika mengembang lebar, bocah cantik itu pun mengangguk yang lantas memeluk Saina dengan segera. "Makasih, Mama Saina. Hana sayang sama Mama." ucap bocah itu dengan nada suara lucu yang membuat Saina terharu.
"Sekarang yang anter tantenya ya, Hana." ucap salah seorang Ibu-ibu dengan bocah perempuan yang sudah berada di belakang Hana. Ibu itu menelisik ke arah Saina dan Hana menatap aneh kearah mereka yang masih berpelukan.
Saina menatap tidak suka ibu-ibu berbadan tambun tersebut, ternyata ibu-ibu ini yang membuat putri sambungnya tertekan. Dengan cepat Saina berdiri, dan menarik tubuh Hana ke belakang tubuhnya lalu menatap lurus ibu-ibu itu dengan tatapan datar.
"Kenalin, saya Saina." sebelah tangan Saina terulur, mengajak ibu-ibu itu berkenalan. Tidak merasa aneh, ibu-ibu itu membalas jabatan tangan Saina. "Saya ibunya Hana, bukan Tantenya. Dan ya... kalau bisa mulai hari ini berhenti mengatakan jika anak saya tidak mempunyai ibu. Dia punya ibu dan saya adalah Ibunya. Saya harap anda mengerti, terima kasih."
Tanpa mendengar jawaban dari ibu-ibu itu Saina langsung membalik badannya dan menarik lembut Hana masuk ke dalam kelasnya. Sesampainya di dalam kelas, Hana langsung duduk di bangkunya dengan senyum mengembang menatap Saina.
"Kenapa senyum-senyum? Hmm?"
"Mama hebat! Keren deh." ucap Hana mengundang kekekehan kecil dari Saina. Perempuan itu pun mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala Hana. Setelah merasa Hana jauh lebih baik, Saina pun berniat pamit karena memang sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi.
"Ya udah, kalo gitu Mama pergi dulu ya? Nanti Mama jemput lagi, Ok Princess?" ucap Saina berpamitan pada Hana yang dengan cepat dibalas anggukan cepat oleh Hana lalu dia pun mengecup kening Hana dalam.
"Ok, Mama pergi ya, kalau ada yang jahat sama kamu, bilang sama Mama ya?"
"Siap!"
"Anak pintar."
Saina pun pergi dari sekolahnya Hana membawa mobilnya melesat pergi menuju ke tempatnya bekerja.
Braakk!!!
Saina meringis ketika sebuah mobil menabrak bemper belakangnya saat dia sedang berhenti di lampu merah. Kening dan dadanya terbentur stir mobilnya.
"Aaakkhh... ****..." Umpat Saina kesal.
Tok Tok...
Saina melihat kearah kaca pintu mobil yang diketuk oleh seorang pria dewasa, Saina membuka kaca itu.
"maaf, apa anda baik-baik saja?" Saina langsung membuka pintu dan berdiri di hadapan pria itu dan menelisik kearah pria itu.
"Iya, saya nggak apa-apa Pak... lain kali hati."
"Apa perlu saya antar ke rumah sakit? ini kartu nama saya, tolong terima saya akan mengganti kerusakan mobil anda."
"Nggak apa-apa Pak..."
"No... please... i feel bad, bolehkah saya minta kartu nama Nona?"
Tanpa rasa curiga Saina pun memberikan kartu namanya yang ada di dalam dompetnya lalu menerima kartu nama pria itu.
***
"Bagaimana?"
"Nona tidak baik-bail saja Pak... saya juga sudah memberikan kartu nama saya, dan ini adalah kartu namanya..." ucap pria itu langsung memberikannya pada Pria yang sedang duduk di belakangnya.
Hayoooo....
Oh oh siapa dia????