
"Ngapain sepagi ini di rumah Freya?"
Orion menatap Arkana datar dan bersidekap. "Itu bukan pertanyaan yang pantas ditanyakan buat dosenmu, 'kan, Arkana?"
Arkana mendengus mendengar ini. "Kita lagi nggak di kampus, Pak," cetusnya. "Lagian emangnya seorang dosen pantes ada di rumah mahasiswinya? Di waktu kayak gini?"
Orion mengedikan bahu lalu menukas, "Pantes-pantes aja kalau emang ada alasan yang layak."
"Alasan yang layak?" Arkana mengulang dengan kening mengerut. Dia kemudian mengusak rambutnya dan menatap Orion tajam. "Saya nggak ngerti ya apa maksud dan tujuan Bapak bersikap kayak gini. Tapi asal Bapak tau aja, saya nggak akan biarin Bapak permainin Freua."
"Saya nggak permainin Freya," tukas Orion dan membalas tatapan tajam Arkana.
"Oh, ya? Terus yang kemaren itu apa? Bapak nggak tau Freya sampai galau berhari-hari karena sikap Bapak?" sahut Arkana cepat. "Itu yang namanya nggak permainin?"
Sejenak perkataan Arkana berhasil membuat Orion terpekur. Tapi akhirnya dia menghela napas pelan. "Itu emang salah saya. Tapi saya udah jelasin semuanya sama Freya dan saya rasa kamu nggak perlu tau lebih jauh karena itu bukan urusan kamu."
"Saya sahabatnya dan jelas saya harus mastiin kalau sahabat saya baik-baik aja," cetus Arkana. "Tapi saya nggak percaya sama Bapak. Saya nggak yakin Freya bakal baik-baik aja sama Bapak."
"Iya, kamu emang sahabatnya. Dan selamanya akan jadi sahabatnya. Jadi pastiin bersikap selayaknya seorang sahabat, Arkana. Jangan melewati batas." Orion memberi penekanan pada setiap perkataannya. "Dan saya nggak butuh kepercayaan kamu buat ngejaga Freya. Karena tanpa itu pun saya akan pastiin dia baik-baik aja di sisi saya."
Arkana tercengang di tempatnya mendengar perkataan Orion. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi dosen di hadapannya ini telah mendahuluinya.
"Jadi sekarang kamu bisa pergi. Freya berangkat sama saya." Dia lalu mengambil alih paper bag di tangan Arkana. "Dan makasih sarapannya. Biar saya yang kasih ke Freya."
Setelah mengatakan itu dia menutup pintu tepat di depan wajah Arkana. Tidak membiarkan laki-laki itu mengatakan sepatah kata pun. Sambil menggerundel tentang betapa mengesalkannya Arkana, Orion berjalan ke ruang tengah dan meletakan paper bag tadi di atas meja.
"Apa itu, Pak?" Freya yang rupanya baru keluar dari kamar mandi bertanya sambil menghampiri Orion. Tangannya bergerak menggulung rambut basahnya dengan handuk.
"Bekel sarapan dari Arkana. Baru aja dia ke sini," jawab Orion datar. "Tapi udah saya suruh pergi, saya bilang kamu berangkat sama saya."
Kedua alis Freya berjingkat mendengar ini. "Loh?"
Lalu tanpa mengatakan apa pun, dia berderap menuju pintu depan.
Dari kejauhan Orion bisa mendengar perempuan itu berseru memanggil Arkana. Percuma saja rupanya dia mengusir laki-laki itu.
Di sisi lain, Arkana yang semula hendak masuk ke dalam mobilnya berhenti begitu melihat Freya. Masih mengenakan piyama sementara rambutnya digulung dalam handuk.
Laki-laki itu mengesah pelan dan berjalan kembali menghampiri Freya.
"Ada apa, Ar? Kok tiba-tiba ngasih sarapan gitu?" Freya bertanya bingung. Biasanya ada sesuatu yang ingin Arkana katakan jika laki-laki itu membuatkannya makanan.
Arkana menatap Freya beberapa saat. "Gue ... mau minta maaf buat kejadian semalem."
"Hah?" Freua nyaris melupakan kejadian itu kalau Arkana tidak lagi membahasnya. Ini semua karena kedatangan dan pernyataan Orion.
Mendadak dia merasa canggung melihat sahabatnya ini. "Oh. Itu. Iya... gue ngerti, kok. Lo nggak sengaja 'kan?"
Arkana mengerjap lantas mengangguk kecil. "Iya, kayak yang gue bilang, gue kebawa suasana. Tapi gue sadar itu salah. Gue takut lo jadi ngerasa canggung karena itu. Jadi ... sori."
Freya melepas tawa kecil untuk mencairkan suasana, lalu meninju pelan lengan Arkana. "Santai aja kali, Ar. Gue kenal lo udah berapa taun coba. Ini tuh berarti pertanda lo haus belaian pacar. Makanya cepet cari cewek baru sana," katanya dengan bercanda.
Tapi Arkana tercenung mendengar ini. "Haha cewek baru, ya?"
Freya mengerjap melihat raut Arkana. "Eh engga, engga. Gue bercanda doang. Jangan dulu cari cewek kalau lo belum yakin bener. Jangan sampai ada Giana kedua setelah ini."
Arkana tersenyum kecil menanggapi ini. "Lo sendiri gimana? Udah baikan sama si Dosen itu?"
Senyum malu-malu Freya adalah jawaban untuk pertanyaan Arkana. "Ya gitu lah hehe."
"Lo yakin sama dia?" Arkana bertanya lagi.
"Hah?"
"Lo yakin dia beneran baik?"
Sejenak Freya terdiam. "Pak Orion punya alesan atas sikapnya, dan gue bisa ngertiin alesannya. Gue percaya sama dia."
Arkana mengangguk kecil dan tersenyum. "Yah, apa pun itu, gue cuma pengen yang terbaik buat lo. Dan lo tau harus inget, gue serius waktu bilang kalau gue bakal selalu ada buat lo. Jadi jangan segan-segan cerita apa pun sama gue, ya?"
"Siap, Ar." Freya tersenyum lebar mendengar ini.
"Makasih sarapannya. Dan maaf nggak bisa berangkat bareng hari ini."
Arkana hanya mengedikan bahu lalu melambaikan tangan. Dia kembali berjalan menuju mobilnya dan berlalu pergi. Setelahnya, Freya masuk ke dalam rumah dan mendapati Orion tengah duduk di sofa sambil menatapnya dengan kening mengerut.
"Kenapa tuh, Pak, mukanya?" tanya Freya sambil terkekeh. Dia berjalan menuju kamarnya, di belakangnya Orion mengekor.
"Kamu kenapa ngobrol sama Arkana pake piyama gitu, sih? Ga bisa ganti baju dulu pake baju yang lebih sopan apa?" tanya Orion.
Freya melepas gulungan handuknya lalu mendudukan diri di kursi. Dia menoleh pada Orion yang duduk di kasurnya sambil bersidekap.
Orion tiba-tiba menghampiri Freya dan berdiri di belakangnya. Dia mengambil alih hair dyer dari tangan perempuan itu. "Saya juga udah sering liat kamu waktu tidur."
Freya terkekeh mendengar ini. "Ya, terus?"
"Si Arkana tuh ngomongnya udah kayak bodyguard kamu aja. Sosoan ngelindungin kamu. Emang dia pikir dia siapa." Orion berdecih sementara kedua tangannya bekerja mengeringkan rambut Freya.
Dari pantulan cermin, Freya bisa melihat wajah Orion yang merengut. Hal ini lagi-lagi membuatnya terkekeh.
"Arkana emang gitu, Pak. Dia bisa se-overprotective itu sama sahabatnya," sahut Freya ringan.
Orion menghela napas lalu menatap Freya lewat cermin. "Kamu nggak sadar, ya?"
"Sadar apa?" tanya Freya sambil balas menatap Orion.
Kamu nggak sadar dia suka kamu?
"Kamu nggak sadar dia ngeselin buat saya?"
Freya justru tergelak mendengar ini. "Bapak kenapa, sih?" Cengiran lebar lalu tercipta di bibirnya. "Cemburu, ya, sama Arkana?"
Sejenak Orion terdiam mendengar ini. Dia lalu menghela napas pelan. "Saya males ngakuin kalau saya cemburu sama laki-laki bentukan gitu. Tapi karena kamu tanya, iya, saya cemburu."
Freya tidak bisa menahan senyumnya mendengar ini. Dia lalu bangun dari duduknya dan berbalik menghadap Orion. Diambilnya hair dryer dari tangan laki-laki itu, dan mematikannya sebelum meletakannya ke atas.
"Emang masih kurang jelas ya, kalau saya sukanya cuma sama Bapak?" tanya Freya sambil tersenyum lebar, lalu berjingkat untuk mendaratkan ciuman kilat di bibir Orion. Setelahnya dia berjalan menjauh menuju lemari pakaiannya begitu saja, meninggalkan Orion yang terpaku di tempat.
"Freya, kasih aba-aba dulu kalau mau cium saya duluan," cetus Orion perlahan. "Bukan berarti saya nggak suka, sih. Cuma kurang lama aja."
Freya mendengus dan nyaris melemparkan kemeja di tangannya pada Orion.
"Ngawur," tukasnya. "Bapak ngapain masih di sini?"
"Kamu ngusir saya?"
"Saya 'kan mau ganti baju. Masa ke kampus pake piyama?"
"Oh. Iya. Saya tunggu di luar."
Orion mengerjap lalu segera berjalan keluar kamar, meninggalkan Freya yang kini terkekeh kecil.
****
"Kemaren ngegalaunya minta ampun kayak dunia udah ancur. Sekarang bahagianya mana ada kayak abis dikasih saham Pertamina. Sabar aja gue punya temen macem elo." Rania berdecak tidak habis pikir sementara di sampingnya Freya berjalan sambil bersenandung pelan.
"Protes aja kerjaan lo. Harusnya seneng dong gue akhirnya bisa bahagia lagi." Freya menyahut sambil mencubiti lengan Rania dengan gemas.
Rania mengerang dan berusaha menghindari cubitan Freya. "Ya gue seneng. Tapi lo harus cerita dong gimana detailnya lo bisa baikan sama dia."
Freya terkekeh dan mengangguk pelan. "Iya, nanti gue cerita pas udah kumpul sama Dasya, Qila, Juni. Oke?"
"Lagian mereka gercep amat udah pada stay di kantin aja." Rania mendecih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sebentar lagi memang jam makan siang. Dan Freya sengaja menghabiskan jam makan siangnya dengan keempat sahabatnya alih-alih dengan Orion. Dia dan Rania berjalan menuju kantin sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Sampai akhirnya, ketika melewati parkiran belakang, Rania tiba-tiba menahan lengannya.
"Frey, Frey. Gue nggak salah liat 'kan? Itu Pak Orion?"
Freya mengerutkan keningnya. Ini hampir terasa seperti dejavu. Dia melihat Orion yang berjalan memasuki area parkiran, menghampiri seorang wanita jangkung yang menunggu di samping sebuah mobil. Begitu Orion tiba, wanita itu tiba-tiba memberikan sebuah pelukan. Kedua lengannya mengalung di leher Orion.
"Sean! Kangen banget!"
Dari kejauhan Freya bisa mendengar pekikan manja wanita itu.
Ck...Apa-apaan itu?
Di tempatnya Freya mendengus. Sebelum dia sempat memikirkan apa pun, kakinya telah melangkah menuju area parkiran. Berjalan menghampiri Orion dan wanita entah siapa itu yang masih saja berpelukan.
"Pak Orion?"
Keduanya segera melepas pelukan mereka. Kedua mata Orion melebar sementara si wanita menatapnya dengan kening mengerut.
Lengannya kini mengalung pada lengan Orion. Ugh, kenapa Freya tidak suka melihat itu?
"Freya ..."
"Kamu siapa?" tanya si wanita.
Freya meneguk salivanya susah payah. Dia lalu mengambil langkah maju dan balas menatap wanita cantik itu, berusaha kelihatan mengintimidasi.
"Saya pacarnya."