
Di ruang keluarga, rumah keluarga Islandzandi…
Pukul 23.00 malam…
Bu Audrey sedang duduk bersama Pak Diandra menonton televisi.
Pak Diandra melihat jam dinding. "Island belum pulang?"
"Katanya dia akan menginap di rumah Reyandra… Ada kerjaan kantor yang harus dia selesaikan dalam waktu dekat… Kau tau kan kantor Reyandra akan ada acara…"
"Hah… Dia sudah terang-terangan memperlihatkan hubungannya dengan Reyandra…"
"Apa salahnya sih Pah? Reyandra kan pria baik, aku setuju kalau Reyandra menikah sama Island… Dia menginginkan yang terbaik buat Island, sama dengan kita… (melihat Pak Diandra tersenyum) Sebaiknya kau juga harus mulai menerima dan terbiasa akan kehadiran Reyandra sebagai menantumu…"
"Banyak hal yang membuatku ragu untuk menerima Reyandra untuk jadi pasangan Island!"
"Pah, di zaman sekarang ini perbedaan umur itu tidak masalah selama mereka berdua bahagia dan saling sayang… Masalah keturunan? Aku juga yakin yang diatas pasti memberi yang terbaik buat mereka… Aku juga sempat ragu sama umur mereka, tapi setelah melihat pengorbanan Reyandra pada Island yang sangat besar dan sangat tulus, aku rasa Reyandra bisa diandalkan, dia bisa menjaga Island menggantikan kita…"
"Itu hanya salah satunya, yang membuat aku tidak bisa menerima Reyandra adalah karena aku sudah berjanji pada keluarga Jeni untuk menikahkan Island sama Aufar! Sepertinya Aufar sudah bilang padanya, karena sampai sekarang dia tidak mau bicara padaku…"
Bu Audrey terdiam melihat Pak Diandra. "Coba kamu bicara padanya dan minta maaf… Aku yakin dia bisa menerimanya! Lagipula buat apa kita memaksakan kehendak kita kalau anak-anaknya sendiri nggak menyukai perjodohan ini?! Iya kan?"
Pak Diandra hanya terdiam.
**
Flashback On
Suatu hari…
Di depan rumah Diandra…
Pak Diandra dan Bu Audrey sedang berdiri melihat Reyandra kecil yang sedang berdiri berlutut kearah mereka.
"Aku mau menjaga Islandzandi… Aku akan melindunginya, om dan tante harap percaya pada saya…"
"Tapi kamu juga kan masih kecil Rey…"
"Aku akan berusaha keras agar bisa terus ada disisinya, bisa menjaganya dan melindunginya… Aku… Tidak bisa memberikan apa-apa lagi pada kalian karena telah menjagaku saat orang tuaku meninggal, jadi tolong terima permintaanku ini… Hanya ini yang bisa aku berikan pada kalian sebagai rasa terima kasihku pada kalian karena kalian sudah membawaku kerumah ini dan menjagaku dengan baik…" Pak Diandra dan bu Audrey saling pandang.
***
Di sebuah taman…
Pukul 15.00 sore…
Suasana ditaman itu ramai dengan orang-orang yang sedang bersantai…
Begitu pun dengan Reyandra dan Islandzandi. Islandzandi sedang bermain sama teman-teman sebayanya, sementara Reyandra menunggu Islandzandi karena sedang menjaga Islandzandi.
Reyandra sedang mengerjakan tugas sekolahnya tiba-tiba Islandzandi kecil menghampirinya sambil menangis.
"Rey…. (sambil menangis) Aku dipukul sama Aufar karena aku kalah bermain kertas batu gunting!! Aku juga selalu di ejek karena kamu selalu ada di samping aku…" masih menangis"
"Hah? Mana Aufarnya?! Biar aku pukul lagi dia… Mana yang sakit?" melihat tangan dan kaki Islandzandi.
"Sakitnya disini… (menunjuk ke jidatnya) Dia menjitak jidat aku…"
Reyandra kecil terdiam lalu tersenyum.
"Mana sini…(mengusap jidat Islandzandi dan mengusapnya) Nanti kamu harus bisa melawan, kamu harus bisa bertahan dari kejailan teman-temanmu… Kalau aku tidak ada disisi kamu lagi bagaimana coba?"
"Emangnya Rey mau kemana? Mau pergi ya?"
Reyandra kecil terdiam.
"Gimana sudah tidak sakit lagi kan? Waktunya pulang yuk!" ajaknya meminta tangan Islandzandi untuk dipegang.
Tangan Islandzandi pun memegang tangan Reyandra dan mereka pun pergi dari taman itu…
FlashBack Off
**
"Pagi! (ucapnya ceria) Haaahh… Ternyata bangun pagi saat libur itu lumayan juga ya… Aku jadi bisa liat ayah sarapan…" ucap Aufar tersenyum.
"Hah… Kau ini! Aufar Apa aku yang harus turun tangan?"
"Buat apa?"
"Island… Kenapa kamu melepaskannya begitu saja?! Lagipula aku sangat kecewa dengan Diandra… Dengan gampang sekali dia menyetujui keinginan Islandzandi…"
"Aku belum menyerah! Tenang saja… Ayah tidak perlu khawatir! Mungkin kemaren emang cara aku salah, tapi mungkin dengan ketulusan aku bisa merubah Island…"
"Kenapa harus sama Island? Padahal perempuan yang lebih cantik dan baik banyak kan?!"
"Tapi yang seperti Island nggak ada Yah, nggak ada yang bisa menyamai Island…"
"Hah… Apa yang harus kukatakan pada Almarhum ibumu?! Aku jadi malu pada Almarhum ibumu tau!"
"Udah… Ayah nggak usah khawatirkan itu, biar aku yang berfikir dan menjalaninya… Hanya saja perlu waktu untuk mengambil hati Island lagi… Aku harus sabar…"
Sementara Aufar meneruskan sarapannya sambil berfikir.
Pak Jeny pun terdiam melihat kearah Aufar sambil berfikir dan mereka pun melanjutkan sarapan mereka.
**
Sementara itu…
Di Rumah Keluarga Diandra…
Pukul 09.00 pagi…
Islandzandi yang baru pulang berjalan ke ruang makan dan melihat Pak Diandra sedang sarapan dan membaca Koran.
Islandzandi terdiam melihat kearah Pak Diandra, lalu berjalan menghampirinya dan duduk di meja makan bergabung dengan Pak Diandra…
"Pagi pah!"
Pak Diandra melihat sesaat kearah Islandzandi kemudian membaca Koran lagi.
Islandzandi lalu mengambil roti dan mengoles roti itu dengan selai coklat sesekali melihat kearah Pak Diandra yang masih terdiam dengan agak ragu, lalu Islandzandi melihat sekeliling.
"Mam mana pah?" melihat kearah Pak Diandra yang sedang melihat ke arahnya.
"Katanya sih belanja ke swalayan, persediaan dapurnya habis, (terdiam) Kau mau nasi goreng?"
"No, I’m good… Tadi udah sarapan juga…" memperlihatkan roti yang dibuatnya.
Lalu mereka pun terdiam canggung. Islandzandi melihat kearah Pak Diandra ragu.
"Katanya kamu menginap di rumah Reyandra…"
Islandzandi terdiam melihat kearah Pak Diandra serius. "Hm... Iya…"
"Haahh... Aku sudah tidak bisa mengontrol kamu lagi Island, dan aku merasa kau sangat jauh sekarang… Kau bukan Island yang selalu manja dan selalu merengek jika ada kemauan yang belum kau penuhi…"
Islandzandi hanya menunduk sambil tersenyum.
"Aku tau Pah, dan aku juga minta maaf kalo selama ini aku selalu nyusahin kalian… Terutama papah…"
"Dan maaf juga kemarin aku memaksamu untuk menikah dengan Aufar, sebenarnya aku juga masih ragu untuk menikahkanmu dengan Aufar, karena bagaimana pun juga kamu adalah satu-satunya putriku dan aku belum rela untuk kehilanganmu… Kau mengerti magsudku kan?"
"Ya, aku ngerti, kalo aku nikah aku pasti bakalan ninggalin rumah ini dan tinggal sama suami kan?! (melihat Pak Diandra terdiam canggung) Pah, apa papah sangat menyayangi Mamam?"
"Apa menurut papah ada nilai di dalam suatu pernikahan?"
Pak Diandra terdiam melihat Islandzandi curiga.
"Ya, tentu saja pernikahan mempunyai nilai yang sangat luar biasa (melihat Islandzandi serius) Saat kamu dewasa, eu, maksudnya jauh lebih dewasa lagi, kau pasti akan mengerti!"
Islandzandi mengangguk sambil melamun. "Hhm… Yeah!"
Pak Diandra melihat kearah Islandzandi curiga. "Kau pasti takkan harus menikah sekarang, karena kau… (berfikir) Ya… Kau tau, 'Tidak hati - hati' "
Islandzandi melihat kearah Pak Diandra tidak mengerti. "Hah?"
"Kau pasti tau maksudku… (berfikir) Ada hal yang perlu kau pikirkan jika kau… Jika kau akan terlibat keintiman secara fisik---"
"Oh, oke… I got it! Jangan teruskan pembicaraan ini! Aku udah tau Pah, Mam udah ngomong masala itu jauh-jauh hari…"
"Oke! Good… Jadi… (melihat kearah Islandzandi serius) Kau dan Reyandra… Belum… Atau sudah melakukan tindakan pencegahan dengan cara---"
"Hah, Pah, jangan khawatir soal itu… Reyandra itu… Sangat kuno!"
"Kuno? (terdiam) Apa itu? Seperti kode untuk sesuatu? Aku tau karena pria seumuran Reyandra pasti sudah berfikir akan hal itu…"
Islandzandi tertawa baru sadar. "Oh My God, Pah… I’m a virgin… Oke?!"
"Aaaaa….. yaaaaa… Ya ya… (menutup telinganya) Oke, oke! Senang bisa membahas itu tapi cukup!"
Islandzandi tertawa kearah Pak Diandra yang sedang makan rotinya terdiam.
Virgin… Sepertinya aku sedikit menyukai Reyandra dan mempercayainya sekarang… Well akhirnya kau mau bicara dan tertawa lagi… Aku senang! Makasih.. Kau benar-benar sudah dewasa!
Islandzandi tersenyum sambil berfikir. "Eeu… Pah, tar Reyandra mu datang kesini dan bicara sama Papah…"
"Masalah apa?" masih makan nasi gorengnya.
Islandzandi hanya mengangkat bahu kearah Pak Diandra.
"Ok!" terdiam berfikir.
Islandzandi melihat kearah Pak Diandra.
"Aku nggak tau nanti reaksi papah saat Reyandra bicara sama papah, tapi… Mengingat omongan papah tadi kayaknya Reyandra bakalan susah buat ngomong sama Papah…" ucap Island dalam hati.
"I love you Pah… Papah emang yang terbaik deh…" lanjut Islandzandi beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Pak Diandra dari belakang.
"I love you so much Island…" melihat Islandzandi dan tersenyum.
Islandzandi pun tersenyum sendiri membayangkan Reyandra melamarnya pada Pak Diandra dan Bu Audrey.
Sementara Pak Diandra hanya terdiam masih dipeluk oleh Islandzandi.
**
Di ruang keluarga Pak Diandra...
Pukul 18.00 malam…
Reyandra dan Islandzandi duduk di depan Pak Diandra dan Bu Audrey saling terdiam.
"Gimana kabarmu Rey?!" ucap Bu Audrey lembut.
"Baik tante… Maaf baru sekarang saya mampir lagi kesini dan saya sangat berterima kasih karena selama saya dibandung sampai saya pulang dari rumah sakit tante sudah mengurus saya…"
"Itu memang sudah menjadi kewajiban tante Rey… Kau tidak usah sungkan…"
"Bagaimana di perusahaanmu? Sepertinya Islandzandi mengganggumu akhir-akhir ini dengan terus menginap di Apartemenmu…"
Islandzandi melihat kearah Pak Diandra sedikit cemberut.
Reyandra hanya tersenyum.
"Island memang sering meminta bantuan saya karena pekerjaannya, tapi saya sendiri tidak merasa terganggu olehnya…"
"Ah, Papah kan udah aku bilang bagian kreatif itu sangat jauh dari ruang Direktur… Lagian kerjaanku sibuk… Jadi aku nggak ada waktu buat ketemu atau pun teleponan sama Reyandra"
Bu Audrey terdiam melihat Reyandra. "Rey... Kamu kesini pasti bukan hanya ingin melihat kami sajakan?"
Reyandra melihat Bu Audrey kaget. "Aah… Iya, (melihat Islandzandi yang dari tadi memberi tanda untuk langsung berbicara) Eeu… Begini Om... Tante… Saya kesini untuk memohon pada kalian…" berlutut dihadapan mereka sambil menunduk
Pak Diandra terdiam kearah Reyandra kaget.
Pak Diandra melihat Reyandra curiga. "Memangnya apa yang kamu mohonkan pada kami sehingga kamu bersikap seperti ini?"
Reyandra memejamkan mata. "Saya ingin menikahi Islandzandi…" melihat kearah pak Diandra dan Bu Audrey dengan mantap.
Bu Audrey hanya bisa tersenyum pasrah kearah Reyandra karena sudah tau maksud kedatangan Reyandra.
Sementara Pak Diandra tertawa keras.
"Hahahaha.... Rey, Candaan apalagi yang mau kau berikan pada kami?" masih tertawa lalu terdiam melihat serius kearah Reyandra.
Reyandra menunduk. "Saya memang tidak tahu diri, dibesarkan oleh kalian tapi masih menginginkan milik kalian yang paling berharga…"
"Kau tahu akibat dari ucapanmu barusan?" ucap Pak Diandra dengan tegas.
"Saya tau, dan saya juga siap dengan resiko yang saya ambil sekarang…"
"Aku baru saja menerimamu pacaran dengan Island… Tapi sekarang kamu ingin menikah dengannya?!"
"Pah…"
"Reyandra… Kau tau keputusanmu itu sangat cepat… Island baru saja masuk kuliah kau tau itu kan? Aku memang senang dengan pemikiranmu itu… Tapi aku tidak menyangka secepat ini kamu ingin menikah dengan Island… (melihat Pak Diandra) Meskipun kemarin memang sempat ingin menikahkan Aufar dengan Island tetap saja hati Om Diandra menolak keras karena… Kau tau kan Island itu anak satu-satunya kami…"
"Saya tau… (menunduk) Dan saya juga minta maaf karena sudah lancang meminta Island pada kalian…"
"kau memang benar-benar sangat lancang Rey…" ucap Pak Diandra marah.
Pak Diandra dengan cepat mendekati Reyandra dan memukul wajahnya…
"Pah!!" ucap Islandzandi dan Bu Audrey kaget.
Islandzandi langsung menghampiri Reyandra, sementara bu Audrey menenangkan Pak Diandra.
"Kau tau arti dari ucapanmu itu, kau tau resiko yang akan kamu terima dari kami?" teriaknya.
"Pah, aku juga pengen nikahsama Reyandra!"
Pak Diandra melihat Islandzandi marah. "Kau tau arti kata menikah kan? Tadi pagi aku sudah bilang padamu! Kau masuk kekamar sekarang juga! Kau tidak boleh keluar dari rumah! (melihat Reyandra marah) Dan kau… Aku minta kau keluarkan Island dari perusahaanmu!"
"Tapi Pah, kemaren papah maksa kan mau nikahin aku sama Aufar, malah diminta cepet-cepet…" Reyandra masih terdiam didepan Pak Diandra memohon.
"Audrey, bawa Island kekamarnya…"
Bu Audrey melihat kearah Islandzandi mengangguk, sementara Islandzandi mulai menangis menggeleng kepalanya melihat Bu Audrey.
"Pah! (teriaknya sambil menangis) Island mohon pah… Sekarang Island hanya minta untuk menikah dengan Reyandra…"
"Kau akan merusak masa depan Island dengan menikahinya… Kau tau itu? Kenapa kau seperti ini?! Aku menghargaimu karena dari dulu kau baik pada keluaga kami, dan aku menghargai almarhum kedua orang tuamu!"
"Sekali lagi saya mohon maaf Om… Tapi keputusan saya sudah bulat, saya tidak ingin menyakiti hati Island, saya hanya mau berada disisinya dan melindunginya seperti kalian yang selama ini melindungi dan menyayanginya… Saya harap Om Diandra bisa menyerahkan Island pada saya…"
"Kau masih berani memintanya?!"
"Saya akan menunggu Om Diandra agar menerima saya dan menyetujui kami berdua…" Pak Diandra hanya terdiam menutup matanya kecewa.