Islandzandi

Islandzandi
Makan Malam Keluarga



Aubrey menatap Freya tidak suka. "Nah, itu lo tau."


Freya mengangguk-angguk. "Saya emang nggak secantik Mbak Aubrey. Tapi seengganya saya jauh lebih baik dari Mbaknya. Jujur saya sempet ngerasa down waktu Kak Orion ngajak ketemuan sama Mbak Aubrey." Dia lalu menoleh pada Orion yang rupanya juga tengah menatapnya. "Tapi Kak Orion yakinin saya, kalau saya itu jauh lebih baik dari Mbak Aubrey, dari segi apa pun. Awalnya saya nggak percaya, tapi sekarang saya ngerti."


"Saya emang nggak cantik, tapi seengganya saya nggak pernah ngerendahin orang lain kayak apa yang barusan Mbak lakuin sama saya. Saya nggak pernah ngerasa lebih baik dari orang lain karena saya tau sikap kayak gitu bakal jadi boomerang buat saya. Ya kayak Mbak sekarang ini aja gimana." Freya mendengus lalu tertawa kecil. "Dan yang paling penting, saya nggak pernah ngejar-ngejar cowok yang jelas-jelas nggak suka sama saya. Because that's beyond pathetic." Freya tahu mungkin dia terdengar seperti mengolok-ngolok dirinya sendiri di kalimat terakhir, mengingat bagaimana dia diam-diam menyukai Arkana yang jelas-jelas tidak menyukainya selama bertahun-tahun. Tapi tentu saja, setidaknya dia tidak pernah bertindak sejauh Aubrey, sampai mengusik ketenangan orang yang disukainya.


Di samping Freya Orion tersenyum kecil. Dia berujar di luar kesadarannya, "That's my girl."


Sementara Aubrey mengerjap tidak percaya mendengar ini. Wajahnya mendadak memerah. "Sialan lo."


"Oh, iya sebagai pacarnya Kak Orion saya mau minta baik-baik sama Mbak Aubrey buat berhenti gangguin dia lagi ya. Bisa 'kan? Laki-laki masih banyak mbak, bukan cowok saya aja." Freya menambahkan sambil tersenyum menyebalkan. "Ini masih untung loh saya sabar ngadepin Mbak Aubrey."


Kali ini Orion tertawa kecil. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tangannya terangkat untuk mengusak puncak kepala Freya sementara matanya menatap Aubrey.


"Liat? Sekarang lo paham ‘kan kenapa gue sesuka ini sama Freya meski lo bilang dia bukan tipe cewek gue?" Tanpa menunggu jawaban Aubrey, Orion melanjutkan, "Gue nggak perlu jelasin lagi. We're really over, Aubrey. Berhenti recokin gue karena gue dan cewek gue bener-bener terganggu."


Aubrey mendecih. Dia kelihatan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak menemukan kata-kata yang tepat. Pada akhirnya dia hanya mendengus dan bangun dari duduknya lalu beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mungkin, terlalu malu.


Sepeninggal Aubrey, Freya mengembuskan napas keras-keras dan mengusap dadanya berulang kali. "Sumpah, uji kesabaran banget ngadepin dia."


Orion memandangi Freya sambil tersenyum hangat. Tangannya lagi-lagi terangkat untuk mengelus kepala perempuan itu, kali ini dengan sangat lembut. "Thanks a lot, Frey. You did a really good job."


Freya menoleh pada Orion dan membalas dengan senyum kecil. "Maaf, Pak kalau tadi saya terlalu kebawa emosi, soalnya saya beneran kesel sama dia."


"Apa yang kamu omongin bener, kok. Saya seneng akhirnya kamu beneran paham kalau kamu jauh lebih baik dari dia." Orion menyahut, senyumnya masih setia menghias bibir. "Justru harusnya saya yang minta maaf karena kamu harus denger omongan jahatnya Aubrey."


Freya menggeleng kecil. "Ah, nggak apa-apa, Pak. Gimana pun Aubrey ada benernya, sih. Harusnya Bapak kalau mau cari pacar pura-pura tuh ya yang cakep, bukannya kayak-“ Perkataan Freya terpotong karena mendadak Orion menyentuh ujung dagunya, menarik wajahnya agar memandangnya. Raut Orion nampak serius.


"Frey, dengerin saya. Saya pikir kamu beneran udah ngerti," kata Orion dengan suara rendah. Matanya mengunci Freya seakan berusaha menghipnotis perempuan itu. "Kamu cantik. Nggak peduli apa kata orang, di mata saya kamu itu cantik. Paham?"


Freya mengerjap. Seketika lidahnya terasa kelu. "Frey? Paham?" Orion mengulang pertanyaannya.


"I-iya, Pak."


"Jangan lagi mandang diri kamu terlalu buruk. Ya?"


Freya mengangguk kecil. Tatapan Orion benar-benar terasa menghipnotisnya. "Iya."


"Good girl."


Setelahnya Freya memalingkan wajah untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. Beruntung tidak lama makanan pesanan mereka datang dan membuat Freya punya alasan untuk tidak menatap Orion lagi.


"Kasian Aubrey, dia pergi sebelum makanannya dateng." Orion tiba-tiba terkekeh sambil menyuap makanannya.


Freya menoleh lalu ikut terkekeh. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. "Eh tapi, Pak, setelah ini dia beneran bakalan berhenti gangguin Bapak?"


Sejenak Orion memikirkan ini. Dia menggaruk pelipisnya lalu menjawab, "Saya nggak yakin juga, sih. Saya udah bilang 'kan, dia keras kepala banget?"


"Bahkan setelah dipermaluin kayak tadi dia masih nggak akan nyerah?" Freya menatap Orion tidak percaya.


"Setau saya sih dia nggak akan nyerah sampai lawan dia bener-bener kalah." Orion berujar perlahan.


Orion tersentak begitu melihat raut horor di wajah Freya. "Ah engga, engga. Kamu nggak perlu takut. Saya jamin nggak akan ada hal buruk yang terjadi. Tenang aja, ya."


Perlahan Freya mengangguk meski entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak.


Dia sudah melakukan hal yang benar 'kan?


***


"Sialan. Berani-beraninya permaluin gue kayak gitu."


Bibirnya mendesis kesal sementara jemarinya bergerak menggulir laman Instagram milik Freya, mencari-cari informasi tentang bocah itu. Aubrey mengesah lalu memijat keningnya. Padahal dia hampir yakin bisa mendapatkan Orion kembali. Hubungan mereka memang sudah kandas beberapa waktu lalu, tapi Aubrey sadar hanya Orion yang selama ini bisa memahaminya. Dia harus bisa bersama dengan Orion lagi.


Tapi perempuan itu tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya.


Yang benar saja, mana mungkin dirinya dikalahkan oleh bocah itu?


"Harus gue kasih pelajaran." Aubrey bergumam pada dirinya sendiri lantas menghubungi sebuah nomor di ponselnya.


"Halo? Gue butuh bantuan lo." Dia mendengus lalu menyeringai tipis. "Gampang, cuma jailin satu cewe. You'll like it anyway."


***


Malam itu ruang makan Freya tidak sepi seperti biasanya. Kenan dan Kiran sengaja datang ke rumah untuk makan malam bersama. Mereka juga mengundang Kelana, adik dari Kiran. Kenan bilang sih supaya mereka semua semakin akrab. Meski Kenan dan Kiran sibuk dengan pekerjaan masing-masing, mereka memang selalu menyempatkan diri untuk datang dan makan-makan di rumah bersama Freya.


"Harusnya kita sering-sering ya, makan bareng kayak gini." Kenan berujar senang, menatap Kiran, Freya dan Kelana bergantian.


"Nah, itu tau. Apa nggak kasian sama aku di rumah berdua doang sama Bi Imas." Freya menyahut sambil menyuap makanannya, dia memasang tampang pura-pura kesal. "Mana kalau weekend Bi Imas pulang ke rumahnya, jadi aku bener-bener sendirian di rumah."


"Iya iya, nanti Kakak sering-sering main ke sini. 'Kan kamu tau sesibuk apa Kakak di kantor," cetus Kenan.


"Nanti aku sama Kelana bakalan sering temenin kamu di sini deh, Frey kalau kamu mau." Kiran ikut menambahkan, dia lalu menoleh pada adiknya yang sejak tadi diam.


"Iya 'kan, Lan?"


Seluruh mata sekarang tertuju pada Kelana, tapi remaja itu memilih diam dan menyibukan diri dengan memotong-motong daging di piringnya. Kelana memang tidak pernah banyak bicara di pertemuan seperti ini. Dia selalu kelihatan ingin segera pergi dan berada di tempat ini hanya membuatnya muak. Setidaknya itu yang ditunjukan raut tidak bersahabatnya.


Freya lantas melepas tawa kecil untuk memecah suasana. "Ah nggak apa-apa, Kak, aku becanda aja kok tadi. Lagian sekarang aku agak sibuk di kampus, sih, pulang ke rumah cuma numpang tidur doang."


Kiran ikut tertawa medengar ini. "Iya sih, dulu semester lima aku juga lagi sibuk-sibuknya."


"Ngomong-ngomong soal kuliah, Kelana mau lanjut ke mana, nih?" Kenan kemudian bertanya, rupanya masih tak menyerah mengikutsertakan Kelana dalam perbincangan. "Waktu itu kalau nggak salah Kiran pernah cerita kamu pengen masuk teknik sipil, ya?"


Sekarang Kelana mengesah keras tapi dia masih menolak buka suara. Pada akhirnya, membuat Kiran gemas dan mencubit pelan lengan adiknya itu.


"Kelana ih, itu kakak kamu nanya, loh. Dijawab, dong."


Kelana mendecak lalu menatap Kiran tak suka. "Kakak apanya, sih. Baru juga tunangan, belum resmi nikah 'kan."


Di tempatnya Kenan mengerjap lalu mengulas senyum kecil untuk Kelana. "Nanti juga bakalan beneran jadi kakak kamu, Lan, latian dari sekarang 'kan nggak masalah, biar kita akrab."