
Untuk kesekian kalinya Freya mengerling jam tangannya dan mengembuskan napas kasar. Pukul satu lebih dua puluh menit. Dia benar-benar sudah terlambat masuk kelas. Bibirnya masih merutuki macet panjang yang menghambat perjalanannya di bus tadi. Padahal ini adalah hari pertama perkuliahannya di semester lima, tidak mungkin ‘kan dia harus absen? Freya ingat sekali bagaimana presensi mempengaruhi IPK-nya di semester empat lalu. Dan dia tidak boleh bolos kelas hanya karena alasan sepele-seperti datang terlambat begini terlebih di awal pertemuan.
Tepat ketika ojek yang ditumpanginya berhenti di depan gedung fakultas Ilmu Komunikasi, ponsel Freya berdenting pelan pertanda pesan masuk.
Cepat-cepat Freya turun dan menyodorkan selembar lima ribu rupiah. Sambil menggumamkan terima kasih, gadis itu membuka ponselnya sementara kaki pendeknya mulai melangkah tergesa menaiki undakan tangga. Satu pesan dari Tania, temannya,
segera menyambutnya dan membuat kedua matanya seketika membeliak.
Tania
"Mampus lo Frey, dosennya udah dateng."
Sial. Kini dia nyaris berlari memasuki gedung satu tempat ruang kelasnya berada.
Me
"Masih boleh masuk nggak, Tan?"
Dia menyempatkan diri untuk mengetikan pertanyaan itu. Namun balasan Tania selanjutnya justru membuat kening Freya mengerut.
Tania
"Frey, sumpah sih, itu dosennya ganteng parah. Masih muda."
Ya... terus?
Tania
“Kayanya dosen baru deh, gue nggak pernah liat dia di prodi.”
Aduh sumpah ya, Freyq itu sudah terlambat dan dia sedang panik apakah masih bisa masuk kelas atau tidak. Dan komentar Tanja tentang visual dosennya sama sekali tidak membantu Freya sekarang. Sambil tergopoh-gopoh menaiki tangga menuju lantai dua, dia membalas pesan Tania.
Me
“Ya bodo amat ya Tan, dia mu ganteng apa kaga. Keliatannya dia bakal ngebolehin gue masuk kelas nggak?”
Freya sudah tiba di depan ruang kelasnya. Pintunya tertutup rapat. Dia tidak berani langsung masuk karena tidak mengenal dosen yang mengajar mata kuliah ini, tidak mau ambil resiko kalau ternyata dosennya itu ganas dan anti-mahasiswa-telat. Karena itu, Freya lebih memilih menunggu sebentar di luar dan menunggu balasan dari Tania. Dia berdiri memunggungi pintu dan menatap layar ponselnya dengan cemas. Balasan dari Tania akhirnya kembali muncul di ponselnya.
Tania
“Keliatannya? Lo liat sendiri, deh dia kayak gimana. Gue kirim fotonya, nih.”
Sedetik kemudian sebuah foto masuk ke ruang obrolannya. Tania benar-benar mengirim foto dosen mereka yang kelihatannya diambil diam-diam. Freya mengerang pelan, menahan kesal karena temannya itu salah mengartikan maksud pertanyaannya. Padahal maksudnya bertanya begitu agar Tania memastikan apakah dosen mereka kelihatan cukup baik untuk membiarkan mahasiswa terlambat tetap masuk kelas atau justru sebaliknya.
Mulanya Freya berniat mengetikan sumpah serapah untuk Tanja. Namun matanya bekerja lebih cepat dari jemarinya. Foto yang dikirimi Tania berhasil menarik atensi Freya. Dia tidak mau kelihatan seperti perempuan gatal, tapi visual pria dalam foto itu berhasil membuatnya menahan decak kagum. Tanpa sadar jemarinya menekan foto itu dan bergerak men-zoom. Mungkin Tania memang ada benarnya. Dosen baru mereka memang tampan, dan masih sangat muda. Tubuhnya jangkung dan lenjang, bahunya lebar, kulit seputih susunya nampak cocok dengan kemeja biru yang dikenakannya.
Cepat-cepat Freyq mengetikan
balasan, seakan melupakan fakta
bahwa dirinya sudah terlambat masuk kelas.
"Waduh beneran ganteng, Tan."
"Makasih."
Mata dosennya kini beralih menatap wajah Freya.
Mungkin karena dia baru saja terciduk menggosipi dosennya, jantungnya sekarang berdebar kelewat cepat.
"P-pak, hehe." Freya berusaha memaksakan senyum.
Pria di sampingnya menelengkan kepala. "Kamu mau masuk kelas saya?"
Kedua mata Freya mengerjap. "Iya, Pak."
“Kok diem di situ daritadi?” Dia menatap Freya lamat-lamat. Tatapannya berhasil membuat kaki Freya melemas. “Langkah kaki kamu tadi berisik banget, jadi saya cek. Eh kamunya malah asik chatingan doang bukannya cepet-cepet masuk kelas.”
Duh, tamat riwayat gue. Jadi ni Pak Dosen udah ngamatin dari tadi? Kenapa Tania nggak bilang apa-apa, sih?
“Eu... Maaf, Pak. Saya takut nggak dibolehin masuk, soalnya udah hampir lima belas menit ‘kan saya telatnya.” Freya cepat-cepat beralasan sambil memasang tampang menyesal.
Dosennya itu mengedikan bahu. "Kenapa nggak boleh? Mau telat setengah jam pun kamu masih boleh masuk. Udah sini cepet masuk," katanya. Dia lalu berhenti sejenak dan mengulas seringai tipis. "Tapi nanti di dalem kelas jangan ambil foto saya diem-diem, ya. Kalau mau foto, bilangqee jaranan jaranan langsung jarane jaran peji aja."
Shiiitttt!!!
******
"SUMPAH DIA NGOMONG GITU? DEMI APA LO?" Freya meringis lalu mengusap telinganya yang berdengung gara-gara pekikan Tania barusan. Serius ya, temannya yang satu ini memang tidak bisa tenang barang sebentar saja. Kini keduanya telah duduk di kantin fakultas setelah kelas siang tadi selesai. Dua piring batagor panas tersaji di depan mereka.
"Ck... Ya nggak usah teriak-teriak juga, dong!" Freya melayangkan satu jitakan di kepala Tania, membuat gadis itu meringis sakit.
"Ya abis kaget gue, itu dia flirting banget, Frey." Tania menyahut dengan heboh.
Freya bersyukur kantin fakultasnya selalu dipenuhi mahasiswa-mahasiswa yang mengobrol dengan ribut, sehingga kehebohan Tania sejak tadi tidak jadi perhatian orang lain. Freya mendecak lalu melahap batagornya yang sempat terabaikan.
"Flirting apanya, sih. Dia tuh lagi nyindirin gue karena melototin fotonya yang diambil diem-diem. Gue berasa jadi orang cabul tau nggak sih?!" Tania seketika terkikik mendengar ini. Dia membuka mulut hendak menanggapi, ketika seorang pemuda menghampiri meja mereka dan tanpa permisi duduk di samping Freya.
"Ngomongin apa sih pada heboh amat?" Pemuda itu, Arkana, bertanya sambil meletakan ranselnya dengan asal di atas meja.
Freya refleks tersenyum begitu melihat Arkana. Dia menyadari rambut temannya itu baru saja dipotong lebih pendek sekitar beberapa sentimeter.
Arkana kelihatan lebih atraktif dengan potongan rambut barunya. Berusaha menguasai diri, Freya mencoba menahan senyumannya agar tidak semakin melebar. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan rasa suka yang dipendamnya terhadap Arkana tumbuh semakin besar.
“Itu si dosen baru di prodi gue,” sahut Freya, mengabaikan niatan untuk memuji penampilan Arkana. Dia lalu menoleh pada Tania. “Siapa sih namanya, Tan?”
“Buset Frey, udah lupa aja ni anak.” Tania mendecak tidak percaya. “Pak Orion, Frey... Baltsaros Orion Leandro.”
“Oh, dia.” Arkana mengangguk-angguk, detik selanjutnya dia menatap Freya dengan mata memicing. “Jangan bilang lo juga demen sama dosen baru itu?”
“Nggak gitu kalee.” Freya mengibaskan tangan, tetapi kemudian dia mengerutkan keningnya. “Eh, lo tau Pak Orion? Kok bisa?" Pasalnya, mana mungkin ‘kan Arkana si mahasiswa Televisi dan Film bisa tahu soal dosen baru dari program studi Ilmu Komunikasi?
"Berarti kegantengan Pak Orion emang segila itu. Prodi tetangga aja sampai ikutan tau," cetus Tania sambil mengangguk-angguk khidmat. Arkana mendecak lalu mengeluarkan ponselnya.
"Bukan gitu. Dari pagi dia udah heboh diomongin orang-orang, nih." Pemuda itu lalu menunjukan sebuah ruang obrolan grup pada Freya dan Tania. Diaa lantas menekan sebuah foto yang dikirim seorang anggota. Kedua mata Freya seketika membola begitu melihat foto itu. Meski dengan kualitas foto yang buruk, karena kelihatannya diambil diam-diam, Freya masih bisa mengenali dengan baik objek di dalamnya. Di foto itu dosen baru mereka, Orion terlihat sedang duduk dikelilingi oleh wanita-wanita berpakaian kurang bahan. Meja di depannya dipenuhi berbotol-botol minuman. Karena penerangan yang minim dalam foto itu, Freya tidak bisa melihat jelas ekspresi Orion. Tapi nampaknya dosennya itu sudah kehilangan separuh kesadarannya.
“Tadi pagi ada member grup yang nge-share foto ini ke grup. Sebelumnya dia pernah ngeliat dosen ini di ruang dekan, taunya tadi malem malah ketemu di Nightiest." Arkana menjelaskan, menyebut salah satu klub malam di kota mereka.
"Sumpahnya ini Pak Ori?" Tania berbisik tidak percaya, untung dia tak berteriak heboh seperti sebelumnya.
"Ya, lo liat aja sendiri, mukanya mirip gitu 'kan." Arkana menyahut sambil mengedikan bahu.