Islandzandi

Islandzandi
Kembaran Arkana



Freya :


GUE KETEMU KEMBARAN LO


Arkana :


Hah?


You sent a picture to Arkana


Freya :


GEMOY


Arkana :


NGACO LU


Freya :


Ih, mirip tau. Mata sama gigi lo beneran kayak kelinci, Ar.


Arkana :


Mana ada


Gue kan sangar, nggak ada mirip-miripnyalah


Freya :


Jahat, keluarga sendiri nggak diakuin


Nangis nih kelincinya


Arkana :


Serahlah


Lo lagi di mana? Bonbin?


Freya :


Apaan bonbin, lo kata gue bocah SD apa


Arkana :


Ya terus?


Freya :


Kepo


Freya terkekeh-kekeh dan kembali mengantungi ponselnya. Ketika mendongak, dia hanya menemukan seorang bocah kecil bersama ibunya yang tengah memberi makan kelinci.


Tidak ada Orion di sana. Kening Freya mengerut. Dia menyapu pandang ke sekeliling. Orion tidak ada di mana pun.


Ah, kenapa dia jadi merasa seperti anak hilang begini?


Perlahan Freya berjalan sambil masih menolehkan kepalanya ke segala penjuru, berusaha mencari Orion.


Tatapannya lalu terhenti pada sesosok jangkung yang tengah memotret sepasang suami istri di depan rumah Hobbit. Bahkan dari belakang pun Freya tahu itu Orion.


Cepat-cepat dia berjalan menghampiri.


"Pak." Freya menepuk pundak Orion dan membuatnya menoleh. "Kok tiba-tiba ngilang, sih?"


Belum sempat menjawab, si ibu yang difoto oleh Orion tiba-tiba berseru dengan logat khas Sunda, "Satu gaya lagi ya, Kang!"


"Oh, iya." Orion mengangguk dan membiarkan ibu itu dan suaminya kembali berpose.


Orion menghela napas. Kelihatannya hari ini Orion benar-benar berperan jadi fotografer setiap orang.


"Aduh, makasih ya, Kang." Si ibu berujar senang begitu menerima ponsel yang tadi Orion gunakan untuk memotretnya.


Orion hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.


Pasangan suami istri itu hampir saja pergi kalau Freya tidak segera menahannya.


"Eh Ibu, maaf. Tolong fotoin saya sama dia juga, ya," ujarnya sambil tersenyum kecil, tangannya mengalung di lengan Orion.


"Eh, nggak usah. Saya nggak apa-apa nggak difoto." Orion menoleh pada Freya.


"Kok gitu? Lumayan tau Pak, kita bisa foto berdua." Freya berbisik.


"Oh iya, boleh kok, boleh." Ibu itu mengangguk.


Freya hendak menyodorkan kamera di tangan Orion, tapi si Ibu menggeleng menolak.


Mendengar ini Freya segera mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada ibu tadi. Setelahnya dia menarik Orion agar berdiri di depan rumah Hobbit tempat suami istri tadi juga berfoto.


Freya mengerjap pelan. Baru disadarinya ini foto pertamanya dengan Orion. Entah kenapa mendadak dia kehilangan ide untuk bergaya, senyumnya juga tiba-tiba terasa kaku. Pada akhirnya dia hanya berdiri bersebelahan dengan Orion tanpa memasang gaya apa pun.


"Eh, kok gayanya gitu?" Si ibu protes sambil menurunkan ponsel Freya, menatap dua muda mudi di depannya dengan langsung.


"Yang mesra atuh, yang mesra.' Suaminya tiba-tiba ikut bersuara. "Dipeluk kek, dicium."


Wajah Freya seketika memanas mendengar ini.


"Eh, si Ayah, mah!" Si Ibu menukas sambil memukul lengan suaminya.


Di sampingnya Orion tertawa kecil. Tanpa aba-aba, dia merangkul bahu Freya, menariknya mendekat. Refleks, Freya mendongak tapi hanya mendapati Orion yang tersenyum padanya.


"Ini foto pertama kita 'kan? Harus bagus," katanya.


Freya ikut tersenyum juga. Kepalanya meneleng ke samping, sementara tangannya membentuk v sign. Perlahan Orion menyandarkan kepalanya pada kepala Freya dan meniru gaya tangannya. Dia tersenyum lebar.


"Nah, gitu maksud saya!" Si Bapak menukas bersemangat dan istrinya bergegas memotret.


Mereka berganti pose beberapa kali, sampai akhirnya Freya merasa cukup dan meminta berhenti. Dia dan Orion berterima kasih pada pasangan suami istri itu, lalu membiarkan mereka pergi. Dengan antusias Freya melihat-lihat hasil fotonya.


Tetapi secepat kilat, senyumannya lenyap.


"Kenapa?" Orion bertanya heran.


Freya menyerahkan ponselnya pada Orion, membiarkan laki-laki itu melihat sendiri. "Fotonya goyang semua."


Orion mengamati satu per satu, dan mau tidak mau malah tergelak sendiri. Semua foto yang diambil ibu tadi terlihat blur dan tidak fokus. Beberapa bahkan terlihat Freya dan Orion belum siap dibidik.


"Tapi yang ini bagus nih." Orion berujar ketika sampai di foto terakhir yang mungkin belum sempat Freya lihat. Itu foto yang paling pertama diambil.


Freya mengambil ponselnya, dan tersenyum senang begitu melihat hasilnya. Memang tidak sebagus hasil bidikan Orion. Tapi dalam foto itu dia dan Orion kelihatan ... begitu manis. Bukan hanya dirinya, tapi Orion pun nampak tersenyum begitu lebar di sana.


"Kirimin ke saya, ya," cetus Orion. "Yang gagal-gagalnya juga."


Freya mendongak dan menatap Orion dengan heran. "Loh kenapa?"


Orion menunduk dan balas menatap Freya, seulas senyum manis terukir di bibirnya. "Selama ada kamu, foto-foto itu keliatan cantik di mata saya."


****


"Eh, ngapain, Pak?" Freya yang baru meneguk minumannya bertanya heran ketika Orion tiba-tiba mengarahkan kamera padanya.


Mereka baru saja selesai mengisi perut di salah satu resto di dalam wisata ini. Orion menurunkan kameranya, mengatur kembali settingannya, dan mencoba mengarahkannya lagi pada Freya. Setelah merasa pas, dia kemudian menyerahkan ponselnya pada perempuan itu.


"Saya mau interview kamu," katanya.


Greya terkekeh mendengar ini. Diliriknya ponsel Orion, aplikasi perekam suara siap digunakan di sana, sebagai pengganti mircrophone agar suaranya tetap dapat terdengar jelas.


"Tiba-tiba mau interview saya?" Freya bertanya. "Buat apa, nih? Penelitian barunya Bapak? Analisis tanggapan mahasiswa mengenai kencan pertama bersama dosen muda, gitu?"


Orion dibuat tergelak mendengar ini. "Ngaco kamu," tukasnya. "Buat seru-seruan aja. Kayaknya ada yang kurang dari tadi ambil foto terus, tapi nggak ada videonya."


Freya mengangguk-angguk. Dia merapikan rambutnya sambil berujar dengan bercanda, "Tapi pertanyaannya jangan yang susah-susah ya, saya belum belajar."


Lagi-lagi Orion terkekeh dan menyalakan kameranya setelah Freya siap.


"Jadi, gimana perasaan kamu hari ini?" mulainya.


Freya tersenyum kecil. "Seneng, yang pasti seneng. Meski awalnya harus nahan ngantuk karena diajak keliling-keliling museum." Dia menutup mulutnya untuk menahan tawa. Di belakang kamera, Orion mendengus setengah tertawa. "Tapi saya seneng, meski cuma foto-foto sama makan-makan. Katanya, yang membuat suatu momen kerasa berharga tuh, sosok yang ada di dalam momen itu. Jadi yaa, saya rasa itu sih, alesan kenapa hari ini kerasa berharga."


Mendengar ini, dan melihat senyuman Freya lewat lensa kameranya, membuat Orion ikut tersenyum juga.


"Hmm oke. Saya ngerti, saya juga ngerasa gitu," cetusnya. "Jadi, kenapa harus Lembang?"


Senyum Freya perlahan luntur. Dia menunduk dan mengamati jemarinya sendiri. Sejenak Orion tertegun. Dia salah memberi pertanyaan? Padahal mulanya dia hanya berniat bersenang-senang saja dengan perekaman video ini.


Ketika Orion hendak mematikan rekamannya, perlahan Freya kembali mendongak dan menatap kamera. Dia kembali tersenyum, tetapi ada yang berbeda dari senyumannya. Tatapannya berubah menjadi agak sendu.


"Mm, Ibu saya. Ibu saya alesannya, Pak." katanya perlahan. Dia lalu melepas tawa kecil. "Dulu Nenek saya pernah bilang, Ibu saya suka banget sama Lembang, ada kenangan manis disini. Katanya tiap ada waktu santai Ibu dan Ayah saya pasti pergi ke Lembang. Bodohnya, saya nggak pernah tau lokasi pasti yang sering Ibu saya kunjungin itu di mana. Dan karena tempat ini emang lagi populer, ditambah ada kamera, ya udah saya putusin dateng ke sini."


Sejenak Orion terdiam. Dia membasahi bibirnya sebelum bertanya perlahan, "Kalau gitu... seandainya bisa, ada pesan yang pengen kamu kasih buat Ayah kamu?"


Freya bergerak tidak nyaman di kursinya. Dia terdiam sebentar, menghela napas, lalu akhirnya berujar, "Yah, kalau ada kesempatan, pergi ke Lembang sama Freya, ya? Kita jalan-jalan ke tempat kesukaan Ibu." Dia berhenti sesaat lantas menggeleng kecil. "Engga, nggak perlu ke Lembang. Ke mana pun, ke mana pun tempat Ibu dan Ayah suka, Freya mau mengunjunginya. Freya... pengen ngerasain punya keluarga lengkap, Yah..."


Setelah itu dia kembali menundukan kepalanya, menolak menatap kamera. Orion segera mematikan rekamannya, meletakan kameranya ke atas meja, dan berpindah ke kursi disamping Freya. Dia merangkul Freya, mengusap lengannya dengan gerakan menenangkan.


"Maaf, saya malah bikin kamu sedih," ujarnya pelan. "Awalnya saya cuma berniat seru-seruan aja. Tapi akhirnya saya pikir ada baiknya kalau kamu ngeluapin apa yang selama ini kamu rasain. Saya nggak berniat bikin kamu sedih gini."


Freya mendongak menatap Orion lalu tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, Pak. Saya ngerti. Bener kata Bapak, meskipun cuma segitu, rasanya lebih baik setelah saya ungkapin perasaan saya. Seakan saya udah omongin hal itu langsung di depan Ayah saya. Meski saya tau dia nggak akan pernah denger hal itu."


Orion ikut tersenyum mendengar ini. Dia mengusap lembut puncak kepala Freya.


"Dan saya nggak sedih." Freya berujar lagi, kali ini sambil menatap Orion. "Hari ini saya bahagia. Karena Bapak."