
Giana mendesah pelan begitu panggilannya lagi-lagi tidak diangkat.
Perempuan itu lalu menatap layar ponselnya, membaca ulang pesannya yang sejak kemarin dibiarkan tidak terbaca.
Ya... Setelah sebelumnya mereka berdamai tiba-tiba saja Arkana menghilang tidak bisa dihubungi. Ketimbang pertengkaran, Giana rasa silent treatment begini justru lebih buruk. Giana tidak tau apa kesalahan yang sudah diperbuatnya sampai Arkana mendadak menjauh dan menghindarinya. Dia tidak diberi kesempatan untuk tau dimana letak masalahnya dan bagaimana cara memperbaikinya. Menghindar lalu menghilang tanpa kabar benar-benar yang terburuk.
Arkana, sampai kapan kamu mau begini terus?
Pikiran Giana lagi-lagi melayang pada pertengkarannya dengan Arkana tempo hari. Pada alasan mereka bertengkar.
Giana menggigit bibir bawahnya. Ragu-ragu dia mengetikkan sederet pesan, sebelum akhirnya mengirimkannya dengan hati tidak nyaman.
Giana :
Freya, ini gue Giana. Besok bisa ketemu?
***
Ini bukan kali pertama Freya bertemu langsung dengan Giana.
Tapi tetap saja, dia selalu merasa terpukau dengan visual perempuan itu. Menyadari betapa cantik dan sempurnanya fisik Giana, mau tidak mau membuat Freya kasihan pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia masih menyimpan perasaan untuk Arkana ketika sahabatnya itu sudah punya seseorang secantik Giana di sisinya. Bukankah dia keliatan tidak tau diri?
"Gue bingung gimana mulainya ya, Frey..." ucap Giana sambil tersenyum canggung. "Belakangan ini Arkana susah banget di hubungin. Terakhir ketemu kita lagi berantem, tapi udah sempet baikan juga. Anehnya setelah hari itu, Arkana nggak pernah nemuin gue lagi. Telepon sama chat gue nggak dia bales sama sekali. Setiap gue nyamperin dia di tempat-tempat tongkrongannya, dia nggak pernah ada. Seakan dia emang lagi ngehindarin gue."
Freya mengerjap mendengar ini. Padahal beberapa hari lalu Arkana masih menemuinya, bahkan mengajaknya jalan. Kenapa Giana diabaikan begitu?
"Selama ini Arkana tertutup banget soal kehidupan pribadinya sama gue, tapi..." Giana berhenti sejenak dan menatap Freya sambil tersenyum samar. "Dia selalu cerita banyak soal lo, Frey. Banyak banget."
Freya bergerak di kursinya tidak nyaman. Arkana sialan, kenapa dia menempatkan Freya di posisi ini sih?
"Gue pikir itu emang mungkin karena Lo seberarti itu buat Arkana. Dia bilang, kalian udah temenan dari SD ya? Arkana juga bilang, kalo Lo satu-satunya ada buat dia disaat terpuruknya begitupun juga dia yang selalu ada disaat Lo terpuruk. Makanya gue coba buat ngerti." Giana tersenyum kecil dan menatap Freya lamat-lamat. "Di satu sisi, gue juga bisa santai liat Lo jalan sama Arkana karena gue tau Lo cuma nganggep dia sahabat, iya kan?"
Oke, sekarang Giana sedang meminta kepastian darinya.
Atau mungkin sedang menekankan pada Freya, bahwa tidak peduli sebesar apapun nilai Freya bagi Arkana, tidak boleh ada yang terjadi diantara mereka, karena bagaimana pun mereka hanya sebatas sahabat. Arkana hanya menganggap Freya sahabatnya, dan sebaliknya pun harus begitu.
"Gue tau Lo bakalan bilang begitu," sahut Giana pelan. Kedua tangannya lalu bergerak menggenggam tangan Freya di atas meja. "Karena itu Frey, gue mau minta tolong. Lo... bisa kan bantu Arkana supaya balik ke gue?"
"Hah?" Kedua mata Freya seketika melebar. "Kenapa harus gue? Maksudnya, gue rasa gue nggak punya hak buat ikut campur hubungan Arkana meskipun gue sahabatnya."
Giana menggeleng kecil, "Nggak Frey, cuma Lo satu-satunya harapan gue. Gue sayang banget sama Arkana, gue nggak mau hubungan gue berantakan gini terus. Seenggaknya tolong ajak dia ngobrol, bujuk dia buat ketemu gue lagi. Gue yakin dia pasti dengerin lo. Please Frey?"
Freya terdiam sejenak, memikirkan ini. Seperti yang dia katakan, dia tidak mau ikut campur urusan hubungan Arkana dengan pacarnya. Jika hubungan Giana dan Arkana rusak, bukankah seharusnya mereka yang berusaha memperbaikinya sendiri? Kenapa Freya harus terlibat?
"Cuma ajak Arkana ngobrol tentang ini, Frey. Nggak lebih, itu pun udah cukup," bujuk Giana.
Freya menghela napas pelan, tidak tega melihat raut memelas Giana. "Ya udah, gue bakalan coba. Tapi gue ga jamin ya... Soalnya Arkana itu suka marah kalo ada orang yang ganggu privasi yang dia ga mau sentil..."
"Iya, gue tau. Makasih ya Frey. Makasih banget." Giana tersenyum lebar, genggaman pada tangan Freya mengerat.
Freya tersenyum kecil lalu mengangguk. Perempuan itu meneguk minumannya yang sejak tadi terabaikan, lalu melirik Giana sekilas.
Giana cantik. Siapa pun yang melihat perempuan itu pasti akan berpendapat serupa. Dia terkenal di sosial media, pengikutnya bahkan mencapai ratusan ribu. Mungkin satu kampus mengenal sosok Giana, perempuan cantik, populer dan ceria. Nyaris sempurna. Namun Giana yang kini duduk di hadapan Freya kelihatan begitu lesu dan muram. Dia jadi seperti itu hanya karena diabaikan Arkana? Sebesar itu rasa sukanya untuk Arkana?
"Hah, Gi... Mungkin ini bisa sedikit menghibur Lo." Freya berujar setelah beberap lama hening. " Lo juga tau kan dari dulu Arkana sering Gonta ganti cewek. Tapi dari dulu dia nggak pernah serius sama setiap ceweknya. Tiap ada cewek yang nembak dia, selalu langsung diterima. Dan kadang nggak nyampe sebulan udah langsung diputusin. Nggak perlu nunggu seminggu, Arkana udah gandeng cewek lagi, dan ya... putus lagi dalam waktu deket. Gitu terus siklusnya."
Freya tersenyum kecil mengingat masa-masa itu, mengingat seberapa seringnya dia merasa disakiti karena terus melihat Arkana bersanding dengan banyak perempuan. Iya, sejak SMA Arkana memang begitu sering berganti pasangan. Freya rasa, Arkana berganti pacar sesering dia mengganti kaos kakinya. Semua hubungannya tidak pernah ada yang dijalani dengan serius, hanya bertahan dalam kurun waktu yang begitu singkat. Freya yang diam-diam menaruh rasa pada sahabatnya hanya mampu mengamati dari jauh sambil berusaha mengubur perasaan itu kian dalam. Melihat bagaimana Arkana berubah menjadi player, dia tau dirinya tidak akan pernah punya kesempatan.
"Tapi sejak dia ketemu Lo Gi, siklus itu berhenti. Kalo gue nggak salah inget, selama berbulan-bulan Arkana bertahan single, nolak setiap cewek yang deketin dia. Dan Lo tau kan waktu berbulan-bulan itu dia pake buat apa? Iya, buat deketin Lo."
Memang Arkana dan Giana baru resmi menjalin hubungan selama sebulan. Tapi Arkana menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mendekati Giana. Perempuan populer itu tidak mudah didekati, entah karena dia tau tabiat Arkana, atau memang karena mulanya tidak tertarik sama sekali. Namun perlahan-lahan upaya Arkana selama berbulan-bulan membuahkan hasil. Giana berhasil dia luluhkan. Ini semua, pada akhirnya menyadarkan Freya bahwa sudah waktunya untuk mundur.
Giana istimewa untuk Arkana. Sahabatnya itu tidak pernah berusaha begitu keras mendapatkan hati perempuan seperti apa yang dilakukannya pada Giana. Mungkin Giana adalah perhentian terakhir untuk Arkana.
"Dan gue jadi saksi perjuangan Arkana dapetin Lo. Gue ngeliat sendiri gimana pantang nyerahnya dia buat bisa dapetin lo. Lo satu-satunya cewek yang diperjuangin Arkana sampai segitunya, Gi." Freya menutup kalimatnya dengan senyum hangat.
Sejenak Giana hanya terdiam. Tetapi kemudian dia membalas senyuman Freya. "Makasih udah jelasin ini, Frey. Ini berarti banget buat gue."
Freya mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Dia mengatakan itu bukan hanya untuk Giana. Tapi juga untuk dirinya sendiri.
Untuk mengingatkan pada dirinya sendiri, bahwa tidak ada lagi alasan baginya memendam perasaan ini.
Ini sudah waktunya untuk benar-benar menghapus perasaannya untuk Arkana.