Islandzandi

Islandzandi
Hubungannya Dengan Kelana



Iya, Kelana sudah terlalu pusing karena seharian ini dia belajar di sekolah, lalu melanjutkan sesi belajarnya di tempat bimbel. Kegiatan itu rutin dilakukannya sejak beberapa bulan lalu.


Kiran bilang ini memang resiko dari pelajar tingkat akhir. Demi mengejar kampus impian. Tapi Kelana mulai muak belajar, dia butuh sedikit hiburan di sela jadwal-padat-belajarnya.


Karena itu, Kelana memutuskan untuk bertandang ke mall ini begitu sesi lesnya berakhir.


Sambil menyedot bubble tea-nya, Kelana mengerling jam tangan. Sebentar lagi jam makan malam. Pantas saja perutnya mulai berisik.


Baiklah, dia akan makan malam di sini saja. Kakinya lalu segera menyusun langkah menuju resto cepat saji yang dari jauh saja sudah kelihatan penuh diisi orang-orang kelaparan. Kelana sudah memikirkan menu apa yang akan dipesannya, ketika sepasang laki-laki dan perempuan di kejauhan menarik atensinya.


Langkahnya seketika terhenti.


Keduanya memang kelihatan begitu mencolok dengan bando binatang dan boneka besar yang dipeluk si laki-laki. Tapi bukan itu yang sebenarnya membuat Kelana segera menyadari keberadaan mereka. Dia mengenali kedua sosok itu.


Dengan cepat Kelana menyusun langkahnya mendekati kedua orang itu yang nampaknya akan mengunjungi resto cepat saji juga.


"Kak Orion!"


Kedua sosok itu berhenti berjalan dan menoleh padanya.


Benar. Itu memang Orion. Dan Freya. Kombinasi yang tidak pernah Kelana duga akan ditemuinya.


Kedua mata Orion melebar terkejut, mungkin tidak menyangka akan bertemu Kelana di sini.


"Kelana?" Freya bertanya dengan heran. Dia lalu menoleh pada Orion. "Bapak kenal sama Kelana? Kok bisa?"


Orion tidak menjawab. Dia seperti membeku, tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Ini situasi yang tidak pernah dia duga sama sekali.


"Kalian kenapa bisa saling kenal?" Kelana ikut bertanya heran. Tatapannya jatuh pada lengan Freya yang mengalung pada lengan Orion. Apa mungkin...


Ketika menyadari tatapan Kelana, Freya cepat-cepat melepas rangkulannya dan menjauh dari Orion.


"Eh, Pak Orion itu dosen Kakak di kampus. Terus ..." Freya berujar dengan bingung, rasanya aneh menjelaskan hubungannya pada Kelana. Pada akhirnya, dia berusaha mengalihkan pertanyaan saja. "Kalian sendiri kok bisa saling kenal, sih?"


Ditatapnya Orion dengan bingung. Lagi-lagi Orion belum mampu menjawab. Dia hanya terdiam dengan tatapan kosong.


"Kak Orion itu—"


"Kel, nanti kita ngobrol lagi, ya." Orion akhirnya berhasil menguasai diri. Dia memutus perkataan Kelana, lalu menatapnya dengan senyum yang agak dipaksakan. Jika bukan di kondisi seperti ini, dia pasti kelewat senang bertemu Kelana. Kondisinya yang salah, benar-benar salah.


"Kakak seneng bisa ketemu kamu setelah sekian lama."


Kelana mengerjap, merasa tidak puas karena pertanyaan dan kebingungannya belum kunjung terjawab. Tapi mungkin ini bukan saat yang tepat. Ditatapnya lagi Freya dan Orion bergantian. Dia lalu mengangguk.


"Kel juga seneng. Kayaknya kita tetep bisa jadi satu keluarga ‘kan, Kak?" cetusnya sambil tersenyum kecil. "Kel mau makan dulu, ya. Duluan, Kak."


Setelahnya dia kembali berjalan menuju resto cepat saji. Meski begitu, kepala Kelana masih terasa penuh.


Tentu saja, jika Kiran, kakaknya menikah dengan Kenan, lalu Freya adik dari Kenan berpasangan dengan Orion, pada akhirnya Kelana akan tetap jadi keluarga Orion juga 'kan?


Tapi kenapa ini semua terasa janggal?


Kelana menoleh lagi ke belakang, mengamati Orion dan Freya yang belum juga beranjak. Sepertinya memang ada yang salah.


Perkataan Kelana tadi lantas membuat Orion tercenung.


Sementara Freya sukses dibuat bingung. Dia mendongak pada Orion dan menatapnya dengan kening mengerut.


"Maksud Kelana tadi apa, sih, Pak? Tetep bisa jadi satu keluarga? Maksudnya?" Dia berhenti sejenak. "Saya kaget sih kok Bapak bisa kenal Kelana. Dia itu adiknya tunangan kakak saya, Pak."


"Tapi keliatannya Bapak kenal Kelana dari lama, ya?" Freya bertanya lagi, seakan tidak mendengar gumaman Orion tadi. Dia tersentak ketika terpikirkan sesuatu. "Atau jangan-jangan Bapak kenal Kak Kiran juga? Kalau gitu-"


"Udah dibilang nanti saya jelasin 'kan, Freya! Kamu denger nggak, sih!" Tanpa sadar Orion menyambar perkataan Freya dengan suara meninggi. Dia terlalu panik, terlalu takut rahasianya akan terbongkar begitu saja.


Sementara di sisinya Freya terkesiap. Benar-benar terkejut karena Orion bicara dengan keras begitu padanya. Sebelumnya Orion tidak pernah seperti itu. Dan ini pertama kalinya.


Tapi memang apa salah Freya? Dia hanya bertanya, kenapa Orion harus menyelanya dengan kasar begitu?


Raut wajah Freya berubah dingin. Orion segera menyadari kesalahannya begitu melihat perubahan ekspresi perempuan itu. Dia menghela napas berat, menyesali perbuatannya tadi dengan cepat.


"Freya, maaf. Saya ..."


Perkataannya terputus ketika Freya mencopot bandonya sendiri. Ditariknya boneka snoopy yang sejak tadi dibawa Orion. Lalu tanpa mengatakan apa pun, Freya berjalan cepat meninggalkan pemuda itu.


Di tempatnya Orion mengusak rambutnya. Dia ikut melepas bandonya, lalu menatapnya dengan nanar. Padahal beberapa saat lalu hubungan mereka masih baik-baik saja, sangat baik-baik saja. Tatapannya kini beralih pada punggung Freya yang berjalan menjauh.


Entah kenapa, melihat Freya berjalan meninggalkannya begini membuat Orion mendadak merasa takut. Seakan perempuan itu bukan hanya meninggalkannya di mall ini, tapi benar-benar beranjak meninggalkan hidupnya.


***


Sepanjang perjalanan mereka terdiam.


Freya semula berniat pulang dengan taksi. Tapi Orion berhasil mencegahnya dan membawanya ke dalam mobil. Meski begitu mereka tidak berniat membuka mulut sama sekali.


Freya masih kesal karena Orion membentaknya ketika dia hanya bertanya. Orion tidak pernah seperti ini sebelumnya. Selama ini dia selalu memperlakukan Freya dengan lembut. Tapi ada yang berbeda dengan kejadian tadi.


Seakan ada sesuatu yang begitu mengganggunya.


Perlahan Freya menghela napas dan membuang pandangan keluar jendela. Menatap jalanan malam hari yang ramai diwarnai lampu kendaraan dan bangunan.


Dia menyandarkan kepalanya dengan lesu pada jendela. Membiarkan rasa dingin dari kaca jendela menyapa permukaan keningnya. Sejenak dia memejamkan matanya.


Di sampingnya Orion melirik Freya sekilas, dan menghela napas. Dia ingin menjelaskan semuanya, tapi Freya kelihatan tidak bisa atau tidak mau diajak bicara sekarang.


Beberapa saat kemudian, mobil Orion berhenti di depan rumah Freya. Perempuan itu akhirnya membuka matanya, dan segera melepas seatbelt.


Tanpa mengatakan apa pun, dia membuka pintu mobil. Namun Orion dengan cepat meraih tangannya. Menggenggamnya dengan erat.


"Freya."


Freya menatap tangannya dalam genggaman Orion, lalu beralih menatap wajah pemuda itu. Raut kusut masih menyapanya di sana meskipun Orion tengah memaksakan seulas senyum.


Freya menghela napas dan menggeleng. Perlahan melepas genggamannya.


"Jangan obrolin apa pun dengan emosi yang lagi meluap-luap, Pak," katanya pelan. "Saya nggak tau apa yang ngeganggu Bapak, tapi apa pun itu, obrolin nanti waktu Bapak udah tenang. Makasih buat hari ini. Hati-hati di jalan."


Lalu tanpa menunggu respons Orion, Freya bergerak turun dari mobil. Dia berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan kepala terkulai. Perempuan itu bahkan tidak berbalik untuk melihat mobil Orion yang masih terparkir di sana, seakan pemuda itu enggan untuk segera beranjak pergi.


Sambil mengembuskan napas berat Freya menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Padahal seharian ini dia sudah bersenang-senang bersama Orion, melepas rasa lelah dan penatnya begitu saja. Tapi karena kejadian tadi, karena Orion yang mendadak memperlakukannya dengan kasar begitu, mood Freya seketika hancur.


Padahal dia hanya bertanya, Orion bisa menjawab baik-baik 'kan.


Tunggu. Bahkan pertanyaannya pun belum terjawab.


Kening Freya lantas mengerut. Orion mendadak membentaknya ketika dia bertanya tentang hubungannya dengan Kelana.