Islandzandi

Islandzandi
Melepas



Di salah satu Garden yang tersedia di Gaerden Tea Resort, tempat diadakannya pesta pernikahan Islandzandi dan Reyandra…


Mereka pun mengadakan garden party yang sangat sederhana diiringi dengan music slow… Islandzandi sedang berdansa dengan Pak Diandra.


(Ost. i love you first - heartland)



"Setelah ini sering-seringlah mampir kerumah…"


"Pastinya Pah, setelah Island selesaikan project di Svetovska aku akan keluar kok, dan waktu luang aku akan banyak lagi…"


"Jaga dirimu baik-baik, mulai sekarang nggak akan ada yang akan memarahimu lagi saat pulang malam, saat kamu mabuk, nggak ada lagi yang melukin kamu lagi saat kamu sakit..." ucap pak Diandra berat menahan tangisnya. Islandzandi pun makin mengeratkan pelukannya pada pundak pak Diandra.


"Paaaah.... (matanya mulai berkaca-kaca) I love you so much Pah..."


"Yeah... And i love you more and more..."


Pak Diandra hanya terdiam melihat kearah Islandzandi sedih…


Sementara tamu yang tadi menghadiri acara akad Islandzandi berkumpul sambil menikmati makanan yang disajikan Catering juga minuman sambil melihat kearah Islandzandi dan Pak Diandra.


Reyandra pun tak luput memandangi Islandzandi dan Pak Diandra yang sedang berdansa sambil minum minumannya.


"Apa sebegitu senangnya kau menikah sampai kau tidak tau kalau kami ada disampingmu?!" ucap Eolia sudah berada di samping Reyandra.


Reyandra kaget melihat Eolia dan Pak Ferdinan ada disampingnya. "Kau... Ah Om?" memberi hormat pada Pak Ferdinan.


"Selamat ya Rey… Aku tidak menyangka kau akan menikah secepat ini... Tadinya kupikir kau akan menjadi menantuku dan meneruskan bisnisku..."


Reyandra hanya tersenyum kearah Pak Ferdinan.


"Saya minta maaf Om..." menunduk.


"Tidak apa-apa, yang jelas kau masih mau membantuku disini sudah cukup buatku. (terdiam) O iya, aku akan ada disini selama beberapa waktu sekalian mau melihat progres Svetovska… Dan... Mengunjungi ibunya Erik..."


"Iya Om… (melihat Eolia) Thank you for coming… Saya pikir kamu nggak akan datang…"


"Jadi ini yang kau inginkan sampai kau meninggalkan LA begitu saja?" melihat kearah Islandzandi.


"Ya Om…" tersenyum.


"Baguslah kalau begitu… Semoga ini menjadi yang terbaik buatmu… Dan jagalah istrimu dengan baik…"


Sementara itu…


Pak Diandra melihat kearah Pak Jeni yang datang dan sedang berdiri melihat mereka.


"Island, kau dansa dengan suamimu ya!"


"Loh kenapa pah?"


"Aku ada yang mau dibicarakan dengan Om Jeni..."


Islandzandi melihat kearah Pak Jeni. "Ah.. Iya!"


Pak Diandra dan Islandzandi berjalan kearah Reyandra yang sedang bersama Pak Ferdinan juga Eolia.


"Rey…"


Reyandra melihat kearah Pak Diandra. "Om… Kenalkan ini Om Ferdinan dan anaknya Eolia mereka adalah orang yang sudah membantu saya di LA…"


"Ah, terima kasih karena sudah membantu Reyandra, Reyandra sudah seperti anak kami sendiri… Sewaktu di LA saya benar-benar khawatir karena Reyandra tiba-tiba menolak uang yang saya kirimkan, tapi ternyata dia bekerja pada anda…"


"Saya juga merasa bangga punya orang kepercayaan seperti Reyandra, ah lebih tepatnya dia seperti partner… Tadinya saya hendak menjodohkannya dengan anak saya, tapi sepertinya hatinya benar-benar kuat terhadap putri anda…"


Pak Diandra hanya tersenyum merasa bangga. Tak lama Bu Audrey berjalan menghampiri mereka.


"Ah, dia istri saya, ibunya Islandzandi…"


"Oh like a mother like a daughter… ternyata cantiknya Islandzandi turun dari ibunya…" candanya.


Pak Diandra dan Bu Audrey pun tertawa karena candaan Pak Ferdinan.


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu, ada tamu yang harus saya terima…" lalu berjalan kearah Pak Jeni.


Reyandra melihat kearah Pak Jeni. "Island, kenalkan beliau adalah Ayahnya Eolia dan Erik, beliau…"


"Yang membantu kamu di LA kan? (melihat kearah Pak Ferdinan sedikit membungkuk) Terima kasih Om… Om sudah membantu Reyandra sampai sekarang…"


"Ah…. Itu bukan apa-apa dia seperti ini karena Reyandra memang jenius dan giat dalam bekerja… Kelak kau akan sering ditinggalkan olehnya karena tugas di luar negeri…"


Islandzandi tersenyum. "Iya Om, saya sudah memperkirakan itu… ( tak lama setelah ngobrol dengan Pak Ferdinan, Islandzandi berjalan mendekat kearah Eolia) Well… Aku kira nggak akan dateng… (sindirnya) Tapi kok sifatmu berbeda sekali dengan ayahmu…"


"Haah… (melihat Islandzandi) Jangan sampai kamu menyia-nyiakan pengorbanan Reyandra! Kalau kamu melepaskan tangannya, jangan salahkan aku jika Reyandra sampai ketanganku kembali!" tersenyum kecut.


Islandzandi cemberut kearahnya. "Never!"


Reyandra dan Eolia hanya tersenyum melihat tingkah Islandzandi.


"Bagaimana pun selamat Rey…"


"Thank you for everything!"


Sementara itu Pak Diandra dan Pak Jeni saling terdiam.


"Kau datang? Aku kira kau tidak akan datang karena Island tidak jadi menikah dengan Aufar"


"Hah… Di… Itu masalah anak-anak kita, kita tidak bisa mencampur adukan dengan masalah kita…"


"Ah… Iya ngomong-ngomong dengan petisi itu… Kupikir masih ada harapan untuk melawanmu di rapat nanti!"


Pak Jeni terdiam melihat Pak Diandra kesal. "Kau mau mempertahankan posisimu?"


"UIC Garment dan aku sudah menjadi satu, aku tidak bisa melepaskannnya!"


"Baiklah, kita lihat siapa yang akan memenangkannya!"


Pak Jeni hanya terdiam melihat Pak Diandra begitu juga dengan Pak Diandra yang melihat kearah Pak Jeni dengan santai.


Beberapa menit kemudian…


Reyandra dan Islandzandi melihat Aufar sedang berdiri di depan pintu gedung yang akan masuk halaman belakang Garden Tea Resort dengan kemeja yang acak-acakan dan keringat di wajahnya juga darah keluar dari keningnya.



"Aufar?!" kaget melihat keadaan Aufar.


Reyandra terkejut melihat keadaan Aufar. "Kau hampiri Aufar, biar saya yang mengurus tamu-tamunya, nanti saya akan menyusul..." melihat Aufar cemas.


Islandzandi berjalan menghampiri Aufar, Sementara Pak Jeni terkejut melihat kearah Aufar dari kejauhan begitu pun Alditra tamu yang lain tidak melihat kearah Aufar begitupun dengan orang tua Islandzandi yang tengah sibuk menerima tamu. Pak Jeny lalu melihat anak buahnya yang sedang mengejar Aufar dan memberi intstruksi supaya meninggalkan Aufar.


Aufar berjalan sempoyongan menghampiri Islandzandi. "Hei…"


"Aufar... Lo... (memegang tubuh Aufar dan menyentuh wajah Aufar) Kok bisa kayak gini?!



Reyandra yang menyusul Islandzandi menghampiri Aufar dan menahan tubuh Aufar saat Aufar hendak jatuh.


"Hei, kau tidak apa-apa?" cemas melihat keadaan Aufar.


Aufar melihat Reyandra. "It’s okay…"



Reyandra terdiam melihat kearah Islandzandi dan Aufar yang sedang saling memperhatikan. "Kalian pergilah saya akan memberikan waktu untuk kalian..."


Islandzandi hanya mengangguk kearah Reyandra dan pergi memapah Aufar pergi dari Area Garden itu. Reyandra terdiam kearah Aufar lalu berjalan kearah Orang tua Islandzandi.


"Eu, dia sedang di dalam istirahat..."


Sementara itu di sebuah ruangan...


Islandzandi duduk di sofa begitu pun dengan Aufar.


"Mas, bisa tolong ambilkan handuk dan air..." ucapnya pada salah satu Clining Servis yang sedang berjalan disana.


Tak lama Clining Servis memberikan yang diminta Islandzandi.


Saat Islandzandi akan membersihkan luka di wajah Aufar, tiba-tiba Aufar memeluk Islandzandi.


Tak lama Islandzandi melepaskan pelukan Aufar dan melihat kearahnya serius.


"Lo kenapa sih Far… Apa yang terjadi? Selama ini lo kemana? Gue cari-cari lo ngilang tanpa jejak!" melihat wajah Aufar lalu mengusap darahnya.


Aufar memegang tangan Island. "Stop! Ntar gaunnya kena darah gue… And sorry telat!" ucapnya parau.


Islandzandi menggelengkan kepalanya dengan senyum paksa. "Nggak masalah, semua sempurna sekarang! (melihat Aufar dalam-dalam) Tapi keadaan lo…" hendak menangis.


"Jangan nangis please… Ini hari bahagia lo kan? Gue nggak mau gara-gara gue moment yang lo tunggu-tunggu selama ini jadi gagal… (terdiam melihat Islandzandi) Musiknya udah mulai, mau dansa?" tersenyum.


Islandzandi menggelengkan kepalanya. "Paling nggak lo harus keliatan ganteng pas dansa sama gue..." tersenyum sedih.


Beberapa menit kemudian...


Islandzandi yang sedang tersenyum pun berjalan digandeng oleh Aufar yang sudah rapih ke arah Gazebo tidak jauh dari halaman acara mereka Islandzandi memeluk Aufar lalu mereka pun mulai dansa.



"Gue kira lo nggak bakalan dateng…"


Aufar terdiam menerawang. "Kemaren gue ada sedikit urusan jadi nggak bisa ngehubungin lo…"


"Trus itu luka lo kenapa? Jangan bilang berantem lagi?!"


Aufar melihat kearah Ayahnya. "Gue Cuma sedikit olah raga aja… Dengan kabur dari para pengawal bokap…"


"Hah?" bingung.


"Udah, nggak usah dipikirin! Happy… (terdiam) Wedding! (Islandzandi hanya bisa tersenyum lalu memeluk Aufar erat) Lo inget nggak saat dulu kita dansa di promnight…"


Islandzandi tersenyum. "Ya… Karena ada yang suka sama lo gue jadi sasaran mereka waktu mereka mau numpahin aer got ke gue… Tapi lo selalu ada buat gue, lo selalu ngelindungin gue dari bullyan mereka…"


"Island…"


"Hm…" melihat Aufar serius.


"Mau gimanapun kondisi lo, lo udah nikah sama Reyandra pun… Gue bakalan tetap suka sama lo…"


"Hah… Far…" menyesal.


"Gue suka sama tingkah lo, kemanjaan lo, dan perhatian lo sebagai sahabat paling deket gue… Gue sangat suka semua itu… (terdiam) Karena kita… Berteman, bersahabat, hal itu… Nggak akan pernah berubah kan?"


Islandzandi melihat Aufar sedih lalu mengangguk. "Hm…"


"Island…"


"Ya?" berkaca-kaca melihat Aufar.


"Semoga lo bahagia terus sama Reyandra, cowok yang lo nanti selama lima belas tahun…"


Islandzandi meneteskan air mata sambil tersenyum kearahnya sambil mengangguk. "Hm… Lo juga… Cepet cari pacar trus nikah biar ada yang ngurus lo dan bahagiain lo…"


Aufar pun memeluk Islandzandi dengan erat. Lalu melepaskan pelukannya.


"Hah, udah cukup gue nyulik pengantin ceweknya… Lo harus kembali sama Reyandra…"


"Lo?"


Gue mau pulang…"


"Beneran pulang kan? Nggak keluyuran dulu, nggak buat masalah lagi?"


Aufar tersenyum. "Iya bawel! Sana!"


"Abisnya gue takut lo keluyuran dulu sama temen-temen genk lo… Mana lo kesini dalam kondisi kayak tadi lagi…"


"Udah sana! Bilang sama Reyandra, makasih udah ngijinin gue nyulik lo…"


Islandzandi pun pergi ragu masih melihat Aufar. Islandzandi langsung menghampiri Reyandra Yang sedang sendiri.


"Island… Bagaimana Aufar?"


Islandzandi masih terdiam memikirkan Aufar. "Hm… Dia udah pulang, dan dia bilang aku nggak usah khawatir… Sebenernya ada apa antara Om Jeni sama Aufar? Kenapa bodyguardnya malah mukulin Aufar sampe kayak gitu?!"


Reyandra mengusap kepala Islandzandi sambil mensejajarkan kepalanya di depan Islandzandi. "Aufar bilang kamu tidak usah khawatir kan? Itu artinya Aufar akan baik-baik saja…"


Tak lama lagu Thousand Years terdengar. Reyandra berdiri dan mengulurkan tangannya kearah Islandzandi sambil tersenyum.


"Sekarang waktunya saya ngajak kamu menari disana… (menunjuk kearah lantai dansa yang sengaja dibuat untuk pengantin) Tadi kan kamu sudah dansa sama Aufar, sekarang waktunya pengantin yang sebenarnya untuk berdansa di lantai dansa…" ucapnya tersenyum menghibur Islandzandi yang masih sedih karena Aufar.


Islandzandi hanya tersenyum sambil mengangguk menerima uluran tangan Reyandra, lalu mereka berjalan ke lantai dansa khusus pengantin. Reyandra dan Islandzandi pun mulai berdansa.



contohnya neng raisa ya....🤭🤭


Sementara para tamu dan keluarga juga teman mulai mengelilingi pengantin dan melihat kearah pengantin yang sedang berdansa.


"Hah… Senangnya menikah muda!" ucap Haura sambil berharap.


Erik melihat Haura serius. "Kamu mau? Kalo kamu serius aku bisa saja melamarmu besok!" tersenyum.


Haura melihat Erik. "Hah… Udahlah nggak usah dibahas!"


"Loh, kenapa? Aku serius loh…"


Haura hanya tersenyum kecut kearah Erik dan tersenyum bahagia melihat kearah Islandzandi dan Reyandra.


Sementara Karin diam-diam pergi dari pesta itu.


***


Sementara itu, mobil Mercy merah milik Aufar terparkir di sebuah taman yang kebetulan sedang sepi.


Di dalam mobil Aufar terdiam memegang stir mobil sambil menangis tersedu-sedu mengingat Islandzandi.



Karin yang baru turun dari Taxi karena melihat mobil Aufar terparkir disana langsung berjalan kearah mobil Aufar.


Dia terdiam sejenak melihat dari belakang ke kursi depan karena tau Aufar sedang menangis.


Tak lama Karin berjalan pelan ke depan mobil dan mengetuk kaca jendela mobil Aufar.


"Bisa buka pintunya?!" ucapnya sedikit berteriak dari luar.


Aufar yang terkejut melihat Karin berada disana langsung menghapus air matanya dan membuka kunci mobilnya. Karin langsung membuka mobil dan duduk disamping Aufar.


"Ngapain lo disini?!"


"Gue tau lo pasti lagi nangis disini… Gue Cuma mau mastiin aja kalo lo baik-baik aja! Setelah liat lo bedarah-darah dan ketemu sama Island… Gue nggak mau lo kenapa-kenapa lagi!"


Aufar hanya tesenyum kecut sambil menatap dengan tatapan kosong.