
*flashback*
seperti biasa Cristin bangun lebih awal dari Zain sebelum berangkat ke kampus, Cristin membersihkan apartemennya yang di tinggali bersama Zain sejak beberapa bulan pacaran. Cristin memasak sarapan untuk dirinya dan juga Zain, setelah memastikan semuanya siap Cristin membangunkan Zain yang masih nyaman dengan selimutnya.
"Zain ayo bangun." ucap Cristin mengusap pipi Zain dengan lembut.
Zain menggeliatkan tubuhnya, perlahan dia membuka matanya.
"5 menit lagi Honey." ucap Zain dengan suara seraknya.
"tidak, nanti kita kesiangan masuk ke kampusnya Zain." omel Cristin.
Zain menarik tubuh Cristin ke sampingnya, dia memeluk Cristin dari belakang .
"baiklah wanitaku yang cerewet." goda Zain.
Cristin menyunggingkan senyumnya. Zain bangun dari tidurnya, dia langsung pergi ke kamar mandi melakukan ritual mandinya.
saat ini keduanya sedang menikmati sarapan bersama.
"honey sepertinya nanti aku tidak bisa mengantarmu pulang karena Daddy menyuruhku untuk datang ke mansion katanya ada yang perlu di bicarakan." ucap Zain membuka suara.
"tidak apa-apa, nanti aku naik taksi saja." ucap Cristin.
Zain dan Cristin selesai dengan sarapannya, mereka turun ke lantai bawah Zain mengambil mobilnya, setiap hari itulah rutinitas mereka semenjak memutuskan untuk tinggal bersama.
seminggu semenjak Zain bilang akan pergi ke mansion orangtuanya selama itu pula Zain tidak pernah muncul kembali di hadapan Cristin.
pagi hari Cristin terbangun dari tidurnya kala merasakan perutnya seakan bergejolak, dia muntah-muntah dan merasakan pusing di kepalanya.
"kenapa tiba-tiba aku merasa mual seperti ini, sudah dua hari aku merasa ada yang tidak beres dengan tubuhku, Zain kamu kemana? kenapa sampai sekarang kau tidak pernah datang ke apartemen ataupun ke kampus?" gumam Cristin.
Cristin kembali merasa mual, dia memuntahkan semua isi perutnya sampai lemas.
Cristin membuka hp nya hendak menghubungi Zain, tapi dia teringat sesuatu yang membuatnya resah.
"kenapa bulan sekarang aku tidak dapat tamu?" tanya Cristin pada dirinya sendiri.
Cristin mengecek hp nya memeriksa tanggal yang biasa dia gunakan untuk menghitung frekuensi tamu bulanannya, Cristin membulatkan matanya melihat jumlah hari yang terlewat.
"apa? sudah 2 Minggu aku telat? bagaimana ini?" cristin bergerak gelisah.
setelah mendapatkan apa yang dia cari Cristin langsung membuka benda pipih yang biasa di gunakan untuk mengetahui hamil apa tidaknya , dia mengikuti petunjuk yang tertera di bungkus alat tersebut, dengan tangan gemetar Cristin mengambil alat tes kehamilan itu dan betapa terkejutnya ia melihat dua garis merah terpampang jelas disana.
tes.. tes..
buliran bening jatuh dari pelupuk matanya.
"kenapa harus hamil? kenapa kau harus hadir di saat ayahmu pergi tanpa kabar? huaaaaa.." tangis Cristin pecah.
beberapa hari Cristin mengurung dirinya di apartemen, dia mencoba menerima bayi yang hadir di dalam perutnya.
seseorang menggedor pintu apartemen cristin dengan keras membuat cristin terlonjak dari tidurnya.
"hey wanita j*l*Ng keluar kamu!" pekik seseorang Dari arah luar.
cristin bergegas turun dari tempat tidurnya, dia membuka pintu apartemennya alangkah terkejutnya ia melihat siapa yang telah menggedor pintu, tubuhnya seketika membeku bahkan mulutnya pun terasa kelu tak bisa berkata-kata.
" kau terkejut melihatku bukan?" ucapnya menatap remeh Cristin.
"si-lahkan ma-suk Tante." ucap Cristin tergagap.
seseorang yang di panggil Tante itu nyelonong masuk ke dalam apartemen cristin, dia melihat sekeliling ruangan hingga tak sengaja ia menangkap sebuah benda pipih yang terletak di sebelah tv, dia mengambil benda pipih itu dan meremasnya dengan kuat.
'tidak bisa di biarkan , jika sampai dia minta pertanggung jawaban Zain maka hancur sudah impianku." batinnya.
" Tante Sarah mau minum apa? teh, kopi atau jus?" tanya Cristin dengan ramah.
bukannya menjawab Sarah malah menjambak rambut Cristin dengan kuat membuat cristin merintih kesakitan.
" jawab pertanyaan ku dengan jujur! apa benar kau sedang hamil?" tanya Sarah.
"awwhh, i-ya aku sedang hamil"
Sarah geram mendengar jawaban dari Cristin dia mendorong tubuh Cristin ke bawah, dan menamparnya dengan keras.
PLAK ..
" siapa ayah dari anak itu?!"
"Zain Tante, hiks."