
Tedy memberitahu tuannya kalau dia telah berhasil melaksanakan misinya. tuannya pun langsung pergi ke lokasi yang Tedy tujukan, Tedy mematikan telponnya dia memastikan si kembar masih aman dalam tahanan nya.
******
papa William dan Mama Ayu sampai di mansion Rafka. Reza dan Raisa menyambut kedatangannya, dengan langkah tegap papa William masuk ke dalam mansion Mama Ayu berjalan dengan tergesa mendengar anaknya jatuh sakit apalagi dia juga mendapat kabar bahwa cucu kesayangan nya hilang.
"Reza dimana Rafka? apa dia baik-baik saja?" tanya Mama Ayu dengan cemas.
"tadi Lusi memberitahuku kalau pak Rafka pergi dengan Karin, tapi Lusi juga tidak mengetahui kemana mereka pergi." terang Raisa.
"apa Lusi mengikutinya?" tanya papa William.
"dia mengikuti kakak bersama Zidan Pa." jawab Zidan.
"ayo Pa kita ikuti Rafka, kita cari si kembar." rengek mama ayu.
papa William tidak mengeluarkan suaranya, dia hanya diam seraya melipat kedua tangannya di atas ada.
"papa kenapa diam saja? kalau papa gak mau biar mama saja yang cari mereka !!" sentak mama Ayu.
"Biarkan Rafka menyelesaikan masalahnya, aku lebih tau bagaimana dia Ma, Papa juga sudah menghubungi beberapa orang yang bisa membantu kita jika terjadi sesuatu pada mereka, lagian Zidan juga mengikuti kemana mereka pergi aku yakin mereka akan baik-baik saja." terang papa William.
Reza dan Raisa hanya diam saja, sebenarnya Reza juga ingin membantu kakaknya namun sebelum dia pergi orangtuanya sudah datang.
"Reza kau diam saja di sini, biarkan Zidan yang membantu kakakmu." tegas Papa William.
Reza hanya mengangguk pasrah jika papa William sudah membuat keputusan. jikapun dia membantah akan lebih beresiko pada dirinya mengingat bahwa Papa nya bisa bersikap kejam kalau ada yang membantah perintahnya.
****
Rafka sudah sampai di titik lokasi yang dia dapatkan, dia memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah kosong yang ada di sana. Karin turun bersama dengan Rafka, keduanya berjalan ke arah belakang rumah dengan mengendap-endap.
Rafka melihat situasi di sekeliling rumah tersebut. Rafka melihat dua pria berbadan besar sedang berdiri di depan pintu yang di yakini Rafka kalau pintu tersebut adalah pintu utama, untuk masuk ke dalam sana Rafka harus bisa melumpuhkan keduanya.
"mas serahkan dua orang itu padaku." ucap Karin.
"aku bisa beladiri kok tenang aja." ucap Karin dengan yakin.
"baiklah, begini saja kamu kecoh saja mereka biar nanti aku masuk ke dalam aku yakin si kembar ada di dalam." ucap Rafka.
Karin menganggukkan kepalanya. dia langsung maju dengan perlahan beruntung kedua pria berbadan besar itu membelakanginya karena sedang berbagi rokok, Rafka diam memerhatikan Karin dari belakang.
bugh.. bugh.. bugh..
"aisshh.. siapa yang berani memukulku?" sentak salah satu pria berbadan besar yang tersungkur ke bawah.
"aku !! sini maju jangan badan doang yang gede baru satu serangan aja udah ambruk gimana sih." cibir Karin.
kedua pria itu langsung bangkit dan menyerang Karin.
"awas kau gadis kecil.!!!" pekiknya.
bugh .. bugh .. bugh ..
sreett bugh .. bugh ..
Karin menangkis semua sasaran dari lawan. Rafka langsung masuk ke dalam rumah kosong tersebut, disana dia melihat kedua anaknya yang di ikat di kursi emosi Rafka meningkat aura dingin, tatapan tajam, tangan mengepal, mata yang memerah siapapun yang melihat sisi lain dari Rafka di pastikan siapapun akan takut melihatnya.
Rafka melangkahkan kakinya ke arah si kembar, Tono dan Budi langsung menghadang Rafka.
"siapa kau?!" pekik Tono.
"minggir!!" ucap Rafka dingin dengan tatapan tajamnya.
Glukk...
Tono dan Budi menelan ludahnya dengan kasar melihat aura menyeramkan dari wajah Rafka.
"ti-dak akan!!" tekan Budi dengan gemetar.