
Zidan mengadu pada papa William dan Mama ayu. Zidan terus merengek pada papa William karena walau bagaimanapun ini rencana Papa William, di karenakan terus merengek papa William menawarkan mobil sport keluaran terbaru pada Zidan supaya dia diam merengek, Zidan sangat senang sampai dia loncat-loncat seperti anak kecil memeluk papa William. melihat ekspresi Zidan kedua orang tuanya Rafka itu menghela nafasnya, bagaimana tidak? mendengar Zidan yang merengek membuat kuping mereka gatal.
Malam semakin larut dan si kembar pun sudah mulai mengantuk. Rafka mengantarkan Karin pulang bersama si kembar yang sudah dia dudukkan di kursi penumpang dengan Karin di sampingnya, sedangkan Kiki, Raisa dan juga Surya diantar oleh Reza. Brian dan yang lainnya pulang membawa kendaraan masing-masing.
tak butuh waktu lama mobil yang di kendarai Rafka sudah berada tepat di halaman depan rumah Karin. Rafka keluar dari mobil, dia berjalan memutar membuka pintu untuk Karin, dia membantu Karin yang sedang sibuk menurunkan kepala si kembar yang tertidur di pangkuannya.
"sayang, si kembar dudukkan saja dan juga pasang seatbelt nya biar mereka gak jatuh." ucap Rafka.
dengan hati-hati Karin mendudukkan Kenzo dan memasang pengamannya, sedangkan Kenzi di dudukkan oleh Rafka dibantu Karin yang memasangkan seatbelt. Rafka merasa kurang nyaman melihat posisi kedua anaknya, akhirnya ia menurunkan joknya kebelakang.
"sudah mas?" tanya Karin.
"udah sayang, sekarang kamu masuk tidak baik lama-lama di luar karena sudah larut malam, aku juga harus segera membawa si kembar pulang besok mereka harus kembali sekolah."
"iya mas, mas juga jaga kesehatan jangan terlalu memaksakan diri kalau banyak kerjaan, nanti bukannya beres malah mas yang sakit dan pekerjaan juga Semakin menumpuk."
"iya sayangku, sepertinya aku bakal jarang menghubungi mu, aku harus cepat menyelesaikan pekerjaanku, aku ingin kita segera menikah aku udah gak sabar bisa hidup bareng-bareng sama kamu."
pipi karin langsung memerah, dia pun tak menyangkal kalau diapun menginginkan hal yang sama dengan Rafka. tapi, yang namanya wanita pasti gengsi mengungkapkannya.
Rafka terkekeh melihat wajah Karin yang memerah, sebelum beranjak pulang Rafka menarik tubuh Karin dan mendekapnya dengan erat, sesekali dia mengecup rambut Karin yang wangi. Rafka begitu enggan melepaskan Karin dari dekapannya, dia merasa begitu bersyukur mendapatkan wanita yang begitu sempurna di matanya.
"gapapa, gak menghalangi jalan ini kok."
"udah ah, aku mau masuk aja, kamu hati-hati bawa mobilnya ya."
"kamu ngusir aku nih ceritanya?"
"enggak ngusir mas, kasian si kembar kalo di biarin lama-lama di posisi seperti itu takutnya mereka pegel."
"sayang, masih kangen tau."
"nanti juga masih bisa ketemu lagi mas, aku janji deh nanti sesekali aku bakal berkunjung ke rumah kamu."
"bener ya?"
"iya."
Rafka mengecup kening Karin dengan mesra. Karin tersenyum di perlakukan manis oleh Rafka, hatinya terasa berbunga-bunga karena Rafka memperlakukan dirinya begitu spesial meskipun dia merasa tidak ada yang istimewa dari dalam dirinya. Rafka masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesinnya dan langsung melajukan mobilnya, tak lupa ia juga berdadah ria pada Karin. Karin membalas lambaian tangan Rafka dengan senyum menghiasi wajahnya, Karin memastikan Rafka sudah tidak ada di hadapannya dia langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.