
Berbeda dengan kedua sahabatnya Lusi dan Zidan keduanya kini semakin dekat dan pernikahan pun hanya tinggal menghitung hari. Hari ini Zidan menyiapkan sesuatu untuk calon istrinya, dia memanggil orang keparcayaannya untuk mempersiapkan kejutannya.
Lusi turun dari mobil yang di tumpanginya, Zidan menutup mata Lusi lalu menuntunnya.
" Zidan, apa tempatnya masih jauh?" tanya Lusi.
" sebentar lagi." jawab Zidan.
" kenapa harus di tutup segala sih." gerutu Lusi.
" dalam hitungan ketiga kamu boleh membuka matamu." ucap Zidan.
satu
Dua
Tiga.
Lusi menutup mulutnya tidak percaya, zidan menyiapkan tempat romatis untuknya, dia juga memberikan Buket bunga mawar kepadanya. Zidan mengeluarkan kotak kecil dari saku jas yang di pakainya, ia membuka kotak kecilnya dan berlutut di hadapan Lusi.
" aku bukan pria yang romantis, aku pun bukan seorang pria yang puitis, Lusiana aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku padamu jujur dari lubuk hati yang paling dalam aku mencintaimu sejak awal kita bertemu, benar adanya kalau kita di paksa menikah oleh orang tua kita namun aku tidak ingin ada kata terpaksa diantara kita, aku tak ingin mempermainkan pernikahan so WILL YOU MARRY ME."
Lusi meneteskan airmatanya, dia tak menyangka Zidan melakukan semuanya untuknya. Dia tak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pernyataan Zidan dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas semua pernyataan Zidan.
" kau menerimanya?" tanya Zidan memastikan.
" iya aku menerimanya." jawab Lusi.
Zidan berdiri dia langsung memeluk tubuh Lusi dengan erat, sungguh kebahagiaan yang tiada tara bagi Zidan tubuh Lusi diangkatnya dan berputar sambil bersorak.
" Lusi AKU MENCINTAIMU." teriak Zidan.
" Zidan hentikan, aku takut." pekik Lusi ketakutan.
Zidan berhenti berputar, dia menurunkan tubuh Lusi. Zidan memasangkan cincin berlian di jari Lusi, keduanya saling melempar senyum satu sama lain.
satu bulan kemudian ..
" huueekk .. Huekkk ... "
"aduh mas, kamu kenapa sih?" ucap Karin khawatir.
Tubuh Rafka sudah sangat lemas, wajahnya sudah sangat pucat Anak dan istrinya membantu Rafka untuk kembali ke kasurnya.
" minum teh hangat nya dulu mas." ucap Karin menyodorkan gelas berisi teh hangat.
"enggak mau." tolak Rafka menutup mulutnya.
"mas nanti kamu mual lagi, minum dulu ya." bujuk Karin.
"enggak mau, aku mau makan soto ayam buatan kamu." pinta Rafka.
"bukannya kamu gak suka?" tanya Karin dengan heran.
"pokoknya mau soto huhuuuu.." tangis Rafka pecah.
Si kembar, Bagas dan juga Karin terkejut. Mereka heran sejak kapan Rafka menjadi cengeng, Karin buru-buru menenangkan Rafka agar berhenti menangis.
"aduh udah dong mas, iya-iya aku buatin sekarang juga asal kamu berhenti dulu nangisnya ya." bujuk Karin.
" Daddy kok cowok cengeng kayak gitu." ucap Kenzi.
" iya Daddy, ingat kodrat Dad kita itu LAKIK jangan LAYU kayak gitu." timpal Kenzo.
"wajah laki, hati hello kitty." celetuk Bagas.
Ketiganya menertawakan sikap Rafka yang mendadak manja, Karin mulai kembali di buat bingung dengan suaminya yang bergelayut manja di tangannya.
"huwaaaa.. Sayang mereka jahat .. Huwaaa..." tangis Rafka kembali pecah.
Karin menepuk keningnya, entahlah dia bingung mana anaknya mana bapaknya.
" gini amat ya Alloh punya anak tiga, nambah lagi bayi gede huuhh.." keluh Karin.