
Rafka dan yang lainnya sudah sampai di mansion. Rafka memanggil pelayan untuk memindahkan si kembar ke kamarnya, sedangkan ia menggendong Karin ke kamarnya.
Rafka turun ke lantai bawah menuju ke arah dapur membawa minuman dingin di kulkas, tak lupa juga ia berpesan kepada pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berempat. selesai dari dapur Rafka berjalan ke lantai atas menuju ke kamarnya dimana ada Karin yang sedang terlelap, sekilas ia memandang wajah sang pujaan hatinya, setelah puas memandang wajah Karin Rafka pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
selang beberapa saat ketika Rafka pergi ke kamar mandi, Karin melenguh mengerjapkan kedua matanya melihat sekeliling kamar, dia bingung saat membuka mata dia berada di kamar mewah bukan di kamarnya.
Hoooaammm ..
eemmhh .. krekk ..krekk
Karin menguap dan menggeliatkan tubuhnya serta menyatukan kedua tangannya sampai berbunyi.
"dimana aku? sepertinya kamar ini tidak asing bagiku?" Karin bertanya pada dirinya sendiri.
ceklek..
Rafka keluar dari kamar mandinya. Karin mendengar suara pintu terbuka otomatis melirik ke arah pintu dimana ada Rafka yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil, Karin menatap Rafka tanpa berkedip seakan terhipnotis kala melihat tubuh Rafka yang hanya terlilit handuk di pinggangnya.
'ya Allah nikmat mana lagi yang kau dustakan, ini sih definisi makhluk Tuhan yang paling sempurna namanya, udah mah kaya, tampan lagi kayak oppa Korea hihi..' batin Karin.
'itu apa ya? kenapa bentuknya seperti roti kotak yang sering di pajang di toko ya? aku jadi penasaran seperti apa teksturnya? apa sama empuknya seperti roti pada umumnya?. batin Karin bertanya-tanya.
Rafka tak sengaja melihat ke arah ranjang miliknya. disana dia melihat Karin sudah bangun dari tidurnya, dia menghampiri karin yang masih belum sadar akan pikirannya.
"sayang kau sudah bangun?" tanya Rafka.
Tidak ada jawaban dari Karin, Rafka melihat Karin heran kenapa kekasihnya itu hanya diam tanpa merespon pertanyaannya?.
Rafka mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Karin.
"sayang?" panggilnya lagi.
"sayang? hey.."
Nihil Karin tidak menjawab panggilan dari Rafka. karena masih tidak ada respon, Rafka memegang kedua bahu Karin dan mengguncangnya pelan.
"sayang !!"
refleks Karin langsung tersadar dari lamunannya.
"iya? sejak kapan mas Rafka ada di sini?" tanya Karin.
"sudah dari tadi aku disini, aku memanggilmu beberapa kali tapi kau tidak menjawabnya, malah melamun terus sampai aku kira kau ini kemasukan makhluk halus tau gak?" jawab Rafka dengan nada khawatir
"benarkah?"
Rafka menganggukan kepalanya.
"mas sudah mandi?" tanya Karin.
"sudah"
"mas apa boleh aku bertanya?"
"silahkan sayang"
"itu di badan mas yang berbentuk kotak itu apa?" tunjuk nya pada perut kotak-kotak di tubuh Rafka.
"ini biasanya di sebut sixpack, banyak orang bilang juga ini di sebut roti sobek sayang, bentuk seperti ini gak semua orang bisa memilikinya loh , kecuali dengan olahraga yang rajin, pola makan yang teratur baru bisa mendapatkan bentuk tubuh seperti ini."
"pantesan bentuknya kayak pernah liat mas." ucap Karin polos.
"pria mana yang pernah kau lihat bentuk roti sobeknya, hah?!! cepat katakan padaku." sentak Rafka pada Karin.
Karin terkejut ketika Rafka menyentaknya, baru kali ini dia melihat Rafka semarah ini.
"kenapa kau membentakku?" ucap Karin takut.
bukannya menjawab Rafka malah mendesak Karin untuk menjawab semua pertanyaannya.
"cepat katakan !! siapa yang sudah memperlihatkan perut sixpack nya padamu?" desak Rafka.
"aku pernah melihatnya di salah satu toko." jawab Karin yang masih takut melihat Rafka.
'toko? apa maksudnya?' batin Rafka bingung.
"di toko? kenapa roti sobek yang di maksud kamu ada di toko? apa pria itu pegawai toko tersebut?" tanyanya bingung.
"pria siapa? aku memang pernah bahkan sering melihat roti di beberapa toko yang pernah aku datangi." jelas Karin.
'astaga sayang !! kau membandingkan tubuh sexy ku dengan roti yang ada di toko? yang benar saja?. batin Rafka tidak terima.
Rafka kaget mendengar jawaban yang kelewat polos itu keluar dari mulut Karin, rasanya dia ingin sekali membenturkan kepalanya ke arah tembok.
"ya ampun sayang.. kau hampir membuatku jantungan tau, bisa-bisanya kau membandingkan tubuhku dengan roti yang ada di toko?" tanya Rafka tak percaya.
"memangnya kenapa?" tanyanya bingung.
"gara-gara kau bilang pernah melihat roti sobek, jadi aku berpikir ada pria yang sudah memperlihatkan roti sobeknya padamu, aku cemburu dan tidak terima sayang makanya aku marah sampai membentak mu." jelas Rafka jujur
"kau kan tau mas, aku tidak pernah pacaran ataupun dekat dengan lawan jenis selain denganmu." ucap Karin dengan memanyunkan b*b*rnya.
melihat Karin yang manyun seperti itu membuat Rafka gemas.
"iya-iya maaf sayang, namanya juga cemburu karena saking cintanya aku gak mau ada pria lain yang mendekatimu, sudah jangan manyun kayak gitu jelek tau."
Karin menghela nafas dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban permintaan maaf dari Rafka.
"emm mas, boleh gak aku pegang itu rotinya?" tanya Karin dengan polosnya.
Rafka tersenyum menanggapi keinginan Karin, dengan senang hati ia mempersilahkan Karin untuk menyentuhnya.
"tentu saja sayang kau boleh menyentuhnya."
Rafka memegang tangan Karin dan meletakan tangannya tepat di bagian roti sobeknya.
"keras ya mas." ucap Karin dengan meraba roti sobek itu.
tubuh Rafka berdesir saat Karin meraba perut sixpack nya. aliran listrik seakan menjalar ke seluruh bagian tubuhnya, sekuat tenaga Rafka menahan h*sr*tnya dan membiarkan tangan Karin bermain di tubuhnya.
Rafka sudah tidak sanggup menahan gairah di tubuhnya, dia pria normal yang bahkan sudah merasakan sentuhan lebih dari yang Karin lakukan seperti sekarang. dan akhirnya ...
Emmhhh ..
Karin kaget saat Rafka menc**m b*b*rnya. Karin memberontak namun Rafka langsung memegang tangan Karin sampai hal yang Rafka inginkan pun terjadi, tak berapa lama suara pintu terbuka membuat Karin spontan mendorong tubuh Rafka sampai terjatuh di atas lantai.
ceklek ..
Brughh
"aww .. sakitnya.." ucapnya meringis menahan sakit.