
Karin terkejut mendengar doa yang sudah Kenzi rencanakan. bagaimana tidak? kata banyak yang Kenzi lontarkan membuatnya langsung memegang dadanya, Rafka terkekeh melihat ekspresi Karin.
"sayang kau mendengarnya bukan? jadi, kalau kau sudah menikah denganku, siap-siap saja melahirkan anak setiap tahunnya." bisik Rafka terkekeh.
"hah?" Karin melongo tak percaya itu.
papa William dan Mama Ayu menghampiri meja Rafka.
"sebelumnya maaf ya Karin, habis Mama gak tau harus bujuk dengan cara apalagi." ucap Mama Ayu cengengesan.
"tidak apa-apa Tante." jawab Karin tersenyum.
"kok Tante sih, Mama dong kan kamu calon mantu Mama, masa masih bilang Tante sih?" protes mama Ayu.
"iya, Tan eh Ma-ma maksudnya, maaf belum terbiasa." ucap Karin.
"gapapa, nanti juga terbiasa, Raisa juga sama kok masih ragu manggil dengan sebutan mama,"
"iya ma."
Karin begitu bahagia, Mama ayu begitu baik padanya. Karin kira Mama Ayu akan sama seperti calon mertua yang pernah ia lihat di Drakor, dimana calon mertua judes sama calon mantunya terlebih lagi sampai membully dan menghinanya di depan umum.
'Hiii, mengerikan' Karin membatin.
"Karin Sebelumnya Papa minta maaf sama kamu apabila semua rencana yang papa susun menyakiti perasaanmu, semua ini Papa lakukan demi kebaikan bersama, kamu tahu bukan kalau Rafka pernah gagal dalam membina rumah tangga? Papa tidak mau hal serupa terjadi lagi." ucap papa William.
"satu hal lagi, panggil kami dengan sebutan yang sama seperti Rafka yang memanggil kami dengan Mama dan papa. kami adalah orang tuamu mulai sekarang."
Karin meneteskan air matanya. dia tidak menyangka orang tua Rafka yang notabenenya adalah orang yang sangat terpandang menerimanya dengan tangan terbuka, dia juga tidak menyangka mereka menganggapnya seperti anak sendiri. Mama ayu memeluk Karin dan mengusap punggung Karin dengan lembut, Mama Ayu sangat menyayangi Karin dia bersyukur karena Karin sudah mau menerima Rafka dengan tulus. mata Rafka berkaca-kaca, dia sangat bangga kepada orangtuanya Yang tidak pernah memandang orang lain dengan sebelah mata, beruntungnya ia terlahir dari orangtua hebat seperti papa William dan juga Mama Ayu.
"oh ya, Papa tadi sudah mendiskusikan dengan Kiki dan juga pak Surya mengenai pernikahan kalian, jika kalian setuju pernikahan kalian akan di laksanakan satu bulan lagi, mereka setuju-setuju saja dengan keputusan papa, tapi mereka juga menyerahkan semua keputusan pada Karin karena bagaimanapun Karin yang akan menjalaninya." jelas papa William.
"kenapa satu bulan? lama sekali? kenapa tidak satu Minggu lagi saja pa?" protes Rafka.
"masih banyak yang harus kita urus di perusahaan, kita juga belum bicara dengan fajar. nanti setelah semua urusan selesai kau bisa menikah dengan Karin, bisa saja kau menikah seminggu lagi dengan Karin. tapi setelah menikah kau tidak bisa honeymoon ataupun libur dari pekerjaanmu !!" tegas papa William.
"selalu saja seperti itu." keluh Rafka cemberut.
Karin terkekeh melihat Rafka.
"sudahlah mas tidak apa-apa, waktu sebulan itu gak lama kok. nanti juga gak bakal kerasa, yang sabar aja dulu." ucap Karin tersenyum sembari mengusap lengan Rafka.
"bagaimana denganmu Karin? apa kau setuju?" tanya papa William.
"saya setuju Pa."
"huuh, ya sudah aku juga setuju," ucap Rafka pasrah.