Crazy Rich Duda

Crazy Rich Duda
Episode 173



Sampai di rumah sakit Karin di gandeng oleh kedua anak kembarnya, sedangkan Rafka menggandeng tangan Bagas mereka semua masuk ke dalam rumah sakit bersamaan.


" selamat sore tuan dan nona, mari ikut saya dokter Bryan sudah memberitahukan kepada saya untuk menjadwalkan dokter obgyn khusus untuk nona Karin." ucap seorang perawat.


"dokternya cewek atau cowok?" tanya Rafka.


"perempuan, sesuai yang dokter Bryan katakan" jawabnya.


Rafka menganggukkan kepalanya, dia dan yang lainnya masuk ke ruangan dokter kandungan. Di dalam sana dokter kandungan yang bernama Khaila terkejut melihat banyaknya orang yang masuk ke dalam ruangannya, jika dia tidak ingat siapa pemilik rumah sakit sudah dipastikan dia akan mengusir orang yang tidak bersangkutan.


'ini mau periksa apa mau ngeroyok sih?' batin Khaila.


"selamat sore dokter" sapa Karin.


"selamat sore juga, ramai sekali ya." ucap dokter Khaila.


"iya dok maklum lah mau lihat cucu." sahut Mama Ayu dari belakang.


Dokter mempersilahkan Karin untuk berbaring di atas brankar, menyingkap baju Karin dan memberikan gel khusus di atas perut Karin. Dokter Khaila menujuk ke arah monitor dimana ada titik berwarna hitam disana, Rafka meneteskan air matanya dia bahagia bahkan sangat bahagia berbeda rasanya ketika memeriksakan kandungan Cristin saat hamil si kembar dulu.


"lihat disana ada titik hitam dan jumlahnya ada dua." tunjuk dokter khaila.


Karin terharu melihat buah hatinya yang berada di layar monitor, dia memegang tangan Rafka. Si kembar dan Bagas bingung melihat Karin dan Rafka yang menangis bahagia, tapi tidak dengan mereka ketiganya bingung mencari dimana adiknya berada.


"istriku mengandung bayi kembar?" tanya Rafka memastikan.


"benar sekali tuan." jawab Dokter Khaila.


dokter Khaila menjelaskan materi mengenai kehamilan kepada Karin dan juga Rafka, di sela penjelasannya Kenzi bertanya mengenai calon adiknya.


"mana adik bayinya? Aku tidak melihatnya?" tanya Kenzi.


" dua titik kecil diatas itu adik bayinya, mereka masih sebesar biji kacang merah saat di dalam perut ibu kalian dari bulan ke bulan sampai kurang lebih usia 9 bulan 10 hari mereka akan tumbuh besar seperti bayi yang mungkin pernah kalian lihat, maka dari itu kalian harus merawat adik kalian yang ada di dalam perut agar saat mereka lahir ke dunia selamat dan sehat." jelas dokter Khaila.


Si kembar dan Bagas manggut-manggut mendengar penjelasan dokter, Perawat membersihkan gel di atas perut Karin. Rafka membantu istrinya untuk turun dengan masker yang tak pernah lepas dari wajahnya, kondisi Rafka bugar tidak seperti pagi hari yang lemas.


" dok saya heran istri saya yang hamil tapi kenapa saya yang muntah-muntah? Sedangkan istri saya tidak mengalami apa-apa? Apalagi mencium parfum prang lain rasanya seperti bau busuk, tapi kalau deket anak saya mah gapapa mualnya langsunh hilang malah" tanya Rafka.


"Tuan mengalami syndrome cauvade dimana yang mengidam dan morning sickness adalah suaminya, hal serupa bisa terjadi pada siapa saja seperti pada anggota keluarga lainnya dan hal itu normal-normal saja. Morning sicknes bisa berhenti saat memasuki trimester kedua bahkan sampai si bayi lahir." jelas Dokter Khaila.


Rahang Rafka menganga lebar, sedangkan orangtuanya tertawa melihat penderitaan yang di alami olehnya.


"nikmati saja Rafka, demi calon bayimu" ucap Papa william.


"nanti saya akan resepkan obat anti mual ya, jangan lupa diminum. Dan untuk ibu Karin apa ada keluhan lainnya?" tanya dokter Khaila.


"Ada dokter, beberapa hari ini perut bagian bawah saya keram." jawab Karin.


" usia kehamilan ibu baru menginjak umur 3 minggu keram di bawah perut itu adalah salah satu tanda awal kehamilan, saran saya ibu jangan kecapean perbanyak istirahat nanti saya akn resepkan vitamin dan obat penambah darah jangan lupa di minum ya bu." ucap dokter Khaila.


Karin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sedangkan Rafka dia teringat sesuatu yang hampor saja dia melewatkannya.


"dok bagaimana kalau mau nganu? Bahaya atau tidak?" tanya Rafka.


Karin menyenggol lengan Rafka, dia memelototkan matanya dengan tidak tau malunya suaminya menanyakan hubungan suami istri wajah Karin sampai memerah mendengarnya. Dokter Khaila sudah biasa mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan oleh para suami ketika memeriksakan kehamilan istrinya, dia tersenyum ke arah Karin mengisyaratkan kalau ia mengerti.


"hubungan suami istri boleh-boleh saja, tapi di awal kehamilan tidak boleh terlalu sering minimal satu minggu dua kali karena janin masih terlalu muda dan masih rawan keguguran, jika sudah mendekati usia kandungan sembilan bulan hubungan suami istri sangatlah di anjurkan untuk melancarkan persalinan jika memang memilih lahiran secara normal."


Rafka senang mendengar jawaban dari dokter Khaila setidaknya dia masih bisa menggarap sawahnya meskipun akan jarang, berbeda dengan Cristin saat mengandung si Kembar dia memang jarang mengantarnya cek kandungan selain sibuk dia juga tidak terlalu banyak bertanya pada dokter seperti sekarang ini karena memang dari awal menikah Rafka sama sekali tidak menyentuhnya apalagi sebelum menikah dengannya Cristin seringkali bergonta ganti pasangan berhubungan s*x dengan laki-laki berbeda pula, setelah mengetahui kebenarannya Rafka semakin tidak ingin menyentuhnya. Saat ini dengan wanita yang berbeda yaitu Karin, dia merasakan bahagianya menjadi suami dan calon ayah.


selesai dengan pemeriksaan kandungan Karin, Rafka dan yang lainnya keluar. Sebelum pergi Rafka mengambil obatnya di apoteker, Sepanjang perjalanan Karin terus mengusap perutnya yang masih rata di ikuti oleh ketiga anaknya yang akan menjadi kakak bagi bayi di dalam kandungannya.