
Raisa dan Lusi memberikan ilmu mengenai apa yang harus dilakukan Karin sebagai seorang istri, keduanya menjelaskan bagaimana malam pertama. Karin pikir hanya c***** saja dan menyiapkan kebutuhan Rafka dan juga anaknya, dia tidak berpikir kalau dia harus melayani kebutuhan biologis suaminya.
"apa yang harus aku lakukan sekarang? aku sangat tidak tau harus apa?" tanya Karin bingung.
"kau tinggal tidur, dan ikuti saja nalurimu Rin yang penting kau jangan pernah menolak jika suamimu menginginkannya, dosa jika kau menolaknya." jelas Lusi.
"emang iya?" tanya Karin cengo.
" iya Rin di Qur'an juga ada penjelasannya, tugas istri itu melayani suaminya baik itu kebutuhan biologis ataupun kebutuhan sehari-harinya seperti menyiapkan pakaiannya, makanannya dan lain sebagainya." tambah Raisa.
"emang lu pikir punya anak itu gak nganu-nganu apa? kalo lu mau punya anak gak mungkin kan cuman lewat c***** doang anak langsung jadi?" tanya Lusi menggelengkan kepalanya.
"ya kan gak tau Lusi." jawab Karin polos.
Lusi meraup wajahnya dengan gemas, dia tidak habis pikir kenapa sahabatnya bisa polos bin bego kayak gini.
" makanya kalau diajak nonton film nganu-nganu itu ikut biar tau." omel Lusi.
"loe mau bikin otak Karin kotor kayak punya kita?" tanya Raisa.
"ya minimal kan dia jadi tau tugasnya kalau udah nikah sa, ya udah biar gue jelasin ma Karin kasian kan tuh bapak si kembar gak bisa buka puasa kalo istrinya kagak tau." ucap Lusi.
Lusi mengambil kotak kecil yang sudah dia siapkan untuk Karin di dalam tasnya lalu memberikannya kepada Karin.
"buka ini dan pakailah." ucap Lusi menyodorkan kotak kecil tersebut.
"apa ini?" tanya Karin.
"nanti saja kau buka dan pakai di kamar mandi, sepertinya suamimu gak akan lama lagi datang, aku dan Raisa mau keluar menemui keluarga yang lainnya sekalian makan daritadi belum makan laper bisa pingsan nih nanti pas pulang, awas ya kudu di pakai kalau mau jadi istri Sholehah harus mau membahagiakan suaminya." ucap Lusi.
"Rin sana mandi dulu, nanti keburu kakak ipar datang." ucap Raisa mendorong tubuh kari. masuk ke kamar mandi.
kedua sahabatnya langsung melesat pergi keluar dari kamar bertos ria, Karin membuka kotak kecil yang di berikan Lusi yang membuatnya kebingungan.
" ini pakaian apa? kok kayak saringan nasi sih? tipis banget, ya kali aku pake yang kayak gini." gumam Karin membentangkan pakaian lingerie yang di berikan Lusi.
' kalo mau jadi istri Sholehah harus mau m membahagiakan suaminya'
ucapan Lusi terngiang-ngiang di telinga Karin, dengan terpaksa dia memakai lingerie merah dengan renda di bagian gunung kembarnya.
Rafka melihat jam tangannya menunjukkan malam semakin larut, para tamu pun sudah mulai berkurang. Rafka menghampiri Mama Ayu, dia harus bisa buka puasa tanpa ada halangan lagi dari dua perusuhnya.
"Ma, Pa Rafka mau pamit ke kamar, udah capek banget ini mau mandi juga." ucap Rafka.
"ya udah kamu pergi aja, kasian Karin sendirian." ucap Mama Ayu.
"tapi Mama awasin si kembar ya, bisa gagal buka puasa kalau mereka Mama lepas lagi." pinta Rafka.
"okey itu mh beres, sekarang kan ada Bagas mereka udah tidur di kamar punya Mama kecapekan kali habis manggung." ucap Mama Ayu mengacungkan jempolnya.
" widdiihh yang mau buka puasa kayaknya semangat banget." goda Papa William.
" iya dong udah lama nih naga loyo." ucap Rafka.
"ya udah sana semangat!! jangan kasih kendor." ucap Papa William mengepalkan tinjunya memberi semangat pada Rafka.
Mama Ayu menggelengkan kepalanya.
"bapak sama anak sama aja." celetuk Mama Ayu.
Rafka mengacungkan jempolnya, dengan tersenyum dia pergi meninggalkan tempat resepsi dengan hati senang, dia tidak sabar untuk menemui istrinya.