
Dimas membawa masuk makan siang yang telah di pesan oleh Rafka, si kembar ikut bergabung menikmati makannya. Karin makan seperti orang kesurupan dia mengambil ini dan itu membuat Rafka dan si kembar melongo melihatnya, Dimas harus bolak balik mengambil makanan untuk Karin yang terlihat seperti tidak ada rasa kenyangnya.
Glek..
Rafka menelan makanannya dengan susah payah, sejak hamil Karin memang banyak makan namun baru kali ini ia melihat istrinya makan sampai habis lima porsi dari orang normal.
"sayang hati-hati makannya, tidak akan ada yang merebutnya jika kamu mau lagi nanti mas pesan lagi sama dimas" ucap Rafka.
"pesan lagi satu ya mas, makanannya enak aku suka." ucap Karin dengan mulut yang penuh makanan.
Kenzo dan Kenzi berbisik kepada Rafka, keduanya menatap tidak percaya Bundanya bisa begitu rakusnya.
"apa Bunda enggak makan sebulan Dad, kok makannya banyak banget." bisik Kenzo.
"mulut Bunda udah kayak vacum cleaner aja." ucap Kenzi.
"ssstt. kalau Bunda denger bisa habis kalian diamuk sama Bunda, wanita hamil itu sensitif." tegur Rafka.
Si kembar merapatkan mulutnya, mereka hanya makan sedikit karena melihat Karin saja membuat perut ketiganya tiba-tiba kenyang.
"kenapa tidak menghabiskan makanannya? Apa tidak enak?" tanya Karin.
"mas udah kenyang Bun." jawab Rafka.
"sama Bun." tambah Kenzi.
"kalau Bunda mau ambil saja." ucap Kenzo.
"yasudah Bunda bakal habisin semuanya, sayang kalo di buang mubazir."
Haahhhh..
Rafka dan si kembar kembali dibuat terkejut melihat Karin memakan makanan mereka, Kenzo mengambil tabletnya dia merekam Bundanya yang sedang makan sebagai kenang-kenangan.
"Eeuuu.... Alhamdulillah." Karin bersendawa.
"uppss, maaf mas kelepasan" ucap Karin membentuk jarinya dengan huruf V.
Rafka menggelengkan kepalanya, dia membereskan bekas makanan dan memasukannya ke dalam tong sampah. Rafka izin kepada istrinya untuk melanjutkan kerjanya, sedangkan Karin menemani Kenzi bermain berbeda dengan Kenzo dia sibuk dengan tabletnya dia meretas cctv di ruangan Rafka sebagai media untuk mengawasi Vita jika masih berulah.
*To : Uncle Dimas.
Uncle tolong periksa data ini, jika model itu berulah lagi kau gunakan data ini sebagai senjata*' pesan Kenzo.
Dimas membaca pesan Kenzo dan membuka data yang dikirimkannya, bersamaan dengan itu Dimas juga membaca pesan singkat dari Rafka untuk bertemu dengannya tanpa ada orang lain yang melihatnya.
"kapan dapet jodohnya kalo tugasnya padet kayak gini." keluh Dimas mengacak rambutnya.
Sore hari.
Waktu sudah menunjukkan jam pulang, Rafka membereskan pekerjaannya dia merentangkan tangannya lalu bangkit dari duduknya berjalan ke kamar rahasia miliknya.
Ceklekk..
Rafka tersenyum melihat si kembar dan Karin tidur saling memeluk satu sama lain, Rafka mendekat ke arah istrinya mengusap dan mencium perut buncit Karin.
"tinggal menunggu beberapa bulan lagi, semoga kalian lahir tanpa kekurangan apapun jangan rewel ya kasian Bundanya nanti capek oke, awas jangan berantem ya di perut Bunda emmnuahh.." ucap Rafka.
Sebenarnya Rafka tidak tega membangunkan anak dan istrinya, jadi dia memutuskan untuk memberi waktu beberapa menit sambil mengistirhatkan badannya karena lelah bekerja.
Beberapa menit kemudian..
Karin mengerjapkan matanya, dia bangun melihat si kembar masih menutup matanya. Karin juga melihat di sisinya ada suaminya yang tertidur dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang, Karin melihat jam di layar hp nya menunjukkan pukul lima sore dia terlambat pergi ke rumah sakit.
"mas bangun." ucap Karin menggoyangkan tubuh Rafka.
Rafka terkejut saat Karin menggoyangkan tubuhnya, dia segera membuka matanya. Karin juga membangunkan si kembar lalu bergantian mencuci muka ke kamar mandi